I Hated My Boss

I Hated My Boss
T U J U H



Setelah kejadian tadi, Tuan Ryan mau tak mau harus menyuruh dengan keras kepada putrinya agar mau kembali ke kamar. Bukan bermaksud untuk memarahinya, hanya saja karena sikap dari sang putri mampu membuat Tuan Ryan merasa tidak enak hati kepada Satya. Tak seharusnya di rumah ini, Satya mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan.


Ketika Tuan Ryan mengantarkan laki-laki itu sampai ke mobilnya yang kini tengah terparkir rapi di garasi dari rumah ini, pebisnis ternama itu seringkali menundukkan kepalanya, meminta maaf kepada Satya atas perilaku tidak sopan dari sang putri yang tadi sempat meninggikan suara terhadapnya. Satya yang bisa mentoleransi dan mengerti mengenai alasan dari gadis itu berperilaku begitu pun, sama sekali enggan untuk terlalu mempermasalahkannya.


"Saya harap Tuan Ryan tidak akan terlalu keras kepada Nikita karena masalah ini," kata Satya sebelum benar-benar masuk ke dalam mobilnya.


"Sekali lagi saya minta maaf dan sangat menyesal atas perlakuan kasar yang diberikan oleh Nikita. Saya juga tidak menyangka dia bisa berani membentak kamu," ujar Tuan Ryan seakan tak bisa melupakan tindakan yang dilakukan oleh sang putri.


"Saya sama sekali tidak masalah. Kalau berada di posisi Nikita, mungkin saya juga melakukan hal yang sama," kata Satya terdengar seperti seseorang yang baik.


Tak mau berlama-lama lagi, setelah berpamitan dengan benar kepada Tuan Ryan, Satya pun bergegas naik ke dalam mobilnya. Sebenarnya laki-laki itu ingin lebih lama mengobrol di rumah ini, namun sekertaris-nya tadi sempat menghubungi untuk memberitahu ada masalah di perusahaan. Oleh karenanya, Satya harus segera menuju ke kantor dan menyelesaikan permasalahan itu. Satya sama sekali tak ingin sesuatu yang sepele membuat perusahaan yang selama ini sudah ia kembangkan sedemikian rupa, hancur begitu saja.


"Kalau begitu saya permisi," tukas Satya mengakhiri obrolan untuk malam ini.


.


.


.


Nikita yang saat ini sudah ada di kamarnya, pun memantau kepergian dari laki-laki bernama Satya itu dari jendela kamar yang terbuka. Jujur, melihat semua tingkah Satya membuatnya merasa kalau itu hanya kepura-puraan untuk mengambil hati kedua orang tuanya. Entah mengapa dalam benaknya, Nikita yakin kalau Satya orangnya tak sebaik apa yang sekarang sedang dilihat. Laki-laki itu terlihat seperti memakai berlapis topeng.


"Aku yakin dibelakang pasti dia akan mengomel karena sikapku tadi," ucap Nikita yang kemudian menutup jendela kamarnya dengan kasar.


Pada saat Nikita yang kini telah memakai piyama tidur, berniat untuk mengistirahatkan diri di atas ranjang kamarnya yang empuk, tiba-tiba sebuah ketukan pintu tak sabar terdengar begitu saja. Tidak perlu pakai menebak siapa gerangan yang ada di balik pintu kamar itu, karena Nikita yakin itu adalah sang ayah. Kenapa beliau datang ke kamarnya? Apa masih mau memberikan teguran atau mungkin memarahi Nikita?


Karena ketukannya begitu menganggu, Nikita pun mengurungkan niatnya terlebih dahulu untuk tidur di atas ranjang. Gadis itu lebih memilih membukakan pintu bagi sang ayah.


Sesaat setelah pintu terbuka, Nikita hanya bisa melihat tatapan mata tajam, penuh rasa kecewa yang diberikan oleh sang ayah. Seakan tak peduli, Nikita pun melipat kedua tangannya di depan dada lalu bersandar pada pintu kamar. Gayanya terlihat seperti seseorang yang tak memiliki rasa bersalah.


"Apa keputusanmu untuk menolak perjodohan sudah bulat?" Tanya sang ayah ingin memastikan saja.


"Tentu saja. Sekarang siapa yang mau dijodohkan dengan laki-laki bermuka dua itu," ujar Nikita yang tak tertarik pada perjodohan.


Sambil mengangguk kecil dan memberikan senyuman penuh arti, Tuan Ryan pun terpaksa harus melakukan hal yang seharusnya. Ancaman diberikan hanya agar sang putri bisa menurut.


"Baiklah. Kalau begitu keputusan ayah juga sudah bulat untuk mengalihkan semua hak waris kamu kepada orang yang jauh lebih membutuhkan," kata Tuan Ryan dan berhasil membuat putrinya terkejut.


