
Kisahku menyebrangi lautan yang jauh nan luas. Aku sendiri menempuh hidup dengan celaan dan juga hinaan. Aku seperti mawar yang berduri tajam. Disini aku seorang diri dan aku adalah seorang wanita.
Sekuat-kuatnya seseorang, jika ia wanita. Maka ia tetaplah lemah. Dan disini lah aku harus tahu bahwa manusia tak hanya diriku saja.
Aku juga mengetahui makna manusia sesungguhnya dimuka bumi ini.
Mereka hanya menjadi pelengkap. Agar bumi taklah kesepian. Lalu pada akhirnya mereka akan tiada.
Yaitu, mati.
Hmm- aku mulai merasakan aura dingin, dimana kematian yang akan menjamah tubuhku. tapi cerita tidak akan seperti itu. karena aku lah yang akan mempertemukan kaliaan dengan keluarga kalian di alam sana.
jiwa, raga, hasrat, dan kehidupan.
Tak banyak peristiwa yang kutahu tentang kehidupan dibumi ini, yang jelas aku akan membantu mereka yang kesusahan hidup untuk menuju ajal mereka sendiri.
Aku duduk manis disebuah Café langgananku. Tak tahu sudah berapa jam aku berada ditempat ini, yang jelas aku hanya menginginkan sebuah ketenangan.
ia meletakkan kepalanyaa diataas meja. sejenak Licia mulai memejamkan mata. dia hanyut akan ketenangan saat ini. hingga,
"Hai Licia."
Licia mengangkat kepalanya dengan cepat. Saat mendengar suara tersebut lalu menatap orang itu dengan kesal.
"Bolehkah aku duduk disini?" Tanyanya. Namun yang Licia lakukan hanyalah diam seraya menatap lelaki itu layaknya santapan.
"Wah tatapan mu seakan membunuh diriku Licia." Celotehnya. "Tak bisa kah kau tersenyum sedikit saja? kau cantik saat tersenyum." godanya.
"Pergi dari hadapanku!" tajam Licia.
Leon tersenyum manis. bahkan siapa saja yang melihatkan akan terbuai akan senyum tersebut.
Namun tidak dengan perempuan didepannya ini. tersenyum saja dia tidak pernah.
Licia menatap orang itu dengan kesal. yaa- Lelaki yang ber beo sejak tadi adalah Leonata Alexandra. seseorang yang sangat Licia benci.
Entah kenapa rasanya kehidupan Licia akhir-akhir ini sangatlah terganggu. Jelas saja, ia merasa diawasi akhir-akhir ini. Dan dapat dipastikan, ini adalah kerjaannya leon. Lelaki ******** ini.
Licia mempunyai insting yang kuat. bahkan mempunyai pemikiran yang luar biasa. ia bisa mengenali orang itu walaupun mereka baru saja bertemu beberapi menit yang lalu. maka dari itu, Otak dan keberanian Licia jangan pernah di anggap spele.
Leon mendekatkan kursi agar lebih dekat kearah Licia.
Brak!
Licia menendang meja tersebut hingga membut pengunjung disana mentap mereka dengan heran.
"Ahh lupakan saja, karena pada dasarnya kamu tak akan pernah berbicara kepadaku." terang Leon dengan santai.
Leon menatap Licia Kembali seraya terkekeh. Sedangkan Licia hanya menaikkan alisnya dengan bingung seolah berkata, ‘Tak ada yang lucu!’
Licia memandang Leon dengan sengit. "Jangan tatap saya dengan mata kotor anda itu." dinginnya.
Dan Tiba-tiba saja tangan mungil Licia mengambil garpu. lalu mencengkramnya begitu kuat, layaknya pisau.
"hm- bahkan tanganmu tidak cocok dengan benda tumpul seperti itu."
"bisakah kau pergi dari hadapanku?!"
Leon mencondongkan tubuhnya sehingga mendekat kearah Licia. "bahkan menjauh darimu saja aku tak bisa. kau bagaikan magnet Licia." Godanya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"dan aku tidak peduli." jawabnya.
"Kecantikan mu tertutup oleh kelakuan iblismu Licia." Ujar Leon dengan tersenyum lembut. Pandangan Leon pun tak henti-hentinya menatap wajah dingin Licia dengan sejuta kekaguman.
"berhentilah menyiksa mereka. mereka pantas menikmati dunia ini. karena mereka makhluk hidup, sama seperti dirimu dan juga diriku." jelas Leon dengan sendu.
Sedangkan Licia hanya menatap Leon dengan pandangan tidak suka.
