I Hated My Boss

I Hated My Boss
D U A P U L U H S E M B I L A N



Waktu benar-benar berlalu begitu cepat. Tidak terasa hari yang paling dinanti-nanti oleh kedua orang tuanya, bukan dengan Nikita, tiba juga. Inilah yang sudah sejak dulu diinginkan oleh ayah serta ibu dari Nikita. Melihat putrinya menikah dengan seorang pria baik seperti Satya.


Meskipun sekarang adalah hari bahagianya, entah mengapa raut wajah Nikita sama sekali belum terlihat adanya garis senyum. Apakah hanya karena ia menikah dengan seorang lelaki yang sama sekali tak pernah dibayangkan? Nikita tahu kalau calon suaminya adalah sosok pria terbaik, tapi menikah dengan Satya bukan termasuk keinginan, angan atau harapan darinya.


Nikita sekarang terlihat sedang duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sebuah kaca rias. Dia menatap dirinya sendiri yang telah selesai dirias sedemikian rupa. Hasilnya tampak cantik dan tak mengecewakan sama sekali, namun ekspresi wajah Nikita tidak menggambarkan kalau ia senang dengan riasannya. Wajahnya benar-benar muram dan hampir persis seperti seorang yang sedang bersedih.


"Kalau misalnya nona tak terlalu menyukai riasan yang sekarang, saya bisa langsung memperbaikinya," ujar make up artist yang rupanya merasa bersalah atas rasa ketidakpuasan dari sang klien. Sekarang kalau ekspresi wajah Nikita terus ditekuk seperti itu, bagaimana orang lain tak salah paham?


"Ah tidak perlu. Aku menyukai riasannya. Semua sudah terlihat bagus," kata Nikita sembari memunculkan sebuah senyuman terpaksa.


"Benarkah?" Rupanya penata rias itu cukup ragu akan perkataan yang baru saja keluar dari mulut Nikita.


"Kalau nona memang menyukainya, tak mungkin kelihatan murung sejak awal," singgung penata rias itu yang ternyata cukup memperhatikan kliennya.


"Ah..." Nikita menggelengkan kepalanya menyalahkan prasangka yang dimiliki oleh penata rias itu.


"Jangan salah paham! Aku murung bukan karena tidak puas dengan riasannya, hanya saja sekarang ini sedang sedikit memiliki masalah pribadi," ujar Nikita yang jadi merasa bersalah karena sudah menimbulkan kesalahpahaman.


Entah apa yang ada dipikiran dari make up artist tersebut, setelah mendapatkan jawaban seperti itu, seketika ia langsung menyentuh bahu milik Nikita sembari melemparkan tatapna yang tampak begitu serius.


"Ini adalah hari pernikahan nona dan tak seharusnya merasa murung seperti itu. Kalau nona terus memasang ekspresi seperti itu, akan banyak orang yang akan salah paham. Ada baiknya untuk sejenak, nona melupakan tentang masalah itu dan berbahagia di hari pernikahan," ucap make up artist itu memberikan sebuah saran yang dirasa benar.


Sebenarnya Nikita juga begitu ingin menunjukan senyumannya, tapi mengingat kalau ini adalah hari pernikahannya dengan sosok Satya - seseorang yang sama sekali tidak dicintai, sanggup membuat Nikita terasa berat dan menganggap ini sebagai masalah. Padahal dengan jelas ia menganggap kalau pernikahan akan menjadi syarat untuk kepergiannya ke Paris. Bukankah yang mengajak untuk cepat-cepat menikah adalah Nikita sendiri? Tapi, kenapa yang sedih dan murung juga dia sendiri? Pernikahan, kedua orang tuanya dan juga Satya tak terlalu memaksakan agar itu cepat untuk dilaksanakan.


Enggan untuk memberikan respon lebih kepada saran yang diberikan oleh make up artist tersebut, Nikita yang memang sudah kelihatan begitu cantik dengan riasan serta gaun pengantin putih yang dibuat dan design sendiri pun mulai melemparkan pertanyaan yang harus dijawab oleh penata rias itu.


"Jadi, kapan aku bisa keluar dari sini?" Tanya Nikita yang sekarang ingin untuk segera menyelsaikan prosesi pernikahannya.


Belum sempat mendapatkan jawaban, secara tidak terduga sang ibunda datang menghampiri, bermaksud untuk memastikan kalau putrinya itu telah usai dirias. Bukan bermaksud memburu, tapi sepertinya Nikita harus bergegas keluar. Acara pernikahannya sudah siap untuk dimulai.


"Bagaimana sayang? Apa kamu sudah siap?" Tanya sang ibunda sembari menatap takjub ke arah sang putri yang kelihatan begitu cantik. Bisa dipastikan kalau Satya melihat penampilan Nikita saat ini, ia juga akan merasa terkagum, seakan tak ada alasan lain baginya untuk tak jatuh cinta kepada sosok Nikita.


