I Hated My Boss

I Hated My Boss
E N A M



Masih merasa sedikit kesal karena keputusan tentang perjodohan yang dibuat oleh sang ayah, Nikita yang kini telah ada di dalam kamar tidurnya pun tak segan mulai melakukan panggilan kepada sang ibunda.


Bukan tanpa alasan, Nikita hanya sedang mencoba mencari dukungan dari ibunya. Siapa tahu kan tiba-tiba untuk masalah ini, ibunya mau membantu dirinya dan memilih untuk menentang keinginan dari sang suami soal perjodohan. Nikita harus mencobanya agar tahu hasilnya bagaimana.


Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi untuk merasa kesal, Nikita pun bergegas untuk mengambil ponselnya, lalu mulai mencari nomor sang ibunda. Setelah menemukannya, Nikita pun langsung menyambungkan panggilan. Selagi menunggu, Nikita terus saja berharap kalau ibunya mau mendukung untuk menentang perjodohan ini. Ya, meskipun sudah jelas tadi dikatakan Tuan Ryan, kalau istrinya juga telah setuju untuk menikahkan sang putri dengan Satya.


Hanya butuh beberapa detik di nada sambung, akhirnya panggilan dari Nikita ini dijawab juga oleh sang ibunda. Karena merasa tak punya waktu untuk basa-basi, Nikita tanpa ragu langsung mengatakan maksud dan tujuannya menghubungi.


"Kenapa ayah tiba-tiba menjodohkan ku?" Tanya Nikita dengan nada bicara yang sedikit kesal.


"Oh jadi, ayah kamu sudah memberitahu. Ibu pikir hal itu akan diberitahu nanti, ketika ibu sudah ada di rumah. Ayahmu itu memang tidak sabaran jadi orang," kata ibunda Nikita dari balik panggilan ini.


"Apa ibu mendukung soal perjodohan itu?" Tanya Nikita berusaha untuk hati-hati.


"Tentu saja. Bagaimana ibu bisa menolak lelaki baik seperti Satya? Di dunia ini sangat sulit untuk menemukan lelaki seperti Satya. Ayahmu saja tidak bisa dibandingkan dengan Satya," ucap sang ibunda yang ternyata sangat berada di pihak dari laki-laki itu.


Hanya dengan mendengarkan penuturan barusan, Nikita menjadi yakin sekaligus ragu kalau ibunya akan berpindah pihak. Sekali beliau menyukai sesuatu hal, maka akan sangat sulit untuk berpindah, meskipun Nikita menangis darah, ibunya akan tetap mendukung perjodohan ini karena sudah terlalu jatuh cinta pada sosok Satya.


"Kalau begitu, kenapa bukan ibu saja yang menikah dengan Satya?" Ucap Nikita terdengar sinis dan hanya bermaksud untuk bercanda.


"Kalau ibu ada kesempatan dan bisa, pasti akan sangat ingin menjadi istri dari Satya. Kamu tahu kan kalau sekarang di hati ibu hanya ada ayahmu satu-satunya? Ya meskipun, terkadang ayahmu itu terlalu cuek dan kurang pengertian, tapi ibu masih sangat menyukainya," ungkap sang ibunda panjang lebar.


Meskipun hasilnya sudah terlihat, Nikita yang memang tampak seperti seorang pejuang pun tak ragu untuk terus mencoba. Memang terkesan sulit, tapi Nikita sama sekali belum mau menyerah.


"Ibu benar-benar tidak mau membantuku?" Tanyaku yang kurang jelas.


"Membantumu? Apa kamu sedang dalam masalah, sayang?" Wajar kalau sang ibunda tak mengerti akan maksud dari pertanyaan yang barusan terucap dari mulut Nikita.


"Iya. Perjodohan itu membuatku seperti berada dalam masalah," ujar Nikita hanya berusaha berkata jujur tanpa maksud apa-apa.


"Memangnya ada apa, sayang? Kamu tidak setuju dengan perjodohannya?" Tanya sang ibunda seakan memberi kesempatan bagi putrinya untuk mengeluh.


"Bu, bisakah perjodohan itu dibatalkan saja? Aku benar-benar masih belum siap untuk suatu pernikahan. Masih ada impian yang harus aku gapai. Aku tak mau kalau pernikahan menjadi penghalang untuk impian itu," kata Nikita yang tak ragu mengungkapkan segalanya kepada sang ibunda lewat panggilan telepon ini.


"Apa ayah kamu hanya memberitahu setengahnya saja? Sayang, kamu hanya dijodohkan bukan berarti harus menikah cepat," kata sang ibunda yang sedikit terkejut ketika mendapati putrinya itu salah mengerti dengan rencana perjodohan.


