I Hated My Boss

I Hated My Boss
D U A B E L A S



Kalau melihat semua hal sempurna yang ada di dalam diri seorang seperti Satya, kemungkinan besar ia bisa menemukan seorang perempuan yang juga akan bisa menyamainya atau setidaknya memiliki akhlak yang baik. Meskipun begitu, Satya yang bisa dibilang begitu keras kepala malah ingin dijodohkan dengan seorang gadis bringas dan minim akhlak.


Bisa dikatakan kalau Satya memang terkesan seperti seseorang yang bodoh hanya karena keputusannya untuk menerima gadis seperti Nikita yang hanya mempedulikan soal impiannya, sebagai calon istrinya. Diantara banyaknya insan, kenapa pilihannya malah terjatuh pada Nikita?


Bahkan untuk mempertahankan keinginan serta keputusannya ini, Satya harus bertengkar dahulu dengan kedua orang tuanya. Bukan tanpa sebab, hanya saja sebagai orang tua pasti begitu ingin dan berharap kalau putra tunggal nya bisa menemukan pasangan terbaik yang mampu menemani sampai rambut sudah tak menghitam lagi.


Ketika kedua orang tua Satya yang saat ini memang sudah menetap di Singapura pun begitu menentang keputusan untuk menjadikan seseorang seperti Nikita sebagai istri ataupun menantu. Bukan bermaksud untuk memberikan judge, hanya saja menurut mereka berdua Nikita sangat belum bisa untuk dijadikan seorang istri. Banyak aspek yang masih belum gadis muda itu kuasai. Kedua orang tua Satya hanya khawatir kalau Nikita tak bisa merawat atau mengurus putranya dengan baik.


Meskipun tidak tinggal di satu negara yang sama, mereka berdua sudah bisa tahu mengenai sosok Nikita. Memang benar selama bertahun-tahun ini mereka tak ada disisi sang putra, tapi bukan berarti mereka tidak memantau semuanya. Tanpa diberitahu atau diceritakan, mereka sudah bisa tahu banyak hal mengenai putri semata wayang dari Tuan Ryan.


Sikap kekanak-kanakan, keras kepala, egois, emosi yang belum sepenuhnya stabil, itulah yang membuat kedua orang tua Satya yakin jika gadis itu memang bukan yang terbaik. Seringkali Satya ditegur dan diperingati, tapi laki-laki itu memilih untuk tidak terlalu mempedulikannya.


Satya memiliki alasan kuat akan keputusannya dalam hal menerima perjodohan. Satya hanya sedang jatuh cinta pada sosok Nikita. Dibalik dari semua sikap buruknya, ada satu hal yang berhasil membuat Satya tak bisa melupakan tentang perasaannya itu.


Selalu mengingat sebuah momen lampau, dimana ada seorang gadis kecil yang datang menghampirinya dan tak ragu untuk memberikan sebuah balon berwarna merah muda. Senyuman yang menunjukan semua gigi susu nya dan kelihatan begitu menggemaskan tak akan pernah memudar dalam ingatan. Cinta pertama yang selalu berhasil membuat Satya termotivasi untuk menjadi seperti sekarang.


"Tuan?" Panggil Thania — seorang sekertaris kepercayaannya, yang datang karena ingin menyampaikan sesuatu hal.


Satya yang siang ini masih terlihat sibuk, berkutat pada layar monitor pun tak lupa untuk memberikan respon pada panggilan itu. Dengan cepat, Satya mendongak dan menatap ke arah sang sekertaris yang sudah bekerja selama bertahun-tahun bersama dirinya.


"Iya? Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Satya tanpa adanya sebuah basa-basi yang berarti.


"Tuan Ryan sudah datang dan sekarang sedang menunggu di ruang VIP," kata Thania memberitahu akan kehadiran ayahanda dari Nikita.


"Benarkah? Baiklah, saya akan segera menemuinya," ucap Satya yang kemudian beranjak dari kursi kebesarannya.


Terlihat dengan jelas bahwa Tuan Ryan merupakan seorang tamu penting yang bisa membuat Satya langsung datang menghampiri, meskipun di tengah pekerjaan yang masih menumpuk.


Dengan langkah lebarnya, Satya akhirnya bisa tiba juga di depan pintu dari ruang tunggu VIP. Tanpa ingin membuang lebih banyak waktu, Satya pun bergegas untuk membuat ketukan dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu. Kedua mata indah milik Satya juga telah bisa melihat sosok Tuan Ryan yang tengah terduduk pada sofa panjang, sambil membaca majalah.


Satya memang begitu amat menghormati Tuan Ryan, terlihat dengan jelas dari caranya menundukkan kepala hormat. Kehadiran dari beliau memang telah dinantikan oleh Satya. Pasalnya beberapa jam lalu, Satya yang sedang ada di ruang rapat secara tiba-tiba dihubungi oleh beliau. Tidak tahu apa masalahnya, tapi yang jelas katanya Tuan Ryan mau membicarakan sesuatu yang penting.


"Duduk Satya. Jangan membuat suasananya menjadi canggung!" Pinta Tuan Ryan dalam balutan ekspresi wajah tersenyum.


Satya yang benar-benar menurut pun langsung menempatkan dirinya duduk pada bagian kosong yang ada di sofa itu. Terlihat sedikit gugup, Satya pun tak ragu untuk langsung mempertanyakan alasan dari pertemuan ini.


"Jadi, kenapa Tuan Ryan sampai harus memaksa datang kemari? Padahal seharusnya biarkan saya saja yang datang mengunjungi anda," ucap Satya terlampau begitu formal.


