
Tak membuang banyak waktu untuk di perjalanan, akhirnya mobil sedan yang ditumpangi oleh Satya dan juga Nikita terlihat sudah berhenti tepat di parkiran dari sebuah toko gelato. Nikita yang memang sudah begitu ingin menikmati gelato pun bergegas untuk melepaskan sabuk pengamannya, lalu membuka pintu mobil dan turun mendahului Satya.
Seperti seorang anak kecil, Nikita terlihat mulai berlari memasuki toko gelato itu meninggalkan Satya yang baru saja turun dari mobilnya. Dari banyaknya hal yang disukai oleh Nikita, gelato dan ice cream adalah selalu menempati urutan pertama dari daftar kesukaannya.
Nikita yang kini telah berada di dalam toko gelato itu pun tak ragu untuk langsung meminta kepada salah satu karyawan agar bisa memberikan sampel gelato yang paling best seller dari toko ini.
"Boleh cobain dulu gak?" Tanya Nikita dengan pandangan yang terus terfokus pada banyaknya rasa gelato yang ada di lemari pendingin.
"Sure," sambil tersenyum ramah, karyawan itu pun memberikan izinnya kepada Nikita agar bisa mencoba terlebih dahulu sebelum membeli.
"Bisa minta rekomendasi? Paling best seller mungkin?" Tanya Nikita dan langsung dituruti oleh karyawan itu.
Menurut karyawan yang sudah bekerja di sini, rasa matcha, kacang pistachio dan juga dark chocolate Belgium adalah yang paling diincar oleh kebanyakan pelanggan.
"Silahkan di coba, nona," kata karyawan itu sudah memberikan sampel berupa tiga varian rasa paling laku dari toko gelato ini.
Dengan wajah tersenyum yang penuh semangat, Nikita pun mulai mencoba satu per satu sampel gelato. Entah mengapa, setelah mencicipi sedikit Nikita malah merasa kesulitan dalam hal memilih. Iya, semua rasa yang direkomendasikan oleh karyawan itu semuanya enak.
Satya yang baru bergabung dan kini telah berdiri persis di sebelah gadis itu pun mulai melemparkan pertanyaan yang meminta agar Nikita mau membuat pilihan rasanya.
"Gimana? Rasa apa yang kamu paling sukai?" Tanya Satya sambil menatap ke arah gadis itu.
"Semuanya enak. Sumpah deh, gue sampai bingung harus menentukan pilihan yang mana," kata Nikita masih sambil berpikir.
"Apa tuan juga mau mencoba?" Tanya Karyawan itu memberikan penawaran yang sayangnya langsung mendapatkan penolakan dari Satya.
"Tidak perlu."
"Apa kamu mau membeli tiga varian rasanya?" Tanya Satya kepada gadis yang saat ini sedang kebingungan untuk memilih.
"Tiga rasa ini boleh di mix gak?" Nikita melemparkan pertanyaan kepada karyawan itu.
"Boleh tapi, harganya nanti juga berbeda," ujar Karyawan itu yang langsung memunculkan sebuah tawa kecil.
"Eh, jangan terlalu khawatir soal harganya! Cuma buat gelato gak mungkin membuat laki-laki yang ada di sebelahku bangkrut," kata Nikita sedikit menggoda karyawan itu.
Mendengar perkataan seperti itu, mampu membuat karyawan toko gelato pun ikut tertawa kecil. Semua kalimat yang baru saja keluar dari mulut Nikita bisa dibilang 100 persen benar. Harga gelato tak sebanding dengan banyaknya angka nol yang ada di rekening dari laki-laki bernama Satya.
"Maaf! Saya lupa kalau Tuan Satya adalah seorang pebisnis tersohor yang ada di negara ini," kata Karyawan itu sambil tersenyum tipis.
Tanpa banyak berkata lagi, Karyawan toko gelato ini pun mulai melakukan tugasnya untuk meracik gelato pesanan Nikita. Sekarang Nikita benar-benar sudah tidak sabar, ingin mencoba tiga rasa gelato yang katanya paling best seller itu.
"Selamat menikmati, nona," kata Karyawan itu yang akhirnya telah selesai meracik tiga rasa gelato dalam satu tempat.
"Makasih banyak," ucap Nikita dengan senang hati menerima cup gelato pesanannya.
Satya yang memang hanya bertugas untuk membayar pun tak ragu mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya. Ia pun memberikannya kepada karyawan toko, tapi tidak tahu kenapa langsung dapat penolakan.
"Maaf tuan, tapi toko kami belum bisa melakukan transaksi dengan kartu American Express," ucap karyawan itu.
"Ah begitu. Hari ini saya sedang tidak membawa banyak kartu ataupun uang cash. Jadi, bisakah aku membayarnya dengan uang digital?" Tanya Satya.
"Tentu saja bisa."
