I'M NOT A PSYCHOPATH

I'M NOT A PSYCHOPATH
9. Basically love is indeed blind!



LEON POV


Aku terdiam di ruangan yang amat besar. entah kenapa aku selalu terbayang akan wajah cantiknya Licia.


Perempuan angkuh dan sombong. tapi mampu membolak-balikan Perasaan Leon sekarang.


Akh! Teriakku seraya mengusap wajah dengan kasar. Kenapa juga wajah perempuan itu selalu terbesit didalam otakku. bahkan setiap aku memejamkan kedua mataku, wajahnya seakan muncul begitu saja.


Leon membuka Laptop dan mencari sesuatu yang membuatnya sedikit janggal.


"Mungkin terdengar konyol. Tapi aku harus memastikannya."


Jari kokohnya mengetikkan sesuatu didalam Mozilla Firefox.


Ia membuka Situs Web, dan memasukkan kalimat didalamnya 'ciri-ciri psychopath perempuan' kemudian ia menekan tombol Inter.


Tak selang lama, munculah halaman pertama. Leon segera membaca situs tersebut dengan saksama.


'*C**iri-ciri Psychopath Perempuan*'


berikut ini adalah beberapa ciri-ciri wanita Psikopat yang perlu anda ketahui.


Leon memikirkan disetiap bait Informasi yang ia dapat barusan. Otaknya berfikir keras tentang kejadian di akhir-akhir ini.




Memiliki perasaan emosional yang sensitive.


Leon melototkan kedua matanya saat teringat sesuatu. Astaga, Apa Licia sungguh psychopath? Licia juga sangat sensitive, dia juga selalu membentak seseorang, jika orang itu berbica kepadanya.




Nekat.


Nekat? Menurut Leon, Licia tak lah nekat layaknya Psychopath difilm yang biasanya ia tonton. Otaknya Leon berputar kembali disaat ia mengingat bahwa Licia membunuh pria perkasa ditempo hari.




Pandai Merangkai Kata-Kata.


Leon terkekeh pelan. Licia memang pandai merangkai kata dan bersilat lidah. Buktinya dia tidak menjadi boronan polisi selama ini.




Kurang Memiliki Rasa Empati.


Ini salah. Karena licia sangat memiliki rasa empati kepada sesamanya. Apalagi disaat leon menemukan licia yang sedang memberikan makanan kepada anak-anak dipinggir jalan. Ah~ sungguh mengagumkan.




Mudah Tersinggung.


Nah, kalau ini tentu benar sekali. Licia sangat mudah tersentuh.




Egois.


Licia memang sedikit egois. Ah tidak' bahkan dia sangat egois.




Tidak Mengenal Kata Resiko dan Tidak Takut Salah.


Astaga, ini sangat mirip dengan sikap licia.




Pendiam.


Bahkan Licia sangat dingin kepada orang yang tak dia kenal ataupun yang dia kenal.




Lari dari tanggup jawab.


Licia juga seperti ini, dia lari disaat sudah merenggut nyawa orang.




Serakah.


Tetapi licia tidaklah serakah. Astaga kenapa leon lupa, pasti licia sedang berusaha menjadi baik agar orang disekitarnya tak curiga sedikit pun.




Tidak Peduli orang disekitarnya.


Sangatlah benar. dia memang berwajah dingin, songong, dan pemarah.




Dan Leon sadar, jika dirinya memang kepo akan kehidupan Licia. Leon pun tak tahu, Bahkan Leon selalu menyangkal akan perasaannya. Tapi semuanya percuma, karena Leon memang benar-benar tertarik dengan perempuan itu. yaitu seorang Licia.


Setelah selesai dengan kesibukannya Leon menatap nanar kedepan. Dan benar saja, 95% sifat dan dan sikap Licia sama persis dengan info yang barusan ia baca.


Jadi, apa Licia benar-benar seorang Psikopat?


Dan Kenapa Licia melakukan semua itu? Kenapa dia setega itu? Dan Leon, ia sudah mencintai seorang psychopath.


Astaga, ini terdengar Gila.


Leon menendang meja didepannya dengan perasaan campur aduk.


"kenapa juga aku mencintai gadis aneh itu. Astaga otakku." Lirihnya.


"Cinta memang tau dimana ia harus melangkah dan berhenti untuk mengejar. Cinta juga sudah banyak mengajarkanku tentang arti kehidupan. Dan sekarang, biarkan aku yang menjarakan arti cinta dalam sebuah kehidupan pada diri mu Licia." Monolognya.


Leon tersenyum dengan sendirinya. Ia merasa yakin, bahwa pada akhirnya Licia akan menerimanya dan merubah semua sikap gilanya itu.


****


"berhentilah mengikutiku!"


Sedangkan Orang itu hanya memasang wajah polosnya kemudian mengikuti Licia kembali.


"Lelaki tidak waras!" desisnya.


Licia menghentikan tubuhnya secara tiba-tiba. Kemudian membalikkan tubuhnya. Ia mendesah berat. Lalu Menatap Leon dengan bringas.


