
Satu jam Lamanha Leon menunggu panggilan dari Bimo yang sejak tadi entah kemana. “dari mana saja kamu bim?” tanyanya saat melihat bimo yag sudah ada didepan.
Leon menghela nafas kembali. “kau membuang waktuku.” Ujar leon lagi.
“maaf tuan. Tadi kakek anda menghubungi saya, dan menyuruh tuan untuk naik kemobil beliau.” Jelasnya.
“sudah ku katakan aku akan tetap menaiki taksi. Kau tunggu saja dirumah kakek, karena aku ingin pergi sebentar.” Sahut leon dan bergegas pergi untuk menuju taksi yang dia pesan sejak tadi.
Drtttt drttttt...
Leon sibuk mengotak-ngatik handphonenya dan tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari handphone tersebut.
“vino?” bingungnya saat mendapat panggilan dari sahabatnya itu. Dengan cepat jari-jari kokoh leon menggeser tombol berwarna hijau.
“bro, katanya kamu sudah di indonesia?” oceh diseberang sana.
Leon yang mendengar ocehan tersebut hanya terkekeh pelan. "aku akan ke Apartemenmu. dimana kau sekarang?” ujar leon yang masih setia menempelkan handphone tersebut ditelinganya.
“hahaha, sabar kali yon. Nanti aku share lokasinya. yang jelas kita akan bersenang-senang.” jelas diseberang sana.
Sedangkan leon hanya memutar bola matanya dengan jengah. “kau tau jika aku tak suka membuang waktu vin.” Cerca leon yang terus melangkahkan kakinya untuk keluar dari bandara.
“malam ini aku akan mengenalkanmu dengan perempuan yang aku kenal. Dia sangat cantik yon." Kekeh diseberang sana.
"Hei tuan vino yang terhormat, terima kasih atas tawarannya. Tapi aku tak berkenan sedikitpun." Jawab leon dengan nada dingin.
"Kalau kau menolak ajakanku berarti kamu bukan sahabat ku yon."
Dapat Leon dengar helaan nafas kasar dari seberang sana.
Dan-
Tuttt tuttt....
“dasar bocah.” Kesal leon seraya melirik jam tangannya, kemudian memfokuskan kembali kepada keponselnya yang kembali bergetar.
tapi tiba-tiba....
Bruk-
Leon kaget akan seseorang yang ia tabrak, yang membuat ia kaget adalah orang yang ia tabrak seorang perempuan dengan wajah datar. Bahkan sangat datar. “apa dia tak kesakitan?” bingung leon yang masih mematung.
“maafkan aku nona.” Tangan leon terulur untuk membantunnya.
Tetapi sepertinya niat baik leon hanya angin lalu bagi perempuan itu. buktinya perempuan yang terjatuh barusan sudah kembali berdiri dan menatap leon layaknya musuh.
“apa aku salah? Tetapi aku sudah meminta maaf kepadanya.” bingungnya.
Wajahnya yang cantik, hidungnya yang mungil, tak lupa tubuhnya yang putih bersinar. Membuat leon meneguk ludahnya dengan susah payah. “sangat cantik.” Batinnya.
"Apa dia gadis Asia? Atau dia blasteran?"
Dengan cepat leon menggelengkan kepalanya dengan lirih.
Leon pun secara terang-terangan menatap perempuan tersebut dari atas hingga ujung kaki.
"Apa dia tidak salah kostum? Indonesia panas, tapi kenapa ia mengenakan jaket tebal seperti itu? Dasar perempuan aneh." Celoteh batinnya dan sesekali tersenyum geli.
Dan Sepertinya perempuan ini adalah anak jalanan. Maksudnya perempuan yang suka kelayapan. Buktinya rambutnya dia beri warna putih seperti uban. Padahal jika rambutnya berwarna hitam pekat pasti akan menambah kesan seksi dan cantik.
Shit! kenapa aku memikirkan perempuan aneh ini.
Dengan cepat leon menggelengkan kepalanya berulang kali.
