I Hated My Boss

I Hated My Boss
S E M B I L A N



Setelah di buat dua jam dibuat menunggu dalam ketidakpastian, akhirnya laki-laki yang panggilan teleponnya begitu dinanti oleh Nikita, pun mulai menghubungi kembali sesuai dengan apa yang tadi sempat diminta. Tahu kalau mendapatkan panggilan dari Satya, Nikita yang saat ini masih berada di kantin sekolah pun tak segan untuk langsung menjawab panggilan itu.


Tak lama akhirnya suara maskulin milik laki-laki bernama Satya itu terdengar jelas memenuhi telinga Nikita. Menunggu panggilannya sampai harus berjam-jam, tapi Nikita menjawab itu dengan begitu cepat.


"Nikita? Maaf, karena baru sempat untuk menghubungi mu kembali. Ada apa? Saya dengar ada sesuatu yang mau kamu katakan," ujar Satya dari balik panggilan ini.


Bukannya langsung mengatakan tujuannya, Nikita malah lebih memilih untuk memberikan omelan. Hanya saja gadis itu tengah merasa kesal hanya karena Satya begitu lama untuk menghubunginya kembali. Perlu diketahui, cuma buat menunggu panggilan ini, Nikita harus menolak ajakan dari Febi. Gadis itu benar-benar merelakan begitu saja traktiran makan dari sang sahabat.


"Kelihatan sibuk banget ya jadi orang? Sampai buat gue nunggu berjam-jam," decak kesal Nikita yang bisa di dengar dengan jelas oleh laki-laki itu.


"Sekali lagi saya minta maaf! Pekerjaan di kantor sangat banyak dan ini saya langsung menghubungi kamu setelah rapat dengan klien selesai," ujar Satya yang memang terdengar bukan seperti sebuah alasan semata.


"Gak bayangin kalau kita nanti jadi pasangan suami istri. Bisa-bisa nih ya, gue bakalan jadi seorang istri yang gak dipedulikan sama suami. Gimana mau dipedulikan, suaminya saja lebih milih buat sibuk sama pekerjaannya, dunianya sendiri," kata Nikita memberikan protes keras kepada laki-laki seperti Satya.


Sebenarnya Satya sama sekali tak memiliki niat untuk membuat Nikita berpikir ataupun merasakan hal seperti itu. Kalau memang keadaannya tadi bisa membuat Satya menjawab panggilan, pasti ia akan melakukannya. Masalahnya Satya sama sekali tak bisa mengabaikan klien, karena semua klien yang mau menjalin kerjasama atau hal lainnya, itu bisa dibilang begitu berharga dan berarti untuk perusahaan Damara.


"Saya minta maaf karena sudah membuatmu marah seperti ini," ucap Satya yang tak ada habisnya untuk mengucapkan kata maaf.


"Kalau cuma minta maaf, semua orang juga bisa melakukannya," kata Nikita merasa muak dengan permintaan maaf.


"Lalu? Saya harus melakukan apa supaya bisa meredakan amarah kamu?" Pertanyaan dari Satya yang seperti ini sangat berhasil membuat Nikita tersenyum tipis.


Apa seperti ini cara Nikita menyampaikan maksud dan tujuannya menghubungi? Marah-marah ataupun mengomel terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengatakan keinginannya.


"Mau ketemuan gak? Gue lagi pengen di traktir makan gelato," ujar Nikita tanpa adanya keraguan sedikitpun untuk mengatakannya.


"Kapan?"


"Sekaranglah, ya masa tahun depan. Bisa gak lo?"


"Bisa."


"Jemput gue di sekolah ya?"


"Apa hari ini kamu tidak ada kelas? Maksudnya, sudah diizinkan untuk pulang?" Tanya Satya yang mulai ingat kalau Nikita masih seorang pelajar.


"Gue udah mau lulus. Jadi, sekarang tinggal menikmati masa santai. Tapi, karena perjodohan dan lo.. gue gak bisa sepenuhnya menikmati masa santai," Nikita tak ada habisnya memberikan keluhan.


"Saya minta maaf!"


Merasa bosan mendengar permintaan maaf, Nikita langsung mengembalikan obrolan ini menuju topik awal, dimana memang Nikita sangat berniat mengajak laki-laki itu untuk bertemu. Ada hal penting mengenai perjodohan yang ingin dibicarakan oleh Nikita dengan laki-laki itu.


"Kalau lo terus minta maaf, kapan mau jemput gue?" Tanya Nikita terus saja berkata ketus.


Merasa kalau ajakan makan gelato bukan menjadi tujuan dari Nikita melakukan panggilan ini, Satya pun mulai melemparkan pertanyaan serius dan kali ini ia ingin mendengar jawab yang sesuai, bukan hanya sekedar omelan belaka.


"Apa ada hal lain yang ingin kamu katakan? Saya merasa kalau tujuan dari panggilan ini bukan sekedar untuk makan gelato," ujar Satya yang akhirnya bukan mengandung kalimat permintaan maaf.


