I'M NOT A PSYCHOPATH

I'M NOT A PSYCHOPATH
26. Hanya bisa melihat, tanpa bisa memliki



~Author sarankan untuk membaca part ini sambil mendengarkan lagu ^Don't Watch Me Cry, Cover by Alexandra Porat^


***


Setiap malam aku disadarkan oleh angin yang berteparan, bahwa ujian terbesar cinta itu bukan kehilangan tapi kerinduan akan kenangan yang takkan pernah terulang.


Hingga aku sadar, bahwa cinta tak lah kekal. cinta mempunyai jalan tersendiri, untuk dia menelusuri pengalaman yang telah terjadi.


Licia mengusap wajahnya pelan. lalu menatap disekitarnya dengan alis terangkat. Ia pun tersenyum simpul, hingga ia teringat kembali apa yang sudah dia lakukan kepada Andrew Tadi malam.


"Sepertinya kau tengah bahagia Licia." gumamnya sendiri.


Licia menatap seseorang yang sudah berada disofanya. ia pun menatap orang itu dengan heran.


"Sejak kapan kau disana?" Tanya Licia.


Orang itu menghela nafas lelahnya, lalu berkata. "Aku bahkan mulai lelah mencarimu Licia. Dan apa yang kau lakukan semalam?"


Tatapan mereka bertemu. Licia pun hanya diam walauapun dia ingin sekali mengatakan sejujurnya.


Vino Melempar jaket kepada Licia dengan kasar. Licia pun hanya diam seraya mengambil pakaian itu.


"Andrew Meninggal." Tutur Vino.


"Dan jangan bilang jika semua ini karenamu?" Selidik Vino disaat melihat wajah Licia yang hanya terkekeh kecil.


"Licia?"


Licia menatap Vino dengan menyilangkan kedua tangannya. "Jika itu karena ku, apa urusannya denganmu Vin."


"Sudah ku duga." Kekehnya. "Jenazah Om Andrew ditanam di Negaramu."


Apa?!


Kenapa harus diChina?


Licia menoleh dengan sempurna kearah Vino yang hanya balas menatapnya.


"Aku tak peduli itu." Jawab Licia seadanya. walaupun sebenarnya Licia tak mengerti, kenapa Andrew dimakamkan disana. kenapa tidak di negeranya saja. yaitu indonesia.


Vino melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Licia. tapi sebelum itu, dia melirik Licia sekilas kemudian mengatakan.


"Bersiaplah, kita akan kebandara."


Licia menggeleng.


Vino menghela nafasnya dengn kasar. Lalu menatap Licia dengan dingin. "Licia cepatlah, ini permintaan Ayahmu untuk terakhir kalinya."


"Dan aku tidak peduli. buat apa aku menemui Pria brengs*k itu." tajam Licia.


"Terserah." Pungkas Vino yang sudah meninggalkan Licia Seorang diri.


Licia mengusap wajahnya dengan kasar. ia tidak tau harus melakukan apa sekarang.


Dan apa yang Vino katakan barusan, sudah membuat jiwa Licia tak karuan.


Akh! teriak Licia dengan kesal.


'Semua telah terjadi. dan Aku harus memahami arti dari kehidupan ini. Tapi kenapa Hati ku ikut sedih akan kepergiannya Andrew. bahkan dia bukan Ayahku tapi kenapa aku seakan kehilangan dirinya.'


Licia menatap nanar telapak tangannya. hingga dia teringat kembali akan kejadian tadi malam.


Licia menggelengkan kepalanya dengan tegas hingga Pikiranya mengatakan kembali,


'Ingatlah apa yang sudah dia lakukan kepadamu Licia bahkan kepada ibumu. dan semua itu setimpal atas apa yang dia perbuat kepada dirimu, Licia.'


Tapi, Kenapa hati dan pikiranku bertolak belakang. mereka seperti bertempur dalam otak Licia.


Licia menjambak rambutnya dengan kasar. bahkan dia tidak peduli jika rambutnya akan rontok.


