
Selena kaget mendengar pertanyaan sang suami hingga kedua matanya membulat dan alisnya pun terangkat.
"Ng? ah iya ya, kamu kan tinggi, pintar, ganteng juga setia kan? hehe" jawab Selena agak kaku.
Rizky yang mendengarnya sangat bahagia, ia bahkan tersenyum lebar. Selena yang melihatnya pun ikut tersenyum walau dengan terpaksa.
"Kalau aku masuk sebagai tipe lelaki idaman kamu berarti kamu gak butuh waktu lama untuk mencintaiku kan? sebelum hari ulang tahunku, kamu sudah harus mencintaiku ya hehe" kata Rizky dengan tersenyum melihat sang istri sambil menopang dagunya.
"Ha? maksudnya apa ya? aku gak ngerti" tanya Selena yang pura-pura tak tau maksud Rizky, padahal ia tau bahwa yang di maksudkan Rizky itu adalah hadiah ulang tahun yang di inginkan Rizky.
"Kamu gak lupa kan hadiah ulang tahun yang aku mau?" jawab Rizky dengan tersenyum menyeringai.
Selena yang mendengar hal itu langsung kembali membulatkan kedua matanya walaupun sebenarnya ia juga sudah tau itu yang di maksudkan sang suami.
"......A-aku belum siap, jadi tolong kamu mengerti....Minta yang lain saja, selain hal itu aku mungkin bisa memberikannya" jawab Selena.
Rizky menatap mata sang istri dengan tatapan agak sedih.
".......Kalau aku minta yang lain, kamu bisa memberikannya?" Rizky bertanya kembali.
"Iya, kalau selain itu... aku bisa memberikannya. Jadi, katakan kamu ingin apa" jawab Selena, ia sedikit lega karena Rizky sepertinya mau membatalkan keinginannya itu dan menggantikannya dengan hal lain.
"Gimana kalau kiss!!?" tanya Rizky dengan senyum semangat hingga kedua alisnya naik.
"Ha!? apa? kiss? ya ampun itu bukannya sejenis dengan keinginanmu yang pertama?" Selena kaget dan bola matanya melihat ke mana-mana.
"Sejenis apanya, itu kan agak berbeda. Hm gimana? aku gak mau tau pokoknya aku mau hadiah ulang tahunku adalah kiss sama kamu hehe" Rizky kembali memperlihatkan senyum menyeringainya.
Sebagai suami dengan usia pernikahan hampir 10 minggu, wajar saja Rizky ingin meminta haknya sebagai suami. Ia sebagai suami sah Selena selama ini belum pernah menyentuh tubuh istrinya bahkan juga belum pernah mencium bibir sang istri.
Seumur hidup Rizky, ia belum pernah menjalin hubungan percintaan dengan wanita siapapun hingga wajar saja ia belum pernah melakukan ciuman pertamanya. Sebenarnya ia tak mempunyai trauma apapun, hanya saja ia tak tertarik dengan para wanita di sekitarnya. Ia sungguh berharap bisa mendapatkan ciuman pertamanya dari Selena, sang istri.
"Itu hanya ciuman kan? aku rasa gak masalah kalau hanya ciuman. Lagian itu juga bukan ciuman pertamaku, tapi....itu agak sedikit..... Ahh sudahlah!" batin Selena.
"Itu... nanti kita liat... tapi aku gak bisa janji, hanya..." kata Selena sambil menggaruk-garuk kepalanya dan memutar-mutar bola matanya, ia tak menyelesaikan kalimatnya.
"Oke, aku tagih ya nanti hehe" balas Rizky dengan senyum manis di wajahnya.
Selena yang melihat sang suami menuju ruang kerja langsung mengambil hpnya dan berlari dengan pelan menuju halaman belakang rumah. Ia membuka daftar kontak di hpnya dan diam-diam menelpon kekasihnya Rey Mhoras.
Kali ini ia menelpon kekasihnya dengan sangat waspada agar tak ketahuan sang suami. Terkadang ia menengok ke belakang dan sekelilingnya untuk memastikan jika sang suami datang mencarinya.
"Ya halo?" sapa Rey dengan pelan.
"Rey, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" kata Selena.