"Memang bukan, tapi gue bakal kasih tahu langsung saja setelah kita bertemu. Jadi, tolong untuk cepat menjemput!" pinta Nikita dengan tegas kepada laki-laki yang masih setia berada di balik panggilan ini.


"Baiklah. Saya akan segera menjemput kamu," ujar Satya.


"Jangan buat gue nunggu lama lagi! Tahu kan kalau menunggu itu rasanya gak enak banget," tukas Nikita yang kemudian mengakhiri panggilan ini secara sepihak.


......................


Hanya butuh waktu untuk perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, karena kebetulan jarak antara kantor dengan lokasi sekolah Nikita lumayan jauh, mobil sedan berwarna abu yang tampak tak asing di pandangan pun telah terlihat memasuki halaman sekolah.


Kedatangan mobil yang kelihatan bukan murahan itu pun mampu menarik perhatian dari semua murid yang ada. Nikita yang sama sekali tak terlalu peduli dengan para murid yang sekarang masih terlihat terkagum serta saling berbisik satu sama lain, pun mulai melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri mendekati mobil itu.


"Satya?" Panggil Nikita sambil memberikan ketukan kecil di bagian kaca dari mobil itu.


Tak dibuat menunggu terlalu lama, Nikita pun membuka pintu mobil, lalu secara cepat masuk dan menempatkan dirinya duduk nyaman di kursi penumpang bagian belakang, persis bersebelahan dengan laki-laki bernama Satya itu.


"Hai?" Sapa Satya terdengar begitu ramah.


"Suka banget ya buat menarik perhatian," kata Nikita masih terdengar sedikit ketus.


"Sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan hal seperti itu," ujar Satya yang kemudian memberikan isyarat kepada sang sopir untuk mulai melajukan mobil ini meninggalkan halaman sekolah.


Seperti seseorang yang kurang sabar, Satya pun langsung saja menanyakan kepada Nikita mengenai hal penting yang katanya mau dia bicarakan. Walaupun belum diberitahu, Satya sudah memiliki keyakinan kalau ini tak akan jauh-jauh dari perjodohan.


"Sekarang kita sudah bertemu, jadi hal penting seperti apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Satya yang dengan cepat mendapatkan tatapan mata tajam dari gadis bernama Nikita itu.


"Gak sabar banget sih jadi orang! Gak bisa nunggu nanti aja setelah sampai di tempat gelato?" Kata Nikita yang tidak percaya kalau laki-laki itu juga memiliki sifat kurang sabar.


"Saya hanya takut kalau kamu lupa," ujar Satya benar-benar sabar dalam menghadapi sikap dari gadis pemilik nama Nikita itu.


"Gue belum pikun, jadi gak bakal lupa," mau sampai kapan Nikita bersikap dingin seperti ini?


Pada saat Satya berniat untuk memberikan respon terhadap ucapan yang dilontarkan oleh Nikita, secara tidak terduga ponsel pribadi miliknya mulai berdering. Sebenarnya sudah biasa bagi Satya mendapatkan panggilan mendadak seperti ini. Tahu sendiri kan kalau di perusahaan Damara, Satya lah yang memegang kendali paling tinggi. Tidak heran kalau dirinya selalu dicari.


Sebenarnya Nikita sama sekali enggan untuk ikut campur dan terlalu peduli pada urusan dari laki-laki itu, namun hanya karena dirinya yang terlalu tidak suka mendengar tentang pekerjaan ataupun bisnis, dengan berani Nikita langsung memberikan larangan kepada Satya.


"Kalau lagi sama gue, haram buat menerima panggilan dari siapapun," ujar Nikita dengan tegas.


Satya tahu kalau panggilan dari sang sekertaris — Thania, itu penting tapi, karena Nikita sudah memberikan larangan, mau tidak mau Satya harus menurut. Bukan tanpa sebab, hanya saja Satya enggan untuk membuat gadis itu semakin kesal. Oleh karenanya, Satya harus menolak panggilan itu dan sebagai gantinya sebuah pesan singkat yang dikirimkan kepada sang sekretaris.


"Kamu memang selalu galak seperti ini ya?" Sindir Satya setelah meletakkan ponsel miliknya ke dalam saku jas.


"Enggak juga, cuma sama lo aja gue galaknya."


"Kenapa?"


"Gak bisa dijelasin."


"Apa saya terlalu menyebalkan? Kamu tidak sedang membenci saya kan?" Tanya Satya hanya ingin tahu saja.


"Iya, lo itu nyebelin pakai banget. Udah kayak jelangkung tahu gak? Datang tiba-tiba membawa sebuah perjodohan," decak kesal Nikita.


Meskipun Nikita sudah banyak melemparkan kata-kata kurang sopan, Satya tetap hanya bisa menanggapi dengan senyuman tipis. Bahkan laki-laki itu juga tak ragu untuk mengusap lembut rambut panjang milik gadis itu.


"Ngapain nih? Siapa yang nyuruh lo pegang-pegang?"


"Terus bertingkah seperti ini saja. Kalau lagi galak, kamu tampak begitu menggemaskan," ucap Satya yang terkesan begitu aneh.


Bersambung...