
“Terimakasih.” ucap pria paruh baya itu.
Deg...deg...deg...
Tubuh Licia seketika kaku disaat mendengar suara itu. hingga kepalanya menoleh keorang itu dengan wajah marahnya.
"Li-Licia?"
Sama halnya dengan Licia, orang tersebut juga kaget akan Licia lah yang berada disampingnya. “Kau!?” bentak Licia.
“Licia, Anakku?” Pria paruh baya itu memutar kursi rodanya higga bisa menatap wajah dingin LIcia.
Licia mentap tajam kearah orang itu. bahkan tangannya sudah mengambil sesuatu yang tajam dari tas kecilnya.
“KAU!?” teriaknya hingga mencengkram kursi roda tersebut.
“Tuan.” panik pengawalnya disaat melihat Licia yang tengah marah.
Pria tua itu merentangkan tangannya agar tak mendekati dirinya dan Licia. “Tinggalkan kami.” UJar pria itu disaat tau apa yang akan dilakukan pengawalnya.
Dua orang itu saling tatap. Kemudian mengangguk patuh kepada pria tua itu.
“Nak, Ayah merindukanmu dan maafkan atas perlakuan Ayah yang sudah jahat kepadamu.”
Licia menggelengkan kepalanya dengan paksa. Lalu Menatap orang itu dengan tajam. “Kau bukan Ayahku! Kau pembunuh!”
Teriakan Licia berhasil membuat Vino yang tengah memejamkan matanya membuat lelaki itu berlari mendekati Licia. Ia pun sama kagetnya dengan Licia disaat mengetahui siapa orang tua itu.
“Om Andrew.” Gagap Vino.
Lalu tatapannya beralih kearah LIcia yang sudah menahan amarahnya.
“Vino, OM bisa jelasin semuanya. Licia, Nak?”
Vino menatap Licia dengan harap. Kemudian menggengam tangan Licia yang sudah tersimpan sesuatu yang Vino duga. “Aku percaya padamu, jangan melakukan hal nekat Licia. Bodyguard Andrew selalu menatap kita.” Bisik Vino.
Licia melirik Vino sekilas.
“Licia sayang, ayah ingin bicara sama kamu nak. ayah menyesal sudah menghinati ibu kamu dan menganiaya kamu.”
Licia terkekeh pelan. “Dan apa anda pantas dimaafkan?” Ejek Licia. “Nyatanya dosa anda terlalu banyak untuk dimaafkan, Tuan Andrew yang terhormat.”
Vino menatap lekat pergerakan Licia yang sudah mengelurkan sesuatu dari tasnya.
Akh- "Vino!"
Teriak Licia karena Vino sudah menyeret Licia dengan kasar. Licia memberontak, namun kekuatan Vino tak sebanding dengan kekuatan Licia.
“Lepaskan aku Vin!”
“VINO!”
Vino tak menghiraukan teriakan tersebut. ia pun sudah menggendong Licia dengan kasar dan tidak peduli terhadap orang-orang yang terus menatap mereka dengan heran.
“VINO! Turunkan aku!” Bentaknya.
Dan tentu saja Vino tak memperdulikan teriakan itu. “Akan kuturunkan kau jika sudah di Apartement.”
"Aku akan membunuhnya. Kapar*t kau Andrew!" teriak Licia.
Tanpa sepengetahuan Vino jika sebenarnya Licia menggenggam sesutu yang sejak tadi ingin dia keluarkan.
Licia memejamkan matanya sejenak, apa ia harus melakukan hal nekat ini agar Vino melepaskannya? dan itu adalah ide brilian Licia. Pikirnya.
"Vino maafkan aku,” Lirih batin Licia.
Tangan mungil Licia sudah terangkat sempurna.
Hingga. . . . . . . .
AW- Rintih Vino.
“Maaf,” gumam Licia lalu melarikan diri dari jangkauan Vino.
Vino mengusap lehernya yang sedikit perih. “Darah? Ahk! Shit!” teriak Vino dengan kasar.
Karena dia melupakan Sesutu yang sejak tadi Licia pegang. Yaitu pisau yang amat kecil. Bahkan Pisau itu seperti jari telunjuk Vino.
"Kau memang licik Licia." Ujar Vino yang masih kesal atas tingkah Licia barusan.
