I'M NOT A PSYCHOPATH

I'M NOT A PSYCHOPATH
18. Buktikan jika kau Cinta



Licia menatap Jam dindingnya dengan Nanar. Jam pun sudah menunjukkan pukul Delapan, dimana Licia masih terdiam ditempat tidurnya.


Pandangannya beralih disaat menatap Dompet Hitam yang tergeletak di sofa. Pikiran Licia pun jatuh kepada Leon.


Siapa lagi kalau bukan Lelaki itu. Leon, Lelaki yang sudah mencuri hati Licia. dan Membuat Licia yakin akan kehadiran Lelaki itu didekatnya.


Licia mengambil Dompet tersebut. kemudian memasukan benda tersebut ke dalam Ranselnya.


"Apa aku ke kantornya saja?" Pikir Licia.


Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Siapa aku yang berani ke kantornya. Aku hanya orang asing, dan mungkin saja Leon tak kan mengharapkan kehadiranku."


Huh-


Licia membuang nafas kasarnya. ia pun membersihkan diri terlebih dahulu.


20 Menit berlalu, Akhirnya Licia memutuskan untuk kekantor Leon saja.


"Bukan kah Leon mencintaiku? lalu untuk apa aku takut jika Leon tak mengharapkan kehadiranku."


"Kau sangat cantik Licia, bahkan Semua wanita kalah akan kecantikanmu itu." pujinya sendiri seraya memoleskan bedak tipis diwajahnya.


Terkadang Licia sadar. jika dirinya sangatlah banyak membuat dosa. apalagi jika dirinya kesal dan marah, Dan kalian pasti tau apa yang Licia lakukan.


Setelah usai dengan aktivitasnya, Licia bergegas keluar dari Rumah mini tersebut. Lalu mencari Bus di halte untuk ke kantor Leon.


"Kenapa lama sekali," Gumam Licia.


Licia melirik seseorang yang sejak tadi terus menatapnya.


"Berhentilah menatapku!" tajam Licia dan membuat Lelaki itu mengalihkan pandangannya.


Licia hanya bisa menggelengkan kepalanya disaat menemukan orang seperti itu.


Jam sudah menunjukkan pukul 09:25. sudah terlalu lama Licia menunggu bus, hingga banyaknya waktu yang terbuang.


Licia pun akhirnya melangkahkan kakinya untuk Ke kantor Tersebut. Hari ini Licia tak masuk kuliah, karena Licia ingin merasakan yang namanya bolos untuk pertama kalinya.


"Ku harap kedatanganku tak berdampak buruk." gumamnya sendiri.


***


LEON POV


Disinilah aku berada, ditempat yang amat membosankan. Dan di sibukan dengan Banyaknya berkas serta tumpukan kertas.


Leon menatap Foto seseorang yang sangat dia rindukan. "Maafkan aku." Gumamnya.


Tok tok tok.....


"Masuklah," Ucap Leon dengan Dingin.


Orang itu menundukan kepalanya dengan sopan. "Maaf mengganggu Pak. ada seseorang yang ingin menemui bapak. katanya, dia Kekasih anda."


Leon menaikan Alisnya. "Kekasih?"


Asisten tersebut mengangguk lirih. "Benar Pak. dia mengaku Kekasih anda, Bahkan dia sudah menampar OB dan mengamuk tidak jelas jika kami tak memberitahukan hal tersebut kepada bapak." Jelas Fina.


"Kekasih? Apa itu Licia, tapi atas keperluan apa Licia kekantor ini" Pikir batinnya.


"Baiklah, suruh dia masuk." Pungkas Leon dan diangguki oleh Fina Asistennya.


Hening....


Leon masih bingung kenapa Licia kekantornya.


Clek-


Secara Refleks Leon menegakkan tubuhnya disaat mendengar suara pintu terbuka itu.


Alisnya terangkat. bahkan dia kaget dengan kehadiran Orang itu.


"Shavira?" Lirih Leon.


Orang itu terkekeh pelan. kemudian mendekati Leon dengan gerakan Manja. "Hai Honey,"


Wajah Leon memerah. bukan karena malu akan kehadiran cewek ular ini. melainkan Menahan Emosinya sedari tadi.


"Sejak kapan kau berada di Jakarta?"


"Sejak kau meninggalkanku." Jawab Shavira.


Shavira duduk di Sofa dengan tenang. bahkan dia tak memperdulikan tatapan dingin Dari seorang Leonanta.


Kenapa juga Shavira menemuinya. ini sangat membuatnya jengkel. "Pergilan Dari kantorku."


Shavira terkekeh. "Kau mengusirku?"


"Telingamu masih berfungsikan." Jawab Leon.


Leon mendekat kearah Shavira dengan wajah datarnya. "Dan aku tidak peduli apa tujuanmu kemari. yang ku inginkan, segeralah Angkat kaki dari kantorku." Tajamnya.


Shavira Tidak takut sama sekali, Shavira pun menegakkan tubuhnya agar sejajar dengan Leon. mantan Kekasihnya.


"Aku merindukanmu." Ucap Shvira seraya mengalungkan tangannya dileher Leon.


"Dan aku membencimu." Sahut Leon.


Leon ingin menjauhkan Tubuh Shavira dari dirinya. Namun Perempuan itu lebih erat memeluk lehernya.


Leon memutar bola matanya dengan jengah. "Astaga Perempuan ini, sungguh tak waras!" Runtuk batinya.


