
LEON POV
Sudah satu minggu akan kejadian dimana ia bertemu dengan Perempuan aneh. dimana Dirinya selalu tersenyum konyol, tak lupa hari-harinya terasa lebih berwarna.
Dia sangat berbeda, dan tak mudah di jelaskan oleh kata-kata. Memikirkannya saja membuat Leon seperti di mabuk cinta.
Hah?
Cinta?
Apa benar aku mencintai Perempuan aneh itu, yang tak Lain adalah Liciana Baeylee?
Benarkah?
Leon mengglengkan kepalanya. Kemudian tersenyum kembali. Mungkin hanya dieinya sebatas takjub atas apa yang ia lihat selama ini.
Licia yang angkuh, songong, berwajah dingin. Tetapi setelah mengikuti perempuan itu selama ini, Leon merasa ada yang berbeda. Terlihat dari wajah dinginnya, jika Licia terlihat sangat sombong dan tidak mudah bergaul. tetapi semuanya hanya cover belaka, karena nyatanya Licia selalu mampir di pinggir jalan. entah apa yang dia lakukan. yang jelas Licia terlihat sangat senang saat bersama anak-anak.
dan Leon kagum akan hal itu. ternyata Seorang Licia juga mempunyai sisi yang baik dan lembut.
Yaa- dia hanya kagum kepada perempuan itu. Pikirnya lagi.
"tuan, sampai kapan anda menatap perempuan itu?"
Leon tersenyum.
"sampai aku bosan," ia terkekeh dan mengarahkan handphonenya kepada Licia, lalu membidiknya. Leon menatap hasil jepretannya dengan tersenyum puas.
Supir tersebut memandang aneh majikannya yang sesekali tersenyum seperti orang jatuh cinta.
"apa tuan menyukainya?"
"Iya, ah- tidak." Jawab leon dengan cepat. bahkan wajahnya sudah memerah. "bapak jangan salah paham. saya hanya kagum kepadany." sanggahnya lagi.
Sedangkan sopir tersebut hanya tersenyum sendirinya.
Sudah satu jam ia menatap seseorang yang tak menoleh kearahnya. Akhirnya Leon meemrintahkan sopirnya untuk melajukan mobil tersebut, dan menjauh dari kampus ternama itu.
"Kekantor pak." Titah Leon.
Leon memandang layar handphonenya dengan pandangan yang sulit di artikan. "ada sesuatu yang kau sembunyikan." gumamnya, seraya memandang foto Licia sejak tadi.
Dan Sudah satu minggu lebih Leon menyelidi tentang Licia. Tetapi ia tidak menemukan sebuah info yang menarik dari berita tersebut. ia hanya menemukan foto masa kecil Licia, warna dan makanan favorit Licia. Sedangkan sifat dan karakternya sangat susah di tebak. Padahal Leon sudah menyewa beberapa orang untuk mencari informasi tersebut, dan beberapa orang untuk menguntit Licia. Tetapi mereka tak mendapatkan sedikit pun info yang jelas dan akurat.
Alamat Licia pun ia tak tahu, yang ia tahu hanyalah tempat ia menuntut ilmu. Dan tempat biasa ia habiskan untuk bersantai.
Apa sebenarnya Licia mengetahui, jika selama ini Leon terus membuntuti dirinya. Tapi gerak-geriknya selama ini hanya biasa saja, dan tidak ada yang aneh. Lalu kenapa sangat susah sekali mengorek tentang perempuan itu.
Leon memijat dahinya yang sedikit berdenyut. ia sangatlah pusing, belum lagi pekerjaannya mulai banyak. dan jangan lupakan kakeknya, kakeknya itu selalu Mengawasi Leon dimana pun Leon berada.
Sesampainya di kantor, Leon duduk di kursi besarnya. Tanpa mengetahui seseorang yang sejak tadi berada di tempat tersebut.
"habis dari mana kamu?!"
Terdengar suara bass yang menggema di ruangan ini. hingga Leon terpelonjak kaget, ia mengelus dadanya dengan berulang kali.
'sungguh penampakan yang mengejutkan.' batin Leon.
"kakek kenapa bisa di sini?"
"aku dari Apartement Vino kek. Dia sakit." Bohongnya, karena seharian ini ia hanya duduk manis di dalam mobil lalu ketempat yang tak dia tau. Untuk mengikuti Licia, si perempuan aneh.
"kamu siapanya Vino? Dan Vino hanya butuh dokter bukan dirimu!"
Leon menundukkan kepalanya saat sang kakek mengatakan hal tersebut.
Dan memanglah benar apa yang di katakan kakeknya. kalau Vino sakit, memangnya Leon bisa apa? Leon bukan lah dokter ataupun Tabib.
"kakek, Vino butuh dukungan ku. Karena pacarnya bertunangan dengan orang lain." Ucap Leon yang tau mau mengalah.
"pembohong yang payah." Leon memutar bola matanya dengan kesal.
Jika kakeknya sudah tahu kalau Leon berbohong, buat apa kakeknya bertanya lagi. Dasar pemarah!
"habis dari mana kamu? Katakan." Tanya beliau lagi.
Leon menyender di kursi besarnya, yang mana kursi itu adalah milik ayahnya dulu.
"buat apa kakek bertanya jika kakek sudah tau dimana Leon berada."
Tak salah bukan? Karena pada dasarnya kakeknya memang selalu mengawasinya. jadi buat apa kakek menanyakannya kembali.
Mereka sama-sama diam. Sampai akhirnya Tuan Bramana berdiri dan menatap Leon dengan tajam. Leon memberanikan diri menatap kakeknya dengan menaikkan satu alisnya. Kontak mata mereka terputus, karena Tuan Bramana melangkah keluar.
Sebelum pergi dengan sepenuhnya. Beliau membalikkan tubuh dan membenarkan jas yang beliau kenakan.
"jauhi perempuan itu." ucap sang kakek.
Leon mengangguk.
"dia berbahaya." Sambung kakeknya dan menghilang dengan sepenuhnya dari bilik pintu tersebut.
Leon menghela nafas, ia sedikit deg- degan jika berhadapan dengan kakeknya. Karena aura kakeknya sangatlah menakutkan. Sungguh, di satu sisi Leon bangga dengan kakeknya. Tetapi disisi lain, ia enggan menganggap jika Bramana adalah kakeknya.
Tersadar akan sesuatu, ia membuka laci di samping meja besarnya. Mengambil sesuatu yang membuat banyak pertanyaan di dalam benaknya.
"kenapa kakek melarangku. bahkan kakek belum pernah bertemu dengan Licia. tapi, kenapa kakek mengatakan jika Licia perempuan yang berbahaya?"
helaan nafas keluar dari mulut Leon.
"aku tetap akan mencari tahu tentang Licia. walaupun kakek melarangku."
Eeh- tunggu! kenapa dia memikirkan Licia.
"apa ini cinta?" Gumamnya.
tidak!
aku tidak mungkin mencintai Licia.
yaa- ini bukan cinta. ini hanya rasa kepo akibat kekaguman ku kepadanya.
_______
TO BE CONTINUED......