I Hated My Boss

I Hated My Boss
T U J U H B E L A S



Tak dibuat menunggu terlalu lama, akhirnya semua menu pesanan yang sudah begitu dinantikan oleh Nikita pun sudah berhasil disiapkan. Satya yang duduk pada kursi penumpang pun menerima semua pesanan itu dan langsung memberikannya kepada Nikita.


Dengan perasaan begitu senang, Nikita menerima semua makanan itu dan sedikit terheran ketika tahu kalau yang dibeli hanyalah pesanannya saja. Laki-laki bernama Satya itu sama sekali tidak ikut memesan apapun.


"Lo gak pesan juga?" Tanya Nikita sembari tangannya mulai membuka semua kemasan kertas itu.


"Saya tidak terlalu suka makan junk food," jawab Satya yang berhasil membuat kedua mata Nikita membelalak cukup lebar.


"Terus? Kenapa lo ajak gue kesini?" Tanya Nikita sedikit terheran.


"Bukannya anak seusia kamu memang selalu suka makan di restoran cepat saji?" Kata Satya seperti sebuah jawaban sekaligus bertanya.


"Iya sih, tapi kan kalau gue diajak ke tempat makan lain juga gak masalah. Makan sendirian itu gak enak tahu!" Ucap gadis itu sambil menggigit burger pesanannya.


"Ehmm..." gadis cantik itu kelihatan begitu menyukai burger yang dijual oleh restoran cepat saji ini. Rasanya sangat sesuai dengan seleranya.


"Mau coba gak? Ini enak banget loh," katanya menawarkan satu gigitan kepada laki-laki yang sekarang sedang berfokus pada jalanan.


"Tidak. Kamu makan saja. Saya sudah sejak lama selalu berusaha menghindari makanan cepat saji. Untuk alasan kesehatan saja," ujar Satya yang entah mengapa itu bisa memancing rasa kesal dari dalam diri seorang Nikita.


Nikita yang sejak tadi masih sibuk menyantap sebuah burger pun mulai kehilangan moodnya. Kenapa laki-laki itu kerap kali berhasil menghancurkan mood baiknya? Bukankah akan jauh lebih baik kalau Satya tak berbicara?


"Jadi, secara tidak langsung lo bilang kalau gue gak menjaga kesehatan hanya karena menyukai makanan dari restoran cepat saji?" Tanya Nikita dengan tatapan tajam, seakan ingin sebuah penjelasan dari laki-laki itu.


Mulai merasa kalau ada yang salah dari ucapannya, Satya pun menatap ke arah gadis cantik yang masih tersinggung itu. Apa permintaan maaf harus kembali diberikannya?


"Saya mi—" seakan enggan untuk mendengarkan hal yang sama, Nikita sudah terlebih dahulu mendahului lelaki itu dalam berucap. Bosan kalau terus menerus mendapatkan permintaan maaf.


"Sering melakukannya karena sering juga melakukan kesalahan. Gue beneran gak percaya, kenapa harus lo yang jadi calon suami gue? Diantara jutaan laki-laki yang ada di dunia ini, kenapa harus lo yang dijodohin sama gue?" Timpa Nikita, seakan tak memberikan izin kepada Satya untuk mengucapkan permintaan maaf.


Meskipun mood nya belum benar-benar membaik, Nikita pun tetap akan menyantap semua makanan yang telah dipesan itu. Tak terlalu peduli pada pernyataan Satya tentang masalah kesehatan.


Masih dalam ekspresi wajah kesal, Nikita terus melahap semua makanan itu. Sampai pada saat ia memakan ice cream oreo, mulutnya terlihat begitu belepotan. Satya yang memang tak terlalu suka melihat hal seperti itu pun langsung berinisiatif untuk mengusap ice cream yang ada di pinggiran dari mulut Nikita.


"Maaf, tapi..." tak melanjutkan perkataannya, Satya hanya menunjukan jari jempolnya yang sudah terkena ice cream itu.


.


.


.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari tiga puluh menit, akhirnya mobil sedan hitam yang dikendarai sendiri oleh Satya tiba juga tepat di depan dari garasi sebuah rumah yang dalam beberapa hari ke belakang selalu sering dikunjungi.


Nikita yang memang masih berusaha untuk menghabiskan makanannya itu pun meminta waktu sebentar. Ia akan turun dari mobil setelah memastikan semua makanan yang dipesan tak memiliki sisa apapun.


"Gak sedang terburu-buru kan?" Tanya Nikita tampak santai dengan ayam goreng pedasnya.


"Meskipun terburu-buru, saya juga tak bisa memaksa kamu untuk segera turun. Jadi, silahkan nikmati makanannya!" Kata Satya membiarkan gadis itu tetap ada di mobil.


Selagi menunggu Nikita selesai dengan makanan, Satya pun segera mengambil iPad miliknya, lalu memantau segala berkas yang sejak tadi belum sempat untuk dibacanya. Dalam pekerjaan memang Satya terlihat begitu serius. Bahkan bisa dilihat secara jelas raut wajah tanpa ekspresi yang sekarang sedang menghiasi wajah tampannya.


"Serius banget," gumam Nikita seorang diri ketika melihat wajah laki-laki itu dari kaca spion bagian dalam.


"Kamu sedang berbicara kepada saya?" Tanya Satya yang tak terduga juga bisa mendengarkan gumaman kecil itu.


