
HAPPY READING ALLπ
______
LEON POV
Kedamaian akan tiba jika kita saling memaafkan. Keabadian akan datang jika kia saling melengkapi. Kepercayaan akan terjalin jika kita saling memberi.
Leon memasuki Mansion kakeknya dengan langkah gontai. ia pun bingun harus melakukan apa jika bertemua dengan Licia nanti. Yaa, Licia lah yang selalu mengusik pikiran Leon. Hingga Leon Lelah akan memikirkannya.
Licia yang selalu apa adanya, cantik, dan tentu saja Licia sangat baik. walaupun wajahnya terkesan dingin, akan tetapi Leon tau Jika hati Licia bak peri didalam sana.
"Leon." Panggil seseorang kepadanya.
Leon pun menghentikan langkahnya kemudian menatap orang itu dalam diam.
"Kau sudah meninggalkan Perempuan itu?"
"Tidak. dan tidak akan pernah!" Jawab Leon.
Bramana mendekati Leon dengan tersenyum sinis. "Kau melawanku?"
Leon memejamkan matanya sejenak. kemudian menatap kakeknya dengan aura mematikan. "Jika kakek bisa memaksa, aku pun bisa kek."
Hahaha- "Kau hanya pemuda bod*h yang terperangkap akan perempuan murahan itu."
"Dan kau melupakan kesepakan kita nak. ingatlah jika perempuan itu tak pantas dengan keluarga kita."
Inikah Akhirnya? dimana Leon harus melupakannya.
Tidak! Leon masih bisa mempertahankan Licia, mempertahankan Cintanya. "Kesepakatan itu sudah hancur, disaat kakek ingin membunuh Licia." Ucap Leon dengan dingin.
"Kau mengetahuinya? Ahaha- sepertinya kau terlalu banyak ikut campur Yon."
BRAK!
Leon pergi meninggalkan tempat tersebut dengan marah. ia pun sudah tak peduli jika suatu saat nanti hubungannya dengan kakeknya yang akan menjadi taruhannya.
Drttt........
Leon mengambil benda pipih itu dari jasnya.
"Jika itu tidak penting, aku sendiri yang akan membunuhmu!" Kata Leon dengan tegas, hingga terdengar helaan nafas diseberang sana.
"Sebelum kau membunuhku, Licia lah yang lebih dulu membunuhku." ujar diseberang sana.
Leon menaikan Alisnya bingung.
"Licia ketempatku. lebih tepatnya, dia sudah mengetahui jika kau menyembunyikan Berkas Andrew darinya." Jelas diseberang sana yang tak lain adalah Vino.
Tangan Leon terkepal. kenapa semua masalah datang secara bersamaan didalam hidupnya.
"Sial " Gerutunya.
Dan Ya' Sebenarnya Sketsa Andrew sudah selesai. tetapi Leon lah yang berbohong kepada Licia. jika Sketsa itu hancur, bahkan tak bisa dikenali. tapi kenapa Licia bisa mengetahui jika Sketsa itu masih berada disana.
Dan Alasan Leon menyembunyikannya justru demi kebaikan Licia. dia tidak ingin Licia kembali mengungkit yang Namanya Andrew.
"Leon?" Panggil diseberang sana.
"Ya, aku mendengarmu." Jawab Leon.
Leon memikirkan kembali, bagaimana jika Leon bertemu dengan Licia. apa Licia akan membunuhnya karena menyembunyikan Pria bajing*n itu atau mengampuninya.
"Ku harap Licia memaafkanmu Man." Ucap diseberang sana.
Setelah mendengar suara diseberang sana Leon segeran melempar Handphonenya kesembarang Arah.
"Aku harus menemuinya. sebelum dia membuat sesuatu yang buruk." gumam Leon serta meninggalkan Tempat tersebut.
Tanpa Leon sadari jika sejak tadi terdapat seseorang yang sudah mendengar percakapannya dengan Vino.
"Satu Kosong Nak." Ucap orang itu yang tak Lain adalah Seorang Bramana.
Bramana menyambungkan sambungannya diseberang sana. "Urus lah perempuan Gila itu."
"Baiklah kek." Jawab diseberang sana.
***
Licia menggebrak meja didepannya dengan kesal. bahkan rumahnya saat ini sudah seperti kapal pecah.
Akh!
Licia mengambil pisau kecil disakunya. ia pun menatap pisau itu dengan aura mematikan. Lalu menggores telapak tangannya hingga berdarah.