Shavira meletakkan kepalanya didada bidang Leon. "Aku merindukan kebersamaan kita yon. I Love You."


Clek-


Mereka masih berpelukan, Lebih tepatnya Shavira lah yang memeluk Leon. "Pergilah Shavira." Gumam Leon pelan.


"Hm, Aku juga mencintaimu." Jawab Shavira dengan Sembarang.


Leon menaikan alisnya.


Ehm- "Maaf mengganggu." Ucap Seseorang.


Kepala Leon menoleh dengan sempurna kearah orang tersebut.


Bruk-


"Bodoh! Kenapa bisa seperti ini." kesal Batin Leon.


"Licia Tunggu!"


Leon tidak tau harus mengatakan apa. Licia berbeda dengan perempuan lainnya. Dan Lihatlah, wajah Licia sangat datar. seakan tak terjadi apa-apa.


Licia mengambil sesuatu diranselnya. kemudian melempar benda itu kepada Leon.


"Maaf mengganggu waktu kalian, Aku hanya ingin mengembalikan Benda itu."


Leon Menatap Licia dengan Nanar. "Kau salah paham," Ujarnya kepada Licia.


Licia Hanya diam dengan tenang.


"Oh, ternyata dia yang sudah merebut tunangan Orang."


Licia mengalihkan pandangan kepada sosok perempuan dengan Mata tajam, dan sepertinya dia bukan orang Indonesia.


"Saya permisi." Ucap Licia tanpa menghiraukan ucapan Shavira.


Leon berlari mendekati Licia. lalu mencekal pergelangan tersebut dengan Erat. "Kau tahu jika aku hanya mencintaimu."


Licia hanya diam.


"Leon, kau membuatnya semakin bingung. dan lihatlah wajah dinginnya." Kekeh Shavira.


Shavira mendekat kearah Leon dan juga Licia. Lalu mengambil kertas didalam tasnyanya.


Leon mendorong Shavira dengan kasar.


"Pintu keluar ada didepanmu." Tajam Leon.


"Hei tenanglah, Aku hanya ingin menunjukkan ini kepada dirinya." sahut Shavira. "Ambilah." ujarnya Lagi.


Leon menatap Licia seraya menggelengkan kepalanya. "Itu tidak penting."


Tatapan Licia dan Leon saling bertemu. hingga bola mata Licia melirik kertas yang berada ditangan Shavira.


Licia mengambil kertas terbut lalu membukanya.


"Undangan Pertunangan?"


Licia tersenyum pilu. Dia paham Maksud Perempuan ini.


Dengan Sekuat tenaga Licia menyembunyikan Ekspresi sedihnya.


"Aku tidak peduli." Jawab Licia.


Leon merebut kertas tersebut dari tangan Licia. Sedetik kemudian Matanya melotot.


Apa?! Pertunangan!


Wajah Leon memanas. kemudian ia menatap Shavira dengan marah. Leon pun tanpa iba Menarik pergelangan Shavira dengan Kasar.


"Kau menyakitiku!" Teriak Shavira.


BRUK!


Aw-


Rintih Shavira bertepatan Tubuhnya jatuh ke Lantai.


"Pergi dari hadapanku sekarang juga!" Leon menutup kembali pintu itu dengan Kasar.


***


Leon tidak tau harus mengatakan apa, jika Licia hanya diam dan terus menatapnya dengan dingin.


"Dia mantan kekasihku saat aku menetap di London." jelas Leon.


Licia membuang nafas kasarnya. "Aku ingin pulang. lagi pula kita tak ada hubungan apapun."


"Tapi aku mencintaimu. Bisakah kau mengerti akan hal itu." Lirih Leon. "Dan soal kejadian tadi, aku pun tidak tau jika dia berada di Jakarta."


Hening.....


Leon menggapai pipi Chubby Licia dengan Lembut. kemudian mengusapnya pelan. "Aku mencintaimu, walaupun aku tidak tau apakah kau juga mencintaiku atau tidak." Gumamnya.


Pandangan mereka bertemu. Leon meraih Tubub mungil itu. Lalu memeluknya dengan Erat.


"Percayalah kepadaku, ku mohon Licia."


"Aku tidak tau." Jawab Licia dengan lirih.


Dan Jujur saja, Licia tidak tau harus mengatakan apa. karena pada dasarnya Licia memang mencintai Leon. tapi Licia belum berani mengatakan hal itu. Dia takut Semuanya hanya Mimpi, hanya Harapan semu semata.


CUP-


Leon mengecuk dahi Licia yang tertutup dengan Rambut Poninya. lalu menatap Licia dengan hangat.


"Aku akan menjelaskan semuanya. Dan Ku mohon percayalah kepadaku."


Licia tersenyum lemah. kemudian memundurkan langkahnya untuk menjauh dari hadapan Leon.


"Aku hanya ingin Pembuktian, bukan penjelasan semata." Ucap Licia. "Buktikan jika kau benar-benar tulus kepadaku." Sambungnya. Lalu meninggalkan Leon seorang diri ditempat tersebut.


Leon menata Lirih Punggung tersebut.


Akh!


Teriaknya dengan Frustasi. Tangan Leon terkepal kuat. bahkan jika orang lain melihatnya, Semua orang Pasti mengatakan jika Leon tengah kesurupan.


"Dan aku akan membuktikan itu." Lirihnya.


_________


TO BE CONTINUED


#Tinggalkan Jejak Guys😄😄😄


#Dan thanks' buat yang udah mampir kekarya aku😍


#See you, Bye-bye👋