
Hanya untuk menyelamatkan perusahaan agar tak kehilangan salah satu klien serta investor yang paling penting, malam ini juga Satya bersama dengan beberapa anak buahnya sudah siap meluncur menuju ke tempat tinggal milik Tuan Evan.
Entah bagaimana keputusan akhirnya nanti, yang penting Satya sebagai pimpinan dari perusahaan Damara sudah memberikan permintaan maaf yang tulus dari dalam hati. Sangat menyesalkan karena kejadian seperti ini bisa terjadi. Mencoba yang terbaik hanya untuk mempertahankan hal terpenting bagi perusahaan.
Di tengah perjalanan menuju kediaman Tuan Evan, ponsel pribadi miliknya yang saat ini ada di dalam saku jas berdering dan berbunyi. Tidak perlu lagi menebak apapun yang sudah pasti, Satya tahu kalau panggilan ini berasal dari sang ayah. Sangat yakin kalau kabar buruk yang sedang terjadi sekarang, sudah bisa dengan cepat terdengar di telinga kedua orang tuanya.
Tanpa ingin membuat beliau tetap berada di nada sambung, Satya pun dengan cepat menjawab panggilan itu. Sangat siap untuk mengatakan dan menjawab apapun yang ditanyakan oleh sang ayah.
"Halo ayah, selamat malam...," sapa Ardhi kedengaran cukup kaku.
Memang benar adanya kalau buah tak akan jatuh terlalu jauh dari pohonnya. Memiliki sifat yang enggan untuk banyak berbasa-basi, sang ayah langsung saja mengatakan inti serta tujuan dari panggilan yang dibuatnya.
"Katakan apa yang terjadi? Bagaimana Rio bisa melakukan hal sekejam itu? Apalagi yang menjadi korbannya adalah seorang putri dari klien serta investor perusahaan kita," tanya sang ayah ingin mendengar soal permasalahannya secara terperinci.
"Maaf, tapi aku juga sedang berusaha untuk menyelidikinya. Sekarang ini aku lagi dalam perjalanan menuju rumah Tuan Evan," kata Satya menyesal karena belum bisa memberitahu banyak hal kepada sang ayah.
"Apa kamu berusaha untuk meminta maaf kepada beliau?" Tanya sang ayah dan langsung dibenarkan oleh Satya.
"Aku hanya tak ingin kalau tuan Evan membatalkan investasi nya untuk proyek terbaru. Sangat takut dengan kerugian yang dialami perusahaan hanya karena masalah ini," ujar Satya mengatakan apa adanya.
Benar sekali, karena Tuan Evan adalah penanam investasi terbesar untuk sebuah proyek baru yang sedang di kerjakan oleh Damara Group, tak dibayangkan kalau tiba-tiba beliau membatalkan investasinya. Itu akan menjadi kerugian besar bagi Damara Group. Jangan sampai karena kerugian bisa membuat semua hal yang sedang dibangun menjadi kacau! Satya paling tak suka untuk melakukan hal yang sama dua kali dan dia paling membenci akan namanya kegagalan serta hal sia-sia.
"Kamu tahu kan kalau Tuan Evan bukan termasuk seseorang yang mudah untuk dihadapi? Apalagi kalau sudah menyangkut tentang putrinya," kata sang ayah hanya bermaksud memberikan peringatan saja.
"Iya aku tahu. Meskipun begitu, setidaknya aku harus mencoba. Apapun hasilnya nanti bisa diterima daripada hanya diam tanpa melakukan apapun," ujar Satya terdengar begitu sangat bertanggung jawab pada perusahaannya.
"Baiklah. Terserah kamu mau melakukan apa, yang penting kalau misalkan gagal, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri! Kamu sering melakukan itu. Tak perlu sampai terlalu keras pada diri sendiri," ujar sang ayah dari balik panggilan ini, memberikan nasihat yang baik kepada sang putra tunggalnya.
Tak memiliki banyak waktu untuk terus mengobrol dengan sang ayah lewat panggilan ini, Satya pun mau tidak mau harus segera mengakhirinya. Kebetulan mobil yang sedang ditumpangi, sudah mulai dekat dengan lokasi rumah milik Tuan Evan.
"Kalau begitu, nanti aku akan menghubungi ayah lagi untuk memberitahu hasilnya. Sebentar lagi aku sudah hampir sampai ke kediaman Tuan Evan," ujar Satya kepada sang ayah.
"Baiklah. Ayah yakin kalau kamu pasti bisa menyelesaikan masalah ini," tukas sang ayah yang kemudian mengakhiri panggilan dengan putranya.
Setelah panggilan itu terputus, Satya kini kembali memikirkan cara yang tepat untuk bisa membujuk serta meredakan emosi dari Tuan Evan. Apa ada solusi atas hal itu?
.
.
.
Mobil yang membawa sosok Satya di dalamnya, akhirnya tiba juga di depan pintu pagar dari kediaman Tuan Evan. Satpam penjaga yang tahu kalau sedang kedatangan tamu penting pun tak ragu untuk segera membukakan pintu gerbangnya.
