
''*mereka mengikutiku,'
'Akh- sial*.' umpatnya dengan kesal.
Untuk seorang Licia yang jeli akan keadaan. dia sangat mengetahui jika dirinya tengah di ikuti. Licia melirik seseorang yang sejak tadi mengikutinya. walaupun dia terus melangkahkan kakinya ke jalan yang kecil. sehingga ia dapat mengelabui para penguntit itu.
'siapa orang-orang itu?'
Mereka orang yang sama. yaitu Saat Licia masuk kecafe langganannya kemaren. ia memergoki seseorang yang terus membuntutinya. Dan orang itu adalah orang yang sama.
'Licia kesal. dan Licia ingin sekali memberi peringatan dengan orang itu.'
Dan Gara-gara penguntit itu, Licia selalu menjaga sikapnya dengan tenang agar tak di curigai sedikit pun.
“terima kasih pak.”
Sekarang Licia telah tiba di Universitasnya. Ia memakai sweaters dan mengikat rambutnya dengan asal. Membuat leher jenjangnya terpampang dengan jelas, ia juga mengenakan kacamata hias untuk menambah kesan cantik di wajah imutnya itu.
Masalah siapa yang paling cantik. Bahkan Licia merasa bahwa dirinya lah yang paling cantik di kampus ini. jangan lupakan bahwa Licia juga siswi yang jenius, bahkan semua dosen menyukai Licia. walaupun terkadang dia berlagak sombong dan angkuh didalam kampus ataupun diluar sana. tetap saja kecerdasan Licia tak bisa Di kalahkan.
“hai Licia, boleh kah aku duduk di sini?”
Licia menatap lelaki tersebut dengan tajam.
“kau sangat cantik dengan mengikat rambut seperti itu.” Ucap lelaki tersebut. dan Licia tak tahu siapa lelaki yang sedang duduk di sampingnya ini.
Licia menoleh kemudian mengacungkan pisau bedah kearah lelaki tersebut. “aku memang yang paling cantik di Unversitas ini!”
"Ma-maaf Li...cia." Kata lelaki itu dengan gugup.
"dan pergi sekarang juga."
Licia sangat benci jika ada seseorang yang membeda-bedakannya. Atapun mengatakan dia cantik, Karena pada dasarnya , memang dia lah yang paling cantik di kampus ini.
Ia orang yang mudah tersetuh setiap orang-orang berucap. Entah orang itu mengatakan dirinya atau pun bukan dirinya.
Tetapi jika ia mendengar seseorang mencela maka ia segera beranggapan bahwa orang tersebut telah membicarakannya.
Licia pemarah, terkadang dia baik dan terkadang tidak’ karena itu tergantung orang di sekitarnya.
ia mudah tersentuh sehingga emosinya siap meledak kapan saja. Dan ia sangat sulit berbaur dengan orang di sekitarnya.
Padahal banyak yang ingin berteman dengan nya. Tetapi ia selalu menolak. Karena Licia tau’ bahwa mereka hanya akan mengambil keuntungan saat berteman dengannya.
Kaget laki-laki itu, dan memundurkan tubuhnya karena takut. "so-sorry."
“ Ee- dan turunkan pisau itu Licia. Kita disini membedah kodok untuk bahan praktek. Bukan membedah diriku.” ucap lelaki itu.
Licia mengarahkan pisau tersebut ke leher lelaki itu. Ia tersenyum kemenangan karena orang di sampingnya ini tengah ketakutan.
“aku bisa saja membedahmu seperti kodok malang ini, jika aku ingin.” Tajamnya. Lelaki tersebut hanya meneguk ludahnya dengan susah payah.
Licia duduk kembali dengan tenang di saat Professor Arya telah memasuki kelasnya.
Lelaki itu hanya bersukur kepada yang kuasa karena sudah menyelamatkan nyawanya dari tatapan dan perlakuan Licia.
Lelaki tersebut juga berpindah tempat dan tidak duduk di sebelah Licia lagi. Entah kenapa, di saat seseorang duduk berdampingan dengan Licia orang tersebut akan menemukan aura yang berbeda. Apalagi jika menatap langsung wajah angkuhnya.
***
Seseorang tengah melakukan suatu kegiatan yang baru ia temui dalam semasa hidupnya. Yaitu duduk 24 jam di meja kantornya dengan di temani laptop dan tumpukan berkas yang berisi suatu hal yang membosankan.
