I'M NOT A PSYCHOPATH

I'M NOT A PSYCHOPATH
16. kebangkitan sang Iblis




Licia POV


Aku melangkahkan kaakinya taanpaa arah. hingga kini diriku sudah menjauh dari tempat tinggalku.


Hampa, Dinginnya malam, serta kegelapan.


Dimana aku selalu mengabiskan hari-hariku dengan seorang diri. dan kini munculanlah seseorang yang sudah membuat jiwaku mulai bergetar. siapa lagi jika bukan lelaki brengsek itu.


Lelaki yang selalu muncul dihafapannya, dan selalu mengusik pikirannya. Leon, lelaki yang selalu menyatakan cinta kepadanya.


Akh!


Kaget Licia tiba-tiba ada seseorang menarik tangannya dengan paksa. Licia menatap orang itu tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Licia, sudah berapa kali aku bilang heh! bahwa kamu harus pergi dari kota ini!" ucap orang itu dengan nada marah.


Licia menghempaskan tangan orang tersebut dengan kasar. "Kau yang pergi!"


"Kau membentakku?!"


"Dan aku tidak peduli." Jawab Licia. "Aku ingatkan sekali lagi. Jangan pernah mengusik hidupku ataupun muncul didepanku." Tajam Licia seraya meninggalkan orang tersebut dipinggir jalan.


"Semuanya akan hancur, dan Rencanaku akan gagal jika Orang gila itu mulai ikut campur dengan urusanku." Gumam Licia. "Sepertinya aku harus mengubah strategiku."


Licia pun terus melangkahkan kakinya tanpa arah. hingga dia melihat seseorang yang dia kenal memanggil dirinya.


______


Disebuah perjalanan Leon menghentikan mobilnya disaat melihat seseorang yang tengah bertengkar dijalan raya. Bahkan Leon dapat mengenali siapa Orang tersebut.


“Licia?”


Akhirnya Leon turun dari mobil tersebut dan mendekat kearah orang tersebut. Leon memandang aneh seseorang yang tengah memakai pakaian sebar hitam bahkan matanya ditutup dengan kacamata hitam ditengah malam seperti ini.


‘Aneh,’ batin Leon.


"Licia!" teriak Leon lagi yang semakin mendekat kearah Licia.


Licia menoleh.


Leon pun semakin mendekati Licia. Lalu menatapnya dengan bingung. “Kau tidak apa-apa?”


“Jangan pernah ikut campur dengan urusanku!” ketus Licia.


Leon menggenggam pergelangan Licia secara tiba-tiba. Dan menyeretnya kemobil Leon.


“Lepas!”


“Sebelum kau menjelaskan semuanya,” jawab Leon.


Buk-


Akibat pukulan tersebut tangan Leon terlepas dari pergelangan Licia. Licia pun kaget, sama halnya dengan Leon.


Leon berdecak kesal disaat mengetahui siapa yang memukulnya barusan.


“Leon!” pekik Licia.


Licia menatap tajam kearah orang tersebut lalu membantu Leon untuk bangun.


“Tuan pulang Sekarang. Jika tidak kami akan memukul tuan kembali.” Ucap orang tersebut.


Leon berdecak kesal. kemudian menatap Licia dengan sorot yang susah diartikan. “tunggu aku dimobil,” pinta Leon kepada Licia.


“Lebih baik aku pulang.” Kata Licia kemudian meninggalkan tempat tersebut.


Leon menatap lirih punggung itu. lalu menatap bodyguard dari kakeknya dengan jengah.


“Akh! Memalukan!”


“Maafkan kami tuan, tapi kakek anda akan melakukan sesuatu yang nekat kepada tuan. Jika tuan tidak mematuhi perintahnya.”


Drtttttt……….


Leon memandang benda pipih itu dengan tersenyum kecil. “Kalian Pulanglah,”


“Tapi tuan-”


Leon Menatap mereka dengan nyalang, "Aku yakin kau masih menyagangi keluargamu di Chicago sana."


"Ampun Tuan, Jangan usik hidup keuarga saya tuan. saya mohon."


Leon pun menghiraukan orang tersebut dan bergegas kemobilnya.


Leon menyambungkan sambungan kepada seseorang. “semuanya beres?” Tanya Leon kepada diseberang sana.


“Iya tuan.”


