
LICIA POV
Sekarang ia menjalankan aktivitasnya kembali seperti semula, walaupun ada sedikit kegelisahan yang mengganjal dalam sanubarinya.
Entahlah, kenapa Perasaannya sekarang menjadi seperti ini.
Mungkin karena ia selalu teringat akan Di mana ia melihat Leon dengan perempuan lain.
Dan Inilah yang Licia takutkan jika dirinya sudah terjerat akan namanya cinta. karena cinta hanya bisa membuat seseorang lemah.
Licia melangkahkan kakinya menuju Cafe langganannya dulu. Licia pun duduk seorang diri. menatap orang-orang yang tengah berlalu lalang dijalan raya sana.
Ia memijat kepalanya yang sedikit berdenyut. mungkin akibat banyaknya masalah. Yaa' Sekarang terlalu banyak masalah yang Licia hadapi, hingga ia tak mampu lagi untuk menahan diri. Licia ingin menyerah, Ia ingin mengakhiri semuanya. namun ia tak bisa melakukan hal itu, karena ia masih mempunyai harapan. dimana ia ingin menjadi wanita yang dicintai oleh kekasihnya dan hidup normal. seperti yang dikatakan Leon dulu.
Sudah terlalu lama Licia berada ditempat ini, hingga sekarang ia merasa bosan.
Akan lebih baik ia jalan-jalan saja, siapa tau Licia menemukan sesuatu yang akan membuatnya terhibur.
Setelah bayar kekasir, Licia melangkahkan kakinya keluar dari Cafe itu. namun tiba-tiba saja seseorang menabraknya dari depan.
Aw-
Handphone Licia Jatuh, sehingga ia sudah menunduk untuk mengambil benda itu.
"Sorry,"
Kepala Licia yang mulanya menuduk tiba-tiba saja terangkat dengan sempurna.
Licia menegakkan tubuhnya. menatap Orang itu dengan rasa rindu yang menggebu.
"Leon?" Panggil Licia pilu.
Tangan Licia terangkat, ia mengusap wajah Leon dengan lembut. Sedangkan Leon hanya menaikkan alisnya pertanda dia bingung akan perempuan didepannya ini.
Leon menghempaskan Tangan Licia dengan kasar, lalu berkata. "Berani sekali kau menyentuhku." Tajam Leon.
"Leon?" Lirih Licia. "Ada apa denganmu?" Bingungnya.
Leon menatap Licia dengan dingin. bahkan Licia rasa tak ada lagi tatapan Memuja dan cinta dari manik mata itu.
Dan Licia semakin tak mengerti. kenapa pasca kecelakaan itu mengubah semuanya. bahkan mengubah sifat Leon kepadanya.
"Kau tak mengenalku?" Tanya Licia yang balas menatap Leon.
"Kau?" Gumam Leon.
Licia hanya diam seraya menunggu perkataan Leon selanjutnya.
Leon memundurkan langkahnya, hingga terdapat jarak diantara mereka.
"Kau Licia, dan menjauhlah dari hadapanku." Tekan Leon sangat dingin.
Bola mata Licia melebar. ia kaget akan ucapan Leon barusan.
"Ternyata aku salah, salah mencintai lelaki seperti mu Yon. baiklah jika ini akhirnya." Lirih Licia.
Bruk-
Licia melewati Leon seraya menabrak bahu Leon dengan kasar. Leon pun hanya diam tanpa menoleh kearah Licia.
Langkah Licia semakin cepat. ia benci jika sudah seperti ini, ia kesal, ingin rasanya Licia membakar rumah Leon lalu melihat Leon menderita dijalanan.
Akh-Sial! Kenapa semuanya seperti ini? Batin Licia.
Sekarang Licia tak tau harus kemana. hari ini pun dia enggak masuk kuliah. mungkin karena pertemuannya dengan Leon barusan.
Dan Entah kenapa, yang Licia inginkan sekarang hanyalah hiburan.
Kini Licia sudah memasuki tempat laknat itu. dimana musik berdengung kencang ditelinganya. mata Licia melirik kesana-kemari. lalu menatap semua orang yang tengah berdansa dengan pasangannya. bahkan ada yang bercumbu mesra.
"Menjijikan," Gumam Licia
Sesaat Licia menggelengkan kepalanya. disaat menatap gilanya tempat ini. ia pun melangkahkan kakinya menuju ke bertender.
gluk gluk....
Licia menghabiskan minuman berakohol itu dengan dua kali teguk.
"Lagi," Kata Licia.
Dan sekarang Licia sudah menghabiskan dua botol minuman berakohol itu, bahkan ia meminta lagi kepada bertender itu.
"Kau mabuk," Ucap seseorang disamping Licia.
Licia menatap Lekat orang itu hingga sudut bibirnya melebar.
"Aku merindukanmu," Gumam Licia yang mulai mabuk.
"Aku merindukanmu," kekehnya.
"Kenapa kau minum sebanyak itu? kau tak memikirkan dirimu sendiri." Dingin Lelaki itu.
Licia mendekati lelaki itu, lalu memeluknya secara tiba-tiba. "Karena aku lebih memikirkan dia, bukan diriku." Ujar Licia yang semakin Oleng.
Lelaki itu sudah mengendong Licia. hingga kaki Licia tak menyetuh lantai sedikit pun. Tatapannya pun meredup disaat bertemu mata Lelaki itu, hingga Licia mengalungkan tangannya ke leher Lelaki itu.
Licia pun mulai menenggelamkan kepalanya didada bidang itu.
"Kau mirip sepertinya, bahkan bau Parfum kalian persis."
