I Hated My Boss

I Hated My Boss
D U A P U L U H E M P A T



Karena hari sudah terlalu larut untuk membiarkan Nikita pulang sendirian, Satya yang seharusnya masih memiliki banyak pekerjaan pun lebih memilih mengantarkan gadis itu pulang. Bagi seorang Satya, tanggung jawab jauh lebih penting daripada pekerjaan kantor. Satya hanya takut dan enggan untuk mengambil resiko kalau membiarkan gadis itu pulang sendirian.


Tahu jika diluar gedung masih cukup banyak wartawan yang menunggu, Satya harus mengantarkan Nikita pulang dengan menggunakan mobil yang tak terlalu mencolok. Berharap kalau Nikita tidak akan mempersalahkan soal mobil yang bisa dibilang sedikit kurang nyaman.


"Tidak masalahkan?" Tanya Satya sambil membukakan pintu sebuah mobil keluarga yang berwarna abu.


Sebenarnya Satya tetap ingin mengemudikan mobil sedan yang biasanya, Tapi situasi sekarang ini sangat tidak mendukung baginya untuk terlihat terlalu mencolok. Kalau tetap memaksakan diri menggunakan mobil sedan mahalnya, para wartawan itu pasti akan datang menghampiri dan mungkin menghadang jalannya.


Sembari memasang ekspresi wajah datar, Nikita pun masuk ke dalam mobil itu, lalu menempatkan dirinya duduk nyaman pada jok penumpang, persis di sebelah dari pengemudi. Kalau boleh menebak, sepertinya Nikita sama sekali tidak memiliki masalah apapun dengan mobil ini.


Setelah memastikan Nikita bisa duduk dengan nyaman, Satya pun langsung menyusulnya. Laki-laki itu menempati kursi kemudi dan siap untuk mengemudikan mobil milik perusahaan ini.


"Sudah pakai sabuk pengamannya?" Tanya Satya sambil menatap ke arah gadis yang kini ada persis di sampingnya.


"Sudah kok," jawab gadis itu.


Satya memang telah melihat sabuk pengaman terpasang di tubuh gadis pemilik nama Nikita itu, tapi ketika memastikan lagi ternyata pengait dari sabuk pengaman belum sepenuhnya terpasang. Bukan tanpa sadar, hanya saja tadi Nikita kira kaitannya sudah terpasang, tapi ternyata itu malah lepas lagi.


Hanya untuk membantu gadis itu, Satya pun mulai mendekatkan dirinya dan mempertipis jarak dari Nikita. Dengan cepat, Satya memasangkan kaitan sabuk pengaman yang tadi sempat terlepas itu.


"Lebih baik kamu memeriksanya dua kali," tutur Satya setelah selesai memberikan bantuannya.


Jujur, saat tadi jarak mereka berdua begitu dekat, Nikita hanya bisa mencium aroma parfum khas milik dari laki-laki itu. Wangi tubuh laki-laki itu benar-benar memabukkan. Sangat harum sampai Nikita tadi hampir mau kelepasan.


Tak pakai lama, setelah melakukan itu dan memastikan kalau semuanya sudah aman, Satya pun menginjak pedal gas, lalu mengemudikan mobil ini keluar dari parkiran gedung perusahaan, melewati para wartawan yang masih berjaga di depan lobby. Sepertinya karena mobil yang keluar tampak tak terlalu mencolok, para wartawan itu berhasil untuk dikelabui.


Sekarang ini, mobil yang dikendarai sendiri oleh Satya mulai melaju dengan kencang melintasi jalan kota yang terbilang cukup lancar. Kalau boleh memperkirakan, sepertinya akan butuh sekitar dua puluh menit untuk bisa menjangkau kediaman Nikita dan keluarganya.


......................


Tak membiarkan suasana di mobil terlalu hening, Nikita pun memilih untuk berinisiatif membuka obrolan terlebih dahulu. Sebenarnya sejak tadi memang ada hal yang ingin Nikita bicarakan dengan laki-laki itu, tapi selalu tertunda hanya karena ia tak memiliki kesempatan untuk mengatakannya.


"Satya?" Panggil gadis itu yang berhasil membuat laki-laki disebelahnya langsung menoleh sebentar.


"Ada sesuatu hal yang ingin gue omongin sama lo," tambahnya dan langsung mendapatkan persetujuan dari laki-laki itu.


"Silahkan. Saya akan mendengarkan," kata Satya masih sambil berfokus pada jalanan kota.


"Besok itu acara kelulusan gue. Di hotel Atmajaya," bukan bermaksud untuk berbasa-basi, hanya saja Nikita sedikit ragu untuk mengatakannya. Pikirannya seakan tidak memperbolehkan untuk berkata apapun kepada laki-laki itu.


"Lalu?" Rupanya Satya masih belum bisa memahami maksud perkataan Nikita dengan mudah.


