
Hari yang begitu bahagia. tapi tidak dengan Licia. Karena dia benci disaat Leon terus mengoceh tidak jelas Disampingnya.
"Kau ada waktu?"
Mengacuhkan apa yang dikatakan orang tersebut. Licia tetap mencatat apa yang ada dilaptopnya.
Leon mendekatkan diri kearah Licia. dia terus menatap wajah cantik Licia dengan sejuta kekaguman.
"Kau sangat Cantik," Gumam Leon.
Licia melirik Leon dengan Tajam. "jika kau mendekat, Aku akan membunuhmu!"
Bukannya takut, Justru lelaki itu terkekeh pelan.
"Aku sangat ingin membunuhmu didepan ikan paus. kemudian memberikan daging busukmu itu kepada mereka."
Leon Terkekeh untuk kesekian kalinya.
"Terima kasih sarannya." Jawab Leon.
Licia menutup bukunya kemudian menatap Leon dengan Nyalang.
"Malam ini saja. aku ingin memberikan kejutan kepadamu." ujar Leon Serius.
"Dan aku tidak ingin." dingin Licia.
Leon tersenyum manis kearah Licia. sedangkan Licia hanya menatap Leon dengan bosan.
Leon mendekat kearah Licia. kemudian....
Akh!
Licia melototkan matanya disaat eradakan benda tajam dan lancip mengenai Lehernya.
Kemudian setelah itu Licia tak sadarkan diri dengan sepenuhnya.
"Maafkan aku." Bisik Leon kepada Licia.
Hingga Akhirnya Leon mengangkat tubuh mungil Licia kedalam mobilnya.
"Maafkan aku," Ujarnya lagi.
Leon mengeluarkan Borgol. kemudian memborgol lengan Licia dengan hati-hati. ia pun membenarkan Tubuh Licia agar terlihat lebih nyaman.
Pandangan Leon pun terus tertuju kepada Licia yang masih memejamkan matanya. Leon tidak tau Apa ini Obsesi atau Benar-benar mencintai perempuan disampingnya ini. yang jelas, Sebisa mungkin Leon akan menajaganya dan selalu membuatnya bahagia.
Euhg.....
Mobil itu pun terus melaju. Leon terus Fokus dengan didepannya hingga tak mendengar lenguhan dari Licia.
"Dimana ini?"
Tatapan Licia sangat tajam. bahkan pedang samurai pun kalah akan kilatan mata itu. sedangkan Leon, dia terus melajukan mobilnya dengan tenang.
Leon melirik Licia dari ekor matanya.
"Kau memborgolku?! Brengs*k!" Tajam Licia.
20 menit berlalu, Hingga mobil itu berhenti ditempat yang amat gelap. Licia menatap Leon dengan mata gelapnya.
"Sekarang aku sadar, bahwa tak ada lelaki didunia ini yang benar-benar baik."
Pandangan mereka bertemu. hingga Licia dapat melihat terdapat kesinisan diwajah tampan Leon.
"Aku bersumpah Akan membunuhmu Leonanta!"
"Lepas!"
Licia terus meronta. bahkan dia tidak peduli jika borgol itu sudah melukai pergelangan tangannya.
Pandangan Leon jatuh ketangan mungil itu. kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Tenanglah, aku tak kan menyakitimu." Ujar Leon bahkan dia tersenyum dengan gilanya.
"Tapi kau sudah menyakiti keyakinanku." Sambung Batin Licia.
Semuanya hancur. Bahkan Licia sudah percaya akan lelaki didepannya ini. tapi apa? semuanya benar. benar, jika lelaki itu memang brengs*k!
Dan Licia sangat menyesal karena menerima lelaki ini dihidupnya.
Ciiit....
Leon menghentikan mobilnya ditempat yang amat gelap. bahkan Licia pun tak mengenal tempat tersebut.
"Dimana ini?" batin Licia.
Mata Licia terus melotot kearah Leon dengan tajam. tapi lelaki itu menghiraukan tatapan tersebut.
Clek-
Leon membukakan pintu mobil untuk Licia. tapi Licia tetap duduk dengan tenang.
Licia terkekeh pelan. "Apa mau mu?!" Dingin Licia.
"Maafkan aku,"
Cih! Ejek Licia yang masih duduk ditempatnya dengan tenang.
"Dasar keras kepala." Runtuk batin Leon.
Leon mengeluarkan nafas beratnya. kemudian mendekati Licia. Sedangkan Licia menatap Leon dengan tajamnya.
"Akh! Kau?!" kesalnya kepada Leon.
Tanpa Licia duga, Ternyata Leon mengangkat tubuh mungilnya untuk keluar.
"Lepaskan aku!"
"LEPAS!" teriak Licia.
Leon menghiraukan teriakan tersebut. hingga Leon menurunkan tubuh mungil itu. Licia mencoba untuk kabur, tapi dengan cepat tangan Leon menggapainya.
Leon tersrnyum kearah Licia kemudian menggenggam tangan itu dengan lembut.
TING
TING
TING
Pandangan mereka bertemu. Alis Licia terangkat. "Kau?!" tanyanya dengan Marah walaupun Hatinya sedikit Lega saat menatap indahnya pemandangan didepannya ini.
