
Kurasakan cahaya matahari menerpa wajahku, kulihat Pepohon mulai menari disekitarku, burung berbeo dengan merdunya, hingga aroma angin liar terbawa dengan anehnya.
Aneh, tetapi indah untuk dipandang. Dan tenang untuk dirasakan.
Disinilah aku berada, dimana hanya ada aku seorang.
Mataku mulai menatap kesembarang arah. Mencari objek yang membuatku nyaman.
Clek-
Aku memejamkan mataku sejenak, hingga terdengar suara pintu terbuka dari arah belakang sana.
"Bagaimana kuliahmu?” Tanya orang itu yang sudah duduk disampingku.
Licia menoleh kerah Vino, sama halnya dengan Vino yang terus menatap wajah dingi Licia.
“Aku masih tidak mengerti dengan kecelakaan kemaren. Semuanya seperti mimpi, yang hanya sekilas muncul lalu hilang tanpa bekas.” Gumam Licia.
Vino menganggukkan kepalanya dengan lirih. ia pun tidak tau jika Leon berada ditempat kecelakaan itu. bahkan jika tidak Licia menjelaskan itu, mjngkin Vino takkan mempercayainya. dan kebenarannya adalah, Leon lah yang telah menolong Licia dari kecelakaan maut itu.
“Kau tau, sebenarnya aku hanya mendapat pesan melaluui orang. Orang itu hanya mengatakan jika kau harus ikut denganku, karena ada seseorang yang tengah mengincar dirimu Licia.” Jedanya hingga Vino menghela nafasnya dengan gusar. “ini alasan Leon menyembunyikan siapa Andrew. Dia takut jika Andrew akan melukaimu kembali, jika dia tau bahwa kau di Indonesia.” Sambung vino.
“Aku tak mengerti. Tapi aku akan memahami apa yang Leon katakan.” Lirih Licia. “Apa Leon baik-baik saja?”
Hmm- “Dia akan baik-baik saja.” Sahut Vino.
Licia menegakkan tubuhnya. kemudian menatap Vino sekilas hingga terbitlah senyumnyanya.
“Aku ingin keluar sebentar.”
Langkah Licia terhenti karena Vino lebih dulu mencekalnya. Licia diam seraya mengangkat satu alisnya.
“Kau ingin ikut?” Tanya Licia dengan tenang.
Vino melepaskan genggamannya lalu menyejarkan tubuhnya degan Licia. “Jangan keluar, kita tidak tau apa yang direncakan mereka untuk menangkapmu.”
Licia terkekeh. Lalu menyilangkan kedua lengannya. “Kau tak perlu takut, aku bisa mengatasi semua itu.” jawab Licia dengan santai.
“Aku tau kau wanita kuat. Tapi diluar sana bukan satu orang saja mengincarmu, mereka banyak Licia.”
Licia menghela nafasnya sesaat lalu berkata. “Lalu, apa yang harus kulakukan?”
“Menyamar, dan aku harus berada didekatmu.”
Licia memutar bola matanya disaat mendengar apa yang Vino katakan. “Aku bukan pengecut Vin!” tajam Licia. “bahkan mereka tidak tau siapa aku.”
Tatapan mereka bertemu hingga tersirat suatu makna dari tatapan itu. “Licia mengertilah, ini demi kebaikanmu dan Leon.”
“Baiklah,”
***
Licia memakai apa yang Vino katakan. Bahkan Licia rasa, sekarang dia seperti artis dadakan. Bayangkan saja, Vino menyuruhnya memakai Dress, bahkan dengan rambut yang digerai serta dibuat bergelombang.
Ini tidak masuk akal. Dan jangan lupakan make up sudah melekat diwajah mungil Licia. “Ide apa ini?! kau mengerjaiku?!” bisiknya dengan sengit.
Mereka pun terus melangkahkan kakinya ketempat yang tak jauh dari Apartement tersebut.
Sesekali Vino terkikik geli disaat Licia terus mengomel kepadanya.
“Ini ide yang berlian Licia,”
Licia memutar bola matanya. “Percayalah mereka takkan mengenalmu, karena kau sangat cantik."
Mereka sibuk mengelilingi Taman hingga pandangan Licia jatuh kerah seseorang yang tengan duduk dikursi roda. Licia menoleh kearah Vino yang hanya menggidikkan bahunya.
