I'M NOT A PSYCHOPATH

I'M NOT A PSYCHOPATH
15. Berbeda



Di sini lah mereka berada. Di sebuah rumah mungil yang saat ini Licia tempati. Bahkan rumah tersebut dekat dengan hutan. Tapi tak sedikitpun Licia takut akan tempatnya itu.


Dengan telaten Licia mengobati luka di kepala Leon bahkan mengobati kembali luka yang ada di lutut lelaki itu.


Licia hanya diam saat mengobati luka itu, Berbeda dengan Leon. Dia terus memandang lekat kewajah putih Licia.


Hingga usai kegiatan Licia, Leon pun masih setia menatap wajah yang amat dingin itu.


“Berhentilah menatapku.” Desis Licia.


Leon terkekeh seraya mengusap perban didahinya. “terimakasih.” Ucapnya.


Sekilas Licia hanya menganggukkan kepalanya.


“Licia,”


Licia menoleh dengan menaikkan alisnya. Sedangkan Leon hanya diam. Karena dia bingung untuk memulai percakapan.


“aku tidak tau harus memulai percakapan ini dari mana,”


“Bahkan kau sudah memulainya.” Kesal Licia.


Leon terkekeh.


"Cepat katakan, dan setelah itu pergi dari rumahku.”


“Kau bahkan tega mengusir tamu,” ujar Leon.


“Dan aku tidak peduli.” Jawab Licia dengan angkuh.


Ehm- dehem Leon kembali. “aku mencintaimu,”


“Bahkan sangat mencintaimu. Aku tidak tau bagaimana perasaan ini tumbuh. tapi jujur, aku tak bisa jauh darimu. Bahkan aku selalu khawatir dengan keadaanmu.”


Licia memandang remeh kearah Leon. “bahkan aku semakin muak dengan perkataanmu ini.”


Licia menegakan tubuhnya dan berbalik kearah Leon. “pergi atau kau akan menyesal karena sudah bertamu ditempat ini.” tajamnya lalu melangkah kedapur.


Sedangkan Leon, dia hanya tersenyum simpul. Bahkan Leon tak takut akan ancaman tersebut.


Prang!


Leon menegakkan tubuhnya dan berlari kearah dapur disaat mendengar suara pecahan tersebut. dan menemukan Licia yang sudah membungkuk dengan membersihkan pecahan kaca tersebut.


“Licia,”


Licia menoleh dan tersenyum manis kearah Leon. “hei, kenapa kemari. Tunggulah disana.” Jawab Licia.


Dan Leon hanya menatap Licia dengan bingung. “Apa kepalamu terluka?”


Perempuan itu terkekeh. Kemudian mengambil pisau, dan mengarahkannya kepada Leon. Sedangkan Leon sudah memundurkan langkahnya. Karena pergerakan tersebut.


“Tenanglah, aku hanya bercanda.” Kekeh Licia kemudian meletakkan senjata tajam itu ketempat asalnya.


“Minunmlah,” ucap Licia dan memberikan segelas minuman kepada Leon.


Leon pun menerimanya dengan panadangan bertanya-tanya. Dia bingung dengan Licia, bahkan sesaat Licia terkesan manis.


Apa karena pecahan gelas itu? atau Licia memang selalu baik seperti ini?


Masih menatap Licia dengan bingung. Bahkan Leon seperti orang bodoh karena diam seperti patung. “kau sedikit berbeda,”


Pandangan mereka bertemu hingga Licia memutuskan kontak mata tersebut.


“Aku? Aku tak berbeda. Aku tetap Licia. Hanaya saja, malam ini aku ingin berbaik hati kepadamu.”


“Minuman itu tak ku campurkan dengan sianida. Jadi tak usah khawartir.”


Perkataan Licia berhasil membuat Leon meneyemburkan minumannya. Bahkan Leon dapat melihat ke sinisan diwajah cantik Licia itu. “Aku hanya bercanda.” Kekeh Licia kepada Leon.


“Kenapa kita didapur?”


Leon pun menatap disekitar kemudian ikut terkekeh. “ah- aku hanya kaget saat mendengar pecahaan tadi.” Jawab Leon.


Akhirnya Licia dan Leon keruang tamu. Bahkan mereka mengombrol dengan santai. Walaupu sejuta pertanya didalam benak Leon, akan erubahan sifat tersebut.


“Aku pulang.”


Licia tersenyum kemudian melambaikan tangannya kearah Leon “hati-hati.”


Licia masuk kedalam rumahnya dengan tersenyum kecil. Leon pun belum seenuhnya meinggalkan tempat tersebut. karena sedikit aneh dengan sikap yang licia berikan.


Prang!


Brak!


Leon berlari kembali kerumah mungil itu dengan hati yang tak karuan. Bahkan leon mengetuk pintu tersebut seperti orang kesetaan.


“Licia! Kau tidak apa-apa?” teriak Leon dari arah luar.


Clek-


“Leon? Aku tidak apa-apa.” Jawab Licia dengan cepat. “sebaiknya kau pulang. Aku mengantuk.” Setelah mengatakan itu Licia menutup pintunya kembali.


Dan Leon hanya menatap nanar kearah pintu tersebut. “kau berbeda, dan kau menyembunyikan sesuatu dariku. Cepat atau lambat, semuanya akan terbongkar.” Lirih batin Leon yang sudah meninggalkan tempat tersebut.


Leon menaiki motornya dengan susah payah. Karena kakinya masih sedikit nyeri akibat kecelakan tersebut. “kakek,” gumamnya saat menatap mobil hitam yang sudah meninggalkan tempat tersebut.


“Berarti kakek mengetahui, jika aku tengah berada disini.” Monolognya.


‘Sial! Jika kakek mengetahui lebih jauh tentang Licia. Maka kakek akan melakukan sesuatu kepada Licia, dan aku takkan membiarkan itu terjadi.’


***


Semuanya terlihat indah. Bahkan bunga ikut menari atas kebahgian yang dia miliki sekarang. Leon mengetikkan sesuatu didalam handphonenya.


“Tuan?”


Leon menatap kesumber suara tersebut. yang tak lain adalah tangan kanannya. “Selediki Licia. Dan,”


Bimo mengangguk dan masih diam sambil menunggu kelanjutan dari tuannya. “dan, bawa mata-mata kakek ketempatku.” Sambungnya lagi.


“Tapi tuan, nanti kakek anda akan marah.” Jawab Bimo dengna sopan.


Leon mendekati Bimo dengan langkah pelan. Bahkan mata Leon menyiratkan ketajaman didalamnya. “Kau membantahku?”


“Tidak tuan, hanya saja kakek anda akan marah kepada anda.” Jawab Bimo.


“Aku tidak peduli. Dan kau tahu jika aku benci dengan orang-orang yang mengusik kehidupanku.”


Bimo menganggukan kepalanya seraya pamit keluar. Leon pun sudah terrsenyum sinis, bahkan siapa saja yang menatapnya akan takut dengan wajah tersebut.


'ku harap kakek tak membangunkan singa yang selama ini sudah tertidur nyenyak.'


______


**TO BE CONTINUED


#MaafJikaTerdapatKetypoanDalamKepenulisan**