
Seharusnya hari ini Nikita bisa menikmati waktu terakhir sebagai seorang murid SMA dengan perasaan yang bahagia, tapi hanya karena permasalahan pribadi mengenai perjodohan serta rencana sang ayah yang memintanya agar melanjutkan pendidikan di Australia, membuat kebahagiaan ataupun senyuman itu hilang dari wajah cantik seorang Nikita.
Sebagai seorang sahabat dekat, Febi yang tahu kalau Nikita tampak kurang bersemangat pun langsung mencoba menanyai. Siapa tahukan, dengan bercerita masalah ataupun beban yang sedang menjadi tokoh utama dalam pikiran sang sahabat bisa berkurang.
Febi yang kini sedang menikmati segelas jus jeruk pun tak ragu untuk melangkah mendekati sahabatnya yang sejak tadi terus saja duduk melamun di kursi kantin. Nikita benar-benar terlihat seperti seseorang yang sedang banyak pikiran.
"Lo kenapa? Kena marah lagi sama bokap karena kemarin sempat datang ke pesta?" Tanya Febi dengan sebuah tebakan, entah benar ataupun salah.
"Bukan. Ini lebih buruk daripada itu," ujar Nikita dalam balutan ekspresi muram.
"Kenapa? Cerita sama gue, siapa tahu gue bisa kasih solusi yang tepat buat lo," kata Febi terkesan siap untuk mendengarkan apapun yang keluar dari mulut temannya.
"Gue gak percaya lo bakal bisa kasih solusi buat masalah ini. Karena sejak kita jadi BESTie, saran dari lo gak ada yang berhasil," ucap Nikita hanya jujur pada kenyataan.
"Kali ini gue yakin bakal bisa kasih lo solusi terbaik. Percaya sama gue, Nik!" Pinta Febi dengan harapan penuh.
Meskipun tak mempercayai perkataan yang baru saja dikeluarkan dari mulut mungil Febi, Nikita tetap akan bercerita tentang masalah yang kini sedang dihadapinya.
"Gue dijodohin sama seorang cowok yang gak gue kenal," ucap Nikita dan langsung berhasil menarik perhatian dari Febi.
"Seriusan? Lo dijodohin sama siapa? Apa cowoknya lebih ganteng dari mantan lo si Rendy?" Tanya Febi yang tak ragu menyebut nama mantan Nikita waktu dirinya masih berada di bangku SMP.
"Apa lo lagi bercanda?" Protes Nikita sambil diikuti dengan sebuah tatapan mata tajam.
"Berarti lebih cakep si Rendy? Secara kan mantan lo itu ada blesteran luar negeri," ujar Febi yang masih bisa membayangkan sosok tampan dari seorang Rendy yang sekarang ini memilih untuk kembali ke negara asalnya, California.
"Kalau Rendy bukan pecinta sesama jenis, mungkin sampai sekarang gue masih pacaran sama dia," kata Nikita sangat menyayangkan atas hal itu.
Hanya karena Febi menyebut nama Rendy, Nikita jadi teringat akan hari dimana ia mendapati mantannya itu sedang berbincang mesra dengan seorang laki-laki. Oleh sebab itu, tak perlu banyak berpikir Nikita langsung saja meminta putus. Satu-satunya mantan kekasih yang bisa bilang terlalu buruk untuk dikenang.
"Oke. Berarti cowok yang mau dijodohkan sama lo ini cakep atau enggak?" Tanya Febi seakan begitu mempedulikan tentang penampilan.
"Cakep."
"Boleh tahu siapa namanya, siapa tahu gue juga kenal gitu," sekarang Nikita terkesan terlalu penasaran.
"Satya. Katanya sih seorang pebisnis juga, sama seperti bokap gue," ujar Nikita tak ragu untuk memberitahu tentang laki-laki itu.
"Serius?" Dari awal Febi memang sudah tertarik dan malah jadi lebih tertarik ketika mendengar nama seorang pebisnis tersohor di negeri ini disebut. Sepertinya dari kalangan usia manapun, juga mengenal sosok Satya. Memangnya sehebat apa sih laki-laki itu? Kenapa bisa sampai banyak orang yang tahu tentang dia?
"Kenapa? Kenal?" Tanya Nikita bingung akan respon yang diberikan oleh sahabatnya itu.
"Memangnya lo gak tahu siapa dia?" Febi merasa terheran bagaimana bisa sahabatnya tak mengenal seorang sosok tersohor dari negeri ini.
"Enggak," dengan polosnya Nikita menggelengkan kepala.
"Dia itu pemilik dari Damara Group. Lo tahu kan itu termasuk perusahaan terbesar yang ada di negara ini. Perusahaan yang selalu bergerak dalam bidang pariwisata dan kini sedang mencoba untuk mengepakkan sayapnya ke ranah Internasional?"
