I Hated My Boss

I Hated My Boss
D U A P U L U H



Dikarenakan rasa penasaran masih menggebu di dalam diri, Nikita pun memutuskan untuk mengambil ponsel yang saat ini masih berada di dalam tas selempang kecilnya. Bukan tanpa sebab, hanya saja ia merasa tak bisa untuk melakukan sesuatu pekerjaan jika rasa penasarannya itu belum mereda.


Sebenarnya Nikita sama sekali tidak peduli pada sesuatu hal yang berhubungan langsung dengan sebuah bisnis. Tapi, hanya untuk mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya, ia sekarang mencoba mencari berita terbaru mengenai bisnis.


Apa yang sejak tadi dicurigai olehnya menemukan sebuah jawaban pasti. Iya, meskipun belum membaca lebih banyak, trending topik tentang bisnis yang belakangan ini sedang banyak dibahas ternyata tertuju pada perusahaan Damara.


Saat semua artikel itu menggunakan Damara Group sebagai judul, sudah bisa membuat Nikita yakin dan paham mengenai perubahan sikap dari laki-laki pemilik nama Satya itu. Pantas saja tingkahnya sedikit aneh, ternyata ia sedang memikirkan banyak hal tentang perusahaan Damara yang lagi terkena masalah.


Hanya ingin mencari tahu lebih lanjut lagi, Nikita tak ragu untuk membuka salah satu artikel yang paling atas dari laman pemberitaan itu. Dengan seksama, ia membaca semua permasalahan yang kini tengah dihadapi oleh Damara Group. Kenapa gadis itu kelihatan begitu penasaran? Apa karena sekarang ia sudah mulai peduli pada permasalahan yang dimiliki oleh laki-laki bernama Satya itu?


Setelah membaca semua isi artikel yang ada di jejaring maya, Nikita sekarang jadi tahu kalau hanya karena satu orang manajer pada bagian departemen produksi yang terlibat dalam sebuah skandal, itu juga mampu membuat sebuah perusahaan besar seperti Damara Group mengalami masalah. Menurut artikel yang ada tertulis dengan jelas kalau hampir sebagian besar investor yang terlibat dalam proyek baru Damara Group sudah mengundurkan diri bahkan sampai ada yang menarik investasinya.


Membaca semua yang ada itu sanggup membuat Nikita sedikit merasa kasihan kepada sang calon suami. Kalau boleh menebak pasti sekarang dia sedang berusaha keras agar bisa keluar dari permasalahan ini.


"Jangan sampai uang lima puluh juta yang sempat diberikan harus diminta kembali!" gumam Nikita seorang diri dan kemudian meletakkan ponselnya kembali masuk ke tas selempang.


Setelah semua rasa penasarannya terjawab, Nikita yang tadi kelihatan begitu peduli pun mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah nyonya Siska. Untuk sementara ia akan lebih memfokuskan diri serta pikirannya pada pekerjaan pembuatan gaun pengantin. Permasalahan Damara Group biarlah menjadi urusan Satya.


.


.


.


Sama sekali tidak menduga, rupanya permasalahan yang sedang dihadapi oleh Damara Group sudah diketahui oleh pemilik butik ini — Nyonya Siska. Baru saja datang dan menunjukan diri di hadapan beliau serta pegawai lainnya, Nikita langsung disambut dengan banyaknya pertanyaan mengenai permasalahan skandal itu. Nyonya Siska yang paling ingin tahu, terlihat dari caranya dalam melemparkan banyak pertanyaan yang terkesan tak memiliki ujung.


"Aku turut ikut sedih dengan apa yang sedang terjadi pada Damara Group," kata Nyonya Siska sambil melemparkan sebuah pelukan kepada gadis itu.


"Jadi, bagaimana? Apa yang terjadi dengan calon suami mu? Apa pernikahan masih berlanjut? Damara Group tak akan langsung hancur begitu saja kan karena permasalahan skandal ini?" Tambah Nyonya Siska dengan rentetan pertanyaan yang sanggup membuat seorang seperti Nikita kebingungan harus memberikan jawaban seperti apa. Pasalnya disini Nikita juga hanya tahu melalui berita yang sedang beredar di dunia maya.


"Aku rasa semuanya baik-baik saja. Tidak semua berita di artikel itu benar. Damara Group tak akan langsung bangkrut hanya karena skandal kecil seperti ini."


Entah darimana asal kepercayaan diri itu, yang jelas perkataan yang baru saja terlontar dari mulut mungil Nikita seakan tengah memberikan jawaban pasti dengan kondisi Damara Group sekarang ini.


"Benarkah? Aku hanya khawatir kalau perusahaan besar itu bangkrut hanya karena sebuah skandal yang dilakukan oleh salah seorang manajernya," ujar Nyonya Siska kemudian melepaskan pelukannya.