Licia terus memperhatikan bapak yang dikursi roda itu. Hingga tibalah seorang suster yang menghampiri bapak itu.
Vino menyadarkan Licia atas lamunannya.
"Apa?" Tanya Licia.
"Kau melamun?"
Vino menatap Licia sejenak. hingga terbitlah senyum dibibir Vino. "Walaupun aku tau dimana Dia berada, kita tak bisa berbuat apa-apa Licia."
"Apa maksudmu?" Bingung Licia.
"Lupakan." Sahut Vino dengan Cepat.
Licia menegakkan tubuhnya, kemudian berkata. “Aku ingin membeli sesuatu.” Ujar Licia yang sudah beranjak dari tempatnya.
Vino pun hanya menatap nanar atas kepergian Licia itu. “Kau tak perlu tau akan semuanya Licia. karena ini demi kembaikanmu.” Gumam Vino kearaah Licia yang sudah menjauh dari hadapannya.
Dilain tempat……….
Licia tenngah membeli Sesuatu untuk menyagarkan tenggorokkannya. Tiba-tiba saja Licia merasakan ada seseorang yang menyentuh lengannya. “Ya?” Tanya Licia dengan ramah.
“Bisa kah Nona antarkan minuman ini kepada majikan saya, saya ingin ketoilet sebentar.” Ujar orang itu yang tak lain adalah suster yang Licia lihat barusan.
Dan apa yang dikatakan orang ini barusan? Aku yang harus mengantarkan Minuman ini kepada majikannya? Dasar tidak tau malu. Batin Licia.
Licia tersenyum ramah kepada orang itu. dia pun bingung mau mengiyakan atau menolak apa yang dikatakan orang itu barusan.
“Saya percaya kepada anda,” sambung Perempuan itu.
Licia pun mengambil air mineral itu dengan senyum yang sudah dipaksakan. “Baiklah,” jawab Licia.
Setelah memebeli air untuk dirinya dan Vino. Licia lebih dulu mengantar minuman ditangannya ini kepada seseorang yang tak Licia kenal.
Dengan langkah pasti LIcia mendektai orang itu. Licia mentap Punggung orang itu dalam keheningan, entah kenapa ia seperti kaku untuk melanjutkan langkahnya.
“Ini hanya perasaanmu Licia,” gumamnya sendiri. Dan melanjutkan Langkahnya kembali.
Dan tiba-tia saja pergerakan Licia terhenti akibat 2 orang yang menghalangi dirinya. Licia pun menatap orang itu dengan dinging.
“Siapa kau?” tegas orang itu.
Licia dapat menyimpulkan jika orang cacat itu adalah orang kaya. Lihat saja dari kursi rodanya, kursi roda elektronik. Bahkan adanya suster dan dua pengawal dibelakangnya.
“Aku dapat amanat dari suster beliau, untuk menyerahkan minuman ini.” jelas Licia.
Salah satu bodyguard itu menghadap majikannya. Ah bukan, itu terkesan seperto 'bossy'.
Bodyguard itu pun kembali menatap Licia lalu menganggukkan kepalanya.
Tatatapan Licia bertemu dengan dua bodyguard kaku itu. Licia pun hanya membalas tatapan itu tanpa rasa takut.
“Kau yang seperti seorang penjahat.” Kekeh Licia disaat melewati duo wajah kaku itu.
Tap...tap....
Licia mendekati orang yang sedang terdiam dikursinya. Licia ingin menyapa tapi dia tak mau sok kenal. Dan yang Licia lakukan hanya berada disamping orang itu tanpa menatap wajahnya. Karena Licia tau jika orang itu sudah berumur. Mungkin pantas jika Licia menyebutnya sebagai kakek.
“Terimakasih.”
Tubuh Licia seketika kaku disaat mendengar suara itu. hingga kepalanya menoleh keorang itu dengan kaget.
Sama halnya dengan Licia, orang tersebut juga kaget akan Licia lah yang berada disampingnya.
“Kau!?” bentaknya Licia.
Mata mereka bertemu. Bahkan dari tatapan itu Licia sudah memancarkan Raut tak bersahabat.
“Licia?”
___________
TO BE CONTINUED
Next guys!!!!!!!!!!
Bakal double update, InsyaAllah Update lagi malam ini (kalau gk ada halangan). jadi tetap pantauain cerita ini yaaaaaa.
🍉🍉🍉