Dalam langkah besarnya, Satya pun berjalan menuju ke arah pintu masuk dan tak segan untuk membunyikan bel yang tersedia. Tak lama setelah suara bel terdengar, seorang pelayan membukakan pintu.
"Tuan Evan, apakah ada di rumah?" Tanya Satya dalam tatapan wajah tanpa ekspresi.
"Kehadiran anda sudah ditunggu," ujar pelayan itu langsung mempersilahkan Satya bersama beberapa anak buahnya masuk ke rumah ini.
Tanpa adanya keraguan sedikitpun, Satya pun melangkah memasuki rumah mewah ini dan kemudian menempatkan dirinya duduk pada sofa panjang yang ada pada ruang tamu dari rumah ini. Tak dibuat menunggu, Tuan Evan yang masih terlihat begitu kesal atas kejadian kurang ajar, pun datang menghampiri Satya.
"Terima kasih karena sudah bersedia untuk menemui saya," ujar Satya sembari membuat senyuman ramah.
Enggan untuk memberikan respon, Tuan Evan pun menempati sofa kosong yang ada. Karena hari ini beliau juga harus pergi ke rumah sakit, jadi tak bisa terlalu lama untuk mendengarkan permintaan maaf dari Satya.
"Jadi, kenapa kamu sampai merepotkan diri datang kesini?" Tanya Tuan Evan hanya sebagai bentuk basa-basi belaka.
"Kedatangan saya kemari hanya untuk meminta maaf serta memberikan tanggung jawab atas hal yang sudah dialami oleh putri anda," kata Satya langsung pada inti pembicaraan.
"Meminta maaf? Apa hal seperti ini bisa selesai hanya lewat permintaan maaf? Apa anda tahu yang diperbuat oleh manajer itu begitu keji. Tak hanya melukai secara fisik, tapi juga ia berhasil melukai secara mental. Karena kejadian yang tidak seharusnya, putri saya harus menjalani perawatan di rumah sakit," ujar Tuan Evan dalam sorot mata penuh amarah.
"Sekali lagi saya selaku pimpinan dari Damara Group ingin mengucapkan permintaan maaf tulus dari dalam hati. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, saya akan menanggung semua pengobatan dari putri anda dan juga telah memecat pelaku tindakan asusila itu," kata Satya dengan tegas memberitahu kalau dirinya tak akan cuci tangan ataupun diam saja.
Mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut laki-laki itu, sanggup membuat Tuan Evan tertawa kecil. Entah kenapa cara beliau tertawa terkesan seperti sebuah ejekan serta penghinaan.
"Dia memang sudah seharusnya dipecat dan untuk biaya pengobatan, anda pikir saya tidak bisa untuk memenuhinya?" Tanya Tuan Evan seperti seseorang yang merasa kurang puas dengan cara Satya bertanggung jawab.
Satya yang memang enggan untuk kehilangan klien serta investor seperti Tuan Evan pun tanpa ragu mulai mempertanyakan cara yang tepat agar masalah ini bisa diselesaikan.
"Jadi, anda ingin saya bertanggung jawab seperti apa?" Tanya Satya terdengar serius.
"Harga diri serta martabat yang dimiliki oleh putri saya sudah hancur, karena berita ini sudah sampai di telinga masyarakat. Saya tak tahu lagi apakah nanti masih ada laki-laki yang ingin menikahi putri saya itu," kata Tuan Evan yang sama sekali belum bisa dipahami oleh Satya.
"Bisa tolong untuk menyampaikan langsung mengenai maksudnya?"
"Saya akan merasa lega kalau kamu mau bertanggung jawab dengan cara menikahi putri saya," pinta Tuan Evan yang seketika mampu membuat seorang Satya terdiam kaku bak seperti sebuah patung. Bagaimana caranya agar bisa menyetujui cara bertanggung jawab yang seperti itu? Kondisinya sekarang ini, Satya sudah bukan lagi lelaki single. Tahu sendiri kalau sebentar lagi ia akan menikah dengan seorang gadis bernama Nikita.
"Kalau kamu tidak setuju, saya akan langsung membatalkan investasi di proyek baru. Sepertinya memang hanya itu cara terbaik bagimu bertanggung jawab. Saya sudah merasa enggan bekerja sama lagi dengan Damara Group," imbuh Tuan Evan kedengaran serius dan tegas. Sekarang, apa yang harus dilakukan dan dipilih oleh Satya. Di satu sisi ia begitu ingin mempertahankan proyek serta perusahaan dan di sisi lain ia juga tak bisa menikahi putri dari Tuan Evan, mengingat kalau sekarang ini Satya sudah memiliki Nikita sebagai calon istri.
"Maaf! Tapi, saya tidak bisa kalau harus menikahi putri anda sebagai bentuk pertanggungjawaban," mau tak mau Satya harus menolak itu dengan begitu tegas.
Bukan seseorang yang suka plin-plan dan mudah berganti puluhan menurut situasi serta kondisi, Satya tetap setia pada pilihannya untuk menikahi Nikita. Merelakan klien seperti Tuan Evan dan menanggung kerugian karena dana investasi yang dilakukan oleh beliau sudah ditarik kembali. Semua ini hanya untuk pilihannya kepada seseorang seperti Nikita.
Bersambung...