Sudah dibilang, kalau soal bisnis ataupun perusahaan, Nikita sama sekali kurang tertarik. Terlihat dari ekspresi wajah dia yang hanya tersenyum tipis ketika mendengarkan seluruh penjelasan dari Febi.
"Satya itu cowok paling sempurna. Sudah kaya, mapan, tampan, tak heran kalau banyak perempuan yang begitu ingin jadi kekasihnya," sambung Febi masih terlihat menggebu-gebu untuk memberitahu semua hal yang diketahui tentang Satya.
"Lo termasuk cewek beruntung, Nik! Bisa jadi istrinya itu adalah sesuatu yang paling diimpikan oleh kebanyakan wanita," tukas Febi mencoba membuat sahabatnya agar tak terlalu terbebani soal perjodohan.
"Jadi, lo minta supaya gue menerima perjodohan itu? Lo mau gue nikah sama si Satya yang katanya laki-laki paling sempurna?" Tanya Nikita hanya ingin memastikan.
"Kalau lo gak mau kehilangan kesempatan besar, lo harus terima perjodohannya. Seriusan gue bisa yakin Satya bisa menjamin kehidupan dan masa depan lo," ujar Febi sangat berada di pihak dari laki-laki bernama Satya itu.
Mendengar itu mampu membuat Nikita menghela napas berat. Saran ataupun solusi yang diberikan oleh Febi sama sekali tak bisa untuk diterima. Kenapa? Ya, karena Nikita memang enggan untuk menikah dengan laki-laki bernama Satya itu, terlepas dari semua hal yang dia punya.
"Sepertinya gue memang harus ketemu sama itu cowok untuk membahas sesuatu yang penting," kata Nikita lebih memilih caranya sendiri dibanding mengikuti saran dari sang sahabat.
"Lo beneran harus terima perjodohan ini," tukas Febi yang tak dihiraukan lagi oleh gadis cantik bernama Nikita itu.
.
.
.
Kalau membujuk kedua orang tuanya tak berhasil untuk dilakukan, Nikita berpikir untuk mencoba membuat laki-laki bernama Satya itu berubah pikiran dan berada di pihaknya. Bisa dibayangkan, jika seandainya laki-laki itu juga ikut tak setuju dan menolak, pasti perjodohan ini akan bisa dengan mudah batal.
Sekarang yang membuat Nikita penasaran dan sedikit terheran, kenapa laki-laki bernama Satya itu bisa dengan mudah untuk menerima perjodohan? Padahal menurut apa yang tadi sempat dikatakan oleh Febi, bahwa Satya adalah seorang laki-laki idaman para perempuan dan banyak sekali yang ingin menjadi kekasihnya. Lantas? Diantara banyaknya pilihan, kenapa Satya lebih ingin menikah dengan Nikita?
Setelah mendapatkan nomor pribadi milik lelaki itu dari sang ayah, tanpa berlama-lama lagi Nikita pun segera untuk menghubunginya. Entah apa yang terjadi, tapi saat panggilan itu dijawab, Nikita sama sekali tak mendengar suara maskulin milik lelaki itu. Dia malah mendengar secara jelas suara perempuan. Kenapa ponselnya ada di orang lain.
"Dengan Thania disini. Boleh saya tahu kepada siapa saya sedang berbicara?" Tanya perempuan itu dari balik panggilan dan itu terdengar begitu sopan.
"Nikita."
"Apa ada yang bisa saya bantu nona Nikita?" Tanya perempuan itu ingin tahu.
"Apa benar ini dengan nomor telepon Satya?" Nikita memastikan kalau sekarang ini dirinya tak salah menghubungi orang.
"Benar."
"Kalau boleh tahu kamu siapa ya? Apa mungkin kekasih dari Satya?" Tanya Nikita menelisik curiga.
"Memang banyak orang yang selalu curiga seperti itu, tapi saya bukan kekasih dari Tuan Satya. Saya hanyalah seorang sekertaris yang sudah bertahun-tahun membantu Tuan," kata perempuan itu.
"Sampai memegang ponsel pribadinya?"
"Maaf! Tapi, Tuan sekarang sedang menghadiri rapat. Tugas saya salah satunya adalah menjawab panggilan ketika Tuan sedang sibuk melakukan pekerjaan," perempuan yang katanya hanya sekertaris itu pun menjelaskan panjang lebar.
"Apa kamu memang sedang memiliki kepentingan dengan Tuan?" Tanya perempuan itu mengulang kembali pertanyaan yang belum sempat untuk terjawab itu.
"Iya. Bisakah kamu beritahu saja kalau ada gadis bernama Nikita yang menghubungi? Aku ingin dia menelepon balik," pinta Nikita dengan tegas.
"Baiklah. Nanti setelah Tuan selesai dengan rapatnya, saya akan memintanya untuk menghubungi nona kembali."
"Saya tunggu," tukas Nikita kemudian mengakhiri panggilan itu secara sepihak.
Bersambung...