I'M NOT A PSYCHOPATH

I'M NOT A PSYCHOPATH
28. Dibalik sebuah rencana



DADAKAN BANGET UPDATENYA. GAK SEMPET BACA ULANG. DAN SORRY BANGET KALAU ADA TYPO DIDALAM EPISODE INI.


_________


"Tidurlah, Aku mencintaimu."


Bisikan itu menggema ditelinga Licia. hingga ia merasakan hangatnya dekapan Leon. bukan hanya itu saja, ia juga merasakan Kecupan ringan yang terdapat dipucuk dahinya.


Kecupan yang sangat pelan, mungkin takut membangunkan Licia. Hingga Licia merasakan Jika Leon tak berada disampingnya lagi.


Licia ingin membuka matanya, Namun tak bisa. sekarang yang ia lakukan hanyalah memanggil Leon lalu memeluknya dengan rindu.


"Leon..."


"Leon..." Gumamnya.


Hiks- "Jangan Tinggalkan Aku Yon,"


"LEON!" Teriaknya dengan keras.


Licia bangun dari tidurnya seraya menatap Vino yang sudah berada disana.


Vino mengambilkan minum kepada Licia. Licia pun meminum itu dengan tangan bergetar.


Ini kedua kalinya Licia memimpikan Leon. Licia memejamkan matanya sejenak, hingga ia mengingat akan seauatu.


"Ini bukan mimpi." Ujar batinnya dengan yakin.


Tatapan Licia bertemu dengan Vino yang hanya menatapnya dengan bingung. "Kau menatapku Seakan aku seorang Penjahat." Celetuk Lelaki itu.


"Dimana Leon?" Tanya Licia tanpa menghiraukan perkataan Vino barusan.


Vino menatap Licia dengan heran Lalu menyentuh dahi Licia secara tiba-tiba.


Disaat mendapat perlakuan seperti itu dengan gesit Licia menjauhkan tangan Vino dari dahinya. Lalu menatap Vino dengan sengit.


"Kau mengigau?" Celetuk Vino yang sudah terkikik geli.


Licia menatap Tajam kearah Vino. "Dimana Leon? jika kau tak memberitahunya, maka satu telinga kau akan ku berikan pada sekor srigala."


Vino meneguk ludahnya dengan susah payah. Jika dengan Licia maka semuanya akan terasa menyeramkan. Pikir Vino.


"Otak mu selalu berisi hal menakutkan." Ujar Vino. "Seperti Psikopat." Sambungnya, Namun sangt pelan. karena ia takut jika Licia mendengarnya.


"Aku bukan Psikopat!" Sahutnya dingin. "Aku bertanya kepadamu sekali lagi, dimana Leon?"


"Dan aku tidak tau." Tegas Vino.


"Tapi kenapa aku berada disini? pasti semua ini karena Leon." Ujar Licia yang masih bingung dengan keberadaannya.


Vino duduk disofa dengan tenang. seraya menatap Licia yang masih bingung dengan keberadaannya.


"Aku tak menemukan Leon disini. Aku hanya melihat kau yang sudah tak sadarkan diri didepan Pintu Apartement." Ucap Vino dengan menyesap kopinya. "Lalu aku kaget, setelah itu aku mengangkatmu untuk membawa masuk kedalam. dan menaruhmu diranjang Leon. Dan jangan lupakan, Bahwa kau sangat bau Alkohol, Licia." Sambungnya.


"Pasti Leon yang mengantarku." Ujar Lcia seraya bangun dari tidurnya.


"Seyakin itukah kau mengira jika Leonlah yang mengantarmu?"


"Ya," Jawab Licia dengan yakin.


"Karena malam tadi adalah malam dimana aku bertemu dirinya kembali. dimana aku bisa memeluknya, dan menciumnya." Sambung batinnya seraya mengingat kembali apa yang ia rasakan Tadi malam.


"Bersihkan dirimu. aku akan menyiapkan sarapan diluar."


Licia menatap Lirih kearah punggung Vino yang sudah meninggalkannya.


Hingga Akhirnya Licia melangkahkan kakinya menuju kamar Mandi. karena ia ingin membersihkan tubuhnya yang mulai lengket. bahkan Bau Alkohol masih melekat ditubuhnya.


20 Menit berlalu.....


Kini Licia sudah selesai dengan kegiatannya. ia pun sekarang sudah keluar dari kamar tersebut dengan wajah segarnya.


Hingga Licia menemukan Vino yang hanya diam seraya menatap sebuat Kertas. entah kertas apakah itu.


Licia mendekatin Vino. Vino pun hanya diam, karena dia tidak tau jika Licia sudah berada dibelakangnya.


"Apa itu." Tanya Licia.


Tatapan Licia menajam, disaat Vino segera menyimpan kertas itu. "Kau menyembunyikan sesuatu?"


Vino menggeleng, Lalu menjajarkan tubuhnya dengan Licia. "Ini tidak penting." Jawab Vino serius.


