
Bukankah Nikita sudah memberikan sebuah peringatan tegas kepada laki-laki pemilik nama Satya untuk tidak terlalu berlebihan dalam memesan makanan hot pot? Tapi, sekarang di atas meja kaca sudah terlihat begitu banyak hidangan serta bahan untuk hot pot. Ketika melihat ke arah meja, rasanya seakan laki-laki itu memang membeli seluruh menu yang dijual oleh restoran hot pot.
Sudah seharusnya kalau Nikita merasa senang karena keinginan untuk bisa makan dan menikmati sajian hot pot terpenuhi, tapi anehnya raut wajah masam malah ditunjukannya. Satya yang mengetahui itu pun malah merasa kalau sajian hot pot pesanannya inilah yang kurang bisa memuaskan seorang Nikita. Apa ada yang salah? Atau kurang? Kenapa Nikita harus memasang raut wajah seperti itu? Padahal kan Satya juga memesan hot pot ini dari restoran langganan dari dia.
"Kenapa? Apa ada yang kurang dari sajian ini?" Tanya Satya tak ingin penasaran ataupun bertanya-tanya seorang diri.
"Tidak ada yang kurang. Sajian ini begitu lengkap sehingga mampu membuat gue ingin marah," ujar Nikita mulai mengatakan hal yang dipermasalahkan.
"Kenapa ingin marah?" Jujur saja kalau Satya masih belum bisa memahami apapun.
Nikita memang berasal dari keluarga yang berada tanpa ada kekurangan apapun. Segala keinginan juga bisa dengan mudah didapatkan olehnya, tapi dibalik itu Nikita sangat menghargai uang. Nikita paham betul untuk menghasilkan uang kedua orang tuanya sangat harus bekerja keras. Maka dari itu jangan heran kalau Nikita bisa begitu mencintai uang. Saat diberikan lima puluh juta secara cuma-cuma oleh Satya, ekspresi wajah dari Nikita langsung tampak begitu bahagia.
Karena begitu mencintai uang, tak heran kalau Nikita merasa kesal ketika melihat ada orang yang bisa dengan mudahnya menghamburkan uang, seperti apa yang dilakukan oleh Satya sekarang. Nikita sangat tidak suka kalau ada sesuatu hal yang mubasir ataupun sia-sia.
Untuk apa Satya harus memesan semua yang ada di menu dan memenuhi meja kaca ini, kalau hanya ada dua orang yang akan menikmati sajian hot pot? Sehebat-hebatnya perut manusia, tak akan ada yang bisa menghabiskan makanan sebanyak ini. Bukannya menikmati sajian itu, Nikita malah terlihat tengah menatap tajam ke arah laki-laki yang sekarang belum bisa menemukan letak kesalahannya.
"Sudah gue bilang untuk tidak memesan terlalu banyak. Kalau seperti ini siapa yang mau menghabiskan? Kenapa lo gak bisa memesan makanan secukupnya aja?" Tanya Nikita dengan nada bicara yang ketus.
"Saya hanya tidak tahu menu apa yang kamu sukai," kata Satya memberikan pembelaan diri sendiri.
Nikita memang masih merasa kesal, tapi daripada terus berdebat dalam argumen yang tidak tahu kapan bisa berhenti, ia memutuskan untuk segera mengambil alat makannya dan menikmati sajian hot pot. Masih dalam balutan ekspresi wajah sama, Nikita mulai mencicipi semua hidangan itu satu persatu. Sekarang yang ada di pikirannya hanya tentang menghabiskan makanan ini tanpa ada sisa.
"Apa sekertaris lo udah makan?" Tanya Nikita secara tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Suruh kesini dan buat dia makan disini. Semua hidangan ini gak akan bisa habis kalau hanya kita yang menyantapnya," pinta Nikita dan langsung membuat seorang Satya memutarkan bola mata gelisah. Bukan tanpa sebab, hanya saja ia sedang mengingat kalau juga memesankan sajian hot pot sama banyaknya dengan yang ada di meja untuk seluruh pegawai di setiap departemen. Bisa dibilang kalau sekertaris nya itu juga sedang menikmati santapan hot pot.
"Kenapa diam?" Tanya Nikita kepada laki-laki yang saat ini terus terdiam seakan sedang ada banyak pikiran.
"Kamu minta saya buat memanggil Thania?" Satya terlihat ragu untuk menuruti permintaan dari Nikita.
"Iya. Suruh dia kemari dan makan bersama kita," kata Nikita yang mau tidak mau harus dituruti oleh laki-laki pemilik nama Satya itu.
