
Seorang perempuan menari di atas hamparan pantai yang amat luas. perempuan itu tersenyum dengan manisnya. hingga pantai tersebut berubah mejadi hutan yang sangat gelap.
Perempuan itu menatap bingung disekitarnya. Lalu menatap seseorang yang mulai mendekatinya.
"Ibu," lirihnya.
Ia pun mendekati orang itu dengan tersenyum. "ibu, Licia rindu ibu." isak Licia.
Licia memeluk ibunya dengan sayang. "ibu juga merindukan mu sayang." jawab ibunya.
Arg!
"Ibu! jangan sakiti ibuku!" teriak Licia disaat seseorang menarik ibunya dengan paksa.
“Jangan! Pergi kau brengsek, pergi!”
Hiks- “Lepaskan ibuku. Lepaskan!”
_ _ _
“Licia, hey!”
"Licia!"
Gadis berponi itu segara bangun dari mejanya. Dia menetralkan detak jantungnya. Mimpi itu, mimpi yang selalu membuat Licia semakin membenci ******** itu. ******** yang sudah merenggut nyawa ibunya.
“Minumlah,”
Licia menurut apa yang pak Arya katakan. Licia juga tidak habis pikir, kenapa dia bisa tertidur di jam pelajaran hingga semua mahasiswa tak ada lagi dikelas.
Pak Arya tersenyum hangat. Lalu duduk disamping Licia. “kau mengigau. Bahkan kau menangis.”
“Maafkan saya pak. Saya permisi.”
“Biar aku antar,” ucap pak Arya seraya mencekal lengan mungil itu. “tidak perlu, saya bisa sendiri.” Balas Licia lalu pergi meninggalkan orang itu.
Sebelum pulang ke rumah, Licia lebih dulu mampir ketempat langganannya. Yaitu disebuah Café.
Ia duduk sendiri dimeja paling ujung. Tangannya beralih untuk mengambil handphone yang terletak diransel. Dilayar itu terdapat seorang perempuan dengan cantiknya yang mengendon seorang anak kecil yang menggemaskan.
“Aku merindukanmu,” gumamnya sendiri.
“Maaf mbak lama, tadi saya ada kerjaan dibelakang.” Licia menoleh dan mendapati pelayan perempuan. Bahkan pelayan itulah yang selalau melayani Licia jika nongkrong ataupun menunggu di Cafe ini.
Licia tersenyum hangat. “tak masalah. Seperti biasa.”
“Tunggu sebentar ya mbak,”
Licia mengangguk. Mata Licia terlalu jeli saat melihat mata merah pelayan tersebut. “kau ada masalah?”
Pelayan itu menggeleng.
“Dan aku tidak percaya. Kau habis menagis, bahkan sepertinya kau sudah mengeluarkan airmata yang sangat banyak. Sehingga matamu bengkak seperti mata gajah.”
“Hah? Benarkah? Tapi jujur, aku memang tak Apa-apa.”
“Ceritakan padaku! Cepat!” bentak Licia tanpa Pemperdulikan pelayan tersebut sudah terisak pelan. Dan Licia sedikit iba dengan perempuan itu.
“Kekasihku. Dia selingkuh, bahkan dia mengajak pacarnya dicafe ini tanpa sepengetahuanku.” Hiks-
Licia memutar kedua bola matanya. Lelaki memamng seperti itu, maka dari itu licia membenci mereka. “yang mana kekasihmu?”
Pelayan itu merentangkan tangannya dan menunjuk kearah meja yang tak jauh dari pintu utama. “baiklah, cepat pergi dan buatkan aku minuman seperti biasa.”
Licia tersenyum sinis. Dia kembali bersenang-senang dengan pisau kesayangannya, dan Licia suka itu.
Skip
.
.
.
.
Laki-laki itu menoleh kearah Licia dengan menaikkan alisnya.
“Ya?”
Licia tersenyum kecil, dia mendekati Laki-laki asing itu dengan tenang. “kau bisa mengantarkanku. Soalnya jam seperti ini sangat susah untuk mencari taxi.”
