I Hated My Boss

I Hated My Boss
S E M B I L A N B E L A S



Nikita mengira kalau semua yang akan terjadi hari ini akan sama seperti kemarin, tapi sayangnya perkiraan seperti itu sangat amat salah. Untuk kali pertama sikap yang dilakukan oleh laki-laki bernama Satya tak terlihat seperti biasanya. Entah apa yang terjadi, menurut gadis itu sikap tidak biasa yang dibuat oleh Satya terkesan begitu aneh.


Selama dalam perjalanan menuju ke butik, Nikita terus saja menatap ke arah Satya. Memperhatikan lelaki itu lekat-lekat tanpa kelopak matanya berkedip. Sungguh sikap Satya yang seperti ini sangat membuat Nikita merasa kurang nyaman.


Karena tak ingin terus tenggelam dalam rasa penasaran, Nikita pun mulai mencari tahu penyebab yang bisa membuat laki-laki itu bersikap seperti ini. Pasti ada alasan masuk akal dibalik sikap aneh dari seorang Satya ini.


"Lo kok gak kayak biasanya?" Tanya Nikita sambil terus menatap laki-laki itu.


Satya yang masih mengemudikan mobil ini pun sama sekali tidak memberikan respon apapun terhadap pertanyaan yang diberikan oleh seorang Nikita. Rasanya seakan pikiran dari laki-laki itu sedang berada di tempat lain.


"Hei? Satya?" Panggil Nikita sambil menepuk bahu milik laki-laki itu.


Satya yang merasa ditepuk pun langsung memberikan responnya. Rupanya benar kalau laki-laki itu sedang memikirkan sesuatu sampai melamun seperti ini.


"Lo gak dengerin gue ngomong?" Tanya Nikita menatap ke arahnya dengan kecewa.


"Maaf, tapi kamu bicara apa? Boleh diulang?" Kata laki-laki itu meminta.


"Bisa-bisanya gue ngomong sama tembok," sindir Nikita dan kemudian tetap mau mengulang pertanyaan yang tadi belum sempat terjawab.


"Lo kenapa? Ada masalah?" Tanyanya dan berharap untuk mendapatkan jawaban tepat.


Seakan enggan membagikan masalahnya, Satya lebih memilih untuk tetap menyimpan sendiri. Kini laki-laki itu menatap balik ke arah Nikita sambil tersenyum lebar, seolah tak terjadi apa-apa.


"Saya hanya sedang memikirkan kalau nanti semisal kamu pergi ke Paris, itu berarti saya harus berpisah dengan istri sendiri. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat," ujar Satya entah berbohong atau tidak.


Sebenarnya Nikita tahu kalau kalimat yang baru saja keluar dari mulut Satya merupakan kebohongan. Ingin sekali rasanya mendesak dan memaksanya untuk memberitahu tentang apa yang sedang terjadi, namun Nikita juga enggan terlihat seperti seseorang yang terlalu peduli.


Meskipun masih ada rasa penasaran, Nikita berusaha menahannya. Dia berpura-pura seakan mempercayai apa yang baru saja di katakan oleh laki-laki itu.


"Ya sudah kalau begitu. Gue kira lo ada masalah," kata Nikita kemudian mengarahkan pandangannya menuju ke arah jalanan.


"Oh ya?" Ternyata pembicaraan ini belum selesai. Masih ada hal lain yang ingin dibicarakan oleh Satya. Apakah laki-laki itu berubah pikiran dan berniat untuk memberitahu? Nikita kembali melihat ke arahnya dengan tatapan penuh harap akan ada hal yang mampu membuat rasa penasarannya hilang.


"Kenapa?" Tanya Nikita secepat kilat.


"Cuma mau bilang kalau kemungkinan saya tidak akan bisa menemani kamu di butik," ucap Satya memberitahu terlebih dahulu sebelum lupa.


"Kenapa? Apa lo ada urusan?" Tanya Nikita ingin tahu alasannya.


"Iya. Ada beberapa rapat yang harus saya hadiri. Tapi kamu tenang saja, meskipun saya tidak menemani tetap nanti kalau kamu mau pulang, saya pasti akan mengirimkan sopir untuk menjemput kamu," ujar Satya tak begitu saja meninggalkan tanggung jawab.


.


.


.


Tujuan mereka datang kemari lagi hanya karena Nikita yang katanya ingin ikut membantu dalam pembuatan gaun pernikahan. Tahu kalau sekarang sudah sampai di tempat tujuan, Nikita pun bergegas untuk melepaskan sabuk pengaman yang masih membelit di tubuhnya. Tak butuh banyak waktu dalam melakukan ini, Nikita mulai membuka pintu dari mobil ini dan bersiap untuk turun. Namun, entah apa yang terjadi, secara tiba-tiba kakinya yang telah nampak pada tanah kembali dimasukkan ke mobil. Pintu yang sudah terbuka juga ditutup kembali.


"Satya?" Panggil Nikita yang berhasil mendapatkan sahutan cepat dari laki-laki itu.


