I Hated My Boss

I Hated My Boss
T I G A P U L U H S A T U



Karena merasa sudah kurang nyaman untuk mengenakan gaun pengantin dalam waktu yang cukup lama, Nikita yang sedari tadi asyik melihat-lihat isi dari rumah ini pun memutuskan untuk segera menuju kamar, bermaksud ingin mengganti pakaiannya dengan yang lebih ringkas.


Namun sayang sekali, ketika Nikita baru mau melangkahkan kakinya menaiki anak tangga pertama, ia langsung teringat akan barang-barang miliknya yang sama sekali belum ada di rumah ini. Mau masuk menuju kamar juga untuk apa kalau memang tak ada pakaian yang bisa dikenakan.


Ketika menyadari tentang kenyataan itu, Nikita langsung memasang mimik wajah tampak kecewa. Padahal kalau ada baju ganti, dia akan langsung melepaskan semua gaun ini. Berjam-jam mengenakan gaun pernikahan, rasanya sudah lebih dari cukup. Berapa lama lagi ia harus menunggu dan bertahan dalam penampilan yang sekarang? Jujur saja, rasanya sudah mulai kurang nyaman.


Tak ingin menunggu sambil berdiri, Nikita pun memutuskan untuk bergegas kembali ke ruang tamu. Bukan berniat menghampiri sang suami, hanya saja ia akan menunggu di sana sampai semua barang kepunyaannya diantar kemari.


Masih dalam balutan ekspresi kecewa, Nikita mulai menempatkan dirinya untuk duduk di sofa kosong yang ada. Ia duduk tanpa memperhatikan kalau disebelah kanan sekarang sedang ada sang suami yang kini sedang memperhatikan kearahnya dalam kebingungan. Bagaimana tidak seperti itu, pasalnya tadi Nikita sudah meminta izin untuk pergi ke kamar, katanya ingin berganti pakaian, tapi kenapa malah kembali dengan raut wajah seperti itu?


"Kenapa?" Tanya Satya yang sudah selesai pada urusan ponselnya.


Bukannya menjawab, Nikita malah mengambil bantal sofa yang ada, lalu memeluknya dengan begitu erat. Melihat tingkah sang istri, malah semakin berhasil membuat seorang Satya terheran. Apa ada masalah yang sedang terjadi?


"Kenapa cemberut seperti itu?" Satya melemparkan pertanyaan ingin tahu.


"Kenapa kembali kesini lagi? Bukannya tadi kamu bilang mau ganti baju?" Tambah laki-laki itu masih dengan pertanyaan.


"Gimana mau ganti baju? Apa lo lupa kalau semua barang gue belum datang?" Jawab Nikita yang entah mengapa kedengaran cukup ketus.


Perasaan tak ada hal lucu yang patut untuk ditertawakan, tapi anehnya setelah mendengar jawaban yang dilontarkan langsung oleh Nikita itu sanggup memunculkan sebuah tawa kecil dari seorang Satya. Tahu akan hal itu, Nikita merasa sedikit tersinggung.


"Kenapa lo tertawa? Apa ada yang lucu?" Tanya Nikita sembari melemparkan tatapan yang terkesan cukup tajam.


"Sebelum merajuk, akan lebih baik untuk kamu melakukan pengecekan terlebih dahulu," pinta Satya yang sayangnya kurang bisa dimengerti oleh sang istri.


"Maksudnya?"


"Kamu pasti belum melihat kamar dan isinya? Sebenarnya tanpa barang-barang, kamu sudah bisa tinggal. Saya sudah menyiapkan semua keperluan termasuk pakaian. Di lemari kamar ada banyak model pakaian wanita yang bisa kamu gunakan," kata Satya yang langsung berhasil membuat pipi milik Nikita memerah.


Seakan sudah kehabisan kata-kata, Nikita yang dipenuhi oleh rasa malu pun kembali beranjak dari tempat duduknya, kemudian melangkah dengan cepat menuju ke arah kamar yang ada di lantai dua. Hal seperti ini akan menjadi pembelajaran untuk Nikita. Sebelum merajuk ataupun memberikan protes, ia akan lebih dahulu memeriksa.


Dengan langkah yang terlihat terburu-buru, Nikita pun sekarang sudah berhasil menjangkau lantai dua dari bangunan rumah ini. Satya yang masih ada di ruang tamu dan pandangannya terus memantau ke arah sang istri pun merasa sedikit khawatir. Takut kalau istrinya itu tersandung dan jatuh.


