
CITTT.....BRAK
"Aku mencintaimu,"
Bisikan itu membuat Licia membuka matanya dengan perlahan.
BRUK!
Darah mengalir dengan deras diwajah Leon. bahkan dia sudah tak sadarkan diri. Licia ingin mendekat Namun tak bisa. Hatinya sakit,Tubuhnya seakan kaku disaat menatap Leon seperti itu.
Licia manangis pilu. melihat betapa menyedihkannya Hidupnya, bahkan Leon mulai meninggalkannya.
"Licia?" Dan tiba-tiba saja Leon bangkit dan tersenyum manis kepadanya.
"Aku mencintaimu Licia."
"Leon," Lirihnya.
***
Akh! Leon! Teriaknya dengan kencang membuat siapa saja takut mendengarnya.
"Apa ini mimpi? Akh!" Rintih Licia seraya memegang kepalanya yang sedikit sakit.
'Perban' bingungnya.
"Tidak! ini tidak mungkin?" Gumamnya pelan.
Licia mengingat kembali, dimana dia ingin ditabrak seseorang. dan Leonlah yang Menolongnya. "Ini Mimpi, Sadarlah Licia." Ujarnya Lagi.
Akhirnya Licia memandang selang Infus yang melekat dilengannya dengan perasaan campuh aduk. "Ini bukan Mimpi."
Air mata Licia runtuh dari pelupuk matanya. ia pun hanya bisa menangis pilu ditempat ini, tanpa mengetahui dimana Leon berada.
Clek-
Pandangan Licia beralih Kearah pintu tersebut, lalu menatap Orang itu dengan bingung. "Bolehkah aku bertanya?" Tanya Licia dengan tiba-tiba.
Suster itu mendekati Licia kemudian memeriksanya. Licia pun hanya Diam disaat suster itu sudah menjalankan kewajibannya.
"Aku akan memanggil dokter, tunggulah." Ujar Suster itu.
Licia menatap punggung suster itu dengan perasaan Aneh. Hingga Tibalah seorang Dokter beserta suster tadi yang sudah membawakan sesuatu kepada Licia, Seperti makanan.
Dokter itu pun mulai memeriksa Licia. "Apa kepalamu masih sakit?"
Licia menggeleng pelan. "Sedikit." Ujarnya.
"Tuhan menyayangimu Licia. bahkan saat kau ditemukan kau sudah banyak kehilangan darah." Cerita dokter itu.
"Bagaimana keadaan Leon?"
Dokter menatap Licia sejenak. Lalu menaikan Alisnya. "Leon?"
"Maksudku Pasien yang sama kecelekaannya denganku." Kata Licia.
"Kami tidak menemukan Pasien lainnya. karena Warga disana hanya menemukan mu yang sudah terdampar tak berdaya." Ungkap Beliau.
"Istirahatlah, dan Minum obatmu secara teratur." Ucap Dokter itu yang sudah meninggalakan Licia.
Licia bangun dari brannkarnya. kemudian mancabut selang infus itu dengan kasar. "Akh!" Rintih Licia.
"Astaga, kenapa Dilepas? kamu masih membutuhkan ini, karena kau belum pulih sepenuhnya." Kata Suster itu yang ingin memasang Infus sialan itu kepergelangan Licia.
Aw...
Licia mencekal lengan suster itu dengan kasar. bahkan dia tak peduli jika suster itu akan berteriak.
"Aku tak ingin memakainya. sebaiknya kau siapakan makanan itu untukku." Tunjuk Licia kearah Makanan yang masih Hangat.
Lagi pula Licia benci jarum, dia benci jika benda itu menusuk kulitnya.
Suster itu menoleh, lalu menganggukkan kepalanya. Licia pun hanya diam disaat suster itu menyiapkan makanannya.
"Sudah berapa lama aku dirumah sakit?" Tanya Licia Seraya meminum obatnya.
"Satu minggu," Jawab Suster itu.
Licia menghentikan Makannya. lalu menatap suster itu dengan alis terangkat. bahkan dia tak percaya, jika dieinya sudah begitu lama ditempat laknat ini.
"Benarkah? Lalu Leon?" Batinnya.
Licia meletakkan kembali makanan tersebut kemudian bergegas keluar dari ruangan itu. bahkan Licia tak memperdulikan Teriakan Dari suster itu. Masa bod*h dengan suster itu, karena yang Licia inginkan hanyalan menemui Leon.
Tap...tap...tap...
Licia melangkahkan kakinya pelan, Dan tiba-tiba saja kepalanya sedikit pusing. Licia pun menghentikan Langkahnya sejenak. "Kenapa kepalaku semakin pusing?" Lirihnya.
Licia merasakan ada sebuah tangan menyentuh pundaknya.
"Licia," Panggil Orang itu.
Licia membalikan tubuhnya lalu menatap orang itu dengan Lesu. Vino pun meraih Tubuh mungil Licia agar tidak terjatuh.
"Tenanglah, aku akan memenuhi apa yang Leon katakan. jadi percayalah padaku." Gumam Vino.
Tatapan mereka bertemu. bahkan Licia tak dapat mengatakan apapun lagi karena Kepalanya semakin menyakiti dirinya.
Licia pun membiarkan Vino mengendongnya. dan entah kemanakah Vino membawanya, Licia tak tau itu.
"Leon," Lirih Licia yang terdengar jelas ditelinga Vino.
Vino menatap iba kearah Licia yang seperti tak berdaya.
SKIP~
Sudah Tiga hari atas kejadian Dirumah sakit itu, Licia tetap diam meratapi kehidupannya. dimana Leon menolongnya, Menyatakan Cinta, Dan disaat Licia terkahir kali melihatnya.