Panggilan kembali dibuat oleh laki-laki itu, sampai pada akhirnya Thania yang memang sedang santai menikmati hidangan bersama dengan koleganya pun dikejutkan akan panggilan itu. Kenapa atasannya menghubungi? Apa ada yang salah dengan makanan pesanan? Karena enggan untuk membuat Satya menunggu terlalu lama di nada sambung, Thania pun bergegas untuk memberikan jawaban.
"Iya Tuan? Dengan Thania sendiri yang menjawab. Apa yang bisa saya bantu?" Tanyanya dari balik panggilan tanpa ada sebuah basabasi.
"Datang ke ruangan saya sekarang juga!" Perintah Satya kedengaran begitu tegas.
"Nikita ingin bertemu dengan mu," tukas Satya yang kemudian secara sepihak langsung mengakhiri panggilan ini.
Tahu kalau panggilan ini sudah terputus, Thania terpaksa harus berhenti terlebih dahulu untuk menyantap hidangan hot pot. Tanpa berlamalama lagi, ia pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi meinggalkan para koleganya untuk menuju ke ruangan sang atasan. Thania hanya sedang mencoba untuk memenuhi panggilan itu.
.
.
.
Tak butuh banyak waktu yang terbuang di perjalanan, akhirnya Thania bisa juga tiba tepat di depan pintu dari ruang kerja pribadi sang atasan. Karena enggan untuk membuat Satya ataupun Nikita menunggu terlalu lama, Thania segera mengetuk pintu itu, lalu setelah mendapatkan izin ia pun mulai berjalan masuk ke ruangan itu.
Saat sudah berada di dalam, sambutan hangat dibuat oleh gadis yang tadi sempat ditegur olehnya karena kehadirannya itu sangat menggu waktu tidur dari sang atasan. Karena mereka berdua bisa dibilang sebagai orang penting, Thania kelihatan tak berani untuk menatao ke arah keduanya. Terus saja menundukkan kepala, lebih suka melihat pada keramik lantai.
"Thania? Mau makan bareng kita gak?" Tanya Nikita yang tak ragu memberikan srbuah ajakan kepada sekertaris itu.
Mendapatkan ajakan seperti ini mampu membuat Thania terbatuk bahkan sampai tersedak. Bukan tanpa sebab, hanya saja sebelum kemari ia juga sudah menyantap sajian hot pot, sama seperti yang ada di meja. Dalam sorot mata ragu, Thania mulai melihat ke arah sang atasan yang saat ini sedang memberikan isyarat lewat mimik wajahnya, seakan ingin meminta agar Thania mau menerima ajakan yang diajukan oleh NIkita.
"Kenapa hanya diam dan berdiri? Cepatlah duduk! Kita makan sama-sama," ajak Nikita lagi sambil tangannya mulai bergerak mengambil makanan untuk Thania.
Dengan ragu-ragu, Thania pun mengambil tempat duduk persis di sebelah dari gadis yang menjadi calon istri dari atasannya itu. Saat duduk dan diberikan makanan sanggup membuat Thania menelan salivanya sendiri. Andai saja tadi dia belum banyak menyantap hot pot, pasti sekarang ini masih ada ruang pada perutnya.
"Terima kasih atas makannya," kata Thania yang sudah mulai memasukkan kembali makanan ke dalam mulutnya.
"Makan yang lahap. Anggap saja ini adalah cara kita untuk saling mengakrabkan diri," tutur Nikita seakan memberikan sindiran soal kejadian tadi, dimana ia harus mengalami pengejaran hanya karena ingin menemui Satya.
"Saya pasti akan memakannya dengan lahap," ujar Thania dan langsung membuat Nikita mengusap pundak si sekertaris dengan lembut.
"Makanan ini harus dihabiskan dan tak boleh ada sisa sama sekali. Selagi masih bisa makan, kita harus benar-benar menghormati makanan," tutup Nikita yang kemudian mendapatkan tawa kecil dari Thania. Bukan tanpa sebab, hanya saja kalau diajak untuk menghabiskan semua makanan yang ada di meja, perut Thania juga tak akan sanggup melakukannya. Apalagi sebelum ini, ia juga sudah se,pat memakan hot pot dengan koleganya.
"Sekali lagi terima kasih atas makanannya," tutur Thania tak ada habisnya berterima kasih.
"Ucapkan itu kepada bos mu. Dia yang membuang banyak uang hanya untuk membeli semua ini."
Bersambung...