I Hated My Boss

I Hated My Boss
D U A P U L U H D E L A P A N



Setelah bertemu dengan pengacara untuk membahas tentang perjanjian pra nikah, Satya mengajak gadis cantik pemilik nama Nikita itu untuk datang ke salah satu restoran yang ada di kota.


Sebenarnya saat mendapatkan ajakan itu, Nikita sudah berusaha untuk memberikan penolakan dengan alasan ingin langsung pulang dan beristirahat, tapi karena perutnya secara tiba-tiba berbunyi dan menjadi sangat bertentangan dengan ucapannya sendiri yang menyatakan kalau tidak lapar, Satya pun memaksa agar Nikita mau makan dulu sebelum benar-benar diantarkan pulang ke rumah.


Sesuai dengan keinginan Nikita, saat tadi sempat ditanyai oleh Satya, kini mobil sedan yang memiliki lambang simbol empat cincin sudah terlihat berhenti di parkiran dari sebuah restoran berbintang.


Pilihan Nikita memang begitu berkelas. Dari sekian banyaknya restoran yang ada di kota, Nikita memilih untuk mengajak Satya mampir ke restoran ini. Bukan tanpa sebab, hanya saja Nikita merasa kalau tempat makan ini memiliki menu andalan berupa sirloin steak yang begitu enak.


Sebelum Nikita melangkahkan kakinya keluar dari mobil, ia memilih untuk mengajukan pertanyaan kepada seorang laki-laki yang sekarang sedang melepaskan sabuk pengamannya. Nikita hanya ingin tahu kalau Satya tak akan masalah untuk diajak makan di restoran ini.


"Lo gak masalah kan?" Tanya Nikita dan langsung mendapatkan anggukkan kepala dari Satya.


Tanpa ingin berlama-lama lagi, Nikita yang sudah mendapatkan kepastian seperti itu pun tak ragu mulai melepaskan sabuk pengaman, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Masih dengan pakaian kelulusan, Nikita kelihatan begitu percaya diri untuk masuk ke restoran terlebih dahulu, meninggalkan Satya yang masih berada di belakang.


Meskipun Nikita terkesan sebagai seseorang yang begitu suka menghemat uang, tapi untuk masalah makanan enak Nikita terlalu sulit dalam hal mengontrol dirinya. Iya, kalau persoalan mengisi perut, bagi Nikita tidak akan ada kata berhemat.


Karena memang sudah cukup sering datang ke restoran ini, Nikita mulai datang menghampiri salah satu pegawai. Sambil tersenyum tipis, tanpa ragu Nikita mulai memesan sebuah meja kosong.


"Untuk dua orang," kata Nikita dan langsung membuat pegawai itu sibuk mencarikan lokasi meja kosong yang tersedia.


"Karena hari ini restoran sedang cukup ramai dan banyak meja yang sudah dipesan, kami hanya bisa memberikan meja di outdoor. Apa nona tidak bermasalah soal itu?" Tanya si pegawai meminta keputusan serta pendapat dari Nikita.


Memang benar, kalau ingin makan di tempat ini, akan jauh lebih baik untuk memesan terlebih dahulu. Bukankah lebih enak kalau bisa memilih tempat duduk sendiri? Bukan malah ditentukan.


Nikita benar-benar ragu untuk mengambil tempat outdoor. Kenapa? Karena hari terlalu terik untuk berada di luar ruangan. Akan lebih enak kalau tubuhnya berada di dalam ruangan yang memiliki pendingin.


"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Satya langsung, ketika melihat Nikita tak kunjung masuk ke restoran itu.


"Tempatnya hanya ada di outdoor," jawab Nikita menunjukan keberatan diri.


Tanpa bertanya lagi, Satya yang sudah tahu tentang permasalahannya pun tanpa ragu mulai berbicara pada pegawai itu. Sepertinya Satya sudah memiliki solusi untuk mengatasi masalahnya.


"Maaf, tapi bolehkan kami langsung memesan saja?" Tanya Satya yang menimbulkan kebingungan dalam diri Nikita serta pegawai itu.


"Apa tuan ingin mengambil tempat duduknya?" Tanya dari si pegawai yang berspekulasi tentang ini.


"Kami hanya ingin memesan makanannya untuk dibawa pulang. Kalau bisa, tolong bungkus kan satu set hidangan lengkap yang paling rekomendasi dari tempat ini," kata Satya dan mampu membuat raut wajah Nikita berubah jadi kecewa.


"Kok dibawa pulang? Kan gue maunya makan disini?" Tanya Nikita yang tidak ingin untuk membungkus makanan.


"Baiklah. Kalau begitu jangan dibungkus! Sajikan saja di piring, karena kami akan makan di mobil," pinta Satya kepada si pegawai yang saat ini kelihatan cukup bingung antara ingin setuju atau tidak dengan permintaan dari laki-laki pemilik nama Satya itu. Pasalnya hampir tidak pernah terjadi, ada pelanggan yang melakukan tindakan seperti seorang Satya.