"Pelan-pelan saja! Saya takut kalau kamu jatuh dan terluka," pinta Satya, namun tak diindahkan oleh sang istri.


Tak butuh banyak waktu, akhirnya Nikita berada di dalam sebuah kamar yang tentu saja sudah disiapkan khusus oleh Satya untuk dirinya. Dikarenakan pernikahan ini terjadi akibat perjodohan sekaligus sebagai syarat agar Nikita bisa melanjutkan pendidikan di Prancis, maka dari itu untuk urusan kamar tentu saja mereka akan tinggal secara terpisah.


Meskipun secara agama dan hukum mereka berdua sudah sah dalam satu perkawinan, tapi tetap saja bagi Nikita ini bukan menjadi sesuatu hal yang bisa membuatnya memberikan izin kepada seorang laki-laki untuk tidur di dalam satu ranjang dengannya. Perlu dicatat, kalau Nikita sama sekali belum siap akan hal seperti itu.


Awalnya Nikita sama sekali tidak memiliki harapan akan mendapatkan sebuah kamar yang sebesar ini. Walaupun pernikahan yang tengah terjadi sekarang termasuk bersyarat, Nikita harus mengakui kalau Satya memang begitu peduli akan kenyamanannya. Rasa-rasanya seakan yang diutamakan Satya hanyalah tentang sang istri.


"Apa ini kamar utama?" Tanya Nikita yang tak bisa lagi untuk menyembunyikan senyuman tersanjung nya.


Andai saja ini bisa menjadi sebuah pernikahan sungguhan, mungkin kehidupan Nikita akan begitu bahagia karena mendapatkan sosok laki-laki langka seperti Satya. Jaman sekarang, bisa dibilang sedikit sulit untuk bisa mendapatkan seseorang yang baik seperti Satya. Sudahlah, Satya itu termasuk dalam sosok suami able. Yakin sekali, kalau ia memiliki anak, pasti juga bisa menjadi seorang ayah yang baik.


Nikita melangkahkan kakinya masuk ke kamar yang sudah disiapkan itu. Hal pertama yang langsung dilakukannya adalah memeriksa lemari. Bukan bermaksud untuk tak mempercayai, hanya saja Nikita berniat mencari tahu kalau perkataan seorang Satya itu bisa dipegang.


Ketika Nikita membuka lemari pakaian yang berada di dalam kamar itu, kedua matanya langsung melebar. Mulut mungilnya juga membuka. Nikita kelihatan seperti seseorang yang sedang terkejut akan sesuatu. Bagaimana Nikita tak memberikan respon seperti ini? Kalau melihat semua pakaian yang ada di dalam lemarinya berasal dari merk barang mahal semua.


Ternyata tidak hanya kepribadiannya saja yang baik, Satya juga memiliki sikap yang begitu royal. Kalau melihat dari banyaknya pakaian yang ada di dalam lemari, maka sudah bisa dipastikan laki-laki itu mengeluarkan cukup banyak uang. Semua pakaian yang ada di sana, semuanya memiliki harga selangit.


"Apa dia sudah gila? Bagaimana bisa mengeluarkan banyak uang untuk pakaian?" Bukannya senang, Nikita malah merasa sedikit kesal.


"Tidak bisakah semua ini dijadikan duit? Rasanya ingin menjual semua yang ada dan menggantinya dengan pakaian yang lebih murah," kata Nikita sembari memilah-milah.


"Bukankah ini juga masuk salah satu pemborosan uang? Apa dia memang suka untuk menghamburkan uang?" Tanya Nikita yang merasa kalau tindakan sang suami terlalu berlebihan.


Boleh dibilang kalau Nikita juga ada di dalam sebuah keluarga yang berada, tak menutup kemungkinan ia juga memiliki beberapa barang dari salah satu merk terkenal, tapi untuk membeli baju dan mengisi lemarinya dengan batang mahal, mungkin akan membuat Nikita juga berpikir dua kali. Semampu-mampunya seorang Nikita, ia akan lebih suka menghemat pengeluaran. Karena barang pertama yang selalu menjadi daya tariknya adalah uang.


"Kira-kira berapa jumlah uang yang bisa aku dapatkan dari penjualan seluruh baju ini?" Nikita bertanya-tanya sambil pandangannya terus menatap lurus ke arah dalam lemari.


"Aku yakin uangnya bisa menambah uang saku untuk kepergian ke Paris," tambahnya yang memiliki niat menjual semua pakaian mahal itu.


Bersambung...