"Tapi aku ingin mengetahui." Dingin Licia yang sudah menatap dingin wajah Vino.


"Dan aku takkan memeberikan ini."


Licia terus mendekat hingga Vino memundurkan Langkahnya. Vino pun sedikit was-was Disaat Licia selalu mendekatinya.


"Kenapa kau mundur?" Tanya Licia dengan Polos.


"Karena kau selalu mendekatiku."


Licia memutar bola matanya dengan jengah. "Vin?"


Vino menghela nafasnya sesaat. lalu memberikan benda itu.


"Kau kuat," Ujar Vino yang sudah menyerahkan kertas itu.


Licia pun mengambilnya dengan bingung. pasalnya, ia hanya bingung atas apa yang dikatakan oleh Vino barusan.


Licia menatap kembali kearah Vino yang sudah meninggalkannya. Hingga Licia duduk ditempat Vino barusan.


Tangan Licia membuka Amplop itu. hingga munculah kertas dengan Adanya Sebuat foto. foto yang amat mesra. hingga membuat hati Licia nyeri untuk melihatnya.


Licia membuka lipatan Kertas itu. hingga terpaparlah Nama Leonanta Bramana dengan Shavira. Bahkan disana tertera mereka akan bertunangan pada tanggal 12 juni 2020. dimana hari itu bertepatan Besok. tepatnya malam besok.


"Apa benar, semua ini atas kemauan Leon? atau ada hal tertentu yang Leon sembunyikan." Gumam Licia.


Licia melangkahkan kakinya untuk mengambil Tas dan handphonenya. hingga ia berpapasan dengan Vino yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Mau kemana kau?" Tanya Vino.


Licia menghentikan langkahnya sejenak. lalu menoleh kearah Vino dengan dingin.


"Hanya ingin menenangkan diri." Jawab Licia pelan.


Vino mengangguk lalu mendekati Licia. "Aku akan ikut denganmu."


Tatapan mereka bertemu. hingga Vino melihat Licia yang hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku butuh Privasi, Vin." Sahut Licia. lalu meninggalkan Vino seorang diri.


Vino pun hanya menatap punggung itu dengan perasaan sedih. karena dia tau akan persaan Licia rasakan.


Apalagi Disaat Licia membaca Kertas itu. dimana tercetak 2 Nama yang sangat Vino kenal. Yaitu Leon sahabatnya dan Shavira mantan kekasih Leon dulu, dan sekarang sudah menjadi tunangannya Leon.


Bahkan jika kalian tau, sejujurnya Vino belum pernah melihat batang hidungnya Leon. entah Lah apa alasannya. tetapi Vino yakin, Jika Leon melakukan ini demi seseorang yang sangat dia sayang. yaitu Licia.


SKIP


.


.


.


.


Sejujurnya Licia tak berfikir untuk ketempat ini. dan entah kenapa, tiba-tiba saja kakinya membawanya kemari.


Tatapan Licia sendu. sekarang ia sudah mengelilingi tempat itu. dimana terdapat pepohonan serta bunga mawar dengan indahnya.


Hingga mata Licia menatap bayangan seseorang dari rumah pohon sana. Licia mengmbil sesuatu dari balik celananya. dimana disana sudah terdapat pistol yang sengaja Licia ambil dari laci Leon.


Licia mendekati bayangan itu dengan langkah pelan.


Ia pun hanya Menatap aneh bayangan itu. karena bayangan itu hanya diam, entahlah apa yang dilakukan orang itu.


Licia memegang pistol itu dengan Kuat. ia pun sudah menyiapkan mentalnya jika orang itu adalah penjahat.


Hingga Sekarang Licia sudah berada didepan pintu rumah pohon itu. Licia masuk dengan langkah pelan. hingga ia menatap belakang orang itu.


Bahkan orang itu memakai jaket yang sudah menutup kewajahnya.


Dan tiba-tiba saja, Orang itu berbalik disaat Licia ingin mencondongkan pistolnya.


Dan.........


"Licia,"


"Leon,"


Ucap mereka bersamaan. Leon melepaskan Pisau yang ia pegang barusan. karena disaat Licia sudah mencondongkan pistolnya kekepala Leon. Leon Juga Mengeluarkan Pisaunya, hingga berada didepan mata Licia.


Licia masih memegang pistolnya. bahkan dia tak menjauhkan pistol itu dari kepala Leon. tidak seperti Leon yang sudah membuang Pisaunya, karena dia tak ingin Licia terluka karena itu.


"Apa aku boleh membunuhmu?" tanya Licia tanpa rasa takut.


Walaupun sejujurnya Licia senang, karena ia bisa bertemu Leon lagi. tetapi jauh dilubuk hatinya, jika Licia juga kesal atas apa yang Leon Lakukan.


"Lakukanlah jika itu membuatmu tenang." Jawab Leon.