"Maaf, Tuan... Tapi—" belum sempat untuk melanjutkan kalimatnya, Satya sudah terlebih dahulu memotong itu. Bukan tanpa sebab, hanya saja ia tak suka kalau keinginannya mendapatkan penolakan.


"Apa saya harus berbicara dengan Tuan Marcel hanya untuk mendapatkan izin?" Tanya Satya menyebut nama pemilik dari restoran ini. Jangan ditanya! Tentu saja, sebagai sesama pebisnis, Satya juga bisa mengenal sosok beliau.


Karena merasa kalau Satya bisa melakukan itu, si pegawai pun tidak memiliki pilihan selain setuju. Setelah pesanannya diterima, Satya mulai menggandeng tangan milik Nikita, kemudian membawa gadis yang akan menjadi istrinya itu masuk kembali ke mobil. Bukankah keadaan di dalam mobi bisa dibilang jauh lebih sejuk? Apalagi di sana juga ada pendingin.


"Apa sampai harus seperti ini?" Nikita sedikit agak terheran.


"Kamu tidak mau duduk di outdoor dan kalau saya ajak pindah ke restoran lain, takutnya kamu tidak akan menyetujuinya. Jadi, ini menjadi solusi satu-satunya," jelas Satya panjang lebar. Sebenarnya hal seperti ini dilakukan ya hanya untuk menuruti kemauan dari Nikita.


Merasa Satya tak melakukan kesalahan apapun, meskipun cara yang dilakukannya terkesan aneh, Nikita sama sekali tidak akan memberikan protes apapun. Bukankah tidak terlalu buruk untuk makan di dalam mobil?


"Apa gue harus pakai sabuk pengaman?" Tanya Nikita hanya bermaksud untuk memecahkan keheningan yang sedang datang menyapa mereka berdua.


"Kita sedang tidak berkendara," ujar Satya sembari memberikan sebuah senyuman tipis.


.


.


.


Tidak dibuat menunggu dalam waktu lama, akhirnya salah seorang pegawai mulai menyajikan makanan sesuai dengan pesanan dari Satya. Untuk hidangan pembukanya, mereka menyajikan salad sayur yang tentu saja akan begitu bagus untuk kesehatan.


Dengan senang hati, Satya mulai menerima makannya itu dan mengambilnya melewati jendela mobil yang sudah terbuka. Terkesan sedikit merepotkan, tapi ini akan menjadi pengalaman baru.


Nikita yang memang sudah merasa lapar, pun mulai menikmati makanan yang sudah tersedia ini. Dia menyantapnya dan tak butuh waktu lama semua yang ada di atas piring sudah berpindah ke dalam perutnya. Kelihatan jelas kalau Nikita begitu kelaparan.


"Pelan-pelan saja. Tidak ada yang akan mengambil makanan kamu," tegur Satya sembari berusaha mengusap sudut bibir milik Nikita yang sekarang ini tengah belepotan dengan mayonaise.


Setelah hidangan pembuka sudah selesai dinikmati, kini adalah saat yang paling dinantikan oleh Nikita. Hidangan utama yang seharusnya akan bisa membuat perutnya merasa kenyang.


Pelayan dari restoran itu pun kembali datang ke dekat mobil, lalu menyajikan sirloin steak yang selalu menjadi favorit dari seorang Nikita. Dengan mata berbinar dan sudah ini. langsung menyantapnya, Nikita terus saja memandangi sirloin steak yang ada di atas piring.


"Apa tingkat kematangannya medium?" Tanya Nikita hanya ingin memastikan saja kalau mereka tidak memanggang dagingnya sampai matang.


"Sesuai dengan yang nona inginkan," tutur pelayan itu terus memberikan senyuman ramah.


Setelah hidangan disajikan, Nikita yang memang merasa belum kenyang karena hanya dengan makanan pembuka pun tak ragu untuk menikmati sirloin steak ini. Sungguh dari banyaknya makanan yang ada hanya ini yang selalu menjadi favoritnya.


"Terima kasih atas makanannya," tutur Nikita kemudian tak ragu untuk memasukan irisan daging super lembut itu ke dalam mulutnya.


"Makan yang banyak. Kalau kurang atau ingin menambah kamu bilang saja," kata Satya yang benar-benar memanjakan seorang Nikita.


Lihatlah apa yang dilakukan oleh Satya sekarang. Bagaimana bisa Nikita menolak dijodohkan dengan seorang laki-laki sebaik dan begitu pengertian seperti Satya? Bukankah sosok Satya termasuk cukup langka berasa di Bumi? Dimana lagi bisa mendapatkan duplikat dari seorang Satya? Sungguh, meskipun masih belum seoenuhnya menikah, tapi Satya sudah kelihatan begitu memanjakan seorang Nikita.


Mungkin kalau Nikita benar-benar berniat untuk melepaskan seorang Satya, ia akan menjadi wanita yang bodoh. Diantara banyaknya para kaum hawa yang selalu ingin menjadi istri dari seorang Satya, kenapa hanya Nikita yang menolaknya?


Bersambung...