Vino pun mulai mencari keberadaan Licia, Namun nihil. Licia terlalu cepat untuk dikejar. Hingga Akhirnya Vino mengambil handphonenya, lalu menghubungi seseorang diseberang sana.
“Cari Licia. Bawa dia ke-Apartement Leon, dan pastikan dia tak terluka.” Ujar Vino dengan dingin.
“Siap Bos.” Jawab diseberang sana.
***
Licia POV
Aku mengelilingi taman yang baru saja aku kunjungi dengan Vino. Aku mencari keberadaan si Brengs*k itu kesana-kemari. Akan tetapi aku tak menemukannya.
Licia terus melangkahkan kakinya, hingga sekarang ia menatap seseorang yang sudah menaiki mobil dengan pengawalnya. Mata Licia terus mengikuti kemana mobil itu akan pergi.
Tatapan Liccia menajam. Ia tidak habis pikir akan dipertemukan dengan kapar*t itu ditempat ini.
“Nona?”
Dengan cepat Licia membalikkan tubuhnya. Lalu menatap orang itu dengan geram. “Kau tak mengawal BOS cacatmu itu?”
Pria berotot itu menunduk sopan. Bahkan jika di ingat kembali pria berotot serta berwajah kaku ini sudah membentaknya beberapa jam yang lalu. Tapi kenapa dia seakan bersikap patuh kepada Licia. bahkan dia seakan takut kepada Licia.
“Ayah' Nona menyuruh Nona untuk menemuinya di restoran Nanti malam.”
Licia mengerutkan dahinya.
“Ayah? Cih- Bilang kepada Pria Lumpuh itu, jika aku bukan anaknya!”
“Dia hanya ingin menemui-mu malam ini. Cukup Nona datang, itu sudah membuat Tuan An Senang.” Sahut orang itu lalu pergi meninggalkan Licia tanpa pamit.
“Cih- Dia ingin menemuiku? Dan yaa, aku akan menemui Bajing*n itu untuk terakhir kalinya.”
SKIP**
Licia membuka lacinya. lalu mengambil sesuatu didalam sana.
“Pisau kecil, Cater, gunting, dan Racun.” Gumamnya pelan.
Ia memasukkan semua benda itu kedalam jaketnya. Hingga menyisakan suntikan didepannya. “Sepertinya ini tidak perlu.” ujarnya.
Setelah siap akan barang-barangnya, Licia menatap dirinya dipantulan cermin. Ia memejamkan matanya dengan menyentuh wajahnya dengan pelan.
“Ibu, aku akan membalaskan semuanya Bu. aku janji itu.” Gumamnya.
Dan sekrang Licia ingin mengunjungi suatu tempat. Dimana semuanya akan terbalaskan.
Waktu pun berlalu dengan cepat. Kini tibalah Licia didepan Restoran. dimana Licia tak menemukan adanya pelanggan satu pun disana.
Licia mengernyitkan keningnya. ‘Tempat sebesar dan semewah ini kenapa tak ada pelanggannya.’ Lirih batinnya.
Kaki Licia melangkah masuk kedalam sana. Matanya menjelajah kesana-kemari. Hingga ia menemuka Sesuatu, bukan sesuatu. Akan tetapi seseorang yang sudah tersenyum kepadanya.
“Kemarilah Nak, Ayah merindukanmu.”
Licia masih bingung dengan tempat ini. kenapa hanya ada dirinya dan Pria brengs*k ini. “Aku tau kau pasti bingung,” kekeh Andrew disaat menatap wajah bingungnya Licia.
“Aku sengaja menyewa restoran ini untuk kita. Aku harap kau mau mendengarkan apa yang akan ku jelaskan Nak.”
Licia terkekeh pelan. Lalu mendekati orang itu dengan langkah santainya.
“Aku bukan Anakmu." Tajam Licia.
Andrew tersenyum lembut kearah Licia. "Ijinkan aku memelukmu Licia."
Licia mendekat kearah Andrew. bahkan dia sudah memutari kursi roda tersebut dengan santai.
"Kau tau, Alasan aku melakukan hal bod*h kepada Ibumu dan Dirimu?" Tanya Andrew.
