
Bulan terlihat tersenyum karena ditemani banyaknya bintang. Bintang tanpak terlihat banyak saat memandang cantiknya bulan sabit yang ikut menyinari alam semesta ini.
Memandang cantiknya di atas sana membuat sudut bibir Leon mengembang. Mereka saling melengkapi. Bahkan mereka seakan ditakdirkan akan terus bersama walaupun terhalang akan jarak.
Leon berharap ibu dan ayahnya dapat melihatnya dari atas sana. Bahwa Leon sangan merindukan mereka. Leon ingin menemui orang tuanya. Leon ingin memeluk mereka. sayangnya semua itu hanya angan semu. Nyatanya Leon sadar bahwa mereka terpisah bukan karena jarak dan waktu layaknya bulan dan bintang.
Akan Tetapi mereka berbeda tempat. Dimana suatu saat Leon akan berkumpul dengan mereka lagi. Dan itu suatu saat nanti.
Clek-
Saat mendengar suara tersebut Leon dan segera menghapus airmata yang baru saja menetes.
“Leon.”
Suara tegas dengan aura yang sangat mengerikan. Leon memandang orang tersebut dengan tersenyum. “Kakek, kenapa kek?”
Bramana melangkah mendekati Leon dengan tenang. Langkah beliau semakin dekat dengan keberadaan Leon. Kemudian-
PLAK!
Leon memegang pipinya yang sedikit perih. Leon memikirkan kembali, apa yang dia lakukan sehingga kakeknya menapar dirinya seperti tadi.
“Kakek,” lirih Leon.
“Sudah kakek katakan, jangan pernah bergaul dengan perempuan itu! dan apa ini?!”
Leon manatap nanar foto yang dijatuhkan oleh kakeknya. Dimana foto tersebut adalah foto dirinya dengan Licia. “Jelaskan?!”
“Aku hanya berteman dengannya.” Jawab Leon. Sedangkan Bramana hanya tersenyum sinis.
“Tidak ada yang Namanya teman jika terjadi pergaulan antar laki-laki dengan seorang perempuan.”
“Kenapa kakek melarangku untuk berteman dengannya. Bahkakn kakeh tidak mengetahui seberapa baiknya Licia.” Jawaban yang begitu tegas sehingga membuat Bramana tertawa sumbang.
Beliau menepuk pundak Leon seraya menatap tajam kearah cucunya. “bahkan aku lebih mengetahui siapa dirinya dari pada dirimu nak.” kekeh beliau.
Leon menatap kakeknya yang juga menatap kepadanya. Pandangan mereka memancarkan aura menakutkan. Bahkan Leon dengan jelasnya tersenyum sinis. Seakaan dia tidak takut akan apa yang dikatakan oleh kakeknya.
Leon mengmbil jaket kulitnya yang terletak di atas ranjang king size. “kakek boleh memerintah taupun membentakku, bahkan jika kakek memukulku aku tidak akan keberatan. Tapi, jika kakek menyuruhku untuk menjauhi Licia. Itu tidak mungkin terjadi kek. Ku harap kakek mengerti akan perasaanku.” Ujarnya.
“Aku memang egois dengan perasaanmu. Akan tetapi, aku lebih memahami akan kehidupan mu kelak. Jauhi dia.”
Melangkahkan kaki menuju pintu seolah tak mendengar akan perkataan kakeknya. “Leon,” panggil kakeknya yang membuat Leon menghentikan langkahnya.
“Jika kamu tak menjauhinya. Maka kamu akan kakek jodohkan dengan perempuan pilihan kakek.”
“Dan jika itu tertjadi, maka aku akan pergi dari rumah ini untuk selamanya.” Brak! Selesai menjawab perkataan kakeknya. Leon segera menutup pintu tersebut dengan kasar.
***
Leon melajukan motornya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Bahkan dia tidak peduli jika dirinya tidak mengenakan helm.
Dia marah, Dia kesal, Leon ingin bebas, dia ingin memilih akan kekasih hatinya nanti. Tetapi kakek selalu ikut campur akan urusan tersebut. apa Leon harus menentang kakeknya. Kakek yang selalu menyayangi nya sejak kecil, dan selalu mendidiknya hingga dia besar.