'Aku bersyukur kau tiada dari bumi ini. tapi disis lain A**ku juga menyangimu Andrew. aku menyangimu. karena kau adalah sosok ayah didalam Hidupku. sejahat-jahatnya yang kau lakukan kepadaku dulu. semua itu terkalahkan dengan rasa sayang ini. karena ibu selalu mengatakan jika kau juga menyangiku.' Lirih batinnya dengan pilu.


Licia terisak pelan. ia mengusap air matanya dengan pilu.


'Kenapa Orang yang kusayang. mulai meninggalkanku. Apa ini Takdirku, takdir jalan hidupku?.'


'Leon, jika suatu saat nanti kita dipertemukan kembali, Aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang sangat ingin aku ungkapkan kepadamu. Aku sangat mencintaimu, Sangat mencintaimu, Leon.'


'I Need You,'


Licia menegakkan tubuhnya. hingga sekarang ia memikirkan kembali, apa ini adalah keputusan yang tepat. dimana ia akan menentang egonya untuk menemui Andrew untuk terakhir kalinya.


"Ini yang terakhir." Gumamnya sendiri.


Dengan Cepat Licia membersihkan dirinya. setelah usai dengan kegiatannya. Licia memakai Masker hitam serta jaket yang dipadukan dengan celana Jeans.


"Apakah Pantas jika aku menyebutmu Ayah?" Gumam Licia didepan Cermin.


Licia memejamkan matanya untuk kesekian kalinya. hingga terdengarlah helaan Nafas dari bibir mungil itu.


'Leon, apa kau bangga jika aku memaafkan Om mu. walaupun semuanya sudah terlambat, karena aku lebih dulu mengirimnya keneraka sebelum aku memaafkannya.' Lirih Batinnya.


Licia tersenyum paksa. hingga sekarang ia sudah melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar kesayangannya itu.


Clek-


Licia menatap Vino yang juga menatapnya. bahkan Licia melihat jejak senyum dari sudut bibir Vino.


"Keputusan yang tepat Licia." Kata Vino yang sudah berdiri didepan Licia.


Namun respon Licia hanya diam seraya melirik Vino dengan dingin. "Terpaksa." Jawabnya dingin.


"Apa pun Alasanmu aku sangat menghormatinya Licia. tapi ini adalah pilihan yang tepat."


"Ya, sebuah pilihan yang tepat. karena semua ini kulakukan demi Leon bukan karena kapar*t itu." Jawab Licia yang sedikit berbohong. karena dia tak mau jika Vino tau akan perasaannya kepada Andrew.


Vino hanya tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya.


Setelah usai dengan pembahasan mereka. Licia dan Vino bergegas menuju Bandara Soekarno-Hatta. dimana Vino yakin bahwa disana pasti ia akan bertemu dengan kakeknya Leon.


Karena kakeknya Leon adalah ayah kandung dari Andrew. sama halnya dengan Ayahnya Leon. Dan dapat disimpulkan kembali, Jika Andrew dan Ayahnya Leon adalah kakak beradik.


Tetapi sebelum semuanya terjadi. Vino sudah menghubungi seseorang agar dia dan Licia bisa leluasa menemui Andrew, Ayahnya Licia.


SKIP~


Mereka pun sudah tiba didepan Bandara seraya menatap kesana kemari. seperti mencari sesuatu, lebih tepatnya Vinolah yang melakukan hal tersebut.


Licia menepuk pundak Vino beberapa kali. hingga tatapan mereka bertemu. Vino pun hanya menaikkan alisnya dengan bingung.


Jari Licia menunjuk kearah Anak kecil dengan mengenakan Tongkat diseberang sana. "Lihatlah Anak kecil itu." Kata Licia.


"Kau kasihan kepadanya?" Tanya Vino yang hanya di angguki oleh Licia.


"Aku ingin Membunuhnya Vin." Celetuk Licia.


Vino menatap Horor kearah Licia. bahkan dia sudah menjauhkan tubuhnya dari Licia. Licia yang mendapat respon seperti itu hanya memutar kedua bola matanya dengan kesal.


"Kau gila Licia."