“Ah- aku kira kenapa. Dengan senang hati cantik.” Kekeh orang itu.
Licia pun tanpa ragu masuk kedalam mobil Sport berwarna merah itu. “kemana aku akan mengantarkan mu?”
“Lurus, lalu belok kiri saat perempatan.” Ucap Licia sopan.
“Siapa namamu cantik?”
“Namaku Alexa.” Laki-laki itu mengangguk. Licia memandang mobil ini yang tiba-tiba saja berhenti.
“kenapa berhenti?” Tanya Licia bingung.
“Aku hanya ingin,,, Em kau cantik sekali Aexa.”
Lelaki itu mendekat dan Licia hanya diam tanpa mengatakan apapun. 'dasar ********' kesal batin Licia.
“Kau juga sangat tampan.” Puji Licia yang juga mendekatkan tubuhnya kepada lelaki tersebut.
Lelaki itu terkekeh, seraya mengusap rambut panjang Licia. “Dan siapa yang tidak menyukai lelaki tampan sepertimu.”
Licia semakin mendekatkan tubuhnya lalu. . . .
Akh!
Krek….
Licia menusukkan kembali pisau kecil itu pas mengenai perut laki-laki itu. menusuknya hingga dalam. Bahkan dia membiarkan jika laki-laki yang menjambak rambutnya.
“Kau Wanita gi-gilaa…akh!”
Licia mendorong lelaki itu ke kursi belakang hingga lelaki itu memekik kesakitan. Tak lupa Licia mengambil botol yang terletak diranselnya, lalu meminumkan minuman berakohol itu kepada lelaki brengsek ini.
“Ka-kau akan dipenjara. Wanita gila.” uhuk-uhuk………
Licia tersenyum sinis. Kemudian menusukan pisaunya ke pipi laki-laki itu dengan berulang kali. Bahkan tangan Licia sudah dibanjiri dengan air yang berwarna merah.
“Dan aku tidak takut!” jawab Licia.
Licia mengendarai mobil itu hingga menuju kesebuah hutan. Dia melepaskan seatbeltnya serta menancap gas mobil semakin cepat. Dia bahkan tidak peduli dengan nyawanya.
***Brak-
Doar***!
Saat Ledakan itu terjadi. Licia Lebih dulu keluar dari mobil tersebut. hingga decakan sinis terpapar disudut bibirnya. “aku membenci lelaki seperti mu. Maafkan aku, karena akulah yang lebih dulu mengirimmu ke neraka.” Gumamnya.
Hingga sesaat dia melupakan jika ransel serta handphonenya juga ikut terbakar hangus oleh mobil kaparat itu. ‘tak masalah, setidaknya sekarang dia sudah merasa tenang’ lirihnya serta tetrtawa kemenangan.
Sudah hampir satu jam Licia menelusuri hutan dan jalan raya. Dan akhirnya dia tiba juga disebuah rumah mungil yang sangat sederhana. Bahkan rumah itu terkesan angker. Bayangkan saja, rumah itu tak jauh dari hutan. Bahkan dibelakang rumah Licia dipenuhi pepohonan yang besar. Sangat mengerikan bukan?
Licia membersihkan tubuhnya lalu membuang pakaian yang dipakai barusan ditempah sampah. Ia memandang wajahnya didepan cermin dengan tersenyum kecut.
“Ibu, aku rindu ibu. Aku kesepian. Mereka semua jahat, mereka hanya ingin mempermainkan kita. Sama seperti ibu yang dipermainkan oleh kaparat itu. dan kenapa? Kenapa ibu masih saja mencintai pria brengsek itu disaat dia sudah mempermainkan kita bu!”
“Dan aku bersumpah, akan membunuh orang itu. walaupun dia bersembunyi keujung dunia. Aku akan tetap mengejarnya.”
Mata Licia berkilat tajam bahkan siapa saja yang menatapnya akan merasa takut dan undur diri dari hadapan Licia.
"Suatu saat nanti Ajal akan menjemputmu. dan Akan ku pastikan itu akan terjadi."
______
TO BE CONTINUED