Karena Nikita memang enggan untuk terus membahas ataupun mendengar tentang masalah yang sedang dialami oleh Damara Group, ia pun memutuskan mengalihkan pembicaraan dengan topik lain. Tanpa segan, Nikita langsung saja melemparkan sebuah pertanyaan mengenai gaun pengantinnya.


"Jadi, bagaimana soal gaun pengantinnya? Apa sudah menemukan bahan yang sesuai dengan keinginan ku?" Tanya Nikita sambil pandangannya tertuju pada desain yang kemarin sempat digambar olehnya di selembar kertas HVS.


Tak menyangka kalau beliau bisa dengan mudah dialihkan seperti ini. Karena pembahasannya sudah bukan lagi tertuju pada Damara Group, Nikita bisa dengan mudah untuk lebih fokus pada gaun pernikahannya.


......................


Waktu benar-benar berlalu begitu cepat. Setelah menghabiskan kurang lebih empat jam, akhirnya Nikita sudah berhasil menyelesaikan beberapa bagian dari gaun pernikahan. Aslinya Nikita bisa saja untuk terus kerja lembur hanya demi gaun itu, namun ia juga harus ingat kalau esok adalah hari wisuda kelulusannya. Maka dari itu, Nikita harus segera pulang dan menyiapkan kebaya yang cocok untuk besok hari.


Walaupun masih belum ingin pulang dan meninggalkan butik ini, Nikita tetap sudah harus berpamitan. Mobil jemputan yang tadi sempat dikatakan oleh Satya sudah datang. Nikita sedikit agak senang karena ternyata laki-laki itu masih menyempatkan diri untuk mengirimkan seorang sopir di tengah masalah yang sedang dialami sekarang.


Setelah berpamitan kepada Nyonya Siska dan juga pegawai lainnya, Nikita pun mulai melangkahkan kaki mendekat ke arah mobil SUV berwarna putih itu. Tanpa ada keraguan sedikitpun, gadis cantik pemilik nama Nikita mulai membuka pintu mobil, lalu menempatkan dirinya duduk di kursi belakang dari mobil ini. Senang rasanya karena ia tak harus mengeluarkan uang lagi untuk biaya perjalanan pulang.


Pada saat baru naik ke dalam mobil itu, Nikita pun langsung bertanya kepada sopir mengenai keberadaan dari Satya sekarang. Bukan karena khawatir ataupun peduli, Nikita hanya merasa ingin tahu saja karena rasa penasaran yang tadi sempat hilang bisa dengan mudahnya kembali lagi.


"Jadi? Apa sekarang Satya sedang sibuk dengan urusan perusahaannya?" Tanya Nikita dan langsung mendapatkan jawaban dari sopir itu.


"Iya. Sejak siang tadi Tuan selalu sibuk untuk menyelesaikan permasalahan ini," jawab sang sopir.


"Apa dia masih ada di kantornya?" Tanya Nikita lagi.


"Iya. Tuan hanya bisa berada di kantor. Tak ada banyak waktu untuk keluar kemanapun. Hanya tadi saja, Tuan bela-belain keluar hanya karena ingin mengantar nona ke butik," ujar sopir itu mengatakan hal sebenarnya.


Merasa tidak menyukai cara dari sopir itu berkata, Nikita pun meminta kepadanya agar mau mengantarkan dirinya ke perusahaan Damara. Bukan ingin mengacau hanya saja, Nikita ingin datang dan menemui laki-laki bernama Satya itu.


Nikita hanya memiliki niat baik, ia hanya ingin memberikan sebuah protes keras kepada laki-laki pemilik nama Satya itu. Siapa yang menyuruhnya pakai acara bela-belain mengantarkan ke butik? Kalau misalnya tidak bisa mengantar, bilang saja langsung. Bukannya terharu, Nikita malah tersinggung hanya karena dibela-belain oleh Satya.


"Tolong hantarkan saya ke Damara Group!" Perintah jelas yang diberikan oleh Nikita ini hanya mampu membuat sang sopir bingung.


"Tapi, saya diperintahkan untuk mengantarkan nona pulang," kata si sopir yang lebih condong pada perintah dari tuannya.


"Hantarkan saja saya ke Damara Group. Saya hanya ingin menemui Satya. Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan atasan mu itu," ujar Nikita sudah bersikeras.


Seperti biasanya, kalau Nikita telah menjadi seseorang yang keras kepala, itu berarti keinginannya tak boleh mendapatkan penolakan apapun. Karena memang semakin di tolak, Nikita malah makin memaksa keinginannya itu.


"Baik. Saya akan hantarkan nona ke perusahaan Damara," kata sopir itu akhirnya setuju pada perintah serta keinginan dari Nikita.


Bersambung...