Lelaki itu tak menghiraukan ricauan Licia. karena yang dia lakukan hanyalah melangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat ini.
Lelaki itu menatap Lekat wajah Licia yang sudah menutup kedua matanya. Lalu meletakkan Licia kedalam mobilnya.
Eugh.....
Licia memijat kepalanya Tatapannya pun masih buram disaay menatap Lelaki itu.
"Kau ingin membawaku kemana?" Gumamnya. "Astaga, kenapa kepala kau menjadi tiga?" kekehnya.
"Jalan Pak," Perintah Lelaki itu.
Sopir itu mengangguk. "Kemana tuan?"
"Jalankan saja kemana pun mobil ini melaju."
"Iya tuan." jawab Sopir itu dengan patuh.
Tiba-tiba saja, Tangan Licia terangkat. bahkan sekarang ia sudah menyentuh lengan Lelaki itu. hingga Lelaki asing itu menatapnya dengan heran.
Tatapan Licia sendu. "Kau seperti dirinya, walaupun aku tau, kau bukan dia."
Cih- "Kau tau? Aku adalah Perempuan Bod*h yang mencintai tunangan Orang Lain. Bahkan Aku sangat Mencintainya." Ucapnya tanpa henti.
Hingga Licia mendekatkan tubuhnya, Lalu menyender dibahu kokoh orang itu. "Aku perempuan Bod*h,"
"Saking bod*hnya, aku sudah memaafkan apa yang dia lakukan kepadaku. disaat dia menyembunyikan Dimana keberadaan Ayahku."
"Oh bukan, maksudku Kapara*t itu." Sambung Licia seraya terkekeh.
Licia bangung dari bahu orang itu. mereka pun hanya saling tatap satu sama lain. Lelaki itu pun hanya diam walaupun matanya terus menatap cantiknya wajah Licia.
"Apa aku boleh memulukmu?" Tanya Licia.
Dan tiba-tiba saja Licia tertawa sumbang disaat mengingat perkataannya barusan.
"Maaf, karena itu terdengar murahan dan bod*h. tapi aku hanya memelukmu." Kekehnya lagi.
"Ah- Lupakan," Sambung Licia.
"Boleh." jawab Lelaki itu dengan tenang.
Licia menolehkan wajahnya. lalu menaikkan alisnya dengan bingung.
"Kau bilang ingin memelukku? Ku izinkan itu." Ucap Lelaki itu.
Licia masih terdiam membisu. hingga ia merasakan Dekapan hangat menguasai tubuhnya.
Ya, Lelaki itu tengah memeluknya bahkan sebelum Licia melakukannya. Licia menutup matanya sejenak. hingga ia bisa membayangkan jika Leon lah yang memeluknya.
Lelaki itu melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Licia dengan Hangat.
"Kenapa wajahmu menjadi tiga? hey?!" Ricaunya.
Licia mengusap pipi lelaki itu dalam diam. "Kau persis seperti dia?" Gumamnya lagi.
Dan tiba-tiba saja....
CUP~
Licia merasakan Bibirnya yang tengah menabrak sesuatu. tetapi sesuatu yang lembut dan kenyal.
Licia terbawa susana, hingga ia menutup kedua matanya.
Lelaki itu menjauhkan tubuhnya dari Licia hingga sekarang Licia merasa kehilangan disaat lelaki itu melepaskan ciumannya.
Ah- ini bukanlah seperti ciuman diluar sana. tetapi hanya kecupan sekilas dari lelaki ini.
"Bolehkah aku tidur dipelukanmu." Ujarnya Licia lagi.
Lelaki itu mengangguk, lalu membiarkan Licia menyender dibahunya bahkan Tangan Lelaki itu sudah mengusap rambut Licia dengan sayang.
"Tidurah,"
Licia mengeratkan dekapannya. lalu berkata, "Kau Leonku." Ucap Licia walaupun matanya sudah terpejam.
Hmm- "Aku Leonmu."
"Aku bahagia, bertemu denganmu." ujar Licia lagi.
Lelaki itu menyunggingkan senyumnya walaupun dia tau jika Licia tak akan melihat senyum itu.
"Apa pertemuan ini menjadi yang terakhir?" Tanya Licia tanpa henti.
"Mungkin," Jawabnya.
Lelaki itu menggengam Tangan Mungil Licia. Licia pun hanya mampu membalas genggaman itu.
"Licia, Ingatlah satu hal." Kata Lelaki itu dengan serius.
Hm- Gumam Licia.
"Dimana ada pertemuan, di situ pula ada perpisahan. Setiap yang bertemu, pasti akan berpisah. Cepat atau lambat, dalam keadaan baik maupun situasi yang buruk. Meski perpisahan ini adalah hal pasti yang akan dialami siapa pun, maka tidak ada yang pernah siap untuk melewatinya, tidak ada yang sanggup untuk mengucapkan kata-kata perpisahan itu kepada siapa pun, termasuk pada dirimu. tapi inilah jalan hidup kita. dimana kita harus mengakhirinya."
*Hening*......
Hingga Lelaki itu menatap wajah Lugu Licia disaat Tertidur. Ia pun membenarkan Tubuh Licia agar Sedikit lebih nyaman.
"Ke Apartemant saya Pak." Perintahnya yang tak lain adalah Leonantan Bramana.
Cup~
Leon mengecup pucuk kepala Licia dengan sayang hingga Kedua matanya sedikit memerah.
"Tidurlah, Aku mencintaimu." Bisik Leon ditelinga Licia.
_______
TO BE CONTINUED
#Sumpah aku kek baper gitu sama Leon. gak tau kenapaπππ
#Seperti biasa, tinggalkan jejak
SEE YOUπππ