"Ya, ini terdengar gila. tapi lihat Wajah Anak itu, Dia seperti menahan sakit. dan aku lebih suka melenyapkannya daripada melihatnya seperti itu." jelas Licia yang terus menatap kearah Anak berusia 7 tahun itu.


Licia tersenyum manis kearah Anak kecil itu.



Dan tiba-tiba saja, Licia mengalihkan tatapannya kearah Vino dengan tersenyum manis. Vino pun hanya bisa terpaku akan senyuman itu. bahkan dia menarik kembali apa yang dia katakan barusan, dimana dia mengatakan jika Licia wanita gila.


Nyatanya tak ada Orang gila secantik Licia. benarkan? pikir Vino.


Dan Vino mengakuinya sekarang. Jika Licia benar-benar Cantik. bahkan sangat cantik.


Pantas saja Leon sangat mencintai Licia. bukan karena cantiknya saja, melainkan jiwa simpati Licia sangatlah tinggi.


Walaupun sedikit Horor akan sikap dingin Licia. tetapi dia perempuan yang baik, dan tentu saja Kuat.


"Bos?"


Lamunan Vino buyar, dia menatap seseorang yang sudah berada didepannya.


"Apa semuanya sudah beres?" Tanya Vino kepada orang itu.


Lelaki itu pun hanya mengangguk patuh kearah Vino. "Sudah beres Bos."


Vino menatap simpati kearah Licia yang hanya melamun.


"Kau bisa menemui ayahmu," Ujar Vino yang sudah membuat Licia sedikit kaget.


Hmm...


Namun disaat ia melangkahkan kakinya untuk mengikuti Vino. Licia Merasakan hembusan Angin yang merpa wajahnya secara tiba-tiba.


Deg...deg...deg...


Bahkan jantungnya seakan lari maraton.


"Kau disini?" Gumam batinnya.


Licia memejamkan matanya sejenak hingga terbesit satu nama Didalam otaknya.


"Leon," Lirihnya seraya membalikkan tubuhnya.


Dan benar, Licia menatap Leon yang sudah ingin masuk kesebuah mobil. Licia ingin mengejar, dia ingin berteriak.


Meneriaki Nama Leon dengan kerasnya, lalu Mengatakan jika Dirinya juga disini.


Namun Tenggerokan Licia terasa sakit disaat seseorang yang baru saja menghamipir Leon. bahkan memeluk Leon dengan senang. Leon pun membalas pelukan itu dengan hangat. Yang tak lain Adalah Shavira.


"Leon," ucap Licia pelan, bahkan sangat pelan.


Shavira terkekeh manja. bahkan dia berani menegcup pipi Leon, dan Leon hanya diam akan kejadian itu.


"Ada apa dengan Leon?" Batin Licia dengan bingung.


Tatapan Licia sendu. ia menatap Nanar mobil yang sudah meninggalkan tempat ini.


"Licia?"


"Licia? Hey...."


Licia merasakan seseorang menyentuh lengannya. hingga ia tersadar dari apa yang dia lihat barusan.


"Kenapa?" tanya Vino.


"Leon disini." Jawab Licia dengan dingin.


Vino pun melototkan matanya dengan kaget. "Benarkah? bagaimana keadaannya? dan dimana dia?" celetuk Vino.


Licia melirik Vino sekilas. lalu menggelengkan kepalanya.


"Dia sudah pergi, dan sepertinya dia baik-baik saja."


Vino memicingkan matanya dengan kepo kearah Licia. "Ada apa?" tanya Vino dengan serius.


"Tidak penting. Lebih baik kita menemui Andrew, sebelum dia dilempar ke negeraku." Juteknya yang sudah meninggalkan Vino seorang diri.


"Dia telah temukan kebahagiaan dengan Orang baru, dan kamu masih saja terjebak dalam kenangan masa lalu.


Sadarlah Licia. itu tandanya Leon memang tak pantas untukmu." Sambung batinnya dengan pilu.


_________


TO BE CONTINUED


#Hati-hati typo!


#Telat Up, Banyak tugas soalnya.😥😥😥


#Tinggalkan jejak guys.


LOVE YOU🤗🤗🤗