
Kini status Nikita sudah berubah. Pernikahan membuatnya menyandang status sebagai seorang istri dari salah satu laki-laki yang paling menjadi incaran para kaum hawa. Bisa dibilang kalau ini menjadi sebuah keberuntungan yang tak akan pernah mungkin dirasakan oleh wanita lain. Menikah dengan sosok laki-laki baik seperti Satya adalah sesuatu hal yang seharusnya bisa disyukuri oleh Nikita.
Setelah pemberkatan serta pesta pernikahan telah selesai diadakan, Nikita yang masih mengenakan gaun pernikahan bewarna putih telah terlihat memasuki sebuah mobil sedan yang pada bagian luar sudah dihiasi dengan bunga-bunga. Memang benar kelihatannya seperti mobil dari pengantin baru.
Awalnya Nikita berniat untuk pulang ke rumah keluarganya. Berpikir untuk mengambil dan mengemas seluruh barang-barang serta pakaian kepunyaannya. Mengingat kalau semua itu sama sekali belum dipindahkan ke rumah mewah tempat dimana yang biasa Satya tinggali. Namun, ketika ia mengatakan niatnya itu kepada sang ibunda, penolakan langsung diberikan. Katanya, tidak baik kalau setelah pernikahan pengantin baru malah pulang ke rumah sendiri. Maka dari itu, untuk menyelesaikan persoalan mengenai pakaian, Satya memutuskan mengirimkan seorang kurir yang akan mengambil semua sesuai dengan keinginan dari Nikita.
"Gue harap gak ada satupun barang milik gue yang ketinggalan," tutur Nikita sembari melepaskan hiasan kepala yang terasa cukup mengganggu pergerakannya itu.
"Jangan khawatir! Kalau ada yang tertinggal, aku akan meminta mereka untuk kembali lagi dan mengambilnya," balas Satya tampak begitu santai.
Sabuk pengaman sudah terpasang di tubuh keduanya dan kini sopir pun mulai mengendarai mobil melintasi jalanan kota malam yang terbilang cukup lenggang oleh kendaraan lainnya. Jika kondisi jalanan selalu seperti ini, kemungkinan besar kalau mereka akan sampai di rumah dengan cepat.
Selagi menunggu, Nikita yang memang tak terlalu menyukai suasana sepi dan canggung pun memutuskan untuk membuka obrolan terlebih dahulu. Sebenarnya sejak tadi ada sesuatu hal yang ingin ditanyakan oleh Nikita. Bisa dibilang ada sangkut-pautnya mengenai kedua orang tua dari Satya.
"Tadi saat di pernikahan, gue sama sekali gak lihat om dan tante," ucap Nikita yang sayangnya kurang bisa dimengerti oleh Satya.
"Om dan tante? Sebenarnya siapa yang sedang kamu bicarakan?"
"Ah... Maksud gue ayah dan ibu mertua. Mereka gak datang ke acara pernikahan? Lo gak lupa kasih kabar ke mereka kan?" Entah mengapa Nikita begitu penasaran akan hal ini. Kalau memang dia tak terlalu peduli dengan pernikahan yang terjadi, mungkin Nikita juga tidak akan terlalu menghiraukan ketidakhadiran dari kedua orang tua Satya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu mampu membuat Satya langsung memberikan sebuah tatapan sayu kepada sang istri. Jujur saja ketidakhadiran dari kedua orang tuanya sangat membuat Satya merasa tidak enak kepada seluruh keluarga besar dari Nikita. Tadi juga Tuan Ryan sempat mempertanyakannya, tapi beliau bisa dengan mudah mengerti.
"Aku sudah memberitahu, tapi mereka tidak bisa datang hanya karena harus menghadiri sebuah konferensi yang diadakan di New York," ucap Satya memberitahu sang istri mengenai alasan yang membuat kedua orang tuanya tak bisa hadir dalam acara pernikahan.
"Pernikahan anak sendiri gak datang. Rupanya lebih mementingkan pekerjaan," gumam Nikita seorang diri.
Kalau boleh memberikan penilaian, sebenarnya apa yang dilakukan oleh kedua orang tua Satya bukan menjadi sesuatu hal yang baik. Masa pernikahan putra tunggalnya sendiri tidak datang. Nikita memang ingin memberikan protesnya, tapi setelah dipikirkan kembali untuk apa juga melakukan itu? Tahu sendiri kalau pernikahan yang terjadi hanyalah sebatas sebagai syarat agar Nikita bisa pergi ke Paris. Mau ibu dan ayah mertuanya datang atau tidak, Nikita tak akan terlalu peduli dan mempermasalahkannya.