Atau, mengejar cintanya. Cih- apa yang Leon katakan barusan? Cinta? Leon tertawa sumbang. Bahkan dia tidak tahu, jika Licia mencintai dirinya atau tidak. Yang jelas, Leon sangat mencintai Licia. Dan dia ingin memperjuangkan cintanya.
Sibuk akan pemikirannya hingga Leon tak melihat jika seekor kucing yang menyebrangi jalanan.
Citttttttt-
Leon mencengram remnya dengan cepat. Bunyi rem terdengar nyaring hingga motor tersebut roboh serta pengendaranya.
Akh- Leon mendeirikan motornya yang sudah terdampar dijalanan. Dia tersenyum karena kucing tersebut selamat dari kecerobohannya.
Leon tertantang. Dan kakinya melangkah menuju akan tempat tersebut. dengan keadaan pincang. Leon menuju tempat itu dengan rasa penasaran.
“Siapa yang tinggal ditempat sepi seperti ini?”
Tok tok tok………….
Dan dengan bodohnya Leon mengetuk rumah tersebut. Padahal dia tidak mengetaui siapa saja yang menempati rumah tersebut. tetapi seolah yakin bahwa dirinya tidak akan mati malam ini. Leon mendorong pintu yang tam dikunci itu dengan pelan.
Clek-
Terus melangkahkan kakinya hingga Leon mendapati sebuah benda tumpul menyentuh dahinya. Leon pun reflex memejamkan mataya karena kaget.
“Kau?!” pekik perempuan itu.
Leon kaget saat mendengar suara tersebut. hingga kini kedua matanya terbelak. Lalu kemudian tersenyum ramah. Bahkan dia lebih dulu duduk disofa dari pada sang pemiliknya.
“Pergi dari rumahku!”
Leon memutar bola matanya. “kau tidak lihat? Didepanmu ada tamu, bahkan tamu itu baru saja kecelakaan. Sungguh rasa simpatimu sangat tipis Licia.”
“Dan aku tidak peduli.” Jawabnya.
Licia meninggalkan Leon sseorang diri. Bahkan Leon hanya bissa terpaku akan sifat Licia saaat itu. ‘apa-apaan ini? kenapa dia tinggalkan?’
“Licia?”
Buk-
Aw- teriak Leon disaat sebuah benda besar mengenai perutnya. Astaga, ini sebuah perlakuan yang wow kepada tamu.
“Astaga Licia. Tak bisa kah kau memberikan kotak P3K ini dengan lembut.” Lirih Leon yang masih mengusap perutnya.
Leon pun dengan telaten mengobati lututnya. ia memijat kakinya yang sedikit sakit. Bahkan dia tidak tahu jika daun telinganya terdapat sebuah goresan walaupun tidak terlalu parah.
Licia yang memperhatikan hal itu hanya menggelengkan kepalanya. Lalu mendekati Leon dan mengambil alih kapas yang sejak tadi Leon pegang.
“Kau mau mengobatiku? Hm- ini momen yang aku tunggu.”
Licia menekan kapas tersebut hingga Leon berteriak. Akh!-
“Lakukan dengan lembut.”
Licia melirik Leon sekilas. “Maka dari itu, berhentilah berbicara omong kosong.” Jawab Licia begitu datar.
Kebahagian datang disaat sebuah musibah menimpanya. Leon bersyukur karena Licia mulai membuka diri untuk dirinya. Ya walaupun Leon tau, jika Licia hanya butuh bantuan Leon agar bisa menemukan keberadaan ayahnya.
Tapi Leon tidak mempermasalahkan hal itu sedikitpun. Karena dengan itulah sebuah kedekatan akan terjalin. Diantara dirinya dan kekasih pujaan hatinya.
Hah? Apa yang aku katakan barusan? Kekasih? Kurasa itu tidak akan terjadi. Tapi semuanya akan terjadi, jika aku mengungkapkan perasaan ini.
'Cukup seperti ini saja, Aku sudah bahagia.' Lirih batinnya yang terus memperhatikan Licia dalam Diam.
_____
TO BE CONTINUED
#SelamatMenunaikanIbadahPuasa
#MarhabanYaaRamadhan