I'M NOT A PSYCHOPATH

I'M NOT A PSYCHOPATH
30. Keanehan Licia



LEON POV


Hari ini aku akan menuruti kemauan perempuan ular itu. dimana aku akan menemani Shavira untuk jalan-jalan.


Bahkan Aku merelakan Licia pulang, karena Aku tak ingin jika perempuan ular seperti Shavira tau akan keberadaan Licia.


Dan Ini bukan pertama kalinya untuk-ku menuruti kehendak dari Shavira. Namun sudah kesekian kalinya. Karena ada sesuatu yang sedang aku jaga, dan jika saja Aku tak menuruti kemauannya. maka semua rahasia-ku akan terbonkar.


Ingin sekali aku menyumpal mulut Shavira dengan kain kotor, lalu melakban kembali mulutnya. tetapi tidak seperti bayanganku, karena Aku hanya diam, disaat Shavira sudah mengoceh tidak jelas disampingku. Hingga mobil ku berhenti. Aku pun menatap diluar sana dengan perasaan campur aduk.


Pasalnya ini adalah tempat Favoritnya Licia. Hm- jika sudah mengingat nama itu. rasanya Leon ingin memeluknya, lalu mengecup pipinya dengan sayang.


“Kenapa sayang?” ujar seseorang disampingku.


Leon menoleh. Wajah datarnya pun tetap dia tampilkan disaat Shavira tersenyum kepadanya.


Shavira memeluk lengan Leon dengan Erat, Namun tidak dengan Leon. Leon tidak membalas pelukan itu atau pun tersenyum kepada Perempuan ular itu. melainkan hanya menatapnya dengan raut datar.


“Aku hanya ingin bersamamu, karena kamu tunanganku Yon. Dan aku sangat mencintaimu.” Ucap Shavira kepadaku. Dan aku sangatlah tidak peduli, masa bod*h jika Dia mencintaiku.


Aku bergegas keluar dari mobil itu lalu diiringin Shavira yang sudah mengekoriku dari belakang.


Leon menatap tajam kepada Shavira yang sudah meraih lenganku. Astaga perempuan ini, kenapa selalu lengket kepadaku?! keluh batin Leon.


“Jangan pernah menolak Yon.” Ancam Shavira.


Sekilas aku melihat decak sinis dibibirnya. “Ayok sayang,” ujarnya lagi yang sudah menarikku untuk café itu.


Kami pun sudah melangkahkan kaki untuk masuk kedalam café tersebut. hingga mataku menemukan seseorang yang tengah menatapku dengan dingin. Siapa lagi kalau bukan Licia.


Tapi, kenapa Licia ada disini? Bukankah aku menyuruh supir ku untuk mengantarnya ke Apartement.


Aku pun terus mentap mata tajam itu. hingga aku tak mengerti akan tatapan yang Licia berikan kpadaku. Aku menaikkan alisku, pertanda ingin tau apa yang dimaksud.


“Ingat janjimu Yon.” Bisik seseorang yang tak lain adalah Shavira. “Dan ingatlah, kalian takkan bisa bersatu Yon. Lagi pula, buat apa kau mencintai seorang psikokat.”


Mata Leon menajam, namun ia tak bisa berkomentar apa-apa. Leon menoleh kearah Licia lagi, namun Licia tak ada dari Temat itu.


Kepala Leon mencari kesana-kemari, namun nihil. Tak ada tanda-tanda keberadaan licia. “Kemana dia?” batin Leon.


Leon merasakan sebuah tangan menangkup wajahnya dengan hangat. Lalu pandangan mereka bertemu.


“Aku ke toilet sebentar, Dan jangan pernah meninggalkan-ku Yon.” tajamnya.


Disaat mata Leon bertemu dengan Shavira, dengan gerakan cepat Leon membuang wajahnya. Sedangah Shavira hanya terkekeh disaat Mendapati sikap kasar dari tunangannya itu.


Kini tinggalah Leon disana. Leon pun menghubungi seseorang dari benda pipih itu. lalu menatap disekitarnya dengan was-was. Karena dia tak ingin jika orang-orang kakek selalu mengikuti kemana pun ia akan pergi.


