I Hated My Boss

I Hated My Boss
E N A M B E L A S



Merasa sudah cukup menghabiskan banyak waktu di butik, Satya bersama Nikita pun memutuskan untuk segera pulang. Hari sudah semakin larut dan besok Nikita juga masih harus pergi ke sekolah. Satya hanya tidak ingin membuat gadis itu pulang terlalu malam.


Setelah cukup dengan obrolan mengenai gaun, mereka pun bergegas untuk langsung berpamitan. Nikita yang aslinya masih ingin berada di tempat ini mau tidak mau harus menurunkan rasa egonya ketika melihat jam yang sudah menunjukan tepat pukul sembilan malam.


"Kemungkinan besok sore aku akan kembali datang kesini," ujar Nikita kepada pemilik butik ini.


"Tentu. Kamu bisa datang kapan saja karena kami akan selalu menyambut mu dengan baik," kata Nyonya Siska kedengaran tak masalah .


Nikita tersenyum singkat lalu melangkahkan kaki mendekat ke arah Satya yang kini telah menunggu di pintu keluar dari butik ini. Meskipun rasanya sedikit berat untuk meninggalkan tempat ini, karena jujur masih banyak yang ingin dibicarakan, Nikita tetap tak bisa untuk menghentikan langkahnya.


Dengan raut wajah yang kelihatan belum sepenuhnya rela meninggalkan butik, Tanpa adanya semangat sama sekali, gadis itu pun masuk ke mobil dan menempatkan kemabali dirinya pada kursi penumpang tepat di sebelah laki-laki pemilik nama Satya itu.


"Kenapa?" Tanya Satya merasa bingung ketika melihat mimik gadis itu. Kenapa setiap kali bersama dirinya, Nikita selalu memasang ekspresi seperti? Tidak bisakah ia tersenyum sama seperti saat sedang berbincang dengan Nyonya Siska?


"Gak apa-apa," namanya juga perempuan. Jawaban klasik diberikan dengan begitu mudahnya oleh Nikita.


"Yakin? Tapi kok kelihatannya kamu sedang apa-apa. Kalau mau cerita, silahkan saja. Saya siap untuk mendengarkannya," ujar Satya yang lebih ingin menjadi pendengar yang baik.


"Cuma sedikit gak rela aja buat pulang. Masih pengen di sana, soalnya seru banget. Apalagi sedari tadi pembahasannya tentang fashion, busana dan design," kata Nikita untuk kali pertama mau menceritakan isi hatinya kepada Satya. Padahal sejak kemarin, gadis itu terus saja bersikap galak.


"Besok kan kamu juga akan datang kesini lagi. Tak perlu sampai seperti itu," ujar Satya berniat untuk sedikit meredakan perasaan yang tengah dirasakan oleh gadis itu.


Nikita yang saat ini terlihat tengah bersandar pada bantalan empuk dari jok mobil pun menengokan kepalanya dan kedua matanya menatap lekat-lekat ke arah Satya.


"Sekarang? Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Satya sedikit agak gugup karena tatapan yang dibuat oleh Nikita.


"Besok, lo bakalan anterin gue kesini lagi?" Tanya Nikita yang berhasil membuat laki-laki itu menelan saliva nya sendiri.


"Memangnya masih mau diantar sama saya? Tadi di sekolah saja-" tidak sampai selesai, Nikita secara sepihak langsung memotong ucapan dari Satya.


"Gak perlu sampai berbelit seperti itu. Kalau gak bisa atau gak mau, gue bisa kok datang sendiri kesini," timpa Nikita yang enggan mendengar banyak omong kosong dari laki-laki itu.


"Saya yang akan antar kamu.Tapi, kalau harus naik mobil ini tidak akan menjadi masalah kan?" Tanya Satya takut mendapat keluhan lagi dari gadis itu.


"Kalau gue bilang masalah, lo bakal beli mobil baru? Gak mungkin kan lo buang uang untuk hal yang gak perlu," kata Nikita dengan kedua mata yang telah sengaja ditutup.


"Kalau bisa buat kamu merasa nyaman, saya bisa melakukannya. Membeli mobil baru, sepertinya bukan sesuatu hal yang sulit untuk dilakukan," ujar Satya yang langsung mendapatkan teguran dari gadis itu.


"Gue tahu kalau sekarang duit lo masih banyak, tapi gak seharusnya lo buang-buang untuk melakukan hal yang tidak perlu. Misalnya nih ya, tiba-tiba duit lo habis gimana? Siapa yang mau bayar pajak semua aset? Lo pikir mobil gak ada pajaknya? Gue gak mau ya kalau harus jadi istri yang disuruh nanggung semua itu," ujar Nikita kedengaran ada benarnya juga.


Entah mengapa ucapan seperti ini bisa membuat senyum sumringah di wajah seorang Satya. Tak menyangka saja, dibalik sikap garang yang juga selalu kekanak-kanakan, Nikita bisa sampai kepikiran pada hal-hal seperti itu.


"Ok. Besok saya jemput kamu di sekolah dan antar kamu kesini pakai mobil ini," ucap Satya sembari mengusap lembut ujung kepala milik gadis cantik itu.


