I'M NOT A PSYCHOPATH

I'M NOT A PSYCHOPATH
22. Flashback~ (2)



Leon Flashback~


____________


Leon menghela nafasnya dengan perasaan tak karuan. kemudian menatap wajah Licia yang tengah tertidur dengan pulasnya. Leon mendekatinya. senyum Leon pun terpapar indah dibibirnya. Melihat akan ciptaan tuhan yang sudah membuatnya mabuk akan kepayang.


Tangannya terangkat. mengusap pipi chubby itu dengan lembut, karena ia takut akan membangunkan sang pemiliknya.


Eugh.....


Licia menggerakkan tubunya. mungkin sedikit terganggu akan sentuhan Dari Leon. Leon terkekeh kecil saat melihat pergerakan dari Licia.


"Sttt, maaf menggangu tidurmu." Ujar Leon yang masih setia mengusap kepala Licia.


Mereka saling melempar senyum hingga Licia bangun dari tempat tidurnya. "Ya, kau sudah membangunkanku." Jawabnya sedikit kesal.


"Apa ada kabar dari Vino?"


Leon menggeleng.


"Ini baru Empat hari Licia, Vino juga butuh ketenangan untuk membuatnya." Sahut Leon Lembut. Licia pun hanya memgangguk Lirih.


"Hmm baiklah, tapi jika dia tidak becus membuatnya. maka aku akan membunuhnya." Dingin Licia.


"Kuharap Vino sudah siap akan hal itu." Kekeh Leon.


Leon bangun dari tempat tidur Licia, meninggalkan Licia seorang diri. "Tunggulah," Ujarnya.


'Kemana dia?' Batin Licia.


Licia menatap Leon yang sudah meninggalkannya seorang diri. Licia pun mengikuti kemana Leon akan pergi.


"Kau menyiapkan semua ini?" Tanya Licia dengan tak percaya.


Leon terkekeh, kemudian mengangguk pasti.


Pandangan Licia pun jatuh kearah kulkasnya. "Bukankah disana tak ada makanan?"


"Aku membelinya." Ujar Leon. "Makanlah, mungkin rasanya sedikit beda dengan masakan diluar sana. tapi patut kau ketahui, jika makanan ini sudah aku bumbui dengan rasa cinta dan sayang."


Licia memutar bola matanya dengan jengah. "Kau tau Alasan aku menerimamu?" Tanya Licia.


"Karena aku kaya." Sahut Leon dengan nada sombong.


Tatapan mereka bertemu. Licia pun menganggukan kepalanya disaat mendengar jawaban tersebut. "Maybe, Yes."


Drttt.....


Drttt....


Leon merasakan sesuatu yaang bergetar dibalik celananya. ia pun mengambil benda pipih itu, lalu menatap Licia sejenak.


Licia pun menatapnya dengan santai. "Angkat saja, siapa tau penting." Kata Licia kepada Leon.


"Yon?" ucap diseberang sana.


"Ya?" Leon melirik Licia kembali. Lalu menjauh dari tempat tersebut. "Kau menemukannya?" Sambung Leon.


"Yaps. dan kusarankan kau menjauh dari Licia. aku takut dia mendengar percakapan kita." Ujar Vino Lagi.


"Aku akan kesana," Leon pun mematikan Sambungan tersebut.


Licia menoleh, disaat Leon mendekatinya. "Why? kau ingin pergi? Silahkan, aku tak keberatan." dingin Licia.


Tatapan mereka bertemu. hingga Leon menjauhkan tubuhnya dari Licia. "Pekerjaan kantor." Jawab Leon kepada Licia.


Licia menghiraukan perkataan tersebut. yang Licia lakukan hanyalah memakan masakan Yang Leon dengan tenang.


"Baiklah, aku akan menjemputmu besok." Ucap Leon lagi.


Licia hanya diam seraya menatap Lirih Punggung tersebut. "Setidaknya ada kedamaian yang kau tanamkan Dalam hidupku Yon." Lirih Licia.


SKIP***


Ditempat Vino~


Vino memijat kepalanya yang sedikit berdenyut. kemudian Menatap seseorang yang sudah masuk kedalam Tempat tersebut.


Dengan langkah pelan Vino menghampiri orang itu. "Syukurlah kau datang."


"Hei, ada apa dengamu?" tanya Leon.


Leon menaikan alisnya dengan bingung. "Katakanlah,"


"Sebelum aku menunjukkan sketsa itu, Anak buah ku sudah menemukan siapa Andrew yang dimaksud Licia."