“Apa mungkin Licia sudah meninggalkan tempat ini?” Gumam Leon.


Drtttt……


Handphone Leon bergetar. Ia pun sudah mengangkat Panggilan tersebut dengan wajah datarnya.


“Kami sudah menemukan kebenarannya Bos.” ujar diseberang sana.


Hm- “Pastikan tak ada orang satu pun yang mengetahui itu. baik kakekku, atapun Shavira.” Dingin Leon.


“Siap bos.”


Leon memasukkan kembali handphone tersebut kedalam jasnya. Sudah 10 menit Shavira juga tak kembali dari toilet sialan itu. ia pun bingung apa ia harus meninggalkan Shavira atau menunggunya.


"Kenapa sangat lama sekali. dasar cewek,” kesalnya.


Terlalu lama menunggu perempuan itu. Alhasil Leon melangkahkan kakinya untuk kebelakang.


Bukan karena cemas dengan orang itu. melainkan hanya ingin tau kenapa peremuan itu sangat lama, bahkan tak menghubunginya sama sekali.


“AKH!”


Leon semakin mempercepat langkahnya disaat mendengar teriakan tersebut.


“Aku bukan psikoat,”


BRAK-


Bertepatan Leon mendobrak pintu toilet tersebut, Leon juga melihat tubuhh Licia yang sudah terdampar dengan sendirinya. Dengan gerakan cepat, Leon menghampiri Licia yang sudah tak sadarkan diri. Dan tiba-tiba saja pandangannya jatuh kebelakang, dimana ia menatap syok Kearah Shavira yang sudah banyaknya dilumuri oleh darah.


Langkah Leon gontai, ia menghampiri Shavira, lalu menyentuh lengan itu dengan kaget.


“Shit!”


Leon mengambil handphonnenya dengan cepat, lalu mengetikkan sesuatu didalamnya. Hingga datanglah 2 orang berjas rapi yang sudah didepan Leon.


“Bawa mayat Shavira kemarkas ku. Dan bersihkan tempat ini, bahkan jangan ada satu noda atau pun jejak yang masih melekat di tempat ini.” dingin Leon.


"Dan Suruh Bimo untuk membeli Cafe ini." Sambung Leon.


Bimo adalah Asisten sekaligus Orang kanan Leon. Alasan Leon membeli Cafe ini, karena dia takut jika semua pegawai akan mengatakan yabg tidak-tidak nantinya. Oleh karena itu, Leon akan membeli Cafe ini. dan menyuruh semua pegawai disana untuk menutup mulutnya rapat-rapat.


Lagi pula Cafe ini Tempat Favorit Licia. dan Leon tak keberatan sama sekali untuk membelinya.


Leon pun sudah mengangkat tubuh Licia untuk pergi dari tempat ini. banyak pasang mata yang menatap mereka. akan tetapi Leon tak menghiraukan hal tersebut.


Hingga ia sudah berada didepan mobilnya. Leon pun segera memabawa masuk Licia kedalamnya.


“Penthouse.” Ujar Leon.


Mobil itu pun telah melaju dengan tenang.


Leon menatap wajah pucat Licia dengan rasa khawatir. Ia mngusap Wajah mungil itu dengan lembut, Hingga Sudut bibir Leon terangkat disaat menatap wajah polos itu.


“Aku lebih suka melihatmu tertidur dari pada kau membuka mata tajammu itu Licia. Di satu sisi kau bagaikan anak kecil tanpa dosa, tapi disisi lain kau bagaikan iblis yang tak terkendali.” Gumamnya seraya menggenggam tangan mungil itu.


.


.


.


Sekaramg Leon sudah tiba di Penthhousenya, dimana ia sekarang sudah menempatkan Licia dikamarnya.


Eugh………


“Lepaskan aku,” Lirih Licia.


Leon mendekatkan dirinya kepada Licia, karena Licia tengah mengigau. Bahkan sesekali Licia meneteskan air matanya.


“Hei, sadarlah.” Panggil Leon.


Hiks- “Lepaskan aku,”


Leon mengguncang bahu Licia berulang kali, namun tak ada respon sama sekali dari pemiliknya. “Licia,” panggil Leon lagi.