"Ehm..."


"Gue mau lo datang ke acara kelulusan itu," kata Nikita akhirnya mengeluarkan kalimat ajakan yang sejak tadi selalu diragukannya.


Mendengar itu mampu membuat Satya tanpa banyak berpikir untuk langsung menyetujuinya. Hanya datang ke acara kelulusan, tentu saja bukan menjadi sebuah masalah besar. Ya meskipun Satya tahu kalau esok hari masih menjadi hari yang sibuk, tapi mau bagaimana lagi? Satya sama sekali tak berniat untuk menolak ajakan yang berasal dari Nikita.


"Tentu saja. Saya akan datang ke acara kelulusan kamu," ucap Satya yang mampu membuat Nikita sebagai pengajak menjadi sedikit terkejut.


"Langsung diterima? Lo gak butuh waktu berpikir?" Tanya Nikita dengan kedua mata yang membelalak lebar karena terkejut.


"Saya rasa ajakan dari kamu tidak perlu terlalu dipikirkan terlalu lama," jawab Satya yang anehnya mampu memunculkan sebuah senyuman malu-malu di wajah cantik milik gadis pemilik nama Nikita itu.


"Memangnya besok lo gak ada kesibukan ataupun pekerjaan apa gitu? Gue gak yakin kalau lo benar-benar free," kata Nikita berusaha keras menyembunyikan senyuman malu-malu itu.


"Saya memang punya banyak kesibukan, tapi untuk bisa memenuhi ajakan dari kamu, saya bisa mengosongkan semua jadwalnya," ucap Satya terdengar begitu mudah.


Karena ucapan yang baru saja keluar dari mulut laki-laki itu kedengaran begitu meyakinkan, Nikita pun tak ragu untuk menganggap kalau Satya setuju datang ke acara kelulusannya.


"Ok. Gue harap lo gak lupa buat bawa hadiah," pinta Nikita yang memang bisa diseriusin oleh laki-laki itu.


"Apa yang kamu minta sebagai hadiah kelulusan?" Tanya Satya tidak sedang bercanda.


Entah ini serius atau hanyalah sebuah candaan belaka, tapi memang ada hal yang begitu diinginkan oleh Nikita. Mungkin tidak bisa dipenuhi sekarang ataupun besok, tapi nanti setelah menikah, Nikita yakin kalau laki-laki itu bisa mewujudkannya.


"Surat cerai. Tepat setelah nanti lima tahun kita menikah," pinta Nikita dan itu sanggup membuat Satya terbatuk-batuk.


Kenapa lima tahun? Karena menurut perhitungan matematika. Nikita yang memang berniat untuk menempuh pendidikan di Paris, kurang lebih bisa menghabiskan empat tahun dan kemungkinan dalam waktu itu mereka berdua sangat mustahil bisa berhubungan layaknya suami istri. Jarak yang jauh pasti akan menyulitkan mereka.


Nikita tak berniat untuk kejam. Setelah menyelesaikan studinya selama empat tahun, ia akan memberikan waktu satu tahun lagi. Bukan bermaksud sebagai kesempatan, melainkan akan tidak wajar kalau setelah berpisah empat tahun langsung minta cerai. Kedua orang tua Nikita juga pasti tak akan mengizinkannya. Mengingat ia juga mempunyai kesepakatan pribadi dengan sang ayah.


"Apa kamu serius meminta hal seperti itu? Kita bahkan belum menikah? Tapi, kamu sudah bisa minta surat cerai?" Ungkap Satya sedikit terheran akan permintaan yang dilakukan oleh gadis itu.


"Gue serius. Gue minta hal itu sekarang, supaya nanti gue gak perlu repot-repot untuk meminta lagi. Surat cerai setelah lima tahun menikah, tolong berikan itu sebagai hadiah kelulusan," kata Nikita dalam balutan sorot mata serius.


Satya pun memberhentikan mobil ini tepat di pinggir jalan. Bukan bermaksud untuk marah ataupun hal lainnya, hanya saja sekarang mereka sudah tiba di kediaman keluarga Tuan Ryan.


"Apa kita menikah hanya untuk bercerai?" Tanya Satya seakan enggan menurut pada keinginan dari gadis itu.


"Entahlah. Tapi, bukankah sedari awal pernikahan kita hanya sebuah paksaan? Agar tak terlalu semakin terikat, akan lebih baik kalau mengakhirinya dengan cepat," tukas Nikita yang kemudian melepaskan pengait dari sabuk pengaman.


Setelah mengatakan semua hal yang dirasa perlu, Nikita pun mulai melangkahkan kakinya turun dari mobil ini. Tanpa berpamitan dengan benar, gadis itu mulai berjalan menjauh meninggalkan mobil MPV dan juga Satya.


Bersambung...