
Apa yang kalian pilih, jika suatu saat nanti kalian hanya mempuai 2 pilihan yang bersangkutan dengan hati.
Memperjuangkan? atau Melupakan?
Sebuah Pilihan yang membuat Licia pusing. akan tetapi Licia harus menetapkan Hatinya untuk memelih sebuah keputusan itu. karena dia tidak ingin Hatinya kelak akan terluka.
Dan Licia akan percaya apa yang Leon katakan. tapi bukan dengan ucapan saja melainkan bukti yang membuat Licia kembali yakin kepadanya.
Licia melangkahkan kakinya dengan gontai. namun Langkah Licia terhenti secara tiba-tiba akibat sakit yang melanda kepalanya.
"Akh!" Rintihnya.
AKH! Teriaknya lagi.
Kepala berdenyut kencang. bahkan Licia tak Dapat Menatap Jalanan dengan benar.
Kepalanya sakit, Bahkan sakit ini sudah lama terjadi. Licia mengira, jika ini hanya sakit biasa. tetapi lama-kelamaan Licia semakin bingung dengan kepalanya ini.
Licia juga selalu memeriksanya ke rumah sakit. akan tetapi Dokter tersebut selalu mengatakan jika Licia hanya sakit kepala biasa. Akibat stres mendadak.
"Kenapa semakin hari Kepalaku semakin sakit. Akh!"
Licia menjambak rambutnya dengan Frustasi. Bahkan dia melupakan jika dirinya masih dijalan raya.
"Tolong, Akh!" Rintihnya yang terus berteriak.
'Kenapa akhir-akhir ini kepalaku seakan pecah?' Batinnya.
Licia menjambak kepalanya dengan berulang kali, Hingga rasa sakit itu kian menghilang.
Licia memejamkan matanya sejenak. Lalu melirik disekitarnya.
Pandangan Licia pun jatuh kepada Ibu-ibu yang tengah menuggu Bus di halte sana. Senyum Licia Seketika terbit disaat menatap Orang itu.
Dan sekarang, Licia tengah melangkahkan kakinya ke Objek tersebut.
"Kau menunggu bus?" ucap Licia seraya tersenyum.
Orang itu menoleh, Lalu menatap Licia dengan tersenyum hangat.
"Iya nak, Tapi sepertinya Bus tak akan Lewat." Sahut ibu itu.
"Aku akan memesan Taxi Online, dan aku akan mengantarkan ibu jika ibu berkenan."
Orang itu menatap tampilan Licia dari atas hingga ujung kakinya. Licia pun hanya tersenyum dengan ramahnya.
"Baiklah Nak, dan terima kasih banyak."
Kini ibu itu sudah berada disamping Licia dengan tersenyum ramah. hingga sebuah Taxi Terparkir di depannya.
Licia diduduk dengan tenang dibangku itu. hingga Licia mendengar isakan dari sampingnya.
"Ibu kenapa?"
Hiks- "Kau seperti anakku." ujar Ibu itu.
Licia mengernyitkan dahinya. "Lalu kemana Anak ibu?"
Beliau mengusap Pucuk rambut Licia dengan Lembut sedangkan Licia Hanya diam Membisu, seraya merasakan hangatnya sentuhan itu.
'Dan kau seperti ibuku, Persis seperti dirinya.' Sahut Batin Licia.
Ibu itu terisak pelan. "Tapi sayang, Anakku sudah berada diatas sana. karena Tuhan Lebih menyanginya ketimban diriku."
Dan Licia sangat paham maksud dari ibu ini. ada rasa kasihan yang melengkup dalam dirinya.
Licia memeluk ibu itu dengan rasa simpati. "Aku akan membantumu."
"Membantu?" Beo ibu itu.
Tatapan Licia jatuh kewajah rentan itu. Lalu tersenyum hangat kepadanya.
"Ya, membantumu. Untuk menghilangkan Rasa sakit yang selama ini ibu Alami." Jelas Licia seraya menyentuh pipi ibu itu.
"Pak berhenti." Kata Licia.
Licia membayar Taksi itu. lalu mengiringnya kejalan yang sepi. Licia melirik disekitarnya. lalu menyuruh ibu itu untuk duduk tenang.
"Kau percaya kepadaku?"
Ibu itu mengangguk pasti. Licia pun sudah mengambil sesuatu yang tajam di tas saku Jaketnya.
Licia memeluk ibu itu dengan sayang. kemudian mengatakan. "Aku tau kau sangat menderita, Tapi izinkan aku menghapus semua itu. Aku menyayangimu." Bisik Licia.
Ibu itu terdiam, Kemudian Tersenyum kearah Licia. beliau pun Semakin erat memeluk tubuh Licia.
"Te-Terima Ka..kasih..." Rintih ibu itu.
"Semoga kau bisa menemuinya." bisiknya.
Licia semakin menusukkan pisaunya Lebih dalam kedalam Perut ibu itu.