Leon pun mengakhiri panggilan tersebut dan melajukan mobilnya lebih cepat. Ia melirik kebelakang, ternyata suruhan kakeknya masih saja mengikutinya. Leon menambah keceatan, hingga mobil itu tak terlihat kembali.


Skip


Disebuah gedung tua……..


Leon menghentikan mobilnya bertepatan didepan gedung tua tersebut. Melangkah dengan pasti tanpa ada rasa takut sedikitpun.


Dan sekarang Leon sudah memasang wajah dinginnya. bahkan semua orang akan tak mengenali Leon jika melihat wajah sebenarnya dirinya.


"Selamat datang Tuan,"


"Hmm."


Leon mendekat kearah seseorang yang tengah duduk dengan tangan yang diikat. bahkan orang itu terlihat lemas.


Sesaat Leon memandang jengah orang tersebut. "Aku butuh benda ku." Ucap Leon kepada Anak buahnya.


"Ini tuan,"


Leon pun mengambilnya. kemudian mendekati Orang yang terikat itu dengan marah.


"Aku akan melepaskan mu, Jika kau mau membuka mulut kotormu itu. dan mengatakan sebenarnya." Dingin Leon.


Orang itu semakin ketakutan saat Mendengar bisikan tersebut. bahkan dia semakin takut disaat tau apa yang Leon pegang.



"Katakanlah!" Bentak Leon.


Lelaki itu menggeleng lemah. Dan Leon semakin muak dengan Orang itu.


"Sa-Saya, sudah berjanji kepada kakek anda untuk tak mengatakan Apapun." Ujar Lelaki itu dengan menahan perih diwajahnya.


Leon terkekeh. Bahkan semua akan takut disaat mendengar tawa tersebut.


"Jadi kau lebih memilih Menyerahkan Nyawamu? dari pada mengatakan sebenarnya?" Cih-


Akh!


Sruk...


Aaaa!


Teriak Orang itu disaat Leon Menusukan benda tajam ditangannya bertepatan diujung perut orang itu.


"CEPAT KATAKAN! KENAPA KAU SELALU MENGIKUTI LICIA HAH!"


"Jauhi dia Tu-tuan muda."


"CEPAT KATAKAN! DAN JANGAN MEMBUANG WAKTU KU PAK TUA!"


Uhuk-uhuk....


"Sebelum saya meninggalkan dunia ini, Sa-saya hanya ingin tuan muda berhenti untuk mendekatinya."


Leon mengeratkan Pisaunya disaat mendengar Ucapan tersebut. "Brengsek!" bentak Leon seraya melayangkan Pisaunya kepada orang tersebut.


Akh! Rintih orang itu.


Leon Menusukkan pisaunya berulang kali, bertepatan didada Lelaki itu. yaitu Tangan kanan Kakeknya.


Leon mengatur nafasnya. ia melempar pisau tersebut kesembarang arah. kemudian menatap Orang-orangnya.


"Apa dia tidak mengatakan apapun, diaat kalian menyiksanya?"


Semua orang disana menggelang.


"Dia sangat setia kepada kakek anda Tuan. sehingga kami kewalahan untuk mengancamnya." Ucap Lelaki berotot itu.


Leon melepaskan pakaiannya. dan membuang kaos yang bekas darah itu ketanah.


"Bereskan sampah ini!" Tajam Leon seraya melirik Mayat dari orang kakeknya itu.


Lelaki berotot mengangguk patuh.


"Aku ingin kalian semua tetap waspada dengan Orang kakekku. Dan Cari tahu Keberadaan Felixnan Andrewin."


"Siap Tuan."


Leon keluar kembali dari gedung tersebut. kemudian masuk kedalam mobilnya.


Malam ini, dimana Leon sudah membuka sisi iblisnya. sejujurnya Leon sudah membuang sifat Iblisnya itu sejak lama. tetapi tiba-tiba saja kemarahan itu bangkit kembali, disaat orang yang di sayang diganggu oleh orang lain.


"Ini aneh, kenapa Semua kebusukan Licia seolah ditutup rapat. bahkan Setiap Licia melakukan kejahatan semuanya seperti angin belaka." Gumam Leon.


Leon menatap nanar wallpaper dihandphonenya. "Dan anehnya kenapa aku semakin mencintaimu Licia? kenapa hm?"


_______


TO BE CONTINUED


<<>>