I'M NOT A PSYCHOPATH

I'M NOT A PSYCHOPATH
21. Flashback~



Licia Flashback~


_____________


Licia menatap nanar Foto Leon yang tengah tertidur disampingnya. Senyum Licia terbit, namun sesaat senyum itu Luntur kembali.


"Kau bilang kau mencintaku, Nyatanya Kau bukan Milikku," Lirih Licia.


Disini lah Licia berada, ditempat yang selalu membuatnya nyaman. Yaitu Cafe langganannya. yang tak jauh dari Universitasnya.


Licia memejamkan matanya sejenak seraya menikmati nikmatnya secangkir Kopi.


"Hai Licia."


Licia menoleh, kemudian menatap dingin orang itu.


Orang itu duduk didepan Licia dengan Angkuh. sedangkan Licia hanya diam seraya menunggu apa maksud perempuan ini.


"Ku harap kau tak terkejut mendengarnya." Kekeh Perempuan itu yang tak lain adalah Shavira, yang mengaku Tunangannya Leon.


Ahk- Mengingat akan hal itu membuat Hati Licia menjadi nyeri. Licia mencinta Leon, dan kalian tau itu. tapi ego Licia terlalu tinggi unyuk mengatakannya.


Dan untunglah Licia tak mengatakannya. Karena Cinta Licia hanyalah Semu, layaknya korek tanpa kayu.


"Kau bisu?" Ahahaha- kekeh Shvira.


Licia pun hanya diam tanpa menjawab Ocehan tersebut.


"Aku tau, kau anak dari Andre dan Luci. benar?"


Licia mengeratkan genggamannya. Lalu menatap tajam kearah Shavira. "Apa mau mu?!"


Shavira terkekeh pelan.


"Aku pun tau, jika kau ingin mencari keberadaan Ayahmu itu, dengan bantuan Leon. benar bukan?"


BRAK!


Kaki jenjang Licia menendang Meja tersebut dengan kencang Hingga membuat Shavira kaget setengan mati.


"Dia bukan Ayahku!" Dingin Licia.


"Ok-ok tenanglah. bisakah kita berbicara dengan kepala dingin." Ucap Shavira datar.


"Kau yang membuat Api, maka kau juga yang harus memadamkannya." Jawab Licia.


Shavira mencondongkan tubuhnya kearah Licia kemudian menatapnya serius. "Aku tau kau dan Leon mencari keberadaan Andrew. tetapi Leon mengatakan jika dia tidak tau kan? semuanya salah Licia. Leon tau dimana Andrew, dia hanya menyembunyikannya agar kau tak berbuat nekat kepada Andrew." Jelas Shavira serius.


Licia memincingkan wajahnya. walaupun Sekarang dia sudah mulai emosi.


"Omong kosong!" Tajam Licia yang sudah ingin meninggalkan tempat itu.


Shavira menatap Licia penuh harap. "Licia!" panggilnya.


"Aku mencintai Leon. sama seperti kau mencintainya. tapi yang membuatnya beda adalah cintamu. Yaa' Cintamu hanya semu, Leon memanfaatkanmu Licia. dia tidak mau kau menyakiti Om nya." Sambung Shavira.


Dengan Gerakan Cepat Licia menoleh kearah Shavira. Apa yang dikatakan Perempuan ini barusan. Om? Apa maksudnya. Pikir Licia.


"Ya, Andrew adalah Om Leon." Sambung Shavira. "Jika kau tak percaya, pergilah ketempat Vino. dimana kau sudah membuat Sketsa wajah Ayahmu bersama Leon tempo lalu."


'Andrew adalah Om Leon. Pantas saja dia menyembunyikkan semua ini dariku.'


Licia melirik Shavira dengan dingin. "Setidaknya kau sedikit membantu." Gumam Licia hingga menghilang dari hadapannya Shavira.


Shavira menyunggingkan senyum sinisnya disaat menatap Tubub Licia yang kian menjauh.


"Ya, setidaknya aku tak susah payah memisahkan Kalian berdua." Ucapnya.


***


BRAK!


"Hei, ada apa?" Tanya Orang itu yang tak lain adalah Vino.


Licia menatapnya sejenak. kemudian mencondongkan Pistol ke kepala Vino. Vino yang mendapat perlakuan seperti itu sudah mengangkat tangannya dengan pasrah.


"Bagaimana kau bisa kemari? dan dimana Leon?" Tanya Vino.


Licia mengambil sessuatu dari sakunya, lalu menusuknya kepunggung Vino.


"Apa-apaan kau!" teriak Vino disaat merasakan benda lancip menusuk punggungnya. "Apa yanh kau lakukan Licia?"


Licia pun sudah memasukan Pistolnya kembali. kemudian menatap Tubuh Vino yang sudah ambruk dilantai.


"Kau apakan Tubuhku? kenapa Kakiku Tidak berfungsi?!"


Dengan langkah pelan Licia membisikan sesuatu ditelinga Vino. "Tenanglah, obat itu hanya bekerja selama satu jam. dan ku pastikan Nyawamu akan selamat, jika kau memberitahu dimana Leon menyimpan berkas Kaparat itu."


"Aku tidak tau."


Licia tersenyum sinis kearah Vino yang tak berdaya. "Kau melawanku? Aku bahkan bisa membuat tubuhmu lumpuh untuk selamanya." Desisnya.


Vino menatap Licia dengan geram. Dan jujur saja, Vino sejujurnya kaget akan kehadiran Licia didepannya. Hinhha membuatnya lumpuh tak berdaya. sungguh Vino tak mengerti akan jalan pikiran Licia.