"Kejutan." Ucap Leon.
"Kau sebut ini kejutan? Dengan membiusku? Kemudian membawa ku ketempat yang tak ku tahu Lalu memborgolku. ini penculikan, bukan Kejutan." Jelas Licia panjang lebar.
Leon memejamkan matanya Sejenak. kemudian menatap Licia dengan harap. "Hei dengarkan aku."
"Aku hanya ingin membuat dirimu senang. bukan maksud apa-apa, percayalah. Karena aku takkan pernah menyakiti orang yang aku cintai." Sambung Leon seraya Menggenggam Tangan Licia.
"Maafkan aku," Sesal Leon.
"Tanpa kamu meminta Maaf, Perasaan ini akan selalu memaafkan mu Yon." Lirih batin Licia.
Licia menatap datar kearah Leon. "Lepaskan borgolnya."
Leon menepuk dahinya dengan keras. "Astaga aku melupakan Benda laknat ini." Kekeh Leon.
Licia memutar bola matanya dengan Jengah.
Leon pun melempar senyum kearah Licia. Licia menelusuri tempat tersebut. dimana Didepan Licia sudah terdapat Rumah pohon yang sangat Indah.
Senyum Licia terpapar indah saat mengetahui indahnya tempat ini.
"Kau memaafkan ku?"
Licia menoleh, kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku akan memaafkan mu, jika kau berani melukai tanganmu."
"Kau gila?"
'Ya... Acuh Licia.
"Astaga, bahkan aku tak menyangka bahwa aku mencintai gadis gila sepertimu." Gumam Leon dibelakang Licia.
"Aku mendengarnya," Jawab Licia dengan tajam.
Leon manggandeng lengan Licia dengan Erat Licia pun hanya diam walaupun hatinya setengah mati kesal dengan tingkah laku Leon malam ini.
"Bahkan aku tidak tahu, kenapa aku bisa mencintaimu Yon. Ini seperti mimpi, Tapi apa aku harus percaya akan takdir? bahwa cinta benar-benar ada." Batin Licia.
"Entahlah, aku tak ingin memikirkannya. Tuhan, Biarkan aku bahagia dengan dirinya. walaupun ini hanya sebatas Mimpi belaka." Sambung Batinnya.
Tangan mereka saling bertautan. bahkan Licia sudah membalas genggaman tersebut.
"I Love You Licia," Bisik Leon.
Sedangkan Licia hanya diam walaupun jantungnya sudah berdegup kencang.
deg deg deg.....
"Aku juga mencintamu, Leonanta." Ucap batinnya.
***
"Kakek,"
Tuan Bramana menatap orang itu dengan tersenyum ramah. "Kau tak memberitahu Leon jika kau sudah di Indonesia?"
Perempuan itu menggeleng. "Ini kejutan."
"Dan dimana Leon?" Tanya perempuan itu yang tak lain adalah Shavira.
Shavira adalah mantan Leon, mereka menjalin kasih waktu di London dulu. dimana Leonlah yang memutuskan hubungan Tersebut.
"Kau senang?" Tanya Bramana.
Shavira mengagguk dengan antusias.
"Menginaplah disini, Leon akan pulang Besok."
Wajah Shavira seketika masam. ia mengaharapkan Leon yang berada disampingnya dan menenmaninya. tetapi semuanya hangus. karena Leon terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Baiklah, Dan aku senang karena kakek menerima ku kembali."
Bramana menyesap kopinya dengan tenang kemudian menatap Shavira dengan terkekeh pelan.
"Kau mencintai cucuku?"
"Tentu saja," Jawab Shavira dengan Cepat.
Pandangan Mereka bertemu. "Lalu kenapa kau menghianati Cucuku?"
Shavira Menatap Kakeknya Leon dengan takut. bahkan dia tak mengira jika Masalalu dirinya akan dipertanyakan seperti ini.
"A-aku, Aku..."
"Tak usah dijawab, karena aku tahu apa yang kamu pikirkan. lebih baik kamu tidur."
Tuan bramana ingin berbalik dan meninggalkan Shavira. tetapi pergerakan itu terhenti atas perkataan yang Shavira lanturkan.
"Aku mencintai Leon kek, Aku tak ingin kehilangan dirinya kembali."
"Aku bersungguh-sungguh." Lirih Shavira yang terus menatap Bramana dengan penuh Harap.
"Jika bukan karena Ayahmu, Aku takkan mempercayai semua perkataan mu itu."
"Terima Kasih kek," Ujar shvira bersamaan Bramana meninggalkan tempat tersebut.
Shavira melangkahkan kakinya menuju tempat yang sudah disediakan. Dia menatap Foto Leon dengan sejuta kekaguman.
"Aku sangat mencintai mu Yon, walaupun aku tau Kau takkan pernah membalas perasaan ini."
"Dan Aku takkan membiarkan Kau dimiliki Orang lain. kau Leonku, Hanya Milikku." Tajamnya.
_______
**TO BE CONTINUED
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA GENGSπππ
#mohon maaf jika terdapat ketypoan didalamnya**.