Disaat tak ada gerak sedikit pun dari ibu itu barulah Licia melepaskan pelukannya. Matanya pun memerah disaat melihat tubuh yang tak berdaya itu.
"Kau wanita baik," Gumamnya. Lalu meninggalkan tempat itu dengan sembarang.
Dan sekarang, baru lah Licia merasakan yang namanya ketenangan kedamaian.
Terkadang Licia juga bingung akan jiwa Obsesinya yang selalu ingin membunuh.
'Kau seorang Psikopat.'
'Pembunuh.'
'Pembunuh! Anak haram! '
Licia menutup Telinganya dengan kuat. bahkan dia sudah duduk seperti orang jalanan.
"Aku bukan Psikopat, aku bukan psikopat, Aku bukan Psikopat seperti yang dia katakan." Gumamnya dengan nada bergetar bahkan Bisikan itu terus memenuhi Otaknya.
'Kau Psikopat! kau pembunuh! '
'Anak Haram! Pembunuh! '
"Aku bukan Seorang Psikopat! Tidak! Semuanya bohong." Racau Licia dengan lirih.
Dan tiba-tiba saja Langkah Licia terhenti, lalu menatap seseorang yang memandangnya dengan raut sedih.
Licia tersenyum kecil kearah orang itu. lalu melangkah mendekatinya.
Buk-
Licia memeluk tubuh itu seraya menangis pilu. "Le-Leon.. Aku bukan Psikopat, Percayalah."
"Tenanglah, Aku disini." Jawab Lelaki itu yang tak lain adalah seorang Leonanta.
Hiks- "Aku bukan Psikopat" Ucap Licia disela tangisnya.
"Aku tau, dan jangan menangis lagi."
Tatapan mereka bertemu hingga Licia dapat merasakan hangatnya Tangan Seorang Leonanata.
Disaat tangan Leon memeluknya, Licia Meraa tenang akan sentuhan itu, dan Licia merasa Terlindungi jika Leon didekatnya. Akan tetapi rasa sakit dikepalanya kembali lagi. hingga Licia merintih kesakitan.
"Akh!"
Leon menatap Licia dengan heran. lalu memengankat tubuh mungil itu kedalam mobilnya.
Licia menjambak Rambutnya dengan kencang. "Akh- Sakit..."
Leon memeluk tubuh itu dengan bergumam pelan. "Tenanglah, aku selalu bersamamu."
Dan setelah itu barulah Licia mulai tenang. bahkan Licia mulai tersenyum kearah Leon walaupun senyum itu terkesan sangat lemah. "Aku bu..bukan psi..kopat." Lirihnya.
Lalu Semuanya berubah menjadi gelap.....
***
Licia merasakan sebuah tangan kekar memeluk tubuhnya. sangat nyaman, dan Licia pun semakin mendekatkan tubuhnya ke orang tersebut.
Tunggu?
Seseorang? siapa dia?
Licia membuka matanya dengan sempurna. kemudian menggigit tangan kekar itu dengan keras.
Akh!
Pekik orang itu. Licia pun sudah bangun dari kasur empuk itu. dahi Licia mengernyit, lalu menatap aneh tempat itu.
"Kau menculikku?"
Sedangkan Orang itu masih mengusap lengannya dengan berulang kali. "Aku tak menculikmu." jelasnya.
Cih- "Lelaki memang selalu sama. Kau tidur dengan Perempuan lain dikamar ini. tapi kau tak mengerti sama sekali akan perasaan tunanganmu." Cerca Licia.
Leon Bangkit dari tempat tidurnya. kemudian menatap Licia sejenak. "Kau Tak sadarkan diri tadi malam. dan tak mungkin jika aku meninggalkan kau seorang diri disana."
Licia membuang wajahnya kesembarang arah. lalu menatap tajam kearah Leon. "Lalu mengajaknya tidur bersama. Cih- Basi!" Sambung Licia dengan marah.
Leon memejamkan matanya sejenak.
"Urus saja tunangamu itu. Permisi." Dingin Licia yang ingin meninggalkan tempat tersebut.
Tiba-tiba saja Leon mengahalangi jalan Licia seraya menatap wajah dingin itu dalam diam. "Kau Cemburu?" Tanya Leon.
"Itu tidak penting. dan lepaskan tanganmu itu."
Pandangan mereka bertemu. hingga Leon dapat melihat kilatan benci disana.
Plak!
Tamparan yang begitu keras, hingga membuat pipi Leon memerah.
"DAN JANGAN PERNAH MUNCUL DIHADAPANKU LAGI TUAN LEONANTA YANG TERHORMAT."
Setelah mengatakan itu barulah Licia keluar dari tempat itu dengan wajah merahnya. "Kau sama sepertinya, sama-sama Brengs*k!" Gumam Licia.
Air mata Licia menetes secara tiba-tiba. hingga tangan mungilnya menghapus air mata itu dengan kasar.
"Cinta? Cih- semuanya Sampah!"
______
TO BE CONTINUED
#Jangan lupa tinggalkan jejak guys🤗
#See you All😍