"Tidak perlu sampai seperti itu, lagipula saya juga sedang berada dekat dari sini," kata Tuan Ryan diikuti dengan sebuah senyuman serta tepukan kecil pada punggung tangan milik Satya.


Tanpa banyak berbasa-basi lagi, Tuan Ryan pun mulai menyampaikan alasan dari kedatangannya ini. Tentu saja tak akan jauh-jauh mengenai masalah perjodohan.


"Ini soal perjodohan antara kamu dan putri saya..."


Pembicaraan yang terkesan serius pun mulai terjalin di antara mereka berdua. Terlihat dengan jelas dari gelagat seorang Satya yang menegang, tanpa adanya ekspresi. Sekarang mereka sedang tidak membahas soal membatalkan perjodohan kan? Apa usaha Nikita untuk menolak sudah bisa mendapatkan buah manis?


......................


Dalam benaknya selalu bertanya-tanya, kenapa kedua orang tuanya bisa kejam seperti ini? Kenapa mereka memutuskan sesuatu hal penting tanpa ada kompromi apapun dengan Nikita? Padahal keputusan itu jelas-jelas sangat berdampak pada masa depan dari seorang Nikita.


Pada saat Nikita sedang sibuk berdiam diri di kamarnya, secara tak terduga telinganya bisa mendengar dengan jelas suara seseorang yang terus saja memanggil namanya. Karena merasa tak asing, tanpa perlu menebak lagi, Nikita sudah tahu siapa gerangan yang membuat panggilan penuh semangat itu.


Nikita yang merasa begitu rindu akan sosoknya, pun bergegas untuk melangkahkan kaki keluar dari kamar dan secara terburu-buru menuruni satu per satu anak tangga. Sampai pada akhirnya, Nikita langsung melemparkan sebuah pelukan penuh kerinduan kepada sang ibunda. Akhirnya setelah lama ditinggal pergi, Nikita bisa bertemu kembali pada sosok ibunya.


"Ibuuuuu... Kangen berat..." kata Nikita kedengaran sedikit heboh.


Padahal ibunya hanya pergi selama beberapa hari, tapi kenapa rasa rindunya bisa sampai seperti ini? Pelukan erat ini terus saja dibuat sampai pada akhirnya sang ibunda sendiri yang memaksa untuk melepaskannya.


"Kamu itu ya, kangen boleh! Tapi, kalau meluk jangan erat-erat! Sesak banget napas ibu," gerutu sang ibunda bukan karena tak suka akan pelukan dari putrinya, hanya saja pelukan yang terlalu erat juga tidak terlalu baik untuk napasnya.


Mendengar itu sanggup membuat Nikita tersenyum canggung dan sorot matanya tampak merasa bersalah. Sungguh ia tak bermaksud untuk melakukan itu.


"Maaf. Aku hanya sulit mengontrol rasa rindunya," ujar Nikita merasa sedikit tidak enak hati.


"Gimana? Keadaan kakek? Apa sudah baik-baik saja?" Tambah Nikita dengan sebuah pertanyaan yang mengarah kepada kondisi sang kakek.


"Sudah jauh lebih baik. Dokter juga sudah mengizinkannya untuk pulang," kata sang ibunda memberitahu.


Nikita juga merasa lega dan senang karena tahu kalau sang kakek sudah dalam keadaan baik. Tapi, semua itu harus tertutupi oleh ekspresi wajahnya yang kelihatan masih muram. Sebagai seorang ibu yang ternyata juga menyadari akan hal ini pun tak ragu untuk bertanya


"Kenapa? Apa masih terpikir mengenai perjodohannya?" Tanya beliau dan langsung mendapatkan anggukkan kepala.


"Aku hanya ingin tahu, kenapa aku gak diizinkan untuk menolak perjodohan itu? Ibu tahu kan kalau aku gak ada niatan buat nikah muda?" Kata Nikita menyampaikan semua hal yang dirasakannya.


"Soal perjodohan, akan jauh lebih baik kalau kamu tak terlalu banyak berpikir ataupun berusaha untuk menolak, karena ibu yakin yang kamu perlukan hanyalah waktu untuk saling mengenal. Satya itu—" belum sempat melanjutkan perkataannya, secara tak terduga sang ayah yang sejak tadi pagi pergi pun kembali.


"Satya itu yang terbaik buat kamu. Satu-satunya lelaki yang bisa mengimbangi sikap kekanak-kanakan dan bringas kamu," ujar sang ayah melanjutkan ucapan dari sang istri.


Enggan mendengar perkataan macam ini, Nikita pun memutuskan untuk meninggalkan tempatnya. Sudahlah, rasanya begitu malas membalas soal perjodohan dengan sang ayah. Palingan beliau hanya akan terus memaksa agar Nikita mau menerima dan menikah dengan Satya.


Merasa sudah tak ada yang ingin dibicarakan lagi, Nikita pun hanya berpamitan kepada sang ibunda. Dengan sengaja Nikita mengabaikan ayahnya itu. Masih marah? Tentu saja, apalagi kalau mengingat soal impiannya pergi ke Paris yang ditolak mentah-mentah.


"Kamu yakin mau langsung pergi?"


"Gak mau mendengarkan apa yang akan ayah sampaikan?"


Seakan tak peduli, Nikita pun terus saja melangkahkan kakinya dan kini sudah mulai menaiki satu per satu anak tangga. Daripada mendengar hal yan gak di ingin, akan lebih baik kalau dirinya sekarang kembali ke kamar.


"Padahal ayah berencana mengizinkan kamu untuk pergi ke Paris," ujar sang ayah dan langsung membuat Nikita tertarik.


Bersambung...