Hanya menganggukkan kepala singkat, tanpa memberikan protes apapun, Nikita menyetujui ucapan yang baru saja keluar dari mulut laki-laki bernama Satya itu.


Tak perlu banyak berbincang lagi, Satya yang sedari tadi sudah siap di kursi kemudi pun mulai mengendarai mobil ini keluar dari parkiran. Sekarang mobil sedan hitam yang memiliki logo empat cincin itu pun sudah terlihat melintasi jalanan kota yang malam ini terbilang cukup ramai lancar.


Semenjak perjalanan, diantar dia sejoli itu sama sekali tidak terdengar adanya pembicaraan. Mereka memilih diam dan membiarkan suasananya menjadi begitu hening.


Nikita yang sebenarnya tak terlalu suka dengan namanya keheningan, terus saja mencoba menahan diri untuk tidak mengajak berbicara laki-laki bernama Satya itu. Bukan tanpa sebab, hanya saja Nikita sedikit gengsi kalau harus membuka topik pembicaraan terlebih dahulu.


Maka dari itu, jangan heran kalau Nikita terus mencoba untuk berpura-pura tidur! Padahal aslinya sekarang ini bibir serta mulutnya sangat ingin mengatakan banyak hal. Kenapa rasa gengsi ini harus hadir menyapa?


Keheningan terus saja terjadi diantara mereka berdua, sampai pada akhirnya semua itu harus berhenti ketika secara tidak terduga para cacing yang ada di dalam perut Nikita berbunyi, pertanda sedang memprotes minta di kasih makan. Mendengar bunyi perutnya sendiri, kedua mata Nikita terbuka lebar-lebar dan tangannya juga sudah memegangi ke arah perut. Sungguh, ini sangat amat memalukan. Kenapa pakai acara bunyi segala pada saat dirinya sedang berada Satya?


Satya yang masih menyetir, langsung mengalihkan fokusnya dari jalanan menuju ke arah Nikita yang saat ini masih menundukkan kepalanya, mungkin berniat untuk menutupi rasa malunya. Karena bunyi suara perut Nikita, laki-laki itu pun tak ragu membuat tawa kecil. Bukan bermaksud memberikan ejekan, hanya saja kondisinya sekarang sedang begitu lucu.


"Mau makan dimana, Nikita? Apa makanan yang paling kamu sukai?" Tanya Satya yang langsung menawarkan diri supaya bisa mampir dulu ke salah satu tempat makan sebelum melanjutkan perjalanan pulang.


Sebetulnya kalau dalam keadaan perut kosong dan lapar, tak perlulah bagi seorang Satya untuk bertanya seperti itu. Bukankah jauh lebih baik kalau ia langsung saja memberhentikan mobilnya di salah satu restoran atau tempat makan terdekat?


Karena tak mendapatkan jawaban apapun dari gadis itu, Satya pun memutuskan sendiri untuk mampir sebentar ke salah satu restoran junk food yang kebetulan ada di sekitaran area mobil ini melaju.


Tahu kalau mobil ini mampir ke salah satu tempat makan kesukaan, Nikita terlihat begitu sumringah dan semangat. Ayam goreng spicy yang dijual oleh restoran junk food ini benar-benar sangat cocok di lidah seorang Nikita. Makan ayam goreng, ditambah dengan kentang dan juga minuman bersoda, sudahlah tak ada yang bisa menandingi lagi kenikmatannya. Apalagi ice cream juga dipesan untuk semakin memperlengkap semuanya.


"Jadi? Kamu mau pesan apa?" Tanya Satya setelah berbicara kepada salah satu pegawai restoran ini lewat antrean Drive thru.


"Mau paket lengkap boleh? Minta ayamnya yang pedas ditambah dengan ice cream oreo nya satu," kata Nikita memberitahu memberitahu menu pesanan kesukaannya.


"Apa hanya itu?" Tanya Satya lagi hanya memastikan saja kalau tidak ada yang kurang.


"Boleh tambah kentang goreng sama burgernya gak?" Tidak perlu sampai harus bertanya seperti ini, karena kalau untuk gadis itu, Satya sama sekali akan kesulitan dalam hal menolak, apalagi yang dimintanya hanyalah soal makanan.


"Tentu saja."


Setelah mendapatkan semua pesanan dari gadis itu, Satya pun bergegas untuk memberitahunya kepada pegawai restoran. Pesanan sudah di terima dan sekarang Satya harus mengemudikan mobilnya untuk melakukan pembayaran di pos depan.


Pegawai dari restoran ini mengulang semua pesanan yang tadi sempat di ucapkan oleh Satya, saat sudah merasa semuanya benar pegawai itu pun memberitahu total harga yang harus dibayar. Tanpa berniat membuatnya terlalu lama, Satya mengambil dompet miliknya, kemudian melunasi semuanya menggunakan uang tunai.


"Kembaliannya Tuan?"


"Tidak perlu, ambil saja," Satya menolak uang kembalian dengan mudahnya.


Kini yang perlu mereka lakukan adalah menunggu sampai makanan yang dibuat itu jadi. Dalam hal ini yang paling kelihatan kurang sabar adalah Nikita. Bisa dilihat dari gelagat gadis itu yang terus saja menatap ke arah dalam pos untuk melihat kecepatan dari para pegawai restoran ini bekerja.


Bersambung...