"Iya?"


"Gue harap lo gak lagi dalam masalah ataupun sedang bermasalah. Seriusan, gue gak mau karena masalah yang lagi lo hadapi, itu bisa memberikan hambatan pada pernikahan kita," kata Nikita terdengar begitu tegas.


Meskipun pernikahan yang terjadi diantara mereka berdua murni atas dasar sebuah paksaan, Nikita tetap saja ingin kalau acara pernikahannya berjalan dengan lancar dan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.


"Kamu tenang saja. Saya pastikan pernikahan kita tak akan mendapatkan hambatan sama sekali," ujar Satya kedengaran seperti sebuah janji.


Hanya menganggukkan kepala singkat, Nikita pun langsung melangkah keluar dari mobil ini. Tak ada kata pamitan lainnya selain yang barusan terucap oleh mulut. Enggan untuk membuat Nyonya Siska menunggu terlalu lama, Nikita kini sudah mulai berjalan mendekat ke arah pintu masuk butik.


Satya memang bisa dibilang sedang sibuk karena ada banyak hal yang harus ia lakukan, tapi tetap saja sebelum gadis cantik pemilik nama Nikita itu menghilang dari pandangannya, Satya akan tetap menunggu. Bukan tanpa sebab, ia hanya ingin memastikan kalau Nikita benar-benar sampai di butik.


Seusai sosok gadis itu telah tak terlihat lagi, Satya baru mulai menginjak pedal gas dan kembali mengendarai mobil ini melintasi jalanan kota. Tujuannya sekarang adalah kembali ke kantor. Bekerja lagi untuk bisa mengatasi kekacauan yang dilakukan oleh manajer produksi. Sejak berita itu mencuat ke publik, Satya yang paling disibukan. Bahkan tadi malam ia tak memiliki waktu yang cukup untuk tidur dan beristirahat.


Sungguh kalau boleh jujur, hanya karena melepaskan Tuan Evan sebagai salah satu investor, sudah berhasil menghambat pembangunan dari sebuah proyek yang baru berjalan kurang lebih tiga bulan itu. Seperti yang diberitahu, sosok Tuan Evan memiliki peran penting dalam proyek itu. Jika beliau memutuskan menarik dana investasi nya, maka perusahaan lain yang terlibat juga memilih untuk ikut mundur.


Karena hal seperti itu, pembangunan proyek baru yang sudah direncanakan jauh-jauh hari terancam akan gagal dan itu membuat begitu banyak kerugian untuk perusahaan Damara.


Kalau ditanya, apakah Satya menyesal karena sudah memberikan penolakan terhadap keinginan dari Tuan Evan? Tentu saja, jawabannya tidak. Satya akan jauh lebih menyesal ketika dia dengan mudah melepaskan tangan gadis bernama Nikita itu pergi begitu saja.


Pada saat Satya sedang dalam perjalanan menuju ke perusahaan, kembali ia dapatkan sebuah panggilan dari sang sekertaris. Entah apa lagi kali ini, tapi pastinya Satya sudah tahu kalau panggilan yang berasal dari Thania hanya memberitahu tentang perkembangan masalah.


Yakin kalau ini merupakan panggilan penting, Satya pun bergegas untuk menjawab panggilan itu. Tak dibiarkan sang sekertaris menunggu terlalu lama di nada sambung. Karena ia sedang mengemudi, sengaja dipasang earphone untuk lebih memudahkan lagi dalam panggilan.


"Iya kenapa? Saya sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke gedung perusahaan," ucap Satya terlebih dahulu.


"Maaf kalau saya harus mengganggu Tuan, tapi sekarang ini ada berita darurat yang perlu untuk disampaikan kepada anda," kata Thania dari balik panggilan.


"Katakan saja! Saya akan mendengarkannya."


"Karena berita ini sudah heboh dan banyak masyarakat yang tahu, ada lima investor untuk proyek baru mulai memutuskan untuk mengundurkan diri. Alasannya hanya karena mereka tidak mau bekerja sama dengan sebuah perusahaan yang mempekerjakan seorang pelaku tindakan asusila," tutur Thania tak ragu untuk memberitahukan kepada Satya mengenai semua hal yang terjadi.


Mendengar itu, Satya pun seketika memijat kepalanya yang dirasa sudah begitu pusing. Hanya karena satu orang, hampir satu perusahaan menjadi berantakan.


"Sepertinya kita harus merelakan proyek baru itu," ujar Satya setelah memikirkannya semalaman.


Mau bagaimanapun caranya, proyek baru itu tak akan bisa bertahan. Bukan memperbaiki, Satya malah sedang memikirkan cara yang tepat untuk mengulang kembali rencana pembangunan proyek lain. Apa yang sudah gagal hari ini, Satya lebih senang untuk menjadikannya sebagai pelajaran berharga. Mungkin kegagalan hari ini akan membuat perusahaan Damara semakin maju lagi.


Bersambung...