"kau! Kau sudah membuatku marah."


Leon terkekeh.


"kenapa bibir manismu itu tak pernah berkata dengan lembut Licia."


"masa bodoh dengan itu. Yang ku inginkan enyahlah kau dari hadapanku."


Mata mereka saling beradu. Leon yang memandang wajah dingin Licia dengan sejuta kekaguman, tapi tidak dengan Licia. Dia menatap wajah Leon layaknya musuh.


Dengan gesit Leon mencekal pergelangan licia pelan lalu menariknya untuk pergi dari area kampus.


Licia yang mendapat perlakuan itu pun hanya diam walaupun seribu ocehan yang terdapat dalam batinnya.


Ternyata Tak sesusah yang ia pikirkan untuk membawa Licia kedalam mobilnya, batin Leon.


Hening.....


Dan Leon merasa aneh, kenapa Licia tak meronta sedikit pun. Dia terlihat seperti marah tetapi dia pasrah disaat ia Leon bawa.


Licia masih diam. Hingga mobil Leon membawanya entah kemana. Dan Licia tidak peduli. karena dia Lelah dengan Laki-laki disampingnya ini.


"kau tak takut jika aku menculik mu?"


Leon akhirnya membuka suara. Karena sungguh, ia sangat benci keheningan.


Leon berdecak kesal karena Licia hanya diam seperti patung. "Kalau aku menjualmu? Apa kau tak takut? Atau aku membuangmu ke sungai?"


Hening...


"Ucapkan lah sepatah atau dua patah kata Licia. Dan jangan membuat ku merasa bersalah seperti ini."


Leon membelokan mobilnya ke samping. Ia heran dengan sikap diamnya Licia yang terus menatap kearah jalanan.


Dengan lembut Leon menepuk bahu licia. Leon mendesah berat.


"maafkan aku." Tulusnya kepada Licia.


Namun nihil, Licia tak pernah menjawab perkataannya. Licia terlalu dingin. Dan Leon adalah seseorang yang mudah berbaur. Sehingga ia selalu mengoceh kapan saja.


"Licia?" panggilnya lagi.


Tes-


Sekilas Leon dapat melihat jika Licia mengahapus benda bening itu dengan kasar.


Dia menangis?


Apa aku terlalu kasar? pikir Leon dengan bingung.


Tiba-tiba saja Licia membalikkan tubuhnya lalu menatap Leon dengan mata yang sudah merah akibat menahan tangis dan amarahnya.


"Bermain dengan perlahan." Lirih licia.


Leon mengernyit atas apa yang dikatakan oleh Licia barusan.


"kau baik-baik saja Licia?"


Leon tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Sungguh ia sangat ingin menghibur Licia. Tetapi ia teringat kembali, jika Licia juga butuh ketenangan bukan hiburan semata.


"Licia?"


Licia mengepalkan kedua tangannya. Buk- Licia menonjok kaca disampingnya dengar keras.


Leon bergidik ngeri.


Ia menatap heran ketangan Licia.


Apa Licia tak kesakitan? Astaga' tangannya sedikit terluka. Apa dia waras? Pikir Leon.


Mata Leon beralih menatap pintu mobilnya. Kemudian mengehal nafasnya setelah melihat bahwa kacanya tak lecet sedikitpun.


'Astaga mobil kesayanganku, hampir saja.' Batin leon.


"Bantu aku mencari pembunuh itu!"


Leon hampir terkikik geli. Licia mencari pembunuh, sedangkan dia lupa dengan jati dirinya sendiri. Yaitu pembunuh mencari si pembunuh.


Bahahahhak- "kau bercanda?"


"Aku bersumpah akan membunuhnya dengan perlahan, hingga ia meminta maaf dan bersujud kepadaku."


Mata Licia memerah. Tapi bukan kesedihan yang dia pancarkan tetapi kilatan kebencian yang penuh dengan amarah.


Leon menghela nafasnya. "Membunuh tak kan memperbaiki semuanya."


"Tapi Dia sudah menyiksa dan memperkosa ibu ku. Dan aku bersumpah akan mencari lelaki ******** itu hingga keujung dunia!" sanggah Licia dengan cepat.


"Maafkan aku." Ujar Leon serius.


Licia berdecak kesal, ia benci lelaki seperti Leon.


"Dasar bodoh!" Desis Licia.


Tidak terima dengan perkataan Licia. Leon pun menatap Licia dengan tajam. "Hey! Jikalau aku bodoh, aku tidak akan sekaya ini," Bangganya.


Licia menampilkaan wajah datarnya. lalu mengatakan, "Justru kamu kaya, Aku pasti akan butuh bantuanmu bukan permintaan maafmu." Jawabnya dingin.


Leon memandang lekat manik mata Licia. Ia merasa ada sisi rapuh yang Licia siratkan dari kedua matanya itu.


"Baiklah." Putus Leon tak mau berdebat lagi.


'Setidaknya, dengan membantumu seperti ini bisa membuat dirimu percaya dan nyaman saat berada didekatku Licia.' gumam batin Leon.


______


TO BE CONTINUED