"Dengan Darah ini, aku bersumpah Akan menemukan mu Tuan Andrew yang terhormat!" Tajamnya.
Licia mengambil sesuatu dari kamarnya. lalu menatap Botol itu dengan raut sedih. kemudian memasukkan benda itu kedalam jaketnya.
"Kau yang memberikan Obat sialan ini kepada ibuku, dan Sekarang kau akan merasakannya. Mati secara Perlahan." Desis Licia.
Dengan Langkah pasti Licia keluar dari rumah mungilnya. Seraya melirik disekitarnya, karena Insting Licia sangatlah kuat. dia tau jika sekarang dia tidak seorang diri saja. melainkan ada orang lain ditempat ini.
Akan Tetapi, Licia mencoba lebih tenang agar orang itu tak tau jika Licia sudah Curiga akan keberadaan Orang tersebut.
Licia melangkahkan kakinya kejalan raya. Pandangannya jatuh kepada Leon yang menatapnya diseberang Sana.
"Pembohong." Dingin Licia.
"Licia dengarkan Aku!" kejar Loen.
Licia terus melangkahkan kakinya agar menjuh dari Keberadaan Leon. Leon pun dengan Kekeh terus mengikuti Licia.
Leon mencekal pergelangan Licia dengan erat. hingga tatapan mereka bertemu.
"Kau tak mengerti, ini semua demi kebaikanmu. mengertilah." Lirih Leon.
Licia mengehempaskan tangan Leon dengan Kasar. "Dan aku sangat berterima kasih kepada Tunanganmu itu karena sudah memberitahuku jika kau selama ini hanya membohongiku."
"Dia bohong, kau sedang dalam masalah Licia. Percayalah kepadaku?" Ucap Leon dengan mata merahnya.
Cih- "Kau memanfaatkan ku yon. kau memanfaatkanku, membuatku jatuh kepelukanmu agar Andrew selamat kan? Pembohong!" Tajam Licia.
Leon menggelengkan kepalanya dengan lemah. tatapannya sendu. bahkan Jika kalian melihat dengan saksama jika Saat Ini Leon tengah meneteskan Air matanya didepan Licia.
"Aku menyalamatkanmu, Kenapa kau tak mengerti itu?!" Bentak Leon.
"Ya, aku takkan pernah mengerti dan takkan pernah mempercayai itu. karena kau lebih memeilih Pria Brengsek itu, yang tak Lain adalah Om mu."
Leon terdiam....
"Kenapa? kau kaget, jika aku mengetahui jika Andrew kaparat itu adalah Om mu." Kekeh Licia. "Bahkan aku menyesal karna tak membunuhmu dari awal kita bertemu." sambungnya.
Leon memejamkan matanya sejenak. mencoba untuk menahan amarahnya agar tak keluar. "Aku akan menjelaskan semuanya." Ujar Leon.
Licia tersenyum sinis. bahkan dia tak takut jika Leon akan melukainya saat ini juga.
"Setelah aku membunuh brengs*k itu, ku harap kau sudah menyiapkan Liang kuburmu sendiri Leonanta."
Licia membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan Leon. akan tetapi pergerakannya terhenti akibat Leon Mendorongnya Tubuhnya kepinggir jalan. bahkan dorongan itu sangat kencang, hingga tubuhnya jatuh tak berdaya.
CITTT.....BRAK!
"Aku mencintaimu,"
Bisikan itu membuat Licia membuka matanya dengan perlahan.
BRUK!
"Leon," Lirih Licia yang menyaksikan Tabrakan maut tersebut. hingga mobil yang ingin menabraknya itu sudah melarikan diri.
"Leon," Lirihnya.
Tubuh Leon terlempar jauh, tatapan Licia terus tertuju kearah Leon yang sudah tak sadarkan diri.
"Kau benar, Cinta mengalahkan Segalanya Yon." Gumam Licia.
Hingga terdapat beberapa warga yang mengerumbungi dirinya serta Leon diseberang sana.
Licia ingin bangun. akan tetapi kepalanya seakan pecah saat ini juga.
"Ku mohon tolonglah Lelaki itu." Ucap Licia dengan lemah kepada warga yang sudah membantunya untuk keambulan.
"Ku mohon, selamatkan dia." Lirih Licia lagi.
Sebelum Semuanya menjadi gelap......
__________
TO BE CONTINUED
#Next guys, dan terus baca Novel-novelku lainnya yahπππ
#SEE YOU ALLπ