
Setelah dari rumah Vino, Leon mengajak Licia kesuatu tempat. Leon mngendarai mobil dalam diam, begitu juga dengan Licia. Dia hanya menatap nanar kearah luar jendela.
“Licia, Apa boleh aku bertanya?”
Hmm-
Saat mendapat persetujuan tersebut Leon segera mengatakan sesuatu. “akhir-akhir ini aku tidak pernah melihatmu, Ee- seperti membunuh misalnya.” Tanya Leon hati-hati.
Licia terkekeh. “Aku bukan psikopat seperti yang ada di otakmu.”
“Tapi, kenapa kamu melakukan hal itu.”
“Hanya ingin. Dan hiburan.” Jawab Licia acuh.
Licia menoleh dan bertepatan Leon juga menatapnya. Pandangan mereka terkunci. Licia tidak tau berkata harus apa, dia hanya mengagumi lelaki di sampingnya ini. mungkin otak Licia sudah rusak. Tapi, itulah kenyataannya. Karisma Leon tak bisa dipungkiri. Rahangnya yang begitu tegas, wajah yang bersih tanpa noda sedikit pun, tubuh yang ideal. Siapa yang tidak terrpesona akan kesempurnaannya itu.
Dan Licia sadar, seharusnya dia tidak terlalu jauh mengenal yang namanya laki-laki. tapi ini sudah terjadi, dan Licia berharap Leon tak seperti ******** diluar sana.
Leon mendekatkan wajahnya dengan seyum sinis yang terpampang dibibirnya. saat Mengetahui jika Licia tengah menatapnya. Licia pun hanha membuang wajahnya dengan sembarang.
*D*eg deg deg.....
Jantung Licia seakan Lomba Maraton. Licia menahan nafasnya, dan tiba-tiba saja menolehkan wajahnya kesamping. bertepatan wajah Leon sudah berada beberapa centi dari wajahnya.
“Apa-apaan kau!” bentak licia.
Tak menghiraukan perkataaan Licia. Leon segera memasangkan seatbelt kepada perempuan disampingnya itu. setelelah selesai dengan itu, Leon pun duduk kembali dikursi kemudinya.
“Kenapa dengan wajahmu?” Tanya Leon seraya menghadap kearah licia.
Licia memegang pipinya seperti orang bodoh. “Mungkin karena cuaca yang panas ini kulit ku terbakar. secara kulitku kurang menyesuaikan panasnya Indonesia.”
Saat mendengar penjelasan tersebut Leon hanya tersenyum miring. “Aku kira kau mulai terpesona akan ketampanan ku,”
“Tidak akan! Dan tidak mungkin jika aku terpesona dengan lelaki gila seperti mu.” Jawabnya dengan angkuh.
Tangan Leon terangkat untuk mengacak-acak poni Licia dengn gemas. Licia yang mendapat perlakuan seperti itu hanya diam mematung.
Karena ini pertama kalinya Licia mendapat perlakuan dan semanis yang Leon Berikan.
Jantung Licia berdebar dengan kencangnya. Ia pun menjauhkan tangan Leon dengan kasar karena takut jika Leon akan mendengar detak jantungnya itu.
“Jangan menyentuhku brengsek!”
Bukannya marah, Leon justru terkekeh akan melihat tingkah tersebut.
“Ku kira wajah songong mu itu takkan pernah bisa merah seperti itu. ternyata kamu bisa juga.”
Licia memutar bola matanya dengan jengah. “Cepat jalankan mobilmu. Atau aku akan turun!”
Mendengar ancaman tersebut Leon segera menjalankan mobilnya untuk menuju kediamannya.
'Selalu saja mengancam.' Kesal batin Leon.
“Apa salah, jika aku mencintaimu?” gumam Leon seraya mengusap pipi licia dengan lembut.
Dan Licia hanya diam, serta merasakan hangatnya tangan itu yang menyentuh kulitnya.
‘*T*idak. Dan sebisa mungkin aku akan membuatmu tak mencintaiku.’ Balas batin Licia.
“Aku sangat mencintamu, bahkan aku sadar. Ternyata cinta pada pandangan pertama itu memang benar-benar ada.”
Licia melirik Leon dari ekor matanya. pandangan Leon Fokus kejalanan dengan satu tangan yang memegang setir mobil. dan tangan satunya lagi mengusap kepala serta pipi Licia dengan lembut.
‘dan aku benci akan diriku sendiri yang mulai membuka diri ini hanya karena rayuan dirimu.’ Batin licia lirih.
Mobil Leon sudah melaju dengan sempurna. Leon pun mengantar Licia Ke tempat Universitasnya.
Leon memandang kesal kearah Licia. Karena keluar dari mobilnya tanpa permisi. bahkan mengucapkan Terimakasih saja tidak.
“Sama-sama cantik.” celutuk Leon dan mendapat pelototan dari Licia.
Sungguh cinta datang secara tiba-tiba. mata Leon pun tak pernah Lepas dari Licia. dan Disaat Leon melirik kearah Lain, pandangan Leon terkunci kepada sosok laki-laki yang baru saja memarkirkan mobil didepan mobilnya.
Leon segera mengampiri orang tersebut dengan emosi. Bukk-
***BUK!
BUK***!
“Bangsat! Ternyata lu bersembunyi disini hah!?”
Sedangkan Orang itu hanya diam seraya menghapus jejak darah bibirnya. “Cih, anak manja.”
Buk-
“Jaga omongan lu *******.” desis Leon.
BUK
Leon terus memukul wajah orang tersebut hingga tangannya berdarah. Bahkan Leon melupakan Jika saat ini dia tengah di tempat umum.
“kenapa? Lu emang anak manja kan. Dan juga lu bukan darah daging kakek ataupun Om Bram. tapi kekek selalu membelalu lu mati matian. Dan siapa yang lebih ******* hah! Dasar Anak pemulung!”
Leon mengepalkan kedua tangannya. disaat mendengar perkataan tersebut. "mau pukul gue lagi?! sini pukul?! gue gak takut!"
Sebisa mungkin Leon menetralkan emosinya. kemudian menatap Lelaki itu dengan nyalang. “Dan gue sudah menang. Karena nyatanya anak pemulung lebih dipercaya. Dari pada lu, anak dari seorang penghianat.” Jawab Leon dan meninggalkan Orang tersebut, yang hanya terdiam kaku.
"***Siapapun dirinya, Jika keteguhan hati dan jiwa sudah melekat dalam sanubarinya. maka musuh pun akan berpikir ulang untuk mendekatinya."
Leon~~
_______
TO BE CONTINUED***