Merasa tak ada hubungannya dengan bayar membayar, setelah mendapatkan gelato pesanannya, Nikita pun tidak ragu untuk langsung menuju ke arah tempat duduk yang memang disediakan oleh toko gelato ini. Selagi menunggu Satya menyelesaikan pembayaran, Nikita akan duduk santai disini sembari menikmati gelato yang begitu enak ini.
Setelah menyelesaikan proses pembayaran untuk gelato yang kini sedang dinikmati oleh gadis itu, Satya pun dengan segera melangkahkan kakinya mendekat kepada Nikita. Tanpa meminta izin apapun, Satya mulai menempatkan dirinya duduk pada sebuah kursi persis berhadapan dengan gadis itu.
"Makasih ya," kata Nikita tiba-tiba dan sanggup membuat Satya merasa kaget. Tidak menyangka saja kalau selain bersikap galak kepada dirinya, Nikita juga bisa mengucapkan terima kasih.
"Bisa ulang sekali lagi? Rasanya saya ingin mengabadikan momen dimana kamu mengucapkan terima kasih," ucap Satya yang sudah bersiap merekam dengan ponselnya.
"Idih, berani bayar berapa? Kok enak banget nyuruh-nyuruh," Nikita enggan untuk menuruti permintaan dari laki-laki itu.
Karena dirasa sekarang ini bukan waktu untuk berbincang tentang hal yang kurang serius, Nikita yang sudah hampir menghabiskan setengah cup gelato pun mulai menyampaikan maksud dan tujuannya, kenapa meminta agar ditemui oleh Satya. Ini bukan semata-mata karena ia sedang ingin menikmati gelato.
"Gue cuma mau kasih tahu lo, soal rencana kuliah ke Paris setelah kelulusan," ujar Nikita tanpa adanya basa-basi sama sekali.
"Lalu?"
"Jadi gini, gue mau bilang serius dan lo harus dengerin baik-baik!"
"Iya, katakan saja dan saya akan mendengarkannya."
"Kemarin gue udah sempat buat bahas mengenai masalah ini sama ayah, tapi dia memilih untuk tidak setuju," adu Nikita yang masih mengingat tentang penolakan dari sang ayah soal rencana berkuliah di Paris.
"Gue mau kasih penawaran hebat buat lo dan gue benar-benar berharap kalau lo mau setuju," kata Nikita yang malah membuat Satya merasa penasaran.
"Katakan!"
"Gue bakal setuju sama perjodohan ini, asalkan lo mau kasih izin supaya gue bisa kuliah ke Paris," ucap Nikita dengan penuh harap.
"Seharusnya ayah dan ibu merencanakan kalau kita akan tunangan dulu, tapi dalam penawaran ini, gue mau nikah dulu sama lo sebelum pergi ke Paris," sambung Nikita menyampaikan niatnya dengan benar.
"Menikah dulu?"
"Iya. Kalau kita menikah, gue kan otomatis udah jadi tanggung jawab lo dan segala keputusan soal gue juga jadi ada di tangan lo," ucap Nikita yang perlahan-lahan mulai bisa dipahami.
"Lalu?"
"Gue mau nikah sama lo secepatnya dan setelah itu tolong kasih izin supaya gue bisa kuliah di Paris,"
"Gue beneran gak mau kalau dipaksa sama ayah dan ibu buat kuliah di Australia apalagi diminta untuk mengambil jurusan bisnis," Nikita memberitahu segalanya kepada Satya.
"Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu ingin sekali kuliah di Paris?" Tanya Satya lebih tertarik mendengar alasan dari gadis itu. Pasti ada alasan kenapa ia bisa keras kepala seperti ini.
"Karena semua impian dan cita-cita gue ada di Paris," jawab Nikita dengan begitu tegas.
"Please, tolong bantu gue sekali ini aja Satya!" Entah kemana perginya harga diri seorang Nikita, tapi yang jelas dari sorot matanya ia tak memiliki keraguan sedikitpun untuk memohon kepada lelaki bernama Satya itu.
Satya sudah mendengar semua permintaan yang paling diinginkan oleh gadis bernama Nikita itu, tapi sayangnya untuk sekarang Satya belum berani memberitahukan soal keputusannya. Untuk hal seperti ini, ia tetap harus membicarakan dengan Tuan Ryan.
"Lo gak setuju ya?" Tanya Nikita merasa terheran karena laki-laki itu lebih memilih untuk diam.
"Gelato nya dihabiskan dulu. Kalau mencair sudah tak enak lagi untuk dimakan," Satya mencoba mengalihkan pembicaraan kepada hal lain.
"Rupanya lo juga ikut gak setuju," kata Nikita memasang raut wajah muram. Semangat dan senyuman yang sejak tadi dibuatnya tampak telah sirna dari pandangan.
Bersambung...