
Tak ingin terlalu lama berada di dalam mobil, Nikita yang kini telah selesai mengeluh pun mulai melepaskan sabuk pengamannya, lalu melangkahkan kaki keluar dari mobil ini. Dengan terburu-buru, gadis itu pun berjalan memasuki butik meninggalkan Satya yang masih disibukan dengan sebuah panggilan bisnis dari salah seorang klien penting.
Karena kebetulan ini memang merupakan butik langganan dari ibunda Nikita, jadi tidak heran kalau kedatangan gadis itu langsung mendapatkan sambutan hangat dari sang pemilik butik. Memang benar adanya kalau Nyonya Siska sudah sangat menantikan kehadiran dari gadis itu bersama calon suami — Satya.
"Akhirnya datang juga. Senang karena bisa melihat kamu lagi disini," tutur Nyonya Siska yang diikuti dengan pelukan singkat ke tubuh gadis itu.
Mendapatkan pelukan sambutan dari beliau berhasil mengembangkan senyuman bulan sabit di bibir Nikita. Seperti halnya Nyonya Siska, gadis itu juga merasa senang karena bisa datang kembali ke butik yang memang sudah cukup lama tak dikunjungi.
"Saya dengan dari ibu kamu, kalau kamu akan datang bersama calon suami, tapi kenapa saya tak melihat siapa-siapa? Kamu tidak datang ke sini sendirian kan?" Tanya Nyonya Siska yang ternyata sejak tadi mencari seseorang yang masih sibuk dengan pekerjaan.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu sanggup membuat Nikita tersenyum singkat sambil tak lupa untuk menggelengkan kepada pertanda menyalahkan perkataan yang baru saja keluar dari mulut nyonya Siska. Tentu saja Nikita tidak datang sendirian.
"Ada kok. Orangnya masih di luar, sedang melakukan panggilan penting," ujar Nikita memberitahu yang tak lama, seorang laki-laki dengan setelan jas rapi mulai terlihat memasuki pintu masuk dari butik ini. Nyonya Siska yang melihat sosok lelaki itu pun langsung bertanya kepada salah seorang pegawainya. Apakah hari ini ada pelanggan lain selain Nikita dan calon suaminya?
"Elsa, apa dia juga menjadi pelanggan kita?" Tanya Nyonya Siska dalam sorot mata penuh ketertarikan. Tak disangka kalau ada pelanggan setampan itu yang datang ke butiknya ini.
Belum sempat mengeluarkan jawaban apapun, Nikita sudah terlebih dahulu memberikan jawaban atas pertanyaan yang terlontar dari mulut Nyonya Siska.
"Dia Satya, calon suami aku," kata Nikita seakan sedang mendeklarasikan tentang hubungannya.
Agar terlihat seperti pasangan yang harmonis dan romantis di hadapan pemilik serta beberapa pegawai dari butik ini, Nikita tak ragu untuk menggandeng mesra lengan berotot milik Satya. Terlihat dengan jelas, pada saat melakukan ini, Nikita sangat santai tanpa adanya rasa canggung sama sekali. Bahkan gadis itu tersenyum sampai menyipit kepada sosok Satya.
"Sayang, kenalin ini Nyonya Siska. Pemilik sekaligus designer yang akan membuat gaun pernikahan kita," ucapan Nikita yang seperti ini berhasil membuat seorang Satya terkejut sampai harus menelan saliva nya sendiri. Apa sekarang dirinya tak sedang salah dengar?
"Kamu panggil saya apa?" Tanya Satya hanya bermaksud untuk memastikan telinganya masih berfungsi dengan baik.
"Sayang. Apa ada yang salah?" Nikita benar-benar terlihat seperti seseorang yang bisa tampak biasa saja setelah mengatakan panggilan itu.
Nyonya Siska yang memang hanya menilai dari kelihatannya saja pun menganggap kalau cara Nikita memanggil calon suaminya itu begitu amat menggemaskan. Bukan hanya Satya yang dibuat salah tingkah, tapi juga Nyonya Siska merasakan hal yang sama. Bagaimana bisa pasangan yang dijodohkan bersikap begitu manis?
"Sepertinya kalian akan menjadi pasangan yang langgeng," ujar Nyonya Siska dan kemudian mengajak mereka berdua untuk melihat-lihat semua koleksi gaun pengantin yang ada di butik ini.
Karena Nikita begitu menyukai semua hal yang berbau fashion ataupun designer, daripada Satya, ia yang terlihat lebih begitu semangat. Kedua mata cantik milik gadis itu tampak terbuka lebar dan berbinar ketika melihat semua koleksi gaun itu. Bahkan sampai bisa membayangkan kalau gaun rancangannya bisa juga terpajang nanti, ketika ia sudah memiliki butik sendiri.
