
LICIA POV
Aku menjalankan aktivitas ku seperti biasa. Tidur, makan, ketempat studiku, lalu bermain. Hm, mungkin kalian mengerti apa kata bermain dalam hidupku ini.
Darah, dan ajal.
Pukul sudah menunjukkan setengah delapan. hari ini ada bimbingan dengan Prof. Agus. Oleh karena itu aku harus tepat waktu untuk menemui beliau untuk menyerahkan tugas yang beliau berikan minggu lalu.
Bruk-
Semua buku yang ku bawa ambruk dilantai. mungkin aku akan marah kepada orang itu saat melihat semua lembar kertas yang berserakan dibawah sana. Tapi kali ini aku mengakui jika aku lah tak yang tak berhati-hati.
Aku berjongkok seraya merapikan semua buku yang berserakan itu.
“Maaf,”
Aku hanya mengangguk saat mendengar suara bass tersebut. bahkan untuk mengangkat kepala saja aku enggan. karena yang ku khawatirkan hanyalah lembar kertas ini. takut jika Pak Agus tak menerima Laporanku ini.
Orang yang ku tabrak barusan ikut berjongkok untuk membantuku. Tapi dengan cepat aku mencegah tangan itu.
“Tidak usah. Dan maafkan saya.” Ucapku tanpa menatapnya.
Aku bergegas ingin pergi karena bimbingan ku lebih penting dari pada lelaki didepan ini.
“Licia,”
Kepalaku menunduk dengan hormat. “Maafkan saya pak, permisi.” Kataku dan melangkah pergi begitu saja.
Walaupun terkesan kurang ajar kepada Dosen. tapi jujur, Aku sangat tidak suka ketika beliau menatap ku seperti itu. Em- terkesan ‘jijik’
Dan orang itu adalah Pak Arya. Hm- siapa yang tidak mengenal beliau. Dan aku tidak peduli. Masa bodoh, dengan omongan orang-orang yang mengatakan beliau sempurna. Karena menurutku semua lelaki sama saja.
Skip**
.
.
.
.
Selesai sudah bimbingan dengan Prof. Agus. Dan aku sangat puas dengan kerja kerasku selama ini, Karena Pak Agus sangat menyukai tugas penelitianku. bahkan aku diberi nilai A.
Dan sekarang waktunya Licia menenangkan diri dengan secangkir coffe.
Licia memasuki Café Langganannya dengan hati yang berbunga-bunga.
Duduk ditempat biasa, karena dimeja itu hanya Licia lah yang boleh menempatinya. bahkan pelayan dan manajer Cafe tersebut sudah mengenal Licia.
“Tumben Nona jam segini sudah kemari.”
Licia tersenyum tipis saat mendengar perkataan tersebut. “Seperti biasa.” Ujar ku kepada pelayan itu.
“Hai sayang.” Sapa orang itu dengan menaik-turunkan Alisnya.
Sedangkan Licia hanya diam dan melirik lelaki itu dengan kesal. “bisakah jangan menggangguku sekali saja? sungguh, aku sangat muak dengan wajah konyolmu itu.”
Orang itu terkekeh. “Aku tidak mengganggu mu, tapi aku hanya menemani pujaan hatiku.” Jawab Leon dengan tersenyum konyol.
Licia sudah ingin melayangkan tangannya kewajah Leon. tapi dengan cepat Leon menahannya. "kau sangat kasar." Celetuk Leon.
"Pergilah," ujar Licia.
"Ini tentang Andrew," kata Leon dengan tiba-tiba. dan membuat mata Licia memerah.
Dan Leon sangat mengerti, kenapa Licia membenci Ayahnya sendiri. yaitu, Kenangan dimasalalu.
“Licia, apa kamu mempunyai foto ayahmu?” tanya Leon dengan serius. bahkan wajah konyol dan bodohnya barusan sudah menghilang entah kemana.
Licia Menegakan tubuhnya dengan seketika, bahkan Leon sedikit kaget akan pergerakan tersebut.
“Dia bukan ayahku!” tajam Licia.
“Oh ok-ok, maafkan aku. Tapi aku butuh foto ataupun identitasnya untuk mencari keberadaan orang itu.”
Benar juga, Leon butuh itu untuk menyelidiki semuanya. Tapi Licia tak mempunyai barang ataupun foto kaparat itu. “aku bahkan tidak tahu nama marganya.” Ujar Licia lirih.
"Kau kan kaya? kau menggunakan Uangmu untuk mencari keberadaan Kaparat itu." kata Licia.
Leon menghela nafasnya. "Yaa, aku memang bisa melakukannya. akan tetapi Semua akses dan Keberadaan Andrew memang susah untuk dilacak. mungkin ada orang lain dibalik semua ini." ucap Leon.
"Maksudmu?" bingung Licia.
Pandangan mereka bertemu, hingga Leon memutuskan kontak matanya karena terlalu gugup saat menatap mata itu.
"Maksudku, menghilangnya Andrew bukan karena bersembunyi seorang diri. melainkan ada Orang Lain yang sengaja menyembunyikannya."
"Jadi, maksudmu? Pria Brengsek itu tengah berlindung dengan seseorang?"
Leon hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar perkataan tersebut.
“Andrew- dan, hanya itu yang ku tahu.” Ucap Licia dengan Frustasi. Leon pun mengangguk saat mendengar nama tersebut.
“Ikutlah denganku.”