"Sayang, bangunlah." Gumam Leon yang masih menepuk pipi Licia beulang kali.


Dengan Perlahan mata itu mulai terbuka Leon pun sudah tersenyum disaat menatap mata indah itu.


Namun tidak dengan kedua mata indah itu, Karena Dari mata itu Leon hanya mendapati Tatapan Luka dan raut kesedihan.


Leon pun hanya bisa memeluk tubuh mungil itu dengan simpati yang amat dalam.


Pelukan Leon semakin mengerat disaat ia mendengar isak tagis Licia semakin memilukan.


“Tenanglah. Aku akan selalu bersamamu.”


Licia mengangguk. Lalu membalas pelukan itu kembali. “Aku bukan psikopat,” gumamnya yang sangat jelas dipendengaran Leon.


“Aku tak membunuhnya, hiks-”


“Ya, kau tak membunuhnya, hanya melenyapkan nyawanya saja sayang.” jawab batin Leon.


Leon melepaskan pelukan tersebut. hingga ia bisa menatap wajah itu dengan sepenuhnya. Tatapan Leon sendu. hingga ia mendekatkan wajahnya kearah Licia.


“Jangan pernah membuatku takut Licia, Dan jangan pernah meninggalkanku.” Katanya kepada Licia.


Akh!


"Jangan mendekat! Kau pembunuh!" Teriak Licia yang sudah mengamuk.


"Licia?" Panggil Leon yang ingin mendekati Licia.


Sedangkah Licia terus menjambak rambutnya tanpa henti.


"AKU BUKAN PSIKOPAT!" teriaknya Licia lagi.


Leon menatap kaget kearah Licia yang terus menjambak rambutnya bahkan sesekali memukul kepalanya dengan keras.


"Aku tak membunuhnya. dia pembunuh!"


Leon mengambil tangan Licia. lalu menatapnya dengan pilu.


"Licia, kau menyakiti dirimu sendiri." Ucap Leon seraya melepaskan tangan Licia dari kepalanya.


Licia semakin tak terkendali.


"Dewi!" Teriak Leon.


Hingga Dokter itu datang, lalu menusukkan benda lancip itu dilengan Licia. Dan barulah Licia mulai tenang, bahkan memejamkan kedua matanya kembali.


"Itu hanya obat penenang." Ucap Dewi.


Mata Leon tak pernah teralihkan dari wajah Cantik itu. Leon mengusapnya dengan pelan. hingga terdengar ucapan dari Dokter tersebut.


Dewi menepuk pundak Leon dengan pelan. lalu berkata, "Kau perlu memanggil Dokter Psikolog Yon."


Leon menoleh, lalu menatap tajam Kearah Dokter sekaligus temannya itu. "Kau mengira Licia gila?" Tanya-nya dengan sengit.


Dewi menggeleng pelan.


"Hanya Saja aku merasa janggal dengan dirinya. apalagi disaat dia mengatakan-" Gantungnya karena tak enak dengan Leon.


"Jika dirinya bukan seorang psikopat?" Sambung Leon dengan cepat.


Dewi pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Kau tau, aku hanya dokter biasa. Dan lebih baik lagi jika kau memeriksa keadaan Licia secepatnya, Yon."


"Bukan berarti dia tidak waras Yon. hanya saja, Aku merasa Aneh dan seperti ada yang menekan pada diri Licia. Mengertilah Yon, karena ini demi kebaikan Licia." Sambung dewi kepada Leon.


"Terima kasih." Gumam Leon sangat pelan.


Tap...tap...tap...


Leon melirik Dewi yang sudah keluar dari tempat tersebut. Hingga Tatapan Leon semakin pilu disaat menatap wajah mungil Licia.


"Ya, kau bukan seorang psikopat Licia. Aku percaya itu." Bisik Leon kepada Licia.


_________


TO BE CONTINUED


#Maaf telat Update..Ana itu banyak tugas, jadi terpaksa dunia Halu' Ana Dua in😭😭😭


#Tinggalkan jejak seperti Biasa guys


SEE YOU🍉🍉🍉