Licia meneteskan Air mata dengan tiba-tiba. hingga Leon ingin mendekat kearahnya.


"Jika kau mendekat, aku akan Menarik pelatuk ini." Ancam Licia yang sudah menajuh dari Leon.


Hingga.......


DORRR


Licia memejamkan matanya disaat melakukan hal tersebut. sama halnya dengan Leon. karena dia hanya pasrah, pasrah jika orang sangat dicintainya melakukan hal tersebut.


Namun sayangnya semua tak seperti yang kalian pikirkan. karena Licia hanya menembak Keatas atap.


Licia terduduk. dia bahkan membuang pistol itu dengan tangan bergetar.


Leon menghampiri Licia lalu memeluk perempuan itu dalam diam.


Licia memberontak, dia mengamuk didalam dekapan itu. akan tetapi kekuatan Leon lebih besar dari pada Kekuatan Licia. hingga Leon bisa merasakan kembali jika Licia sudah sedikit tenang didalam dekapannya.


"Aku mencintaimu, tapi aku membenci mu." Ucap Licia dengan Parau.


Telinga Leon mendengar itu dengan sedih. ia pun hanya diam seraya mengeratkan pelukannya kepada Licia.


"Aku terpaksa." Ucap Leon.


Licia melepaskan pelukan itu secara tiba-tiba. lalu menatap Leon yang juga menatapnya.


"Apa maksudmu?" Bingung Licia.


Leon menggelengkan kepalanya. lalu memeluk Licia Lagi.


Licia pun hanya diam disaat Leon memeluknya. Hingga tangan Licia terangkat Untuk mengambil Pistol yang tepat dibelakang Leon.


Tangan Licia terangkat, Hingga terdengar.........


DORRR


Leon melepaskan pelukan itu, Mata Leon pun menatap manik mata Licia dengan bingung.


Hingga tubuh Leon berbalik. dimana ia menemukan seseorang yang sudah ambruk Dilantai. bahkan orang itu tengah menatap mereka seperti ingin meminta bantuan.


DORRR


Licia menembak orang itu untuk kedua kalinya. hingga mata orang itu tertutup dengan sempurna.


Leon membalikkan tubuhnya kearah Licia yang hanya diam menatap orang itu.


"Apa yang kau lakukan?" Bentak Leon kepada Licia.


Tatapan mereka bertemu, hingga Licia mendekat kearah Leon. "Membunuhnya." Jawab Licia dengan enteng.


Leon mengacak-acak rambutnya dengan Frustasi. Leon memegang Bahu Licia dengan tatapan teduh. hingga ia berkata, "Sudah kukatakan sedari dulu. berhentilah membunuh, Licia."


"Tapi' jika Dia ingin membunuhmu, apa aku harus diam?" Lirih Licia yang menatap Leon kembali. "Dia ingin mengeluarkan pistolnya, tetapi aku membunuhnya. Apa aku salah melakikan hal tersebut. dimana aku ingin melindungi orang yang ku sayang" Sambung Licia dengan menunduk.


Leon mendekatkan wajahnya kepada Licia. Licia pun hanya diam walaupun air matanya terus menetes.


Dan sejujurnya Licia tidak tau, kenapa jika berkaitan dengan Leon. dia selalu lemah. bahkan selalu menangis.


Ini bukanlah Licia yang dulu. dimana Licia yang selalu memandang dingin orang-orang. bahkan tak segan untuk membunuhnya.


Dan ini semua karena Leon, Karena Leon sudah menghilangkan Licia yang dingin itu dengan Cinta yang Leon berikan.


Cup-


Licia merasakan hangatnya Bibir itu yang sudah mengecup dahinya. Licia mendongak, hingga tatapannya bertemu dengan Leon.


"Besok bukanlah Hari pertunanganku. tetapi, hari dimana semuanya akan berakhir." Gumam Leon kepada Licia.


"Percayalah, Jika aku sangat mencintaimu." Sambung Leon lagi.


Licia tersenyum Lirih. lalu memeluk Leon lagi dengan rindu yang menggebu.


"Jika kali ini kau meninggalkanku, maka aku sendiri yang akan menyeretmu ke Neraka." Jawab Licia.


Leon pun hanya terkekeh. lalu memeluk tubuh mungil itu dengan sejuta kerinduan.


"I Need You," Bisik Leon ditelingan Licia. Licia pun hanya tersenyum disaat mendengar bisikan itu.


"Tak kan ada yang memisahkan kita Licia. Dan akan ku pastikan semua itu tak kan pernah terjadi." Gumam Batin Leon.


_______


TO BE CONTINUED


#Maaf karena baru Up. sibuk guys, Ana banyak tugas😭😭😭


#Dan Maaf banget buat pembaca cerita "Arianna" karena Arianna gak bisa Up sekarang. tungguin besok aja yaa guys🍉


#Jangan Lupa tinggalkan jejak.


#Love you Guys😍😍😍


SEE YOU😄😄😄