Licia hanya diam membisu. walaupun tangannya sudah menggenggam sesuatu.
"Kau ingin mendengar cerita selengkapnya?" Tanya Andrew kepada Licia yang hanya diam menatapnya.
Andrew tersenyum kembali disaat menatap wajah dingin itu. wajah yang sangat persis seperti mendiang Istrinya, Luci.
"Aku mencintai Ibumu. kami dipertemukan disaat ibumu bekerja di Restoran China dulu. dan aku hanyalah pemuda yang merantau untuk melanjutkan studiku disana."
"Hingga Akhirnya Aku dipertemukan Dengan Ibumu. kau percaya jika pandangan pertama itu memang benar ada? mungkin kau tak percaya, tapi aku percaya akan hal itu." Sambung Andrew seraya terkekeh.
"Dan kau benar Licia."
Licia menoleh kearah Andrew dalam diam. bahkan dia tak mnlengerti apa yang di ucapkan Andrew Barusan.
Andrew memejamkan matanya, lalu melirik Licia sekilas. "Kau bukan darah dagingku Licia. Dan inilah Alasan aku membencimu dulu. Karena Luci diperkosa Oleh seseorang, Lucia pun tak mengenali orang itu karena Dia dalam keadaan Mabuk."
Tatapan Andrew melembut, ia tersenyum tulus kepada Licia yang hanya Diam membisu.
"Dan gilanya, Aku malah percaya Omongan teman ibumu. yang mengatakan jika ibumu selingkuh dibelakangku. Aku frustasi, aku marah, hingga aku berbuat kasar kepada ibumu. bahkan membunuhnya dengan keji. itu karena aku tak kuat mendengar apa yang Ibumu jelaskan. Apalagi saat dia mengatakan jika kau bukan darah dagingku." Ucap Pria paruh baya itu dengan bergetar.
"Kau boleh tak percaya Padaku atas apa yang ku perbuat Dulu." Sesalnya.
Licia menegakkan Tubuhnya Lalu mendekat kearah andrew dengan tajam.
"Sekarang aku tak peduli kau Ayah kandungku atau bukan. karena yang ku inginkan hanyalah Nyawa dibayar dengan Nyawa." Bisik Licia.
"Licia...."
Akh- Rintih Andrew disaat merasakan sesuatu dilengannya.
Yaa, Licia menusukkan Jarum yang berisi racum didalamnya kelengan Andrew.
Andrew pun hanya tersenyum lembut kearah Licia.
"Kau akan mati dengan Perlahan. semua organmu akan tak berfungsi, hingga jantungmu akan sakit." Jelas Licia dengan tenang.
"Inilah yang aku tunggu, yaitu menebus kesalahanku kepada kalian." Ucap Andrew dengan Tenang.
Aaa...
Andrew memegang dadanya yang sedikit sakit. "Pergilah Nak, Sebelum pengawal ku datang."
Tatapan Licia menusuk. bahkan dia tidak habis pikir dengan apa yang dia dengar. Dan kenapa Hati Licia ikut sakit disaat menatap Pria Brengs*k itu yang mulai kesakitan.
"Licia, apa yang kau lakukan. ini impas Licia, dan dia pantas mendapatkannya." Runtuk batinnya.
"Selamat tinggal Andrew." Gumam Licia yang ingin meninggalkan tempat itu.
Andrew pun hanya tersenyum untuk kesekian kalinya.
Shit! ini bukan yang Licia inginkan! dia ingin Andrew kesakitan dan memohon kepadanya, bahkan dia ingin Andrew mengamuk atas apa yang Licia perbuat.
Tapi kenapa Andrew seakan menerima ini. ia seakan pasrah akan takdir. dan Licia benci melihat itu.
"Aku menya..yangi....Dirimu...Nak."
Ujar Andrew pelan dan masih terdengar ditelinga Licia.
Air mata Licia runtuh. ia pun mengusap air mata itu dengan cepat. hingga Akhirnya Licia meninggalkan tempat itu dengan sepenuhnya.
"Inilah akhirnya." Gumamnya Pilu.
_______
TO BE CONTINUED
#Telat update. sorry guys, ada kendala soalnya.
#Awas Typo!
#Dan Tinggalkan Jejak Guys😄😄😄
SEE YOU🍉