I'M NOT A PSYCHOPATH

I'M NOT A PSYCHOPATH
3. EVIL



Namaku Liciana Baiylee. Tempat Lahirku di Thailand. dan sekarang aku tengah berada di indonesia karena tengah menjalankan suatu kewajiban yang harus aku selesaikan. Yaitu melanjutkan studi ku, jurusan kedokteran (UI) .


Dan di umurnya yang sudah menginjak 22 tahun ini, Licia hidup seorang diri tanpa di temani yang namanya sahabat ataupun kekasih.


Lamunan Licia buyar ketika menatap seseorang yang sedang duduk di depannya. Licia menatap di sekelilingnya dan sepertinya café disini sangat ramai.


“maaf. Aku terpaksa duduk di sini, karena aku lagi menyelidiki pacarku. sekali lagi maafkan aku yang duduk tanpa permisi.”


sejujurnya Licia masa bodoh dengan urusan orang-orang di sekitarnya. karena dia lebih suka menyiksa seseorang hingga orang itu menderita karenanya.


Dengan pandangan mengejek Licia menatap wanita yang amat menor itu dengan terang-terangan. tak lupa pakainya sangatlah ketat.


“apa wanita ini tidak malu. Kecafe dengan pakaian seperti itu.” Batin licia.


Byur-


Licia menumpahkan minumannya kepada wanita didepannya tersebut dengan tatapan dingin.


“hei! Bisakah kau jaga sikapmu heh!” pekik wanita itu dengan mata melotot.


Sedangkan Licia hanya tersenyum kecil, tangannya pun terulur untuk memberikan tissue kepada orang tersebut.


"Drama dimulai." Batinnya.


“Oh ya tuhan, maafkan aku.


aku teringat dengan sahabatku yang sudah merebut kekasihku. Ee-wajah kalian sangat mirip.” Dengan lembut licia mengatakan hal tersebut.


Sedangkan wanita tersebut menatap tajam kearah licia seperti ingin menerkamnya.


“dasar tidak waras!”


Dan Licia tak ambil pusing. Karena melakakukan kejahatan seperti tadi sudah menghibur dirinya di kala gundah.


30 menit berlalu, Licia sudah Merasa bosan dengan orang-orang di sekitarnya. Licia melangkahkan kakinya menuju kasir untuk membayar pesanan yang ia makan barusan.


“tarima kasih mbak, jangan lupa kesini kembali.” Ucap seorang pelayan yang tak jauh dari pandangan licia.


Licia yang mendapat sapaan tersebut hanya mengangguk seraya tersenyum manis. Setelah selesai membayar. Licia segera melangkahkan kakinya kesuatu tempat terlarang. Dan ibunya selalu memarahinya jika ia ketempat itu.


jika mengingat akan ibunya. Licia jadi rindu akan pelukan tersebut. ia mengapus jejak air mata yang baru saja menetes dari pelupuk matanya.


malam ini, Licia akan bersenang-senang. dia ingin melupakan kepahitan itu. walapun hanya sesaat.


----


Alunan musik membuat kuping Leon agak bising saat memasuki tempat laknat ini. Sejujurnya Leon jarang memasuki Club atau ketempat hiburan lainnya. Karena Leon lebih suka menikmati secangkir kopi didalam ruangan yang amat sepi.


Menurutnya Kopi adalah semacam rokok, yang telah menjadikan Leon sebagai candu.


Pagi, Siang, dan malam Leon selalu menikmati secankir kopi. Mengingat akan hal itu membuat Leon menyesal telah datang ketempat laknat ini.


Leon terus melangkahkan kakinya dan menatap kesana-kemari, seperti sedang mencari seseorang.


tiba-tiba Leon merasakan seseorang merangkulnya dari samping.


“mencari diriku?” kekeh orang tersebut.


Leon memutar kedua matanya dengan jengah. “aku benci tempat ini vin. Apalagi melihat tante-tante yang mojok disofa sana.”


Mata vino menatap kearah yang ditunjuk sahabatnya itu. “oh come’on dud. Umurmu sudah 25 tahun dan sudah selayaknya kamu mencari kekasih. Dan lupakan ular itu.”


Leon sangat paham saat sahabatnya itu mengatakan kata 'Ular' . yaitu mantan kekasihnya, Shavira


“dan sepertinya aku tak ingin terikat dengan seseorang dulu vin.” elak Leon.


“astaga yon. Apa kamu guy? Disini banyak yang menatapmu dengan pandangan kagum dan memuja. Tapi kau seolah-olah tak tertarik kepada mereka.”


“aku memang tak tertarik kepada tante-tante itu. Dan aku tidak guy vin.” Ujar leon dengan dingin.