Terdengar sulit, disaat kalian melihat orang yang kalian Cintai Terdampar tak berdaya. dan Memori itu terus membekas diotak Licia.
Dimana Tubuh Leon dipenuhi darah. bahkan matanya terpejam erat dengan tak berdaya.
Dan kenapa Vino tak pernah mengungkit akan kejadian itu. Kejadianitu seperti semu, seperti mimpi yang membekas diotak Licia.
"Licia, Makanlah." Ucap Vino untuk kesekian kalinya.
Licia menatap Vino dengan dingin. "Maka dari itu katakan, dimana Leon!" Takamnya.
"Sudah ku katakan aku tidak tau." Jawab Vino dengan kesal.
Vino meletakkan Bubur diatas meja dekat Licia. kemudian menatap Licia sejenak. "Jika kau ingin Mati, maka matilah dengan tenang. bukan tidak makan seperti ini."
Licia menatapnya dengan bingung.
"Kau bilang kau ingin membalaskan dendammu kepada Andrew. maka bangkitlah. jangan terpuruk hanya karena Cinta Licia, karena Cinta membuatmu Lemah." sambung Vino.
Licia menatap kepergian Vino dengan Perasaan Aneh.
Ia memejamkan matanya sejenak. Lalu menatap tajam kearah depan.
"Semuanya belum berakhir Licia. Masih ada ssesutu yang harus kamu wujudkan" Gumamnya sendiri.
"Terima kasih Vin."
***
Licia kembali akan kesibukannya. dimana ia harus bisa melupakan akan kebersamaannya bersama Leon.
Licia menghela nafasnya sejenak.
"Kenapa aku mencintainya? kenapa?!" Lirihnya. Licia mengusap wajahnya pelan. "Aku harus bisa membuktikan kepada mereka jika aku bisa bahagia tanpa adanya cinta."
Tatapannya pun menajam disaat mengingat jika ada masalah baru yang sekarang harus dia hadapi.
Ini adalah Rintangan, dimana Licia harus bisa menghadapi Orang-orang Brengs*k itu.
"Aku menemukannya bu. ku harap ibu bahagia." Gumamnya.
Licia melangkahkan kakinya menuju Universitas yang sekarang ia tempuh. Dan ini adalah Kehidupan Licia setelahnya. Ia harus bisa mengimbangi dimana masalah Studi dan permasalahan Hati.
"Baiklah, kau bisa melakukannya Licia." Ucapnya kepada diri sendiri.
Hari ini Licia memasuki mata pelajarannya Prof. Arya. Dan itu membuat Licia jengah. Sejujurnya Licia tak perlu belajar terlalu rajin. Karena pada dasarnya Otak Licia memang lebih Cerdas dari pada Profesor itu.
"Selamat Pagi semua." Sapa Prof. Arya.
Semua mahasiswa pun menjawabnya dengan Ramah.
Pagi Prof.....
Pelajaran pun berlangsung. dimana Prof Arya sibuk menjelaskan apa yang ada dikomputernya.
Waktu berlalu dengan cepat. hingga Prof. Arya sudah merapikan Bukunya. "Silahkan keluar." Ujar beliau dengan Ramah.
Licia pun hanya diam diwaktu pelajaran berlangsung. hingga saat ini pun dia tak membuka mulutnya sedikitpun.
Dan kalian harus tau, jika Licia tak mempunyai teman ditempat duduknya. bahkan sebelum orang-orang duduk. Orang itu lebih memilih melihat hantu dari pada menatap Mata Elang Licia.
"Kau tak kekantin dengan teman-temanmu?" Tanya Prof. Arya.
Licia menatap Beliau yang sudah mendekat kearahnya. Licia diam, Lalu merapikan kembali buku-bukunya.
"Kau berbeda dari teman-temanmu." Ucap Prof. Arya.
Tatapan mereka bertemu. Hingga Licia sudah menjejarkan tubuhnya dengan Prof. Arya.
"Mereka bukan teman saya." Dingin Licia. "Saya permisi Prof." sambung Licia.
Arya mencekal pergelangan Licia dengan erat. "Aku ingin mengajakmu makan bersama. tanpa adanya ikatan Profesor dan mahasiswi."
"Saya permisi pak." Ujar Licia menunduk agar menghindari tatapan Prof. Arya tersebut.
"Kenapa semua Lelaki hanya manis diawal? Karena itulah Sifat Laki-laki." Ucap batin Licia.
Licia kembali melangkahkan kakinya dengan santai. ia tak memeperdulikan sama sekali disaat orang-orang mengatainya. banhkan menyebutnya Iblis. hmm- Licia suka julukan itu.
"Aku mencintaimu Licia,"
Suara itu, suara itu selalu mengusik kepala Licia. Licia menutup matanya sejenak. Lalu membukanya dengan perlahan. Hingga terdapat bayangan Leon didepan matanya.
"Aku juga mencintamu, Yon."
_________
TO BE CONTINUED
#Thanks buat yang sudah mampir. tetap tunggu Episode selanjunya yah.
#Dan maaf kalau ada ketypoan diddalam kepenulisan ini☺
#Untuk pembaca setia *I LOVE U ARIANNA* Sorry banget Tadi malam gak update. dan hari ini pun ARIANNA gak bisa update, Sorry juga buat pembaca setia *ARRANGED MARRIGE* gak bisa update juga. Sorry☺
#DAN TETAP TINGGALKAN JEJAK YAA GUYS....SEE YOU ALL😍😍😍🍉