
Kelihatan seperti seseorang yang tak memiliki rasa bersalah sama sekali, kini Nikita tengah duduk nyaman di atas sofa empuk sambil pandangannya terus terfokus menatap ke arah Satya yang masih setia berada di kursi kebesaran. Entah apa yang dilakukan olehnya, tapi kalau dilihat Satya sekarang masih begitu sibuk pada layar laptop dan juga berkas serta lembaran kertas-kertas yang berantakan.
Nikita yang tidak terlalu suka diabaikan tanpa adanya pembicaraan sama sekali pun mulai melemparkan sebuah kalimat protes. Kenapa dalam hidup seorang Nikita selalu saja merasa kurang? Apalagi ketika lagi bersama Satya? Hampir segala hal yang ada berhasil mendapatkan protes darinya.
"Satya?!" Panggil Nikita dengan lantang, tapi belum berhasil membuat laki-laki itu menoleh.
"Iya?" Satya masih memberikan sahutan, ketika dua matanya tetap berfokus pada kesibukan di layar laptop dan berkas-berkas itu.
"Satya?!" Nikita memanggil lagi karena merasa kurang puas dengan cara dari laki-laki itu merespon.
"Kenapa Nikita?"
Dikarenakan pandangan Satya terus saja berada pada layar laptop, Nikita yang mulai merasa kesal pun beranjak dari posisi ternyaman nya, kemudian tanpa ada keraguan sedikitpun menutup dengan mendadak layar laptop itu. Kalau ditutup, otomatis laptop yang masih digunakan itu harus berada dalam mode mati.
"Kalau dipanggil itu, matanya jangan lihat ke laptop! Lihat ke orang yang panggil," protes Nikita yang berhasil membuat seorang Satya melemparkan senyuman terpaksa.
Sebenarnya Satya ingin sekali marah dan memberikan teguran atas tindakan sepihak yang dilakukan oleh gadis itu, tapi Satya menahannya hanya karena tahu kalau seseorang seperti Nikita tidak bisa asal main dimarahi. Nikita bukan tipe orang yang bisa memperbaiki kesalahan setelah dimarahi. Sungguh, untuk menghadapi gadis seperti dia perlu mendapatkan kesabaran yang begitu ekstra. Boleh diakui jika Tuan Ryan juga termasuk dalam salah satu dari laki-laki yang memiliki kesabaran ekstra.
Hanya takut kalau gadis itu malah memberontak karena amarah ataupun omelan, Satya lebih memilih untuk memberitahunya secara baik-baik. Maka dari itu, ia tak ragu memunculkan senyuman di bibirnya. Ya meskipun senyuman ini keluar karena terpaksa. Bagaimana seseorang bisa merasa marah dan bahagia diwaktu bersamaan? Kalaupun bisa pasti salah satunya hanya sebuah kepura-puraan belaka.
Menurut pada protes yang diberikan oleh gadis itu, Satya sudah mulai menatap dengan lekat-lekat ke arah si pemilik nama Nikita yang kini tengah berdiri dihadapannya. Terasa aneh, tapi nyata. Ketika ditatap oleh Satya seperti ini, entah mengapa jantung Nikita mulai berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Mata cantik berwarna hazel itu benar-benar berhasil membuat debaran di dada Nikita.
"Kenapa kamu kesini? Apa ada hal penting yang ingin kamu katakan kepada saya?" Tanya Satya dalam balutan tutur kata yang baik.
"Tidak apa-apa. Gue cuma benci aja saat lo lebih mementingkan tuh laptop sama kertas-kertas. Gue berasa gak dianggap," jawab Nikita tak ragu untuk memberitahu keluhannya.
Setelah mengatakan itu, sambil memasang wajah masam dengan bibir cemberut, Nikita pun bergegas kembali ke sofa, tempatnya tadi duduk. Melihat tingkah laku yang seperti anak kecil ini mampu membuat Satya tersenyum dengan mata menyipit.
Tidak ada maksud untuk tetap mengabaikan gadis itu, Satya pun kembali membuka layar laptop, lalu menyalakannya. Untung saja berkas file yang sedang dikerjakan tidak hilang. Setiap melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketik mengetik pada laptop ataupun komputer, Satya kerap menyalakan auto save. Tujuannya hanya untuk mengantisipasi hal seperti ini.
"Jangan ngambek lagi! Nanti setelah saya selesai, kita akan pergi makan. Bukankah kamu selalu menyukai hot pot?" Tanya Satya berusaha memancing agar gadis itu mau berhenti merasa kesal.
"Lo kok bisa tahu? Pasti stalker sosial media gue ya?" Tuduh Nikita sambil membuat tatapan menelisik ingin tahu.
"Cuma melihat sekilas dan ternyata hot pot jadi salah satu hal yang terpasang dengan jelas pada sorotan cerita sosial media kamu," jawab Satya yang tidak terlalu mempermasalahkan dibilang stalker atau hal sebagainya.
"Tapi lo yang bakal traktir kan ya?" Tanya Nikita hanya memastikan saja kalau tidak akan ada uang yang keluar dari dompet ataupun rekeningnya.
"Tentu saja. Saya juga tidak mungkin memintamu untuk membayar. Itu akan melukai harga diri saya sebagai seorang laki-laki," ujar Satya yang langsung mendapatkan anggukkan kepala dan juga senyuman lebar dari gadis pemilik nama Nikita itu.
"Ok. Soal restoran hot pot, biar nanti gue aja yang pilih," kata Nikita yang kembali mulai menyibukkan diri dengan majalah.
