I Hated My Boss

I Hated My Boss
T I G A P U L U H D U A



Bukan bermaksud untuk mengganggu waktu sang istri, Satya yang tadi berada di ruang tamu dan kelihatan sedang bersantai, kini telah ada tepat di depan pintu dari kamar sang istri yang terbuka. Tujuannya datang menghampiri hanya karena ingin bertanya mengenai menu makanan yang ingin disantap untuk malam ini.


Karena seharian ini mereka sudah disibukan dengan acara pernikahan, meskipun sedikit kurang karena tak ada resepsi, tetap saja bisa dibilang cukup melelahkan. Apalagi mengingat kalau mereka tak memiliki waktu untuk memasukan makanan ke dalam mulut. Sejak acara, mereka selalu sibuk berbincang sekaligus menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.


Baru mau mengetuk pintu kamar itu, secara tiba-tiba Nikita yang telah terlihat selesai berganti pakaian dengan pakaian lebih nyaman, pun sudah terlebih dahulu membukakan pintunya. Nikita bisa tahu kedatangan dari sang suami, karena pada saat sedang sibuk membersihkan bekas riasan, tepat dari pantulan cermin, ia melihat sosok sang suami yang terus saja mengintip dari celah pintu.


"Ada perlu apa?" Tanya Nikita tanpa sebuah basa-basi yang berarti.


"Apa kamu lapar?" Pertanyaan balik mulai dilemparkan oleh laki-laki yang kini sudah resmi menjadi suaminya.


Masih sambil mengusap-usap wajah sendiri dengan menggunakan kapas, bermaksud untuk membersihkan riasan, Nikita mulai memberikan jawaban pasti atas pertanyaan yang seharusnya tak perlu dilontarkan. Apa sekarang Nikita harus mencabut penilaiannya yang sempat mengatakan kalau Satya termasuk seorang laki-laki yang cukup peka?


"Gue rasa hal seperti itu gak perlu ditanya lagi," kata Nikita memasang wajah datar.


Sudah mulai terbiasa akan cara bicara dari sang istri, Satya tetap bisa terlihat melebarkan senyuman dan tak lama diikuti dengan sebuah pertanyaan balik. Untuk makan malam hari ini, Satya akan membiarkan sang istri memilih menu makanan.


"Mau makan apa? Kamu bisa bilang, nanti aku langsung pesankan," kata Satya yang tentu saja seketika disambut baik oleh Nikita. Senang sekali rasanya saat mendengar sang suami memilih bertanya terlebih dahulu daripada langsung asal memesan.


Dengan diikuti dengan senyuman tipis, Nikita mulai memberitahu soal makanan yang ingin dipesan untuk makan malam ini. "Boleh junk food gak? Gue lagi pengen makan ayam goreng saus keju," pinta Nikita berharap kalau keinginannya itu bisa dituruti oleh sang suami.


"Oke. Kamu suka ayam goreng bagian apa? Dada, sayap, paha atas atau paha bawah?" Satya hanya berniat untuk memastikan kalau makanan yang nanti akan dipesan sudah sesuai dengan keinginan serta pilihan dari sang istri.


"Paha atas."


Setelah mendapatkan jawaban, Satya langsung menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Merasa belum boleh pergi, Satya kembali mengajukan pertanyaan. Siapa tahu ada sesuatu lain yang memang ingin dipesan oleh sang istri.


"Ada tambahan lagi, Tuan Putri?" Bukan tanpa maksud jelek, hanya saja Satya juga ingin memiliki sedikit candaan dengan sang istri. Setidaknya agar membuat suasana perlahan-lahan mulai lepas dari kecanggungan.


"Idih... pakai panggil Tuan Putri segala. Lo pikir dengan dipanggil seperti itu bisa buat pipi gue merah? Oh ya jelas tidak. Buat gue salting tuh butuh perjuangan, gak hanya sekedar panggilan seperti itu!" Ujar Nikita yang anehnya berbanding terbalik dengan kenyataan.


"Boleh saya beritahu sesuatu?"


"Apa?"


"Apa kamu sudah membersihkan blush on di pipi?"


"Memangnya kenapa?"


"Sudah dibersihkan belum?"


"Sudah."


"Tapi kok, kelihatannya masih merah?" Satya bertanya-tanya sambil berusaha sebisa mungkin untuk menahan senyumannya.


"Yakin bakal sulit untuk buat kamu salah tingkah?" Sindir Satya yang begitu amat membuat Nikita merasa kesal.


"Minta dipukul? Musuhan sama suami sendiri bukan menjadi suatu hal yang salah kok," kata Nikita yang kini telah terlihat melipat kedua tangannya telah di depan dada. Raut wajahnya juga tampak sedang kesal.


"Ya udah. Jadi, hanya mau pesan ayam goreng saja atau ada tambahan yang lain?" Tanya Satya kembali ke topik sembari tangannya dengan berani mulai mengusap sekilas ujung kepala dari sang istri.


"Es krim vanila satu, sama jangan lupa minuman cola nya," Nikita tanpa ragu menambah pesanan.


"Sudah? Atau masih mau nambah lagi?" Satya memastikan saja.