"Menurut bunda?" Bukannya menjawab, Nikita malah membalikkan pertanyaaan kepada ibunya.


Tak berniat untuk terlalu banyak terlibat dalam obrolan, Nikita yang memang sudah siap dan begitu ingin semuanya terselesaikan dengan cepat pun mulai beranjak bangkit dari tempat duduknya. Tanpa ada senyuman yang terlihat menghiasi wajahnya, Nikita pun bergegas mendahului sang ibunda keluar dari ruangan rias dan menuju ke arah mobil pengantin yang memang sudah menunggu dan siap untuk mengantarkannya menuju ke tempat dimana acara pernikahan itu dilaksanakan.


......................


Bersama dengan sang ayah tercinta, Nikita yang kelihatan sedang memaksakan senyumannya mulai melangkah melewati karpet merah, bermaksud untuk mendekatkan diri ke arah Satya yang saat ini sudah menunggu dirinya di depan altar bersama dengan seorang pendeta.


Sembari menggenggam erat jemari tangan milik Nikita, pendeta yang kebetulan akan menjadi pemimpin dari acara ini pun tanpa segan meminta pasangan muda itu untuk mengikrarkan janji suci pernikahan. Sebuah janji yang tentu saja harus ditepati sampai kapanpun dan begitu pantang diingkari.


"Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita," dengan mudahnya, Satya mengatakan itu seakan memang tak ada penghalang apapun. Bisa terlihat kalau Satya bukan seseorang yang mudah merasa ragu akan keputusan yang sudah diambil.


Nikita mendengar janji yang sudah dikatakan oleh Satya dengan lantang, tapi entah mengapa bukannya juga ikut membuat janji, Nikita malah terdiam seakan sedang terlarut pada pikirannya sendiri. Seharusnya tepat setelah Satya mengatakannya, giliran selanjutnya adalah Nikita.


Mengetahui kalau gadis itu tak kunjung mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya, Satya pun mau tak mau harus memanggil namanya dan membuat Nikita berhenti untuk melamun.


"Nikita?" Hanya satu kali panggilan saja, itu sudah berhasil membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


"I-iya?" Nikita menanggapi panggilan dengan sedikit tergagap.


"Kenapa melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Satya yang malah kelihatan khawatir.


"Bukan apa-apa," jawab Nikita enggan membagi apa yang kini sedang ada dalam pikirannya.


Karena Nikita tak kunjung mengikrarkan janji pernikahan, pendeta yang memimpin jalannya prosesi pemberkatan pernikahan ini pun mulai meminta kembali kepada mempelai wanita agar mau mengatakan janji untuk pernikahan ini.


"Saya mengambil engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita," ujar Nikita akhirnya ikut mengikrarkan janji.


Setelah mendengar keduanya mengatakan janji itu dihadapan Tuhan dan para saksi yang hadir, Pendeta pun bisa dengan mudah menyatakan kalau pernikahan yang terjadi antara mereka berdua sudah sah. Sekarang status Nikita telah berubah menjadi seorang istri.


Untuk melakukan prosesi selanjutnya, Satya pun mendekatkan dirinya kepada Nikita, kemudian tanpa ragu memberikan kecupan singkat pada dahi milik gadis itu. Bisa dibilang kalau ini menjadi cara bagi dirinya untuk menghargai Nikita yang kini telah menjadi istrinya.


"Terima kasih, Nikita," bisik Satya dengan suara maskulin yang mampu membuat gadis itu mengembangkan senyuman tipis.


Tak berhenti sampai disana, saat kedua pasangan suami istri baru itu berniat untuk meninggalkan tempat pernikahan, seluruh tamu undangan yang hadir meminta agar mereka berdua berciuman. Rasanya sebagai tamu kurang puas kalau hanya melihat pengantin baru itu mengecup dahi.


"Cium... Cium... Cium..." desak para tamu undangan yang hadir.


Karena desakan yang diberikan oleh mereka semua, mau tak mau Satya harus melakukannya. Bukan karena ingin mengambil kesempatan, perlahan-lahan Satya mengarahkan bibirnya mendekat ke arah bibir ranum milik sang istri.


Satya tahu dan menyadari kalau diantara mereka ada perjanjian yang tentu saja tidak bisa asal dilanggar. Oleh sebab itu, untuk mengelabuhi para tamu, satya dengan sengaja menutup bibir ranum milik Nikita dengan ibu jarinya sendiri. Kelihatannya memang Satya sedang memberi ciuman pada Nikita, tapi aslinya ia hanya mencium ibu jarinya sendiri.


Bersambung...