Bukan karena ingin bersikap materialis, hanya saja untuk hidup di dunia ini, Nikita harus bersikap realistis. Uang sangat amat diperlukan agar semua yang diimpikan dapat terwujud. Kalau hak waris Nikita dialihkan, bisa dibilang ia sudah tak memiliki apapun selain uang yang ada di rekeningnya. Daripada perjodohan, Nikita lebih membenci saat hak warisnya di usik.


"Ayah kenapa sih menyebalkan sekali?!" Kata Nikita menyinggung sikap sang ayah yang terkesan sedikit terlalu kejam.


"Kalau tidak seperti ini, kamu malah lebih asyik lagi untuk membangkang."


"Ayah tahu, kalau hak waris ku dialihkan, bagaimana aku bisa pergi ke Paris?" Tanya Nikita kedengaran seperti seseorang yang frustrasi kalau mengingat tentang impiannya.


"Untuk apa kamu pergi ke Paris?" Ayahnya sama sekali belum tahu tentang impian yang dimiliki oleh Nikita.


"Aku ingin melanjutkan pendidikan di sana. Aku berniat untuk berkuliah di salah satu universitas design yang memang sudah aku impikan," kata Nikita yang akhirnya mau terbuka akan impiannya kepada sang ayah.


"Kenapa kamu tidak memberitahu ayah soal itu? Kenapa baru sekarang bilangnya?" Tanya sang ayah sedikit terkejut.


"Karena aku pikir ayah tak akan setuju. Melihat sikap ayah yang selalu saja menyindirku tentang cara berpakaian," ungkap Nikita akhirnya berani berkata jujur.


Daripada terus terlalu terlarut dalam rasa kesal yang entah akan ada ujungnya atau tidak, Nikita memutuskan untuk membuat sebuah penawaran baik kepada sang ayah. Nikita yakin kalau ayahnya tak akan pernah terpikir untuk memberikan penolakan pada penawaran yang mau ia ajukan ini.


"Baiklah, karena ayah sudah tahu semuanya, aku ingin melakukan penawaran sekaligus perjanjian dengan ayah," kata Nikita dengan keberanian dari dalam dirinya.


"Apa maksud mu?"


"Aku akan menerima perjodohan itu dan akan menikah secepatnya dengan Satya, tapi dengan satu syarat yang harus dilakukan oleh ayah," ucap Nikita melakukan hal seperti ini hanya demi mimpinya menjadi seorang designer terkenal.


"Syarat?" Tuan Ryan terlihat mulai tertarik.


"Iya. Ayah hanya perlu mengizinkan aku agar bisa berkuliah di Paris. Kalau setuju, minggu depan aku akan langsung menikah dengan Satya," Nikita benar-benar pandai dalam hal membuat penawaran.


"Lalu? Kalau kamu menikah dan berkuliah di Paris, apa kamu berniat untuk meninggalkan suamimu?" Tanya sang ayah merasa sedikit aneh dari penawaran yang diajukan oleh sang putri.


"Hanya kurang lebih empat tahun, tapi setelah itu aku kan kembali pulang lagi. Aku ke Paris hanya untuk menempuh pendidikan bukan benar-benar pindah," kata Nikita dengan tatapan penuh harap kalau ayahnya itu mau menyetujuinya.


"Tidak. Ayah tak bisa setuju akan penawaran kamu. Memang kedengarannya bagus, tapi kalau meninggalkan suami selama empat tahun itu bukanlah sesuatu yang baik. Ayah juga tak bisa memastikan kalau kamu akan benar-benar kembali setelah empat tahun," ujar sang ayah kedengaran menolak.


"Aku pasti akan kembali. Aku tak mungkin ingkar," Nikita berusaha untuk menyakinkan sang ayah, tapi sayangnya harus gagal.


"Ayah sudah tinggal bersamamu selama bertahun-tahun dan sangat mengenal dirimu dengan baik. Bukannya tak ingin mempercayaimu, hanya saja untuk urusan ini ayah merasa sangat sulit percaya," ucap Tuan Ryan tanpa bermaksud membuat putrinya itu merasa sakit hati.


"Apa ayah benar-benar menolak penawaran terbaik dariku?" Nikita mempertanyakan ini hanya bermaksud memastikan saja.


"Iya. Ayah tak bisa membiarkanmu pergi ke Paris begitu saja," kata sang ayah terdengar begitu tegas dalam menolak.


"Tak ingin memikirkannya lagi?"


"Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Paris terlalu jauh dan ayah belum punya koneksi di sana," tukas Tuan Ryan yang kemudian melangkahkan kaki keluar dari kamar sang putri.


Bersambung...