Hanya mengatakan hal itu, Satya kembali berfokus pada layar iPad nya. Ketika Nikita sedang begitu menikmati makanan cepat saji, tepat di sebelahnya ada seorang laki-laki yang sekarang mulai terlihat lagi memijat kepala. Apa ada hal lain yang lebih memsingkan ketimbang harus berhadapan dengan gadis seperti Nikita?


"Apa lo lagi ada masalah?" Tanya Nikita yang terganggu akan rasa penasarannya sendiri.


"Bukan hal penting. Hanya soal perusahaan," jawab Satya dengan pandangan terus terfokus pada layar iPad nya.


Meskipun belum mendapatkan jawaban yang diinginkan, Nikita hanya bisa menganggukkan kepalanya. Berpura-pura saja untuk memahami, padahal aslinya tak ada satupun yang bisa dipahami dari jawaban singkat itu.


Ternyata selain bersikap galak dan seenak jidatnya sendiri, Nikita juga bisa sangat pengertian. Tahu kalau laki-laki itu sedang memiliki masalah yang harus di urus, Nikita yang belum sepenuhnya selesai dengan makanannya pun memutuskan untuk segera turun dari mobil ini. Ia akan membiarkan laki-laki itu pergi dan mengurus masalah yang katanya soal perusahaan.


"Gue selesai. Lo bisa pergi," kata Nikita sambil berusaha untuk melepaskan sabuk pengaman.


Tak pakai banyak drama, gadis yang saat ini genggamannya sudah dipenuhi oleh banyak sekali bungkus makanan pun mulai melangkahkan kakinya turun. Satya yang masih duduk pada kursi pengemudi pun tak segan untuk berpamitan kepada gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


"Sampaikan salam saya kepada Tuan Ryan. Maaf, karena gak bisa mampir dulu! Banyak hal yang harus saya urus," kata Satya yang hanya sanggup mendapatkan senyuman tipis dari gadis itu.


Sesudah pintu mobil tertutup sempurna, Satya pun bergegas untuk mengendarai mobilnya keluar dari garasi rumah ini. Karena ada sedikit masalah di perusahaan, Satya harus segera menyelesaikannya.


......................


Entah bagaimana bisa terjadi, Satya begitu terkejut saat mendapati kalau manajer produksi yang selama ini dipercayai terlibat sebuah skandal besar dan menghebohkan.


Tak ada yang menyangka kalau Tuan Rio — manajer produksi, yang sudah bekerja selama bertahun-tahun itu diduga melakukan tindakan asusila kepada seorang gadis dibawah umur. Entah mau percaya atau tidak, selama mengenal beliau, pekerjaan yang dilakukan sama sekali tidak pernah mengecewakan.


Masih sambil mengemudikan mobil ini, Satya pun menyambungkan panggilan kepada sang sekretaris yang sekarang sudah terlebih dahulu untuk menangani para wartawan. Hanya karena permasalahan yang seharusnya tak ada sangkut pautnya dalam urusan bisnis, perusahaan Damara sudah dipenuhi oleh para wartawan.


Tak dibuat menunggu pada nada sambung terlalu lama, panggilan itu pun dijawab oleh Thania — sang sekertaris. Satya yang enggan untuk berbasa-basi, langsung saja menuju ke inti permasalahannya.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Satya kepada sang sekretaris.


"Kacau tuan. Banyak investor yang memprotes dan wartawan juga tak ada habisnya datang ke gedung perusahaan," ujar Thania dari balik panggilan ini.


"Apa kamu sudah berhasil menghubungi Tuan Rio?" Tanya Satya ingin tahu keberadaan seseorang yang menjadi sumber permasalahan ini.


"Saya mendapat informasi dari pegawai lainnya, kalau beliau masih ada di ruang kantor perusahaan. Tidak berani keluar karena terhalang wartawan. Itulah alasan kenapa wartawan datang ke perusahaan," jawab Thania.


"Thania? Tolong dengarkan perintah saya baik-baik," pinta Satya yang memiliki solusi untuk menyelamatkan citra perusahaan.


"Iya Tuan. Saya siap untuk mendengarkan dan melaksanakan perintah dari anda."


"Umumkan kepada publik kalau perusahaan kita sudah memecat Tuan Rio. Tindakan asusila sangat tidak dibenarkan dalam aturan manapun," kata Satya dengan tegas.


"Tapi, Tuan?" Ada perasaan ragu dari dalam diri Thania karena mengingat kalau manajer produksi adalah teman dekat dari ayahanda Satya.


"Jangan khawatirkan soal ayah saya! Dia akan jauh lebih marah saat tahu perusahaan hancur ketimbang saya membuang seorang sampah masyarakat," ucap Satya.


"Perusahaan kita harus jauh dari skandal apapun. Saya tak akan memberikan kesempatan ataupun ampunan apapun kepada Tuan Rio," tambahnya.


Sebelum mengakhiri panggilan ini, ada hal penting lagi yang ingin dia katakan kepada sang sekretaris.


"Tolong juga untuk hubungi Tuan Evan. Saya hanya ingin meminta maaf atas perlakuan buruk yang terjadi pada putrinya. Menyesal atas perbuatan mantan manajer produksi yang dengan tega melakukan tindakan asusila kepada putrinya," tukas Satya dan kemudian mengakhiri panggilan ini secara sepihak.


Bersambung...