“dan- apa ada yang sakit?” melihat perempuan didepannya tak merespon sedikit pun membuat leon menghela nafas lelahnya.
“sepertinya anda baik-baik saja. Dan sekali lagi maafkan saya.”
Perempuan tersebut menundukkan kepalanya dengan tersenyum simpul. Dan sungguh Leon mati rasa atas senyuman yang perempuan ini berikan.
"Anda sudah saya maafkan tuan." Ucap perempuan tersebut dengan sopan.
Dengan gerakan angkuh perempuan tersebut melangkah menjauh dari pandangan leon. Leon yang menatap aneh perempuan itu hanya bergidik ngeri. “ada yah di Indonesia cewek kayak gitu.” Celotehnya.
"Secantik apapun perempuan, kalau etika dan moralnya tak dipaparkan. Yaa percuma saja berwajah cantik." monolognya.
Matanya masih menatap perempuan yang ia tabrak barusan dengan pandangan memuja. “sepertinya kita akan dipertemukan kembali perempuan aneh.” bibir leon melengkung ke atas seakan menantikan hari esok agar bisa bertemu kembali dengan perempuan yang dia tabrak barusan.
"Kita akan bertemu kembali." Sambungnya lagi.
Pak……
.....
Pak……
.....
Masih dibawah alam sadar. Buktinya bapak-bapak yang sejak tadi memanggil leon masih bingung saat menatap leon yang tak berhenti untuj tersenyum.
Leon masih tersenyum dengan gilanya walaupun tubuhnya kaku seperti patung.
Pak!
“bapak yang mesan taksi saya kan?” Tanya seseorang entah dari mana datangnya.
Leon pun tersadar akibat ucapan orang tersebut. Dan hampir saja leon berteriak dengan kerasnya, karena kaget.
ia pun segera tersenyum ramah dan ada sedikit rasa tak enak saat mengetahui bapak-bapak tadi terus memanggilnya. “maafkan saya. Dan benar, saya yang memesan taksi bapak.” Tutur kata leon yang ramah serta senyum manis yang ia paparkan diwajah tampannya semakin membuat orang dibandara tersebut terkesima menatapnya.
Dan kini, leon tengah berada didalam taksi yang ia pesan barusan. Seraya Memandang indahnya kota Jakarta membuat leon akan sadar bahwa ia tengah rindu akan keberadaan ayahnya. “kepemakanan Nur-Hidayah pak.”
______
Ditempat lain seorang perempuan tengah kesal dengan laki-laki yang ia tabrak barusan. Entah kenapa, disaat ia menatap seorang laki-laki ia terbanyang akan ayah tirinya lakukan kepadanya dulu.
“Semua laki-laki sama saja!” umpatnya.
Ia terus melangkah menjauh agar laki-laki brengsek yang menabraknya barusan tak menatapnya lagi.
Instingnya cukup kuat sehigga ia mengetahui bahwa lelaki idiot tadi masih saja menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan itu membuatnya risih dan semakin membenci yang namanya laki-laki.
“semua lelaki sama saja. Hanya mempermainkan wanita, memberi uang, dan meninggalkan mereka seperti ******. lalu mencari pengganti agar bisa membuat hasrat mereka terpenuhi kembali.” Gumamnya yang terus melangkah untuk keluar dari bandara tersebut.
Tidak ada yang tahu pasti apa penyebab perempuan ini sangat membenci laki-laki. Yang jelas dia benci ayahnya. Dan dia juga membenci kaum adam yang menatapnya dengan pandangan memuja.
Matanya pun menatap disekeliling dengan tersenyum sinis. Sepertinya malam ini ia harus bersenang-senang.
Tangannya berhenti melambai disaat sebuah taksi singgah didepan wajahnya. “antarkan saya ke cafe house.” Dengan sopan perempuan tersebut menagatak bahwa ia ingin kesebuah tempat.
“baiklah licia, waktunya malam ini kamu bersenang-senang.” Senyum evil ia paparkan dengan jelas saat menandang jalanan disekitar.
_____
TO BE CONTINUED