"Kalau misalnya kamu merasa terganggu karena ketidakhadiran mereka, aku yang akan meminta maaf mewakili mereka berdua," ucap Satya hanya merasa sedikit khawatir karena gadis itu tak memberikan respon apapun.
"Tidak perlu meminta maaf. Bukankah memang lebih baik untuk mereka tidak datang, ya? Lagipula ini bukan pernikahan sungguhan dan tak seharusnya bagi mereka membuang waktu dan tenaga dengan datang jauh-jauh. Pekerjaan memang jauh lebih penting," kata Nikita yang entah mengapa terdengar seperti sebuah sarkas.
Setelah perkataan itu dilontarkan, mendadak suasana yang ada menjadi kembali sunyi. Dari kedua pasangan suami istri baru sama sekali tidak ada ucapan ataupun komentar lagi. Mereka sama-sama saling diam. Yang satu terlihat sedang menatap ke arah luar jendela, sedangkan yang lainnya memilih diam saja tanpa melakukan apapun. Kenapa sekarang ada kecanggungan seperti ini?
.
.
.
Saat sudah berada di luar, pandangan Nikita terus saja terfokus pada rumah mewah dengan gaya minimalis modern itu. Meskipun belum melihat sampai ke dalam, Nikita sudah dibuat jatuh hati dengan bentuk rumahnya. Bukan tanpa sebab, hanya saja memang arsitektur bangunan seperti inilah yang selalu disukai oleh Nikita.
"Kita bakal tinggal disini?" Tanya Nikita kepada sang suami yang sekarang sudah berdiri tepat disampingnya.
"Iya. Apa kamu merasa kurang nyaman kalau kita tinggal disini?" Sepertinya Satya memang selalu peduli dengan kenyamanan dari sang istri.
"Kalau iya, kita bisa pindah dan tinggal di apartemen," lanjutnya yang langsung mendapatkan gelengan kepala keras dari Nikita.
"Gue gak suka tinggal di apartemen," tutur Nikita kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu masuk dari rumah ini.
"Ini rumah lo? Setiap hari lo tinggal disini?" Pertanyaan ini kembali dilemparkan olehnya tepat setelah berada di depan pintu masuk.
"Tidak setiap hari. Hanya kalau sedang ingin dan bosan dengan suasana apartemen, aku pasti akan tidur disini," jawab Satya sembari membukakan pintu rumah ini untuk Nikita.
Ketika pintu berhasil terbuka, kedua mata milik Nikita langsung membelalak lebar. Tak menyangka kalau bentuk dalam rumah kelihatan lebih menarik. Jujur saja, ini memang rumah idaman yang selalu menjadi incaran para kaum milenial.
"Lo gak baru beli rumah ini kan?" Tanya Nikita curiga tepat setelah mencium aroma barang baru.
"Baru satu tahun."
Tak ingin terlalu banyak bicara di luar rumah seperti ini, Satya pun bergegas untuk mempersilahkan gadis itu masuk. Dengan senang hati memberikan izin kepada Nikita supaya bisa melihat-lihat seisi rumah yang kemungkinan akan menjadi tempatnya tinggal dalam waktu lama.
"Gue suka dekorasinya. Lo beneran punya selera yang bagus," jarang-jarang seorang Nikita memberikan pujian.
"Sebenarnya semua yang ada disini adalah murni dari pilihan arsitek. Aku tidak melakukan banyak hal," tutur Satya jujur.
Mendengar jawaban seperti itu langsung membuat Nikita memperbaiki pujiannya. "Arsitek yang lo pilih punya selera yang bagus."
Nikita terus melangkahkan kakinya masuk secara perlahan-lahan. Terus mengedarkan pandangan ke sekeliling, memperhatikan semua yang ada di dalam rumah ini. Kalau boleh jujur, Nikita amat menyukai semua yang ada disini. Mungkin bisa jadi dirinya akan merasa betah untuk tinggal dalam waktu lama. Tunggu dulu, ini bukan cara Satya membujuk Nikita agar mau berbuah pikiran kan?
"Rumahnya bagus. Kemungkinan gue bakalan betah buat tinggal disini. Tapi, sayang banget tiga hari lagi gue udah harus pergi ke Paris," kata Nikita mengingatkan tentang jadwal kepergiannya yang akan terjadi dalam beberapa hari lagi.
"Masih pengen tinggal lama, tapi pergi ke Paris sudah menjadi hal yang wajib untuk dilakukan," tambahnya sembari menatap ke arah Satya yang kelihatan hanya diam tanpa memberikan ekspresi apapun.
"Lo tetep bakal kasih izin ke gue buat pergi ke Paris kan?" Tanya Nikita ingin memastikan kalau laki-laki pemilik nama Satya itu masih berada dalam keputusan yang sama.
Bersambung...