I Hated My Boss

I Hated My Boss
D U A P U L U H T U J U H



Setelah semua acara kelulusan itu selesai, Nikita diminta oleh kedua orang tuanya agar mau ikut satu mobil dengan Satya. Awalnya memang Nikita berusaha menolak, karena merasa enggan, tapi setelah laki-laki pemilik nama Satya itu memberitahu kalau ada hal penting yang ingin dia katakan, Nikita pun memiliki alasan untuk menerima ajakan dari dia.


Masih dengan menggunakan kebayanya, Nikita pun tak segan untuk masuk ke mobil sedan yang memiliki lambang empat cincin itu. Seperti biasanya, dia mengambil tempat duduk di kursi penumpang, persis bersebelahan dengan Satya yang sekarang sudah bersiap untuk mengemudikan mobil ini.


"Sudah pakai sabuk pengaman?" Tanya Satya yang langsung mendapatkan sebuah anggukan kecil dari Nikita.


Setelah memastikan kalau semua kelengkapan sudah terpasang dengan benar, Satya pun mulai mengemudikan mobil ini melintasi jalanan kota yang kelihatan begitu ramai lancar.


Nikita yang pandangannya mulai dilihatkan dengan gedung-gedung bertingkat, pun merasa tidak bisa menahannya lagi. Bukankah sekarang waktu yang tepat untuk mengatakan hal penting? Kenapa Satya malah diam saja dan sibuk mengemudi? Sebelum mobil ini berhenti di halaman rumahnya, Nikita yang harus terlebih dahulu bertanya.


"Jadi? apa yang mau lo bicarakan? Hal penting seperti apa?" Tanya Nikita sembari menoleh ke arah laki-laki yang kini persis ada di sebelahnya.


"Tunggu sampai kita sampai," ujar Satya yang meminta agar Nikita bersabar sedikit lagi.


Awalnya memang mobil ini melaju dengan mengekor di belakang mobil yang dikemudikan oleh Tuan Ryan, tapi karena hal penting itu, Satya pun mulai mengambil jalur yang berbeda. Entah ingin dibawa kemana, Renjani harus tetap bersabar. Kalau boleh menduga, sepertinya Satya akan menuruti permintaan dari Nikita. Dimana gadis itu sempat meminta kalau dalam waktu lima tahun, Satya diharuskan untuk menceraikannya.


.


.


.


Setelah mengemudi hampir kurang empat puluh lima menit, akhirnya mobil sedan hitam ini berhenti tepat di halaman luas dari sebuah tempat yang ada di daerah pegunungan. Nikita yang masih merasa asing dengan lokasi sekarang pun memutuskan untuk tetap diam di mobil, tanpa bergerak.


"Kamu gak mau turun?" Tanya Satya yang sudah berhasil melepaskan sabuk pengamannya.


"Tempat ini terlalu asing. Gue gak bisa membahayakan diri dengan turun. Meskipun lo calon suami gue, tapi kan ada kemungkinan lo juga bisa punya niat jahat," kata Nikita dan berhasil membuat Satya ketawa. Sebenarnya apa yang bisa membuat Nikita berpikiran seperti itu?


"Coba deh, kamu buka jendela mobilnya dan lihat ke arah tulisan yang ada di sana," kata Satya sambil menunjuk ke arah baliho yang terpampang dengan jelas tepat di depan dari tempat asing ini.


Saat Nikita mengarahkan pandangannya kesana, ia langsung terkejut dan merasa malu sendiri. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan olehnya? Sepertinya kali ini Nikita memang harus menyalahkan pikirannya sendiri.


"Sudah. Saya tidak membawamu ke tempat aneh. Ini restoran tempat dimana kita bertemu dengan lawyer," ujar Satya memberitahu maksud serta tujuan keberadaan mereka disini.


"Lawyer? Kenapa ada lawyer?" Tanya Nikita sedikit bingung.


"Bukankah kamu minta setelah lima tahun, pernikahan harus segera berakhir? Saya rasa hal seperti itu harus dibicarakan dengan serius," ujar Satya yang kini telah turun terlebih dahulu dari mobil.


Nikita yang masih berpikir kalau semuanya sedikit berlebihan pun mulai mengikut di belakang laki-laki itu. Kenapa langkah kaki Satya begitu besar? Sungguh Nikita merasa sedikit kesulitan untuk menyusul. Kenapa juga Satya tidak mengizinkannya mengganti pakaian terlebih dahulu?


"Lo jalannya bisa pelan-pelan gak? Ribet nih woiii...!!!" Teriak Nikita kesal kepada laki-laki yang saat ini sudah berjarak jauh darinya.


"Maaf!" Kata Satya langsung setelah mendengar itu.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka berdua yang tadi sempat terlibat pertengkaran kecil hanya karena Satya yang tanpa sengaja jalan terlebih dahulu dan meninggalkan Nikita struggle dengan pakaiannya, akhirnya sekarang mereka sudah duduk berdampingan, menghadap pada seorang pria berumur. Tidak ada pertanyaan apapun, Nikita sudah tahu dan yakin kalau beliau adalah pengacara yang dimaksud oleh Satya.