“hm, aku tau. Dan lebih baik kita minum whisky dan bergabung dengan wanita-wanita cantik disana.” Tunjuk vino dengan dagunya. Leon pun menatap tempat duduk tersebut dengan menghela nafasnya.


“cantik dari mana coba? Astaga rasanya mataku sudah ternodai.” Batin leon.


“kamu duluan saja. Aku ingin mengambil minuman kesana.” Sesungguhnya Leon tak mau mengikuti Vino yang sudah menebarkan pesonanya kepada wanita kekuragan bahan itu. karena itu membuat Leon jijik akan melihatnya.


Saat Leon ingin melangkahkan kakinya menuju bar, seketika pergerakannya terhenti karena tatapannya terkunci kepada seseorang yang tengah masuk kedalam club ini dengan wajah angkuhnya.


“dia?”


Senyum Leon merekah saat menatap wajah cantik tersebut. “aku tak menyangka kita akan dipertemukan kembali angel.” Gumamnya dan melangkah mengikuti arah perempuan tersebut.


___________


Licia menatap semua orang yang sedang berlalu lalang didalam club ini. bahkan licia menghiraukan rayuan lelaki yang terus saja menggodanya.


Pandangannya tertuju kearah seseorang yang sejak tadi mengikutinya. "Lelaki bodoh itu lagi." Desis licia dengan lirih.


Ehmm-


“hei, sepertinya kita memang berjodoh angel.”


Licia masih diam seraya meneguk whiskynya dengan tenang. hingga terdapat seseorang yang duduk di sampingnya, licia tetap saja diam dengan wajah dinginnya


“tidak baik jika kau terus meminum minuman berakohol itu.”


Kaget licia karena lelaki disampingnya menghentikan gerakan tangannya yang ingin meminum whisky itu.


Dan sekarang lelaki asing itu tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.


“urus saja hidup anda tuan. Dan jangan pedulikan saya.” Dinginnya.


Jujur, Licia sangat benci kepada orang asing yang sok kenal kepadanya.


Lelaki tersebut hanya terkekeh pelan.


dan Licia akui jika lelaki di depannya ini sangatlah tampan. Licia juga merasa agak familiar dengan orang itu.


“Dan apa boleh aku duduk di sampingmu?”


Senyum licik mengembang saat menatap lelaki itu. “dengan senang hati sir,”


'Barusan dia berkata kasar dan dingin kepadaku. Tapi dengan tiba-tiba dia bersikap ramah dan sopan. Dasar perempuan aneh!' Batin Leon.


Licia menoleh dengan seutuhnya dan mendapati wajah tampan tersebut yang terus tersenyum kepadanya.


“untuk anda, karena mau menemaniku.” ucap licia dengan sopan.


Leon menggelengkan kepalanya. Dan menatap gelas tersebut dengan pandangan tak tertarik sedikitpun.


“apa dia tak bisa meminum-minuman berakohol?” batin licia.


“ah ini bukan whisky Atau minuman berakohol lainnya, ini hanya minuman bersoda.” Jelas licia untuk memastikan.


Tangan licia terulur untuk memberikan minuman tersebut. Licia tersenyum kemenangan saat menatap lelaki didepannya ini tengah memimun-minuman tersebut tanpa curiga.


'Akhtingmu sempurna Licia.'


"Terima kasih." ucap Lelaki itu.


Licia hanya menganggukkan kepalanya dengan sopan.


Gluk gluk gluk………


Gelas berisi minuman tersebut habis dengan seketika.


“astaga, sepertinya saya harus pamit.” Ia menatap jam tangan yang melekat dipergelangannya dengan mendesah pelan.


Melihat lelaki didepannya ini hanya diam. membuat licia bingung akan sikap lelaki itu. tak lupa lelaki asing itu mengusap keringat di wajahnya dengan berulang kali.


“ada masalah?”


Leon hanya menggelengkan kepalanya.


“sebenarnya, aku ingin mengantarkan kau untuk keluar. Tapi-”


Licia menaikan alisnya dengan bingung.


"tapi- sepertinya aku sedang tidak enak badan.”


Licia tersenyum dengan manisnya untuk menanggapi ucapan lelaki didepannya itu.


“terimakasih atas tawarannya. Aku bisa sendiri.”


"Hati-hati." Jawab lelaki itu lagi.


Saat licia sudah berada di luar Club. Ia terus tertawa, saat mengingat tingkah bodoh lelaki itu yang baru saja meminum-minuman yang sudah ia campur dengan obat Diare. Dan tinggal beberapa menit lagi obat itu akan berfungsi.


“dasar laki-laki bodoh.” Desisnya.


_____


TO BE CONTINUED


[JANGAN LUPA VOTE+COMMENT]