"Hanya itu."


Seakan masih ada hal ingin ditanyakan kembali, sebelum sang suami pergi menjauh, tanpa ragu Nikita mulai melemparkan sebuah panggilan yang terbilang cukup lantang. Satu panggilan yang sanggup membuat sang suami berhenti melangkah dan memutar balikan tubuhnya, kembali mendekat ke arah Nikita.


"Masih ada tambahan pesanan lagi?" Satya mencoba menebak-nebak terlebih dahulu.


"Bukan soal pesanan. Gue cuma mau tanya aja soal barang-barang. Kapan bakal datang?" Ucap Nikita yang langsung pada intinya.


"Saya sudah meminta orang untuk mengambil barang kamu. Mungkin sebentar lagi juga mereka akan tiba," Kata Satya seakan mencoba menenangkan sang istri agar tak terlalu mengkhawatirkan soal barang-barangnya.


"Gue harap barang-barang itu cepat datang," ungkapan Nikita yang seperti ini mampu membuat seorang Satya mulai bingung dan merasa kalau semua hal yang disiapkan dalam kamar itu kurang bisa memuaskan sang istri.


"Apa ada barang yang kamu butuhkan lagi?" Tanya Satya hanya bermaksud untuk mencoba mencari tahu.


"Tidak ada. Gue cuma sedikit rindu sama barang-barang lama. Maklum belum terbiasa dengan yang baru. Apalagi semuanya termasuk barang bermerek," ujar Nikita sekalian memberikan sebuah sindiran kepada sang suami.


Merasa sudah mengatakan semua hal yang ingin dikeluarkan, Nikita pun bergegas masuk kembali kemar, berlalu begitu saja meninggalkan sang suami yang kebetulan memang masih ada di tempatnya.


......................


Setelah tahu apa yang diinginkan oleh sang istri untuk makan malam, tanpa menunggu terlalu lama lagi, Satya pun segera mengambil ponsel kemudian memesan semua menu makanan sesuai dengan apa yang sudah diminta oleh Nikita.


Selain memesan, Satya juga sedikit memberikan permintaan supaya makanannya bisa sampai dengan cepat. Pasalnya, ia begitu yakin kalau sang istri sudah merasa lapar. Satya hanya tak berniat untuk membuat Nikita menunggu makanannya terlalu lama.


Belum ada lima belas menit, Satya yang kini sedang duduk santai di sofa ruang tamu sambil bermain ponsel, tiba-tiba dikejutkan dengan suara bel pintu yang berbunyi. Tak menyangka saja kalau makanan pesanannya akan diantar secepat kilat. Apa ini yang namanya fast food?


Dengan langkah lebarnya, Satya pun mulai mendekat ke arah pintu rumah. Tanpa ingin membuat si pengantar menunggu terlalu lama, ia bergegas untuk membuka pintunya. Namun, perkiraannya begitu kurang tepat. Awalnya saat mendengar suara bel yang berbunyi, Satya langsung mengira kalau itu adalah pengantar makanan. Ternyata yang datang adalah kurir barang.


"Apa benar ini rumah Tuan Satya?" Tanya kurir itu yang mampu mendapatkan anggukan kepala dari Satya.


"Saya kemari hanya untuk mengantarkan barang-barang milik nona Nikita," kata si kurir memberitahu tujuan dari kedatangannya.


Belum sempat bagi Satya untuk mengatakan apapun, sang istri yang sejak tadi berada di kamar, secara tak terduga kini telah berdiri persis disampingnya. Tentu saja, meskipun Nikita tak berada di ruang tamu, bel pintu rumah ini juga bisa kedengaran sampai kamar.


"Akhirnya datang juga. Mas kok lama banget sih? Padahal aku udah nunggu banget barang-barang nya," kata Nikita sembari membubuhkan tanda tangan pada kertas penerimaan.


Sebenarnya tanpa Nikita harus repot-repot turun hanya untuk mengambil barang itu, Satya masih bisa mewakili. Bukankah disini mereka sudah bukan menjadi seorang asing?


"Makasih ya, Mas!" Tukas Nikita yang telah selesai menandatangani nota penerimaan barang.


Sudah mendapatkan apa yang ditunggu, tanpa ada ucapan apapun kepada sang suami, Nikita lebih ingin berlalu begitu saja sambil membawa dua koper yang berisi semua barangnya. Kenapa kelihatanya Nikita terlalu obses pada barang-barangnya?


"Nikita?" Panggil Satya yang rasanya ingin mencoba menegur tingkah dari gadis itu.


"Iya?" Untung saja dia masih mau menyahuti.


"Langsung mau pergi begitu saja?" Tanya Satya sedikit terheran. Bukankah seharusnya kalau ia mau pergi, ada perkataan pamit atau hal lain?


"Iya. Gue mau langsung bongkar barang," jawabnya kelihatan santai.


Sambil menghela napas berat, Satya mulai memberitahu secara baik-baik kepada istrinya. "Kalau mau pergi, jangan main asal nyelonong. Masih ada saya disini. Setidaknya ucapkan kata permisi."


Bersambung...