"Lalu? Bukankah kebanyakan perjodohan akan selalu berakhir ke pernikahan?" Tanya Nikita ingin tahu yang sebenarnya.


"Iya memang benar, tapi kamu masih punya banyak waktu untuk memikirkan mau melanjutkan perjodohan itu atau tidak," kata sang ibunda dari balik panggilan ini.


"*Jadi begini sayang, untuk sekarang ibu dan ayah hanya akan meminta mu untuk bertunangan saja dengan Satya. Selagi kamu mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, kamu bisa saling mengenal dengan Satya dan memutuskan apa mau melanjutkan sampai ke jenjang pernikahan atau tidak,"


"Jadi? Hanya tunangan? Tapi, tetap saja aku tak mau bertunangan dengan laki-laki itu. Aku hanya enggan terlibat dalam sebuah hubungan. Ibu tahu kan kalau itu akan merepotkan? Aku takut hanya karena hubungan, aku jadi gak bisa bebas menikmati masa muda," ucap Nikita memberitahu masalah yang lain.


"Untuk itu, ibu pikir Satya bukan tipe orang yang akan membuatmu kesulitan menikmati kebebasan," tutur sang ibunda dari balik panggilan ini dan kedengaran begitu yakin.


"Tapi, Bu—" merasa sudah cukup mendengarkan keluhan dari sang putri, beliau memutuskan untuk memotong langsung ucapan yang mau dikatakan itu.


"Semuanya sudah kami atur dengan baik. Ibu yakin rencana masa depan itu tak akan membuatmu kesulitan. Selain menjodohkan mu, ayah dan ibu juga telah memilihkan universitas terbaik untuk kamu. Universitas bisnis yang ada di Australia sepertinya tak akan masalah."


Ketika mendengar ini, Nikita berhasil dibuat terkejut. Universitas bisnis di Australia? Impian yang sudah diinginkan oleh Nikita arahnya bukan kesana. Sepertinya kalau soal urusan pendidikan serta cita-cita, Nikita harus lebih tegas lagi.


Tak memberikan jawaban apapun, Nikita dengan sengaja mematikan panggilan yang masih tersambung itu secara sepihak. Dengan ekspresi wajah kelihatan sedikit kesal, Nikita mulai keluar dari kamar lalu menuruni satu persatu anak tangga di rumahnya secara terburu-buru.


"AYAH!!!" Teriak Nikita memanggil sang ayah yang ternyata masih betah untuk mengobrol dengan laki-laki bernama Satya, di ruang tamu rumah ini.


Mendengar panggilan yang terkesan tak santai ini, mampu membuat dua laki-laki itu menoleh dan melihat ke arah Nikita. Entah apa yang terjadi, mereka berdua juga bertanya-tanya.


"Kamu apa-apaan sih, sayang? Kenapa harus pakai berteriak seperti itu?" Tanya sang ayahnya bingung akan sikap buruk yang dilakukan oleh sang putri.


"Ayah yang apa-apaan!" Kata Nikita tampak kesal.


"Niki?" Panggil laki-laki itu yang dirasa ingin ikut campur.


"Diem! Gue gak lagi bicara sama lo," ketus Nikita kepada laki-laki yang akan menjadi calon suaminya itu.


Tahu tindakan yang dilakukan oleh putrinya terhadap Satya sangat amat tidak benar, Tuan Ryan pun seketika langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu menempatkan dirinya berhadapan langsung dengan putri tunggalnya itu.


"Siapa yang ajarin kamu bicara kasar seperti itu!" Ucap sang ayah dengan nada sedikit meninggi.


Dengan tatapannya yang tampak tajam, Nikita mulai melirik sekilas ke arah laki-laki bernama Satya yang kini telah diam membisu. Karena kondisinya sudah seperti ini, Nikita pun tak ragu untuk mengambil kesempatan dan mengatakan semuanya.


"Aku tidak akan menerima perjodohannya dan juga tak mau melanjutkan pendidikan di universitas bisnis!" Ujar Nikita terdengar begitu tegas.


"Nikita sudah punya impian sendiri dan ayah tak memiliki hak untuk ikut campur ataupun menghalangi diriku dalam mencapai itu. Ayah tahu kan kalau aku begitu ingin menjadi seorang designer bukan pebisnis?" Tambah Nikita yang kedengaran sudah mulai muak diatur-atur.


"Sekali ini saja. Tolong biarkan aku memilih! Dan berhenti menganggap ku seperti anak kecil yang bisa diatur sesuka hati. Now, I'm eighteen years old," pungkasnya dalam balutan rasa kesal yang menggebu-gebu.


Bersambung...