
Nikita yang awalnya memang berniat untuk pergi meninggalkan kedua orang tuanya pun mau tak mau harus mengurungkan niatnya itu. Bukan tanpa sebab, hanya saja perkataan dari sang ayah yang bilang kalau dirinya diizinkan untuk pergi ke Paris itu sangat amat mencuri perhatian.
Gadis cantik yang tadi sudah sempat menaiki tangga anak tangga pun langsung bergegas turun, sambil memasang ekspresi wajah ceria. Ternyata mood yang dimiliki oleh Nikita bisa berubah dengan begitu cepat. Hanya mendengar ucapan seperti itu saja, sudah sanggup membuang perasaan sedihnya.
"Ayah serius sama ucapan sendiri kan? Itu bukan bercandaannya ayah kan?" Tanya Nikita hampir tak bisa percaya kalau dirinya mendapatkan izin untuk pergi ke Paris.
"Mana ada ayah bercanda. Apa kamu tidak melihat kalau ayah sedang sangat serius?" Kata sang ayah yang diikuti dengan sebuah pelukan hangat dari sang putrinya.
Tanpa mendengar lebih jauh lagi, Nikita benar-benar sudah kesenangan. Kapan lagi kan bisa membuat ayahnya itu berubah pikiran? Selama bertahun-tahun tinggal bersama, Nikita sangat amat tahu dan mengenal, kalau ayahnya itu termasuk orang yang sangat sulit untuk mengubah keputusannya.
"Ini berarti ayah menerima penawaran yang aku ajukan beberapa hari lalu?" Tanya Nikita dengan sorot mata bahagia.
"Tentu saja. Tapi, sayang... Ayah mau menambahkan satu syarat lagi boleh? Ini hanya tambahan saja untuk menyempurnakan perjanjian diantara kita," ujar sang ayah.
Tanpa pakai banyak berpikir, Renjani yang hanya bisa merasa bahagia tanpa adanya kecurigaan, dengan mudahnya memberikan anggukkan kepala. Bagi dirinya sekarang, bisa mendapatkan izin untuk melanjutkan pendidikan sampai ke Paris, itu terasa jauh lebih penting daripada segala persyaratan yang dibuat oleh ayahnya.
"Katakan saja syaratnya. Aku pasti akan melakukannya," ujar Nikita tanpa ragu.
"Setelah selesai dan meraih gelar pendidikan, kamu harus langsung kembali ke Indonesia," kata sang ayah mulai memberitahu mengenai syarat tambahannya.
"Sure..."
"Apa ada lagi syarat tambahannya?"
"Setelah pulang, ayah ingin kamu masuk ke perusahaan Damara. Ayah mau kamu membantu Satya untuk menjalankan bisnisnya," tambah sang ayah yang sanggup membuat kedua pupil mata Nikita membesar.
"Perusahaan Damara? Apa ayah sedang bercanda? Kalau ujungnya seperti itu akan sangat percuma bagiku untuk melanjutkan pendidikan jauh-jauh sampai Paris," memang benar adanya, Nikita itu termasuk orang yang plin-plan. Bukankah dia sudah berniat untuk menerima syarat tambahan dari sang ayah? Kenapa sekarang malah memberikan protes.
"Ya sudah, kalau begitu kamu pergi ke Australia saja, sesuai dengan rencana awal. Tak perlu sampai ke Paris," kata sang ayah yang berhasil membuat Nikita berhenti untuk memberikan protes.
"Maaf! Kali ini aku benar-benar akan menurut."
Mendengar hal seperti itu keluar dari mulut mungil sang putri sanggup membuat Tuan Ryan tersenyum puas. Untuk lebih memformalkan perjanjian ini, Tuan Ryan bahkan sampai repot-repot mencetak surat perjanjian.
"Baca terlebih dahulu lalu cepat tanda tangani surat perjanjiannya," ucap Tuan Ryan sambil memberikan secarik kertas kepada sang putri
Seperti tak ada perasaan ragu, Nikita pun mengambil surat itu dari tangan sang ayah, lalu tanpa membaca isinya ia mulai membubuhkan tanda tangan. Masih sambil tersenyum bahagia, Nikita menyerahkan kembali surat perjanjian yang telah ada tanda tangannya kepada sang ayah.
"Seperti yang tertulis dalam surat ini, kalau kamu melanggar ayah akan menyumbangkan seluruh harta warisan yang kamu miliki ke panti asuhan," ucap sang ayah yang sama sekali tak membuat Nikita gentar.
"Silahkan saja. Aku yakin kalau sekalipun aku tak akan pernah melanggar," ujar Nikita kedengaran begitu yakin.
"Oh ya, hampir lupa mengatakan... Karena perjanjian ini sudah berlaku, berarti besok kamu harus segera datang ke butik untuk melakukan fitting baju pengantin. Kamu yang bilang sendiri loh kalau akan menikah cepat-cepat dengan Satya," kata Tuan Ryan hanya berusaha meminta pertanggung jawaban atas ucapan putrinya.
"Tentu. Besok aku akan pergi ke butik," kata Nikita memberi tanggapan yang terkesan tak terlalu bersemangat.