Karena sudah merasa puas akan ajakan yang diberikan oleh Satya, Nikita berniat untuk tidak memberikan gangguan apapun kepada laki-laki itu. Kalau dirinya tetap mengganggu, takutnya pekerjaan yang sedang dilakukan oleh Satya tidak bisa cepat selesai. Dirinya enggan untuk lebih lama lagi menahan rasa lapar yang sudah mulai muncul ini.
......................
Setelah hampir dua jam berlalu, akhirnya Satya selesai juga dengan pekerjaan yang sedari tadi membuat dia kelihatan sibuk. Layar laptop sudah ditutup serta semua lembaran kertas yang berserakan mulai dirapikan.
Tak butuh waktu lama, Satya pun beranjak dari kursi kebesaran dan melangkahkan kaki mendekat ke arah Nikita yang saat ini tengah tertidur pulas di sofa panjang. Mungkin karena dibuat menunggu terlalu lama, rasa lapar yang dirasakan berubah menjadi rasa kantuk.
Merasa bersalah karena sudah membuat gadis itu menunggu, Satya pun mulai menempatkan dirinya berlutut persis di samping dari wajah Nikita yang masih berada di alam mimpi. Melihat gadis itu tidur pulas sanggup membuat Satya merasa tidak enak hati kalau harus membangunkannya. Maka dari itu, ia langsung membuat pilihan untuk memesan makanan hot pot melalui online.
Pada saat Satya sedang berbincang kepada sang sekretaris lewat panggilan dan itu hanya untuk memesan hot pot, Nikita yang memang sejak tadi terlihat masih tidur pun mulai menunjukan tanda-tanda akan terbangun.
Perlahan-lahan gadis itu mulai membuka kedua matanya, sambil terus menggeliat. Mungkin yang menjadi penyebab gadis itu terbangun, hanya karena suara bising yang dibuat oleh Satya. Tidak bisakah laki-laki itu berbincang di telepon dengan mengecilkan volume suaranya?
"Sudah selesai?" Tanya Nikita langsung setelah kedua matanya terbuka lebar-lebar.
Meskipun kesadarannya belum terkumpul semua, karena ada yang masih tertinggal di alam mimpi, Nikita tetap bisa bangun dari posisinya, lalu mengulurkan tangannya seperti mengajak laki-laki bernama Satya itu untuk pergi menuju ke restoran hot pot sesuai janji.
Satya yang masih berbincang dengan sang sekertaris lewat panggilan telepon, hanya bisa menanggapi tingkah aneh ini dengan sebuah senyuman. Baru bangun tidur saja Nikita bisa bertingkah begitu menggemaskan seperti ini.
"Ayo!" Ajak Nikita yang sudah tidak sabar untuk segera pergi ke tempat makan hot pot.
Karena yang dikatakan kepada sang sekretaris sudah lebih dari cukup, Satya pun mulai mengakhiri panggilan itu, kemudian tanpa ragu untuk meraih uluran tangan yang diberikan oleh Nikita sambil tersenyum lebar.
"Ayo kita makan sekarang!" Kata Nikita kedengaran begitu bersemangat.
Satya memang menjangkau uluran tangan itu, tapi dirinya sama sekali tidak berniat untuk pergi kemanapun. Bukan bermaksud ingkar janji, hanya saja ia sudah terlanjur meminta tolong kepada sang sekretaris supaya mau memesankan hot pot.
"Kita tidak akan pergi kemana-mana," ujar Satya dan berhasil membuat Nikita berkedip beberapa kali sambil mengorek telinganya sendiri, hanya takut kalau salah dengar.
"Katanya lo mau ajak gue makan hot pot? Lo gak bohong kan?" Tanya Nikita dengan melemparkan sebuah tatapan tajam.
"Saya tidak berniat untuk berbohong. Kita memang akan makan hot pot, tapi tidak diluar," jawab Satya yang malah makin membingungkan.
"Terus? Kita makannya dimana? Apakah disini ada hot pot?"
"Saya sudah memesankan hot pot dari restoran langganan kamu."
"Memesan?"
"Iya. Jadi, kita akan makan hot pot disini. Tidak perlu pergi keluar dan mengunjungi restorannya," ungkap Satya berharap kalau gadis itu akan merasa senang dan setuju akan keputusan makan hot pot di ruang kerja ini.
"Darimana lo tahu restoran hot pot langganan gue? Sekalipun gue belum pernah ajak lo kesana?" Tanya Nikita yang rupanya lebih penasaran akan hal itu.
Masih sambil tersenyum, Satya pun menunjukan salah satu postingan story yang dijadikan sorotan oleh gadis itu di sosial media. Seringkali Nikita menyebutkan satu restoran yang sama saat sedang makan hot pot.
"Sepertinya kamu harus cuci muka terlebih dahulu. Separuh nyawamu masih ada di alam mimpi," kata Satya dan langsung membuat Nikita melepaskan genggaman tangan itu.
"Jangan sampai lo lupa buat membeli gorengannya dan juga menambahkan daging yang banyak!" kata Nikita yang kemudian kembali duduk di atas sofa.
"Memesan satu restoran, apa itu sudah lebih dari cukup?"
"Jangan berlebihan juga!" Tegur Nikita dengan tegas.
Mendapatkan teguran seperti ini, hanya mampu membuat Satya mengacak lembut ujung kepala dari gadis cantik yang sudah menjadi calon istrinya itu.
"Buat kamu, tidak ada yang namanya berlebihan."
Bersambung...