Tatapan mereka bertemu. hingga sudut bibir Leon terangkat. "Lalu?" Acuh Leon dan membuat Vino bingung.


"Kau mengetahuinya?" Tanya Vino tak percaya.


Leon mengangguk.


"Aku sudah mencari tau siapa Andrew. dan dugaan ku benar, Felixnan Andrew adalah Andrew yang dicari Licia." Jelas Leon.


Leon mengambil sesuatu dari tas yang dia bawa. kemudian menunjukkannya kepada Vino.


"Aku tidak tau harus mengatakan apa, tapi jika benar om ku adalah Ayahnya Licia. maka hubungaku takkan pernah direstui Oleh kakek ataupun Om Andrew."


Vino membuka mulutnya dengan Lebar. bahkan sekarang dia seperti seorang idiot.


"Om Andrew menikahi Luci ibunya Licia. tetapi hubungan mereka sedikit renggang atas kelahirannya Licia." Jelasnya.


Vino menggelengkan kepalanya sejenak. Lalu menatap Leon dengan bingung. "Kenapa kau menyimpulkan jika kelahiran Licia penyebab semuanya."


Leon mengacak Rambutnya dengan Frustasi. ia pun bingung akan kejadian ini. tetapi inilah Faktanya. Fakta diamana Leon menemukan semuanya.


"Aku pun tak mengerti. tetapi yang membuatku yakin, Sejak aku menemukan Foto ini." Ujar Leon seraya melempar Foto itu kearah Vino.


"Ini bisa di edit." Sahut Vino.


"Ini Luka, Lihatlah. Ini Foto Licia sejak berumur 6 tahun Dimana dia selalu dipukul dan dicaci Om Andrew. Cih- pantas saja Om Andrew meninggalkan Tante Anya. dan kau mengerti maksudku Vin."


Vino melototkan bola matanya seraya mengangguk lemah.


"Jangan bilang ibunya Licia selingkuhan Om Andrew?" Ucap Vino dengan gagap.


Leon mengangguh Lirih.


"Ini kacau Yon. Kurasa ini semua ada sangkut pautnya dengan kakekmu. dimana kau dilarang keras untuk berhubungan dengan Licia." Ujar Vino.


Akh!


Teriak Leon dengan Frustasi. ini adalah kesalahan. ini sangatlah salah jika Leon melanjutkan hubungan mereka.


Karena jika benar Om Andrew adalah ayahnya Licia. itu berarti Licia adalah cucu kandung dari Bramana, kakeknya sendiri.


Shit!!! kenapa semuanya semakin rumit.


Leon menatap Vino dengan pandangan memohon. "Tolong rahasiakan ini. aku tak ingin Licia tau jika Dia adalah Cucu kekeku."


"Kau selalu berasumsi lebih awal Yon. Bisa jadi Licia bukan Anaknya Om Andrew."


Mata Leon memerah. ia menatap Vino dengan geram. walaupun sebenarnya ia mengharapkan itu, tetapi Fakta tak bisa dihindari.


Tapi tunggu- Apa kakeknya tau Jika Licia Adalah Cucu kandungnya? Astaga, kenapa Leon tak memikirkan itu. bisa Saja kakek tua itu mengetahuinya, atau tidak.


Leon melirik Vino sekilas. kemudian berucap- "Tapi kenyataan sudah Terbukti Vin. Pantas saja kakek melarangku dekat dengan Licia. karena Licia cucu kandungnya, sedangkan aku?"


"Kau cucu kesayangan kakek Bramana." Sahut Vino dengan tegas.


"Ya, aku cucunya. cucu tanpa ikatan darah." Pilu Leon.


Vino menyunggingkan senyumnya kearah Leon. "Tapi ini akan menjadi peluang bagimu untuk bisa bersama Licia, Yon."


Leon melangkahkan kakinya kearah pintu. kemudian menatap Vino sekilas. "Semuanya tak segampang itu. Walaupun aku tak ada ikatan darah dengan keluarga kakek. aku dan Licia takkan pernah bisa bersama Vin." Lirihnya.


Vino menatap iba kearah Leon yang sudah menjauh dari hadapannya.


"Rahasia ini aman Yon. Dan Semoga saja Licia memaafkanmu." Gumam Vino.


Flashback Off~


________


TO BE CONTINUED


#Sorry banget kalau di episode ini pendek banget๐Ÿ˜“๐Ÿ˜“๐Ÿ˜“ Sorry yah.


#Jangan Lupa Tinggalkan jejak guys, biar Author semangat ngetiknya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


#SEE YOU ALL๐Ÿ‰