I'M NOT A PSYCHOPATH

I'M NOT A PSYCHOPATH
4. Sebuah Misteri



Hoam~


Leon mengusap wajahnya dengan gusar. Sesekali ia memijat dahinya yang sedikit berdenyut. Matanya terbuka dengan sempurna lalu menatap bingung kamar yang dia tempati sekarang.


Apa yang ia lakukan kemaren? Kenapa kepalanya berdenyut seperti ini? dan kamar ini- kamar siapa ini?


Leon sadar bahwa ini bukanlah mansion ataupun apartementnya.


Sibuk dengan pemikirannya sehingga ia tak menyadari bahwa seseorang tengah masuk kekamar tersebut.


Clek-


“Tuan, Anda sudah di tunggu kakek anda di bawah.”


Ia menoleh, saat Mendengar penjelasan tersebut. dan Leon dapat menyimpulkan. Bahwa sekarang ia tengah berada di tempat kakeknya.


Tapi kenapa bisa di sini?


Leon memutar kembali memori dikepalanya dengan susah payah.


'*urus saja diri anda. Dan jangan pedulikan saya.'


'dengan senang hati sir,'


'ah ini bukan whisky, tapi hanya minuman bersoda.'


'astaga, sepertinya saya harus pamit*.'


Ahk shit! Geramnya.


Umpat Leon membuat pembatu tersebut memandangnya dengan heran.


“tuan kenapa? Apa ada yang sakit?” khawatirnya. Leon hanya menggelengkan kepalanya dengan lirih. “pergilah. Dan aku akan segera turun.”


Perempuan itu?!


Akh! Kesal leon, Karena sudah di kerjai dengan seorang perempuan yang tak ia ketahui namanya.


Sekitar 30 menit akhirnya ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pingangnya.


ia mengambil kaos pendek dan celana olahraga. Selesai sudah dengan aktivitasnya. Leon pun segera keluar dari kamar dan bergegas kemeja makan.


Tap tap tap


Langkah leon menggema di ruangan tersebut. kakeknya mendongak tanpa tersenyum sedikitpun.


Leon balik menatap sang kakek. Sesekali Leon tersenyum saat memandang wajah rentan beliau.


“kau tidak bekerja?”


Leon menatap jam dinding yang tak jauh dari ruang makan tersebut. jam sudah menunjukkan pukul 09:15. Leon mendesah berat seraya memijat dahinya.


“kamu hanya CEO Leonata. Sedangkan kakek adalah Direktur Utama. Jadi jangan pernah bertindak sesuka hati mu.”


Leon mengangguk. Karena tak ingin memperpanjang masalah.


“kenapa leon bisa dirumah kakek?” tanyanya.


Beliau memakan sarapan dalam keheningan lalu mendongak pelan.


“kamu mabuk, dan pingsan. Untungnya ada seseorang yang membawa kamu kerumah kakek.”


Ia memutar bola matanya dengan kesal. “kakek membuntuti ku?” ujarnya dengan nada tak percaya.


“astaga kakek, aku bukan anak kecil lagi. Usiaku sudah 25 tahun dan sekarang aku sudah menjadi CEO muda di Perusahan ayah. Jadi jangan membuat diriku seperti anak kecil kek.” Jelasnya panjang lebar.


Tatapannya terus tertuju kedepan di mana sang kakek tak mengubris sedikitpun perkataannya.


“ayolah kek.” Rengeknya kearah tuan Bramana.


“Vino memasukkan sesuatu kedalam minuman Leon kek.” Bohong. Ia memang berbohong karena tidak mungkin ia mengatakan sebenarnya.


Dan sebenarnya Leon sangat takut kepada kakeknya. Bagaimana tidak, Zoylion Bramana adalah seseorang pria rentan Usia yang amat di takuti oleh banyaknya orang. Selain tegas, dingin, kakek juga selalu melakukan hal yang tak terduga. kakek juga mendidiknya dengan keras, sehingga sampai sekarang Leon masih ada rasa takut saat bertatapan dengan mata elang itu.


Sedangkan Alm. ayahnya selalu bersikap lembut dan tenang.


Sangat berbeda bukan?


Yaa karena, pada dasarnya manusia tak lah sama. Mereka berbeda. Walaupun kodrat mereka hidup di muka bumi ini tetap sama, tetapi jalan fikir dan cara mereka beradaptasi pasti beda.


“kamu sudah dewasa tapi pemikiran kamu masih labil Leon.” Jeda beliau yang terus menatap kearah leon yang sejak tadi terdiam.


“dan akan banyak yang menjebak kamu. Karena sekarang kamu memegang sebuah perusahaan yon. Dan jangan lupakan’ bahwa banyak orang diluar sana mengicar nyawamu.” Sambung beliau.


Sedangkan Leon hanya mengangguk. Karena dia sangat mengerti akan posisinya sekarang. Memang benar kata kakeknya, dia tak boleh bersikap kekanak-kanakan lagi. Dia juga harus memikirkan keluarga dan membuktikan, bahwa Leon Mampu untuk mandiri.


“terima kasih, karena kakek sudah mengingatkan ku.”


“kakek percaya padamu. Dan jangan mengecewakan ayahmu nak.” Dengan penuh harap beliau menatap Leon kembali.


***


“pagi tuan, di sini saya akan memberikan informasi yang anda minta tempo hari.”


Leon menatap orang tersebut dengan jengah.


“langsung ke intinya bim.” Sela leon.


Bimo mulai menjelaskan tentang informasi yang ia dapatkan itu dengan teliti dan jelas. Sedangkan Leon hanya perlu memasang telinganya dengan benar. Sesekali ia tersenyum saat mendengar penuturan tersebut.


"Kenapa dia selalu mengubah warna rambutnya dalam seminggu?" Sanggah Leon saat mendengar penjelasan tersebut.


"Saya juga tidak tau tuan. Semua aksesnya seakan tertutup rapat. Tetapi anda bisa kecafe house dekat clubnya pak vino, tuan."


Leon mengernyit. "Buat apa saya kecafe?"


"Karena nona selalu mampir di sana sepulang dari Universitasnya."


Leon mengangguk. "Perempuan aneh seperti dia berada di bidang kedokteran?" Tanya leon dengan tak percaya.


"benar tuan. bahkan Dia siswi yang berprestasi tuan."


"Wow!" Kagum Leon.


Setelah usai memberikan berita tersebut. Bimo akhirnya menyerahkan *F*lashdisk kepada tuan-nya.


“Maafkan saya Tuan, karena tidak dapat mengorek lebih dalam tentang nona Licia.”


Leon mengagguk, sesekali ia tersenyum saat membayangkan wajah angkuh tersebut.


"Tidak masalah bim. dan kuharap kau tidak memberitahu tentang hal ini kepada kakek."


"iya Tuan."


“Terimakasih bim. Dan siapkan mobil untuk ku kekantor siang ini.” Bimo membungkukkan badannya dengan hormat.


Leon terus tersenyum ramah. kemudian mengangguk.


Sepeninggalan asistennya itu. Leon kembali mengutak-ngatikan sesuatu di dalam tabletnya.


“sepertinya aku mulai tertarik dengan dirimu Licia.”


“Dan sebuah misteri di balik wajah dinginmu. ahk- kuharap dia tak sedingin Edward Cullen.” gumam Leon dengan senyum-senyum sendiri.


______