"Karena semua manusia pada dasarnya akan mati! jadi, jangan pernah ikut campur akan kehidupanku."
"kau tau, jika kehidupan seseorang tak dapat dicampur-aduki. tapi kamu? kamu bahkan melenyapkan mereka. dan kamu bukan tuhan Licia." Sanggah Leon.
"Apa peduli anda heh! Urus saja pekerjaan anda!" Bentak licia.
Leon memberanikan diri untuk menggapai tangan mungil tersebut. Licia memberontak ia ingin melepaskan tangannya dari Leon. Tetapi cekalan lelaki tersebut sangatlah kuat.
“Lepas? Atau kau tak kan bisa bernafas lagi!” ancam Licia.
Leon tersenyum manis.
"aku tak butuh ceramah mu." desis Licia.
"karena Aku tak ingin orang yang aku cintai selalu menyiksa orang yang tak berdaya."
*C*inta?
'*Ap*a yang dikatakan Lelaki gia ini. Cinta? bahkan Licia tak percaya akan namanya Cinta.'
'Bullshit dengan cinta! Semuanya palsu! dan semuanya Semu.'
“Kau tak percaya dengan cinta?” Tanya Leon.
Mata Licia menajam saat mendengar ucapan tersebut. “bahkan aku tak percaya dengan rayuanmu itu.” ujarnya, kemudian....
Brak-
Licia menendang meja itu dengan sekuat tenaga. “ku sarankan enyahlah dari hadapanku!”
Leon menggeleng kemudian menatap Licia dengan pandangan yang sulit diartikan. “Maka dari itu, jawab dulu pertanyaanku.”
“kau tak percaya dengan cinta?” ulang Leon.
Astaga, Kenapa lelaki ini sangat keras kepala. Ahk- Lelaki gila ini sangat membuatku kesal.
“hmm- lupakan. Dan apakah aku boleh bertanya kembali.”
‘Lelaki gila, dia bahkan berceloteh tidak jelas. Dan saat ingin bertanya malah meminta izin kembali.’ Batin licia kesal.
Leon memicingkan matanya lalu menatap licia dengan curiga. “kenapa kau mewarnai rambutmu?”
Licia merasa seperti orang bodoh saat mendengar perkataan Leon tersebut. Licia juga tak pernah menjawab atas pertanyaan Leon lontarkan. Karena itu sangat membuang waktunya.
“hm? Tetapi aku suka rambutmu yang coklat ini, daripada berwarna putih yang seperti uban.” Celetuk Leon.
Licia melebarkan kedua pupil matanya. Perkataan Leon dangat menohok batinnya.
“jangan pernah membeda-bedakan warna rambutku.”
“Kau sangat sensitif Licia.” Sanggah Leon tanpa memperdulikan tatapan mematikan yang sejak tadi menatapnya.
Sebelum menegakkan tubuhnya Leon lebih dulu mengacak-ngacak poni Licia dengan lembut.
Tidak waras! Bahkan dia datang dan duduk didepanku seperti setan. Dan sekarang pergi tanpa berpamitan. Dasar lelaki tak tahu dimalu!
Licia menatap kepergian Leon dengan amarah yang mendidih.
“cih- bahkan aku sendiri yang akan mengajarkan sopan santun itu kepadamu Leonanta.” Sinisnya.
Tiba-tiba saja Licia melempar garpu ke depannya dengan kesal.
Aku butuh hiburan. Apalagi mengingat akan tingkah gila Lelaki itu.
Mata Licia menatap banyaknya orang berlalu lalang dijalanan. entah apakah yang dia cari.
senyum Licia mengembang. disaat Bola matanya menemukan satu objek sangat menarik perhatiannya. Yaitu seorang nenek yang ingin menyebrang jalan raya dan jalanan tersebut lumayan padat menurut Licia.
Licia terkekeh.
“Akh- nenek, aku akan membantumu untuk menjenguk para cucu-cucumu di alam sana.”
Ia pun segera melangkah keluar dari Café itu, dengan Tersenyuman bangga. kemuduan membuka ranselnya dengan pelan.
Licia mengambil sepasang Pisau Lipat. dan tentunya benda tajam itu adalah benda kesayangannya Licia.
"untuk yang sudah berumur, aku harus menggunakan senjata yang lebih tajam. agar Nenek tidak berteriak dan merintih kesakitan." monolognya.
_________
TO BE CONTINUED
Kalau ada yang typo kasih tau yah, biar Author Bisa Revisi🍦
SEE YOU ALL
💚