"Nikita?" Panggil Nyonya Siska menyadarkan gadis itu dari bayangan masa depan yang secara perlahan-lahan akan mulai tercapai.
"Iya?"
"Boleh aku berikan sedikit design pakaiannya? Sepertinya bayangan gaun yang ku inginkan tak bisa hanya sekedar digambarkan menggunakan kata-kata," ujar Nikita dan dengan cepat bisa disetujui oleh pemilik dari butik ini.
Seperti seseorang yang memilik tempat ini, Nikita tak ragu untuk menerima selembar kertas kosong serta alat tulis yang diberikan oleh Nyonya Siska, lalu menempatkan dirinya duduk pada sebuah sofa yang terdapat di ruang tunggu.
Bak seperti seorang profesional, Nikita mulai mencorat-coret kertas itu, menggambar model gaun yang ingin dikenakan nanti, pada saat acara pernikahannya. Sebagai seorang pemilik sekaligus designer dari butik ini, Nyonya Siska sangat-sangat dibuat terpukau oleh keahlian Nikita dalam membuat design untuk gaunnya. Tak hanya Nyonya Siska, Satya yang masih berdiri di sana juga tidak menyangka kalau gadis itu bisa begitu lihai. Rasanya sekarang Satya jadi tahu kenapa Nikita selalu memaksakan diri untuk bisa berkuliah di Paris.
Tidak memerlukan waktu yang lama, hanya cukup dua puluh lima menit, akhirnya design gambaran gaun pernikahan yang dibuat oleh Nikita jadi juga. Dalam senyuman puas, ia menyerahkan gambarannya itu kepada Nyonya Siska. Tak hanya membuat gambar gaun untuk diri sendiri, Nikita juga membuatkan model setelan yang cocok dikenakan oleh Satya.
"Aku selalu suka yang sederhana, tapi masih bisa kelihatan elegan saat dikenakan," tutur Nikita memberitahu dengan jelas.
Nyonya Siska yang telah menerima gambaran design gaun pengantin dari Nikita pun hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum cukup lebar. Puas karena apa yang digambar oleh Nikita dalam waktu singkat itu ternyata juga sesuai dengan yang Nyonya Siska bayangkan.
"Mungkin akan selesai dalam waktu satu minggu," kata Nyonya Siska memberitahu kepada Nikita mengenai batas waktu pengerjaan gaun.
"Ehm, kalau boleh bisakah saat pengerjaannya aku juga ada disini? Rasanya ingin memantau secara langsung gaun untuk pernikahan sendiri. Memastikan kalau semua sesuai dengan apa yang aku inginkan," ucap Nikita memasang tatapan dengan penuh harap.
Permintaan yang seperti ini memang kesannya sedikit berlebihan serta seakan membuat Nikita terlihat tak mempercayai Nyonya Siska serta pegawainya untuk membuat gaun pengantin sesuai design yang dibuatnya, namun hanya saja diri Nikita begitu ingin memberikan bantuan.
"Siapa tahu gaun itu bisa selesai dalam waktu kurang dari seminggu?" tambah Nikita dan langsung mendapatkan senyuman tipis dari Nyonya Siska.
"Sepertinya kamu memang begitu tertarik pada dunia fashion dan designer ya?" Tanya Nyonya Siska yang kini telah merangkul akrab pundak dari gadis itu.
"Sangat tertarik," kata Nikita memasang ekspresi wajah penuh dengan semangat.
"Ya sudah kalau begitu, besok kamu datang kesini. Aku akan memberimu kesempatan untuk mengerjakan gaun pernikahanmu sendiri," ujar Nyonya Siska begitu baik.
Mendengar hal seperti itu mampu membuat Nikita berteriak kegirangan, bahkan sampai tak menyadari kalau dirinya sekarang sudah memeluk tubuh kekar milik laki-laki bernama Satya.
Mendapatkan pelukan secara tiba-tiba, hanya bisa membuat Satya bertingkah canggung. Iya, terlihat tersenyum kaku sambil menepuk pelan punggung dari gadis itu. Memberitahu kalau pelukan seperti ini tak seharusnya terjadi.
"Saya juga ikut senang mendengarnya," ucap Satya yang berhasil membuat gadis cantik itu tersadar dan mulai melepaskan pelukannya.
"Maaf!" Gumam Nikita dengan suara kecil, lalu kembali berteriak senang. Tak ada yang jauh lebih menyenangkan dibanding izin dari Nyonya Siska.
Bersambung...