"Percayalah, jika Leon melakukan ini demi kebaikanmu." Ujar Vino dengan Serius.


Tatapan mereka bertemu. Licia pun dengan teganya menjambat rambut Vino dengan keras.


Akh! Teriak Vino.


"Katakan dimana Leon menyimpan Berkas itu."


"Jika kau ingin pilihan, aku akan membuatnya." Ujar Licia yang sudah berdiri didepan wajah Vino.


"Katakan sejujurnya Atau ku bakar kau serta Tempat mu ini? Ku beri waktu hingga 1 detik."


"Apa-apaan ini?! kau melakukannya sesuka hatimu." Kesal Vino.


"Ok, kau ingin mati perlahan dengan rumah besarmu ini? baiklah." Kekeh Licia.


Vino memejamkan matanya sejenak. 'Sorry Yon,' Batinnya Lirih.


"Ditempat kerjaku, didalam Laci Yang bertulisan Private."


"Licia!" Panggil Vino sebelum Licia meninggalkannya.


Licia melempar sesuatu kearah Vino. Vino pun menatap benda itu dengan bingung. "Kau akan membutukannya, jika dalam satu jam tubuhmu tak bergerak lagi."


"Bagaimana aku mengambilnya jika tubuhku Kaku seperti ini?" tanya Vino Frustasi.


"Maka berjuanglah," Jawab Licia.


Shit!!! Geram Vino.


Licia pun sudah meninggalakan Vino dengan tenang. Licia melirik disekitarnya kemudian mencari apa yang dia inginkan.


Dengan Telaten tangannya sibuk mencari berkas itu. hingga 15 menit berlalu, Licia masih berkutik ditempat itu.


Akh! kesal Licia. lalu kembali dimana Vino berada.


Vino membuka matanya disaat mendengar langkah tersebut. kemudian menatap Licia yang sudah didepannya.


"Kau pembohong!" Ucap Licia.


"Berusahalah," Jawab Vino dengan tenang. walaupun Tubuhnya tak bisa bergerak.


Licia terkekeh disaat mendengar candaan tersebut. "Kau sangat membantu Vin. setidaknya ada candaan sebelum maut menjemputmu."


"Dan aku tak tau kenapa kau mencari berkas sialan itu. yang ku ingatkan hanya satu, Leon sangat mencintaimu. Percayalan." Ujar Vino dengan serius.


Licia memutar bola matanya dengan jengah. dia pun hanya bisa tersenyum miris disaat Vino mengatakan hal tersebut.


Leon Mencintainya? Cih- Sandiwara apa lagi ini?


Dan sayangnya Licia tak kan pernah mempercayai itu. Semua hancur, semuanya musanah. Bersamaan Leon yang telah membohonginya.


"Okelah terserah apa katamu. yang ku ingin hanya berkas itu Vin, Bukan Cercaanmu."


"Sudah ku katakan ditempat kerjaku. dan didalam Laci dengan nama Private."


Licia mencondongkan Pistolnya kearah Vino lalu terkekeh pelan. "Kau mengelabuiku. aku tau kau bermain-main dengan waktu Vin."


"Dan kau tau itu." Jawab Vino.


DORRR!!!


Vino memejamkan matanya dengan kaget. kemudian menatap Licia dengan pandangan tak percaya.


"Kau Gila?!" Teriak Vino.


Vino pun hanya Pasrah disaat Licia menembak Kearahnya lagi. Bahkan tembakan itu sedikit lagi mengenai kakinya.


DORRR!!!


"AKH! BERHENTILAH LICIA." teriak Vino dengan Frustasi karena tembakan itu meleset dari lengannya.


"Masih tersisa 1 peluru Vin." kekeh Licia.


"Ok Fine! Berkas itu Di bawah kursi berwarna merah!" kesalnya.


"Thanks."


Licia memasukan kembali Senjatanya. ia pun sudah melangkahkan kakinya menuju tempat yang Vino katakan barusan.


Dan benar, Disana terdapat Foto Andrew, Sketsa, Bahkan Biodata dari Andrew, si kapar*t itu.


"Baiklah Licia, waktumu tinggal 20 menit lagi." Gumamnya sendiri.


Licia pun sibuk membuka apa yang ada didalam Map itu.


Dan tiba-tiba saja, ia menemukan sebuah Foto keluarga. Hingga membuat Licia bingung akan banyaknya foto tersebut.


Kening Licia terangkat. "Kenapa Tidak ada Foto perempuan dikeluarga ini?" Bingungnya.


Pandangan Licia pun jatuh keanak laki-laki yang tengah memeluk temannya. "Sangat Familiar, biar ku tebak. ini Leon, dan disebelahnya? kakak Leon." Katanya seraya mengamati Foto itu.


"Ini kakekmu, Ayahmu, Om, Kakak, Dan dirimu Yon," Ucapnya sendiri.


Licia memasukan kembali Foto itu kedalam Map berwarna Merah muda. kemudian berkata, "Keluarga yang harmonis, walaupun tanpa Nenek dan ibu." kekeh Licia seraya memasukkan semua berkas itu kedalam Ranselnya.


"Ini bukan akhir, ini adalah awal. Awal dimana kalian harus menerima yang Namanya Kematian." Batinnya bak iblis.


_______


TO BE CONTINUED


#Tunggu Episode berikutnya guys🤗, dan ku harap kalian suka dengan Part ini.


#See You All😍🍉