Leon melepaskan jasnya lalu menggulung kemeja abu-abunya sampai siku. Ia juga mencunci wajahnya agar terlihar lebih segar. Rambutnya yang acak-acakan semakin menabah ketampanannya.
Ia menatap jam yang melekat di lengan kirinya dan mengeluarkan nafas lelahnya.
Tok tok tok-
Seseorang mengetuk pintu. Leon menoleh bertepatan pintu tersebut terbuka.
“mobil anda sudah siap tuan.” ucap orang itu.
Leon pun hanya mengangguk.
Sekarang ia tengah berada di perjalan untuk menuju ke mansionnya. Tetapi-
Leon menatap seorang pria berotot tengah menarik pergelangan seorang perempuan cantik.
'Ahh- bahkan dia sangat cantik dan Leon sedikit familiar dengan orang itu.' Batin leon.
Ada sedikit kejanggalan. da yang membuat Leon heran perempuan tersebut sama sekali tidak takut dengan pria berotot itu.
"Pak berhenti." Titahnya kepada sopir.
Ia pun segera turun dari mobil tersebut dan mengendap-ngendap layaknya seorang penguntit.
Leon terus fokus kearah orang tersebut. Dengan orang Yang memakai pakaian serba hitam. Bahkan orang itu memakai sarung.
Aneh. Batin leon.
"Kenapa dia mirip perempuan aneh itu." Gumamnya.
'Kemana perempuan itu?' Pikir Leon yang terus mengikutinya entah kemana.
'Gang?' Batinnya.
Brakkk...
Suara gebukan membuat Leon semakin mempercepat langkahnya. Takut akan terjadi apa-apa dengan perempuan yang dia lihat barusan.
“sungguh, perempuan itu sangat mirip dengan Licia.” Gumamnya.
BRAK!
Leon tercekat.
ternyata pemikiran Leon salah terhadap perempuan itu. Leon membelakkan matanya di saat pria tersebut ambruk seketika.
Perempuan misterius itu pun berjongkok menghadap pria berotot itu.
"Sudah saya katakan, bahwa anda hanya mencari ajal jika berhadapan dengan saya." Ucap perempuan itu.
Leon yang mendengar suara halus itu hanya tersenyum dengan sendirinya.
Perempuan tersebut mengcongkel bola mata pria itu. kemudian menusuk kembali bola mata itu, sehingga sang pemilik sudah kejang-kejang tanpa henti. Tak lupa ia juga membuat mulut pria berotot itu terbuka dengan lebarnya.
Crittt....
Darah mencurat dengan hebatnya. Tapi perempuan tersebut masih bermain-main dengan wajah pria tersebut.
Dapat Leon lihat, bahwa perempuan tersebut sedang menghancurkan wajah pria itu dengan sadisnya.
Perempuan itu menusuk-nusukan pisau yang lumayan besar kewajah pria itu tanpa memperdulikan decakan noda merah yang sudah mengotori bajunya.
Dan Leon tak melihat dengan jelas wajah perempuan itu. Karena di tempat itu di selimuti dengan kegelapan. Dan juga perempuan itu tengah mengenakan pakaian yang amat tertutup.
Seperti 'Alan Walker’ batin leon.
Leon akhirnya mendekat kearah perempuan itu dengan langkah yang amat pelan.
"Kau pembunuh?" Celetuk Leon tanpa ada rasa takut.
Sedangkan perempuan tersebut hanya menatap Leon dengan tajam. "Pergi! Atau anda yang akan saya bunuh seperti Pria ******** ini." ucap perempuan tersebut seraya meninggalkan leon.
Leon yang menyaksikan peristiwa tersebut hanya terkekeh dengan santainya.
'Pembunuh' dan 'dia'
Tanpa perempuan tadi sedari bahwa sebenarnya Leon sudah berhasil mengambil gambar perempuan tersebut tanpa sepengetahuan sang pemilik.
“ternyata kau telah mengeluarkan kartu AS mu Licia.”
Leon memandang iba pria tak bernyawa itu. Sungguh malang nasib pria ini. lalu beralih menatap punggung Licia yang semakin menjauh.
"Menarik," kekehnya.
_______
TO BE CONTINUED......