
Setelah Melewti cekcok yang membuat kepala Leon sakit. Akhirnya Leon mengajak Licia mampir kesebuah restoran.
Sebenarnya Leon ingin mengantar Licia ke kampu, bukan ketempat ini. Akan Tetapi Leon tak sengaja melihat hal aneh dari arah belakang. Leon pun sedikit heran saat mendapati mobil Ferari berwarna hitam yang selalu mengikutinya.
Leon menggerakkan kepalanya dengan pelan, kemudian melirik kesana kemari.
Dan sejujurnya Leon sangat takut jika orang tersebut adalah suruhan kakeknya. Karena Kakeknya selalu membuntuti kemana pun Leon pergi.
“Licia maaf, Untuk sekarang Aku tak bisa mengantarmu ke kampus.”
Pandangan mereka bertemu dan Licia hanya diam.
Leon merasa bersalah dengan keadaan Licia saat ini. sejak dimobil tadi Licia hanya diam sesekali bergumam tak jelas.
"Apa Licia mempunyai masalalu yang menyakitkan?" pikir Leon.
Flashback on
*Mata Leon tak pernah lepas dari gerak geriknya Licia. Hingga Licia menghapus airmatanya dengan kasar.
Sebenarnya Leon sempat terkejut karena meliha wajah Licia yang seperti Rapuh akan kehidupan.
“Bantu aku mencari pembunuh itu.”
Sebenarnya Leon hampir saja terkikik geli. 'Pembunuh mencari pembunuh.' Tetai Leon menyembunyikan kembali raut wajahnya disaat menatap wajah dingin Licia.
Leon menghela nafasnya kemudian mengangguk lirih.
"Apa yang bisa aku bantu?" Jawab Leon.
Licia menoleh kearah Leon dengan pandangan yang susah diartikan dan Leon sangat benci jika melihat Licia yang bersedih seperti itu. “dia sudah menyiksa dan memperkosa ibuku. Dan aku bersumpah akan mencari lelaki ******** itu hingga kujung dunia.” Tajamnya. Leon pun hanya mampu bergumam dengan lirih.
“aku tidak berjanji, tetapi aku akan berusaha.” Sahut Leon.
Licia tersenyum bahkan senyum itu terkesan tipis.
Tubuh Leon menegang. kemudian mengedipkan kedua matanya dengan shock. Sungguh langka pemandangan ini' sehingga Lidah Leon kelu untuk berkomentar. Licia tersenyum kepadanya. Walaupun senyum tersebut terkesan tipis dan hanya sementara tetapi Leon masih mengingat senyuman manis itu*.
Flashback off
Mengingat kejadian itu membuat Leon semakin heran dengan sikap lembutnya Licia. Licia menaikan satu alisnya disaat Leon tengah celingak-celinguk tidak jelas.
“orang itu ada diujung sana.” Celetuk Licia lalu menunjuk dengan dagunya.
Leon ingin berbalik. Tetapi gerakannya ditahan oleh Licia. “kalau kamu menengok sama aja kamu bunuh diri!” tajam Licia.
Licia hanya bisa menggelangkan kepalanya disaat menemui lelaki gegabah seperti Leon.
“Kamu tau?”
Licia menaikkan alisnya.
“Maksud ku, kamu tau jika kita sedang diikuti.” Licia mengangguk tanpa mengatakan apapun.
Mereka duduk dalam keheningan. Dan Leon selalu berbeo tak jelas, sehingga kepala Licia menjadi sakit.
Licia terus mengekori gerak-gerik seseorang yang tak jauh dari tempat mereka. walaupun sesekali dia memainkan handphonenya.
“apa pekerjaanmu?” Ujar Licia.
Leon tergelak. Leon hampir tak percaya bahwa Licia tengah menanyakan pekerjaannya. Sesaat Leon terkekeh pelan.
Licia memutar kedua bola matanya dengan jengah. “OB?”
what?! OB?
Kenapa pikiran Licia sangat sempit. Astaga, bayangkan saja wajah setampan Leon menyandang sebagai 'OB' Apa Licia tak melihat dari cara berpakaiannya. Lagipula Licia habis menaiki mobil mewah Leon barusan.
“Kau meremehkanku. Hei, aku adalah CEO diperusahaan CT.Corp.” Jelasnya yang terdengar sombong ditelinga Licia.
Licia memandang leon dengan tatapan aneh. Ia pun tak mengatakan apa-apa lagi.
“CEO adalah posisi Eksekutif tertinggi dalam suatu perusahaan yang mempunyai tugas untuk memimpin suatu perusahaan dan bertanggung jawab untuk kestabilan perusahaan tersebut. Namun, titel CEO sering mempunyai banyak tafsiran dalam penggunaannya, terkadang sering diasosiasikan sebagai Direktur Utama dalam suatu perusahaan.”
“Dan sekarang kamu sudah berhadapan dengan CEO muda di perusahaan tersebut.” l
Leon menjelaskan semua tentang pekerjaan sampai titelnya. Sesekali ia memanyunkan bibirnya karena respon Licia tak seperti yang dia inginkan.
“Masa bodoh dengan title mu. Yang ku butuhkan hanya kekuasaan mu untuk mencari ******** itu."
"Dan sekarang, antar aku kekampus!” ucap Licia dengan pelan walaupun terkesan tegas dan angkuh.
“Tapi kita tengah...-”
Seakan tahu dengan pikiran Leon, Licia akhirnya menegakkan tubuhnya. “Penguntit itu sudah menghilang.” Jelas Licia dan berlalu lebih dulu. Karena gerakan Leon sangatlah lamban.
“Berarti kamu mengetahui jika ada seseorang yang mengikuti kita sejak tadi?”
"Bahkan kamu sudah menanyakan ini kedua kalinya." dinginnya.
'Akh, benarkah?' ucap batinnya. Leon pun hanya bisa menatap Licia dengan pandangan kagum. Ia tak percaya jika Licia sejeli itu.
“Cepat antar aku kekampus! Atau aku akan membunuhmu!”
“Baiklah-baiklah, aku akan mengantarmu. Tetapi berhentilah mengatakan membunuh. Karena itu sangat tidak baik.”
Licia tersenyum miring. “aku suka kematian.” Ucapnya kemudia terkekeh pelan.
Sedangkan Leon hanya mnggelengkan kepalanya. karena tak paham dengan isi otak Licia. “berhentilah Licia. Aku tak suka itu.”
Licia membeci disaat orang asing yang tiba-tiba peduli kepadanya. Lagi pula Cuma Leon yang masih bertahan dengan sikap dinginnya Licia.
“Apa urusannya dengan mu? Kamu hanya orang asing yang tiba-tiba kenal denganku.”
Leon menatap Licia dengan lembut. “Apa harus aku ulangi lagi hm? Bahwa aku khawatir dengan dirimu.” Ujar Leon dengan sabar.
Licia sangatlah keras kepala. pikir Leon.
Apa kepala licia terbuat dari batu? Ah- kenapa juga Licia tak pernah mengerti dengan perasaannya.
“Aku khawatir jika orang yang aku cintai terluka. Mengertilah Licia.”
“Bullshit.” Desis Licia dan berlalu dari hadapan Leon.
Leon hanya menatap nanar punggung Licia. Kemudia mengikuti Licia dari belakang. Takut jika gadis itu dilukai seseorang, Lebih tepat takut jika Licia akan melakukan hal bodoh kembali. Seperti membunuh seseorang yang tak berdosa.
“Astaga, kenapa juga aku tergila-gila dengan dirinya.” Keluh Leon yang mesih mengekori Licia dari arah belakang.
_______
TO BE CONTINUED