"Saat menerima permintaan dari Tuan Satya, saya benar-benar bingung dan kurang paham. Bagaimana bisa ada pasangan yang belum terikat pada janji pernikahan sudah memutuskan akan bercerai setelah lima tahun?" Kata Pengacara itu sambil tersenyum tipis.


"Tuan Satya sudah mengatakan segalanya. Sebagai seorang pengacara saya berhak menerima semua kejujuran dari klien," kata pengacara itu kemudian mengajukan sebuah amplop coklat kehadapan Nikita.


"Jadi, apakah kami bisa bercerai setelah lima tahun?" Tanya Satya enggan lebih banyak berbasa-basi lagi.


"Tentu saja, tapi kalau sekarang kalian ingin mengisi surat perceraian itu belum mungkin terjadi," ucap pengacara memberitahu.


"Jadi, untuk menyelesaikan masalah kalian berdua, saya sangat menyarankan sebuah surat perjanjian, dimana nanti kalau diantara kalian berdua ingin berubah pikiran bisa langsung dibatalkan saja," imbuh sang pengacara sembari mengambil selembar kertas yang ada di dalam amplop coklat itu.


"Saya sudah membuatkan surat perjanjian untuk kalian berdua. Silahkan dibaca terlebih dahulu! Jika ada poin yang kurang kalian sepakati, tolong beritahu saya!" Kata Pengacara itu.


Tak berniat untuk terdiam, Nikita pun bergegas mengambil lembar surat perjanjian itu. Dengan seksama Nikita membaca keseluruhan isi dan pada saat ia tiba pada poin nomor empat, kedua mata miliknya membelalak lebar. Kenapa Nikita kelihatan begitu terkejut? Apa ada poin aneh dari surat perjanjian itu?


"Ini tidak salah? Setelah perceraian, Satya masih harus memberikan uang jatah sebanyak 200 juta selama 6 bulan? Apa ini tidak terlalu berlebihan?" Tanya Nikita yang seharusnya senang karena walaupun sudah bercerai, ia masih bisa mendapatkan uang.


"Untuk poin itu, bukan dari pihak saya yang memutuskan, melainkan Tuan Satya sendiri yang memberikan keputusannya," kata pengacara itu sembari menepuk paha milik Satya dengan keras.


"Apa lo gila? Kenapa masih harus memberikan uang sebanyak itu?" Tanya Nikita yang tumben sekali mau mengalah dihadapan uang.


"Itu jumlah yang sesuai untuk kamu, Nikita. Anggap saja uang yang saya berikan nanti sebagai hadiah selamat karena setelah bercerai kamu akan menjalani kehidupan baru, sesuai dengan apa yang selama ini selalu kamu harapkan," balas Satya terlihat terlalu santai


"Apa uang bulanan wajib diberikan? Apa jumlahnya harus sebesar itu?" Tanya Nikita membutuhkan jawaban dari pengacara sekarang juga.


"Wajib kalau kalian berdua sudah memiliki anak, tapi untuk ini semua murni akan keputusan dari Tuan Satya," jawab pengacara diikuti dengan sebuah senyuman tipis.


Nikita yang tak bisa berkata-kata lagi pun memilih untuk lanjut membaca poin selanjutnya yang ada pada lembaran dari surat perjanjian itu.


"Kalau sudah dibaca dan dipahami, Nona Nikita bisa membubuhkan tanda tangannya," ujar pengacara itu.


Sebelum benar-benar setuju pada surat perjanjian ini, untuk sebentar Nikita menatap ke arah Satya. Bukan tanpa maksud, hanya saja ia ingin memastikan kalau seluruh isi dari surat perjanjian ini tak akan memberatkan seorang Satya.


"Apa tidak masalah dengan isinya? Setiap poin yang ada selalu menguntungkan gue," kata Nikita kepada Satya.


"Itu yang paling penting buat saya. Berusaha yang terbaik agar kamu tidak paling di rugikan dari perjodohan ini," ucap Satya sembari menunjukan senyuman lebar.


Melihat senyuman seperti itu, mampu membuat Nikita segera membubuhkan tanda tangan tepat di surat perjanjian. Sepertinya Satya sama sekali tidak bermasalah dengan semua poin isi yang ada.


"Kalau begitu, saya akan bawa surat perjanjian ini. Hubungi saya lagi setelah lima tahun. Saya sangat berharap kalau kalian membatalkan surat perjanjian ini dan lebih memilih untuk hidup bersama," tukas pengacara itu kemudian memasukan kembali lembar surat perjanjian ke dalam amplop coklat.


"Tolong rahasiakan ini dari semua keluarga!" pinta Satya terakhir sebelum pertemuan ini berakhir.


"Saya akan menutup mulut rapat-rapat. Ini sudah menjadi rahasia antara saya dengan kalian," kata pengacara setuju untuk membantu menyembunyikan.


Bersambung...