"Kenapa sekarang? kamu lagi di rumah?Rizky ada di rumah kan? kalau ketahuan gimana?" tanya Rey dengan nada khawatir.
"Gapapa, aku lagi di halaman belakang dan Rizky lagi kerja. Agak mustahil kalau dia bisa dengar pembicaraan kita" jawab Selena sambil menengok ke belakang.
"Lalu kamu mau ngomong apa? pasti penting kan?" tanya Rey dengan penasaran.
"Rizky.....minta haknya sebagai seorang suami" kata Selena.
"Apa? maksudnya.... Dasar otak mesum! kamu harus tolak Selena, kamu gak boleh di sentuh pria itu" balas Rey dengan nada kesal dan marah. Walaupun Rey tak mencintai Selena dengan tulus, ia masih ingin menggali keuntungan dari kekasihnya itu.
"Bukannya mesum, aku rasa... wajar kalau sebagai seorang suami dia menginginkan hal itu" balas Selena.
"Lalu? kamu mau melakukan kewajiban kamu sebagai istri? jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta sama dia?" tanya Rey dengan nada kesal.
"Bukan begitu Rey, aku tolak kok. Masalahnya aku gak bisa terus-menerus menolak hal itu, kamu ngerti kan? Satu tahun itu sangat lama Rey. Aku mulai menyesal, harusnya aku membatalkan perjodohan ini dari awal. Aku juga merasa kalau keputusan kita menyetujui perjodohan ini itu salah Rey. Aku merasa sangat kasihan sama Rizky, aku jadi gak tega membohongi dia seperti ini" jelas Selena dengan tulus dan serius.
"..........." Rey hanya diam dan tak membalas perkataan sang kekasih.
"Jadi, aku rasa kita harus memberi tahu Rizky secepatnya. Ini juga bisa jadi alasan aku sama Rizky cerai kan? sampai sekarang pun kita gak tahu bagaimana caranya agar aku bisa di ceraikan kan? dia sangat mencintai aku Rey, aku gak yakin masalah seperti apa yang bisa membuat dia menceraikan aku" jelas Selena.
"Kamu menyesal dengan keputusan yang aku buat? kamu bilang aku pintar dan akan mengikuti apapun keputusan yang aku buat. Tapi kenapa jadi menyesal? karena aku bodoh? karena aku tidak kuliah? Cih hahaha, apa kamu sudah luluh dengan brengsek itu? hahaha" kata Rey.
Rey lahir dari keluarga yang sederhana dan cenderung kurang mampu, ia hanya tinggal bersama ibunya dari kecil sedangkan ayahnya pergi meninggalkan mereka saat Rey masih di dalam kandungan. Rey tak memiliki keluarga lain selain ibunya, mereka berdua sudah tak menganggap sang ayah tersebut sebagai bagian dari mereka.
Saat Rey masih di bangku SD, ibunya sangat bersusah payah menyekolahkan Rey. Hal itu yang membuat Rey belajar dengan sangat giat hingga mendapat beasiswa. Rey bersekolah di sekolah elit dan bagus karena mendapat beasiswa sejak SMP hingga SMA. Namun, apalah daya jika tuhan telah mengambil sang ibu sebagai malaikat penolong bagi Rey. Sang ibu meninggal saat Rey lulus SMP, hal itu membuat Rey sangat kehilangan satu-satunya orang yang penting di hidupnya.
Saat SMA, Rey sangat berambisi untuk mendapatkan beasiswa kuliah karena itu adalah satu-satunya jalan agar ia bisa kuliah. Namun karena ia tak di sukai oleh Pak Vicky Plum, masa depan yang ia dambakan pun sirna. Pak Vicky memiliki beberapa kenalan yang memiliki kekuasaan di bidang pendidikan. Pak Vicky yang sangat tak menyukai Rey yang merupakan kekasih putrinya itu bahkan merenggut beasiswa kuliah yang sudah pasti akan Rey dapatkan. Timbullah rasa benci dan dendam di dalam diri Rey. Cinta yang awalnya tulus, kini telah menjadi butiran-butiran yang hancur lebur. "Memanfaatkan" itu yang hanya akan ia lakukan pada kekasihnya itu. Rey tak peduli lagi dengan cinta, karena cinta tak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Rey hanya menginginkan uang, ia tak peduli dengan apapun.