......................
Tak terlalu peduli pada pernikahan yang akan diadakan dalam waktu dekat, Nikita yang saat ini ada di dalam kamarnya terus saja bersorak kegirangan. Akhirnya hal yang sudah diinginkan tercapai sejak lama bisa terjadi juga. Jika nanti berhasil, Nikita pasti akan berusaha sekeras mungkin agar bisa menjadi designer terkenal seperti Donatella Versace.
Dalam perasaan bahagia, ia bahkan tak ragu untuk memposting sebuah foto selca pada postingan story. Satu foto yang memiliki caption 'Paris I'm coming...' berhasil terkirim dan tak berselang beberapa lama ia langsung mendapatkan banyak komentar dari para pengikut yang memang melihat postingan story miliknya.
Membaca itu mampu membuat seorang Nikita terkejut. Perasaan ketika ditanyai, Febi selalu mengatakan kalau ingin berkuliah di Inggris. Kenapa tiba-tiba berubah haluan? Daripada semakin dibuat bertanya-tanya, Nikita pun memutuskan untuk menghubungi BESTie nya itu.
Namun sayangnya, halangan tetap bisa didapatkan oleh gadis itu. Pada saat sudah siap untuk menelepon nomor pribadi milik Febi, secara tak terduga panggilan yang berasal dari Satya masuk begitu saja di ponselnya.
Mendapatkan panggilan ini, mampu membuat Nikita berdecak kesal. Bukan tanpa sebab, hanya karena panggilan dari Satya, mau tak mau Nikita harus mengurungkan niatnya terlebih dahulu untuk menghubungi sang sahabat.
Seakan tak membiarkan Satya terlalu lama mendengar nada sambung, Nikita dalam balutan ekspresi malas pun mulai menekan tombol hijau yang ada pada layar ponselnya. Panggilan ini sudah dijawab dan suara maskulin milik laki-laki pemilik nama Satya itu mulai terdengar menyapa telinga Nikita.
"Apa saya sedang mengganggu waktu berharga kamu? Saya harap panggilan ini tak terlalu membuat mood mu berantakan," ujar Satya dari balik panggilan ini.
"Aslinya sih mengganggu, tapi karena mood gue masih bagus jadi, it's okay," ujar Nikita berusaha bersikap baik-baik saja.
"Kenapa menelepon? Mau ngomong apa?" Sambungnya mempertanyakan maksud dan tujuan dari panggilan ini.
"Kalau hanya ingin mengatakan sesuatu yang tak penting, lebih baik gue akhiri panggilannya sampai disini," tutup Nikita kedengaran begitu ketus.
"Langsung di tutup? Saya bahkan belum mengatakan apapun. Bagaimana mau berbicara saat mulut kamu terus berucap?" kata Satya yang sanggup membuat Nikita memutar matanya malas.
"Ok, gue diem," ucap Nikita yang setelahnya tak mengatakan apapun lagi.
"Jadi, bagaimana? Besok kita jadi pergi ke butik untuk melakukan fitting baju pengantin?" Tanya Satya dari balik panggilan ini, tapi entah mengapa tetap bisa membuat Nikita terdiam.
"Nikita apa kamu masih ada di sana?" Kata Satya ketika tak mendapatkan jawaban apapun lagi.
"Nikita?" Bahkan sampai memanggil namanya.
"Katanya tadi lo minta gue diam. Sudah diam, malah disuruh buat bicara," sama sekali tidak heran kalau Nikita selalu suka bersikap menyebalkan seperti ini.
Mendengar perkataan itu keluar dari mulut gadis mungil yang memang disukainya, hanya bisa membuat seorang Satya menghela napas berat. Sekarang dirinya tahu kenapa sang orang tua begitu melarang perjodohan ini.
"Kamu boleh bicara," Satya berusaha untuk sabar. Padahal kalau bukan Nikita yang berada di balik panggilan ini, kesabaran seorang Satya bisa hanya setipis helaian rambut.
"Tentu saja kita harus pergi ke butik. Kenapa lo harus tanyakan sesuatu yang sudah pasti?" Tanya Nikita terheran pada laki-laki yang masih tersambung pada panggilan ini.
"Saya hanya ingin memastikan saja. Takut kalau tiba-tiba kamu mengubah pikiran," ujar Satya dari seberang panggilan ini.
"Tidak akan berubah pikiran. Gue gak mungkin bisa melanggar perjanjian yang baru aja ditandatangani. Jadi, tenang aja setelah wisuda nanti, kita pasti akan langsung menikah dan setelahnya gue bakal pergi ke Paris," kata Nikita dengan senyuman yang lagi-lagi mengembang di bibirnya.
"Baiklah. Besok saya akan jemput di rumah kamu."
"Di rumah? Padahal gue niatnya setelah pulang sekolah langsung pergi ke butik."
"Ya sudah, kalau begitu saya jemput kamu di sekolah."
"Ok," tukas Nikita singkat dan kemudian mengakhiri panggilan ini secara sepihak, tanpa perlu menunggu laki-laki itu memberikan respon lagi.
Bersambung...