Leon menarik Licia untuk keluar dari café tersebut. entah kemana kah lelaki gila ini membawanya. Yang jelas Licia mulai mempercayai Leon. Bahkan dia hanya diam saat lelaki gila ini menggenggam tangannya.
Mereka sudah meninggalkan café tersebut dengan sepenuhnya. Dia tidak tahu kemana Leon akan membawa.
“Kau tidak ingin bertanya, kemana aku akan membawamu?”
“Aku percaya kepadamu,” Ucap Licia. Hingga membuat hati Leon berbunga-bunga. Bahkan sudut bibir Leon terangkat.
Leon menghentikan mobilnya dan menyuruh Licia untuk mengikuti kemana Leon melangkah.
Licia memandang rumah tersebut dengan bingung. “Rumahmu?”
Leon menggeleng lalu menggandeng tangan mungil Licia. Dan anehnya Licia tak keberatan saat Leon menyentuh tangannya lagi dan lagi. Satu yang Licia rasakan dari tangan lelaki gila ini, ‘Nyaman’.
Licia nyaman saat berada didekat Leon. Walaupun Licia selalu bertengkar dengannya dan mengatakan hal yang kasar kepada Leon. Tapi jauh dilubuk hati Licia, bahwa Leon benar-benar serius ingin berteman dengannnya. Dan Licia mulai mempercayai itu.
“Vino!” panggil Leon kepada seseorang yang tak Licia kenal.
“Aku butuh bantuanmu,” Ujar Leon lagi.
Licia menatap teman Leon dengan jengah. Bagaimana tidak kesal, Lelaki itu memandang Licia seperti pandangan menilai. Dan Licia benci itu.
“Jangan tatap kekasihku seperti itu!”
“Aku bukan kekasihmu!” bantah Licia dan mendapat ejekan dari Vino.
Ahaha- “Kasihan sekali kau Yon.” Kemudian lelaki itu mendekati kami dan mengenalkan namanya. “Aku Vino, teman Leon.” ujarnya.
“Licia,” jawab Licia yang menghiruakan tangan Vino.
Plak!
Leon menampar wajah Vino dengan kasar. “sudah ku bilang, jangan pandang kekasihku seperti itu.” ujar Leon. dan Licia hanya memutar bola matanya saat mendengar ucapan tersebut.
Ahaha- “ok-ok, terus? Kedatangan kalian kemari untuk apa?” Tanya Vino.
“Apa kamu bisa melukiskan sketsa wajah seseorang? Dan Licia akan memberi petunjuk tentang orang itu.” jelas Leon yang sudah masuk ketempat kerjanya Vino.
“itu sangat susah. Dan aku tidak yakin, apa aku bisa melakukannya.” Ujar vino.
Licia menatap Leon dengan binigung. Genggaman tangan Leon pun tak pernah lepas dari tangan mungil itu. “Dia seorang laki-laki, bentuk wajahnya seperti pemain film iron man, tapi matanya persis seperti orang asia.” Jelas Licia.
“Aku tidak yakin dengan hasil karyaku.” ujar Vino seraya melirik Leon dengan pandangan bersalah.
“Dan aku yakin kamu bisa membuatnya,” jawab Licia dengan cepat. Dan akhirnya Vino hanya mengangguk pasrah.
Vino mencatat kembali apa yang dijelaskan Licia. “dia mempunyai tanda lahir didekat kening. Ee- sebelah kiri. warna matanya coklat terang. Hanya itu yang ku ingat.” Kata Licia.
Leon menatap sahabatnya dengan pandangan memohon. sedangkan Vino hanya menggaruk tekuk Lehernya yang sedikit berkeringat.
Dan perlu kalian ketahui. jika Vino Hanya bisa melukis Pemandanga bukan sketsa wajah. Tapi Leon, dengan gilanya malah membawa perempuan dan menyuruhnya menggambarkan Sketsa wajah seseorang.
'Leon kurang ajar.' batin Vino dengan kesal.
Tapi Vino hanya bisa mengangguk saat mendengar perkataan Licia barusan. kemudian Vino menatap Leon dengan sendu. “Akan ku coba, mungkin sketsa ini akan selesai satu minggu.”
“Apa!” teriak Licia yang sudah melotot. “aku ingin kamu segera mengerjakannya. Jika tidak? Satu mata kamu aku ku congkel, lalu kedua telingamu akan ku berikan kepada anjingku.”
Leon menggelengkan kepalanya saat mendengar kalimat kotor tersebut. “Licia, bersabarlah.”
Vino menatap shock kearah Licia. Lalu mengangguk Lirih, Vino menatap Leon dengan pandangan bertanya. Sedangkan Leon hanya tersenyum miris.
Licia menghela nafas lelahnya. Dia menatap Leon dan Vino dengan rasa bersalah.
“Maaf. Maafkan aku Vino.” Lirih Licia.
Sedangkan Vino sudah meneguk air liur nya dengan susah payah. Sungguh dia tidak menyangka jika Licia bisa sesangar itu.
“its ok, Licia.” jawab Vino dengan tenang. Namun tidak batinnya, karena dia masih shock akan bentakan Licia barusan.
“Kami akan kembali satu minggu lagi, dan maafkan kami.”
Vino hanya tersenyum kecut saat mendengar permintaan maaf dari temannya itu.
Setelah kepergian Leon dan Licia. Vino mengusap dadanya dengan berulang kali.
“Astaga, dari mana Leon mendapatkan perempupan seperti itu.” monolog Vino yang terus menggelengkan kepalanya.
_________
**TO BE CONTINUED
Next gaeys🍭🍰**